Diftong
–kasih ibu sepanjang masa, apalagi kasih Tuhan
Hari Ibu, yang rutin diperingati tiap 22 Desember, seperti batu tapal yang bisa mengingatkan kita ihwal pentingnya sebuah himpunan bernama keluarga. Kita hidup dalam dunia yang bergerak terus, di mana kecepatan dan percepatan nyaris menjadi kunci dalam semua-mua aspek. Di waktu-waktu tertentu sering kita menemukan letih yang mengarat, penat yang mengerkah. Kadang, pada saat-saat itu, keluarga menjadi berharga lebih dari biasanya. Ia bukan cuma lokus tempat kita tetirah, tapi sekaligus tempat kita kembali kepada ibu.
Ibu di situ hadir sebagai wakil dari segugus nilai-nilai yang lebih mengedepankan kasih, ketulusan, kerjasama. Gugusan prinsip-prinsip feminin itulah yang diharapkan bisa mengguyur kedirian kita yang sepanjang tahun penuh dengan hiruk-pikuk hidup yang terlampau dilambari semangat maskulin yang mengobarkan persaingan ketimbang kerjasama, pamrih ketimbang ketulusan, sinisme ketimbang kasih sayang.
Bukan kebetulan jika tiga hari setelah Hari Ibu kita berjumpa dengan Natal: sebuah momentum historis sekaligus teologis, saat di mana Yesus dari Nazareth dilahirkan ke muka bumi, tentu saja melalui gua garba Maria yang masih suci nan perawan.
Doktrin kristiani menyebut Yesus sebagai bagian tak terpisahkan dari Trinitas Suci. Ada masa di mana perdebatan tentang trinitas suci itu menjadi polemik teologis yang amatlah sengit di kalangan teolog dan para paderi. Sampai-sampai, seperti dikisahkan Karen Amstrong, pokok teologis yang amat elementer itu menjadi bahan perdebatan yang riuh di kalangan awam, para pelaut, tukang roti –sama seperti sekarang orang membicarakan sepakbola.