– pembangkangan benda-benda #10
Tiap kali berpikir, apa yang saya pikir saya memang menginginkannya malah menyelinap pergi.
Seperti barusan terjadi. Saya, dalam lapar yang nyaris akut, tiba-tiba saja teringat dengan nasi rawon. Sepertinya lezat jika pada dini hari yang dingin dan lapar bisa menyantap nasi rawon dan kuahnya yang khas itu.
Sayangnya, belum lama saya memikirkan dan menginginkan nasi rawon, apa yang saya pikir saya menginginkannya itu malah kabur. Saya cuma bisa menangkap ruap bau kuahnya yang sedap dan membikin lambung makin terasa perih saja.
Biasanya saya akan mengejar dia sebisanya. Seperti barusan juga terjadi: saya mengejarnya dengan tergopoh-gopoh. Beberapa saat sebelum mencapai tikungan, saya berhasil menyalipnya. Tanpa basa-basi, saya langsung berdiri menghadangnya. Saya tak sadar, ada tetesan kecil air liur meleleh dari mulut saya.
(more…)
– lelaki tua dan toilet

Perkenalkan: Pak Junaedi!
Saya tak tahu banyak sejarah hidupnya. Tapi beginilah saya menemukannya: Di sebuah toilet umum milik warga, yang dibangun dengan mengadopsi konsep Sanimas [sanitasi berbasis masyarakat], seorang lelaki ditunjuk sebagai operator sekaligus penjaga toilet umum ini.
Ketua RT/RW 01/01, Kel. Janti, Sidoarjo [tak jauh dari Pabrik Paku yang berada di seberang terminal Bungurasih] menunjuknya sebagai operator. Pak Sumardi, Pak Ketua RT itu, percaya pada integritasnya.
“Daripada orang lain yang ga jelas, lebih baik dia saja yang jaga di sini,” kata Pak Sumardi.
(more…)
– perihal seorang teman…

Dwi Rahariyoso, biasa dipanggil Gembos: seorang teman baik, lelaki berperasaan halus dengan segudang cerita melankolik dalam hidupnya, seorang penyair yang tak percaya kalau dirinya bisa dan mampu menjadi penyair!
Ia ambil keputusan penting: merantau ke Sorong, Papua, sendirian, untuk waktu yang entah… setidaknya dua tahun.
Saya bertemu terakhir kalinya sehari sebelum ia berangkat ke Sorong. Saya sedang melakukan perjalanan dua pekan ke Timur, dan kami berjumpa di Mojokerto. Aku mengajaknya berkeliling ke beberapa tempat di Mojokerto, salah satunya: Trowulan, pusat situs arkeologi peninggalan kerajaan Majapahit. Itu kali pertama ia mengunjungi Trowuan.
Gembos sempat bilang: “Sebelum saya meninggalkan Jawa, untuk pertama kalinya saya datang ke Trowulan, tilas dari sisa-sisa kejayaan ‘Jawa’. Anggap saja ini sebagai pamit yang baik pada Jawa. Ini mungkin cara pamitan terbaik yang bisa saya lakukan.”
(more…)
– pembangkangan benda-benda #9
Seorang dari kota bermasalah dengan sinyal. Segala yang ia kirimkan tak pernah sampai, terputus di tengah jalan, barangkali dicegat oleh perampok yang tak tahu malu, atau begal yang sedang patah hati.
Kemungkinan yang terakhir itu tampaknya cukup masuk akal, sebab orang dari kota itu mengaku ia juga mengirimkan sejumlah pesan mesra kepada kekasihnya di sebuah kota yang terletak di pinggir laut dengan dua gerbang tinggi di dermaga pelabuhannya.
Barangkali perampok itu adalah bromocorah yang patah hati ditinggal pergi kekasihnya, sehingga ia saban hari hanya bekerja mencegat pesan-pesan yang berseliweran di udara. Barangkali ia bermimpi salah satu pesan yang berhasil dicegatnya adalah pesan yang dikirim perempuan yang dicintainya.
Seorang dari kota yang bermasalah dengan sinyal itu sudah sedari pagi tadi mengirimkan sejumlah pesan, sebagian penting dan sebagiannya tidak terlalu. Tapi sinyal sepertinya mangkir dari tugasnya atau –seperti yang tadi sempat diduga—pesan yang dibawa sinyal itu dicegat oleh entah siapa pun orangnya atau apa pun itu namanya.
(more…)
– pembangkangan benda-benda #8
Di tempat prostitusi yang paling terkenal di sebuah kota yang tidak terlalu panas, ada satu tempat sampah yang ajaibnya terlihat sangat bersih; sebuah kebersihan yang bahkan mengalahkan beranda-beranda rumah singgah, tempat para pinokio belang duduk-duduk sembari menduduk-duduki para pelacur yang tak pernah tahu apa bedanya duduk dan menduduki.
Orang-orang yang sering datang ke tempat prostitusi yang paling terkenal di sebuah kota yang tidak terlalu panas itu kemungkinan semuanya tahu pasal apa yang membikin tempat sampah itu sangat bersih, terlalu bersih bahkan. Orang-orang yang baru datang ke tempat prositusi yang paling terkenal di sebuah kota yang tidak terlalu panas itu kemungkinan akan menyangka betapa bersihnya tong sampah itu sebagai penanda betapa kebersihan teramat diperhatikan oleh orang-orang yang sering berkunjung ke situ.
Tentu saja dia salah. Bagaimana kita hendak bicara kebersihan di tempat yang bersih dan tidaknya sebuah benda tak bisa dideteksi oleh mesin pemburu paling canggih sekali pun? Sebab, di pojok-pojok yang lain, tempat-tempat sampah lainnya tetap tampil seperti biasanya: kotor, atau tidak terlalu bersih, kumuh, juga bau.
(more…)
– pembangkangan benda-benda #7
Pernikahan yang semestinya khusyuk dan syahdu sontak menjadi sedikit ricuh, atau lebih tepat jadi agak berantakan, gara-gara dua kamera yang dibawa dua juru foto mendadak ngambek tak mau bekerja: mereka ingin dinikahkan lebih dulu, setelah itu barulah dua kamera berlainan jenis itu mau bekerja mengabadikan momen sakral pernikahan yang sudah direncanakan sejak lama itu.
Sebenarnya bisa saja akad nikah yang ditunggu dua mempelai itu dimulai tanpa keikutsertaan dua kamera berlainan jenis yang mendadak ngambek untuk sebuah alasan yang terlalu surealis itu. Tapi, di zaman jejaring sosial mengisi 36 jam waktu hidup manusia, apalah artinya momen genting nan sakral serupa akad pernikahan dilewatkan tanpa keabadian yang hanya bisa dilakukan oleh kamera? Tak ada yang mau pernikahannya dianggap hoax, bukan?
Tapi di situlah soalnya. Penghulu sebenarnya mau-mau saja menikahkah dua kamera berlainan jenis itu. Tapi dalam setiap kisah cinta, selalu saja ada aral yang melintang dan jurang yang menganga, bukan?
Dua kamera itu, masing-masing bernama Nokin dan Conan, sukar bisa dinikahkan karena alasan yang sebenarnya tak kalah surealisnya: keduanya, dua kamera yang berlainan jenis itu, ternyata menganut agama yang berbeda. Dan di negeri ini, itu soal yang maha-genting!
(more…)
-pembangkangan benda-benda #6
Printer ini sudah lama mengabdi kepadaku dengan “sepenuh komponennya”. Ya, “sepenuh komponennya”, karena akan sukar menyebut “sepenuh hatinya”. Siapa yang akan bilang printer punya hati?
Kecuali hari ini, tepatnya siang ini, persis saat deadline betul-betul nyaris mengerkah batang leherku. Tiba-tiba saja, ia tak mau bekerja. Macet. Ngadat. Tak sehelai kertas pun yang keluar dari tubuhnya yang tambun ke samping itu.
Mulanya, beberapa saat usai perintah mencetak ditekan, akan menguar suara dengung, yang jika itu keluar dari mulut manusia mungkin akan kusebut sengau. Lalu, setelah dengung yang tak panjang itu, terngiang suara gesekan-gesekan tipis tapi berirama lebih panjang. Diakhiri dengan suara sedikit teredam, kertas tercetak yang ditunggu-tunggu tak segera keluar, enggan dilumuri tinta yang mungkin beracun itu?
(more…)
– pembangkangan benda-benda #5
Kabar yang sama sekali tidak melankolik itu kami terima pada satu senja yang tak begitu bagus saat kami berdua sedang berciuman begitu dalamnya di bawah pohon oak yang ditanam kakek buyut kami dari bibit yang didapatkannya dari seorang marsose Belanda yang berhutang tiga ekor ayam dan tujuh telor kepadanya gara-gara marsose itu kalah bertaruh dengan kawannya saat menonton pacuan lembu di lapangan yang satu abad sebelumnya adalah kuburan para wali yang tak becus memainkan wayang: foto pre-wedding dinyatakan haram oleh para wali yang sebenarnya tak bisa memotret dan karenanya tak tahu keindahan sehelai potret bisa lebih indah dari pemandangan yang terhampar di atas sajadah paling mahal yang didatangkan dari Gujarat sekali pun!
Istri saya sesenggukan, saya termangu sendirian: kami tahu pengharaman itu tak bisa ditampik, karena kami juga paham betapa berbahayanya mengabaikan fatwa para wali yang tak pernah terlihat memakai sarung apalagi surban.
Lalu, dalam sebuah perkabungan yang muram dan menyedihkan, kami beranjak ke ruang keluarga. Di salah satu dindingnya, terpacak potret besar potret pre-wedding kami tujuh tahun silam. Terlalu panjang kisahnya kenapa yang dipasang adalah potret pre-wedding, bukan potret di hari pernikahan, tapi begitulah adanya, seperti begitulah juga adanya fatwa yang tak bisa kami tolak itu.
(more…)
– pembangkangan benda-benda #4
Beberapa saat sebelum aku meninggalkan kamar menuju masjid untuk menghelat shalat Jumat, sesuatu melesat keluar dari almanak yang menempel di dinding dekat pintu. Dia lantas menarik sarungku sampai nyaris terlepas. Lalu, ia ganti menjangkau kakiku, menahan langkahku, sampai aku nyaris terjengkang.
Dia memperkenalkan dirinya sebagai Jum’at. Ia meminta untuk berbicara denganku. ”Baiklah, tapi jangan lama-lama. Tak pernah kuabaikan shalat Jum’at. Jangan membuatku terlambat,” kataku tegas.
Ia menghela nafas lega. Sembari menata nafasnya yang sempat tersengal-sengal karena sekuat tenaga manahan langkahku, Jum’at mulai berbicara. Nadanya datar, sedikit terbata-bata, tapi rasa masygul bercampur memelas cukup jelas tergambar dari mimik wajahnya.
“Aku selalu diejek teman-temanku. Aku minta, sekali ini saja, kau membantuku agar tak diledek mereka. Sekali ini saja,” ujarnya dengan terbata-bata.
(more…)
– pembangkangan benda-benda #3
Ini sarapan yang sunguh menyiksa. Nasi-nasi ini tak pernah mau ditaklukkan. Tiap kali saya menyuapkan seseondok nasi ke mulut, butir-butiran nasi itu seperti membesar sampai sebesar kelerang. Terpaksa saya memuntahkannya lagi. Saya coba berulang kali, tetap saja begitu.
Kebetulan teman saya tadi sempat membelikan bubur ayam. Karena telanjur lapar dan sudah lelah menghadapi pembangkangan butir-butir nasi itu, saya memilih menyantap bubur ayam saja. Selama saya menyantap bubur, saya memperhatikan butir-butir nasi yang ada di piring tak jauh dari tempat saya makan. Butir-butir nasi yang tadinya membesar seperti kelereng pelan-pelan menciut sehingga kembali ke ukurannya yang normal.
Ingin saya menyantap lagi nasi itu, karena makan bubur tetaplah tak mengenyangkan perut saya yang memang sedang lapar berat. “Benar-benar nasi sudah menjadi bubur kalau begini. Sudahlah, saya makan bubur saja,” ujar saya dalam hati.
Entah bagaimana ceritanya, butir-butir nasi itu tiba-tiba bersorak-sorai dan kompak berteriak: “Kami tidak setuju!”
(more…)