Diftong
–kasih ibu sepanjang masa, apalagi kasih Tuhan
Hari Ibu, yang rutin diperingati tiap 22 Desember, seperti batu tapal yang bisa mengingatkan kita ihwal pentingnya sebuah himpunan bernama keluarga. Kita hidup dalam dunia yang bergerak terus, di mana kecepatan dan percepatan nyaris menjadi kunci dalam semua-mua aspek. Di waktu-waktu tertentu sering kita menemukan letih yang mengarat, penat yang mengerkah. Kadang, pada saat-saat itu, keluarga menjadi berharga lebih dari biasanya. Ia bukan cuma lokus tempat kita tetirah, tapi sekaligus tempat kita kembali kepada ibu.
Ibu di situ hadir sebagai wakil dari segugus nilai-nilai yang lebih mengedepankan kasih, ketulusan, kerjasama. Gugusan prinsip-prinsip feminin itulah yang diharapkan bisa mengguyur kedirian kita yang sepanjang tahun penuh dengan hiruk-pikuk hidup yang terlampau dilambari semangat maskulin yang mengobarkan persaingan ketimbang kerjasama, pamrih ketimbang ketulusan, sinisme ketimbang kasih sayang.
Bukan kebetulan jika tiga hari setelah Hari Ibu kita berjumpa dengan Natal: sebuah momentum historis sekaligus teologis, saat di mana Yesus dari Nazareth dilahirkan ke muka bumi, tentu saja melalui gua garba Maria yang masih suci nan perawan.
Doktrin kristiani menyebut Yesus sebagai bagian tak terpisahkan dari Trinitas Suci. Ada masa di mana perdebatan tentang trinitas suci itu menjadi polemik teologis yang amatlah sengit di kalangan teolog dan para paderi. Sampai-sampai, seperti dikisahkan Karen Amstrong, pokok teologis yang amat elementer itu menjadi bahan perdebatan yang riuh di kalangan awam, para pelaut, tukang roti –sama seperti sekarang orang membicarakan sepakbola.
Arius, seorang paderi dari Alexandria, memulai perdebatan ini dengan melansir pernyataan bahwa pada dirinya Yesus bukanlah Tuhan, tetapi ia diangkat oleh Tuhan Bapa ke jenjang Illahiah. Pendeknya, bagi Arius, status Illahiah pada Yesus adalah karunia, pemberian. Sementara Athanasius, asisten yang brilyan dari Uskup Alexander, menjadi “penantang” Arius dengan menyusun argumen bahwa Yesus bukanlah mahluk, melainkan sedari awal sudah menyandang ke-Illahi-an.
Sebelum digelarnya sinode di Nichea yang disponsori oleh Kaisar Konstantin, polemik teologis antara Arius dan Athanasius masih berlangsung seimbang. Masih cukup banyak yang tak bisa menerima argumen Athanasius, terutama istilah “homoousion” (secara harfiah berarti “dibuat dari bahan yang sama”) yang digunakan Athanasius untuk menjelaskan Yesus dan Tuhan Bapa. Marcellus, Uskup Ankira, lantas mengenalkan istilah “homoiousion” (yang berarti “dari hakikat yang sama/serupa”).
Perdebatan ini begitu pelik dan berliku-liku. Sampai-sampai, Edward Gibbon dengan begitu lugasnya pernah berujar: “Tidak masuk akal jika penyatuan Kristen terancam hanya karena sebuah diftong.” [antara "homoousion" dan "homoiousion" dibedakan oleh huruf "i"]
Tidak pada tempat dan kapasitasnya jika tulisan ringkas ini menghunjam terlampau dalam pada detil polemik teologis itu. Merayakan Natal, bagi umat Kristiani, bukanlah sebuah simposium memperdebatkan doktrin-doktrin teologi, tetapi pertama-tama sebagai sebuah pengalaman beragama, pengalaman berke-Tuhan-an. Ia lebih dari sekadar diskusi teologis dan filosofis, karena beragama pada dirinya sendiri mengandaikan pengalaman, mengalami, menghayati dan –tentu saja– mempercayai Sesuatu (dengan “S”, bukan “s”). Ada senjang, kata Aristoteles, antara “mathein” (mempelajari) dengan “pathein” (mengalami).
Dengan kekhusyukan menghayati itulah, para koster pengabdi gereja dan para petugas liturgi di dusun Puhsarang, Kediri, misalnya, membersihkan debu gamelan dan menyiapkan buku-buku “Kidung Adi” yang mungkin mulai beranjak kusam. Di Geraja Puhsarang, masyhur sebagai “gereja inkulturasi” yang menyesuaikan tata-ibadat dengan kultur setempat, Natal dihelat dengan kesyahduan yang menyentuh langsung deru-deram jantung orang-orang Jawa.
“Ing Ratri, dalu adi
Prapangen miyarsi
Ing Betlem wonten ing kandang
Wus manjalma Putraning Hyang
Tedhak, tedhak saking swarga
Tedhak, tedhak saking swarga….”
Tembang suci dengan syair Jawa itu tak mungkin menggetarkan dawai di dada jika disimak dengan otak yang meregang. Ia, pertama-tama dan mula-mula, mesti dirasakan, dihayati, dialami, dibenturkan dengan pengalaman hidup sepanjang tahun dan hari….
Bahkan dengan itu pun misteri Illahi tak akan pernah habis dikuak, tak pernah lekang digali. Makin banyak lapis-lapis misterium Tuhan yang kita anggap berhasil diungkai, makin banyak pula lapisan lain yang membekam. Dan pada misteri dan samar yang tak tertembus itu kedahsyatan Tuhan bersemayan, terus menerus dicari, terus menerus dikejar para peziarah yang gigih.
Esoterisme ini, dengan mengutip Basil yang Agung, “telah diabadikan bapa-bapa suci kita dalam keheningan yang menjauhkan kecemasan dan keingintahuan… agar dengan keheningan ini karakter suci misterium ini tetap terjaga.”
Setiap agama punya sisi esotorisnya sendiri-sendiri. Kata-kata Basil di atas pastilah juga terasa akrab di pendengaran orang-orang yang akrab dengan tradisi sufi, seperti halnya Sidharta yang tak pernah menjawab tiap kali diajak bicara tentang Tuhan dengan segala perwujudan dan perdebatan yang melingkupinya.
Menggiriskan hati jika watak esoteris agama-agama tak berhasil menyelamatkan sejarah dunia dari sisi gelap polah para pemeluknya dalam mencecerkan kebencian dan darah di medan-medan peperangan atas nama bendera, tanah air, ideologi juga Tuhan. Sejarah (ajaran) Tuhan di muka bumi tak seindah perca-perca.
Jika kasih ibu saja sepanjang masa, kasih Tuhan pastilah sepanjang usia alam semesta yang tak berujung tak berpangkal. Tapi kasih manusia memang seringkali lebih rumit. Ia mudah sekali punah hanya karena sebuah diftong.
Selamat Natal bagi kita semua!
menjura, dab!
@sam hedi:
selamat natal, sam
yo
salut pada pak zen. tulisan pak zen selalu membuat otak saya tambah berat.
Mantap… Ulasan yg menyentuh otak dan hati. Damai Natal utk semua.
[...] This post was mentioned on Twitter by zen.rs and Athar, zen.rs. zen.rs said: Posting di blog saya utk semua yg merayakan Natal: "DIFTONG: Kasih Ibu Sepanjang Masa, Apalagi Kasih Tuhan" | http://bit.ly/hGVgmq [...]