Ngelayab

– tentang jacatra dan tempat-tempatnya

Menurut saya, kawasan Kemang lebih rapi daripada kawasan Gajah Mada, tapi Kemang kalah praktis dibandingkan kawasan Gajah Mada. Ini soal dunia malam, tentu saja. Kendati saya dengan senang hati pergi ke Kemang dari jam 11 sampai jam 2 dan pindah ke Gajah Mada dari jam 2 sampai siang.

Menurut saya, para penari striptease di Alexis jauh lebih hot daripada penari striptease di Malio. Ini soal tarian tanpa koreografi, tentu saja. Kendati saya cukup puas hanya melihat sexy dancing di NU China karena di sana bisa pesan satu pitcher kungfu hustle di saat sedang kere permanen.

Menurut saya, belakangan lebih mudah menemukan kaum gay daripada kaum lesbian. Ini soal sebaran orientasi seksual, tentu saja. Kendati saya dengan senang hati tak memilih keduanya.

Menurut saya, Jim Beam jauh lebih menantang daripada Johny Walker. Ini soal minuman keras, tentu saja. Kendati saya dengan senang hati memilih Cointreu atau Absolut [baik Vodka atau Mandrin] yang lebih lembut jika pagi-pagi buta saya di-oleh-oleh-i oleh sesepuh funky macam Paman Tyo seperti yang terjadi tempo hari.

Menurut saya, Bintang jauh lebih enak daripada Heineken. Ini soal bir, tentu saja. Kendati saya bisa saja meminum Carlsberg seandainya tulisan di kaos Liverpool sudah ganti jadi Nyonya Meneer.

Menurut saya, Megaria di Cikini jauh lebih eksotik daripada Jakarta XXI di Sarinah. Ini soal nonton film drama, tentu saja. Kendati untuk film seperti “2012″ dengan senang hati saya memilih Jakarta XXI karena sound-nya yang lebih menjanjikan.

Menurut saya, Bundaran HI lebih nyaman ketimbang Monas. Ini soal nongkrong malam-malam di tempat terbuka di jantung Jakarta, tentu saja. Kendati saya dengan senang hati lebih memilih pergi ke Monas jika hendak main futsal, kecuali jika Si Yudhi memaksa minta diajari berenang gratisan.

Menurut saya, berbelanja di Al-fresh atau Total memang jauh lebih bersih ketimbang Pasar Minggu. Ini soal mencari buah-buahan, tentu saja. Kendati saya dengan ikhlas pergi ke tengah beceknya pada pagi buta di Pasar Minggu untuk memburu anggur hijau yang masih segar.

Menurut saya, Blue Bird layak jadi opsi pertama daripada Express. Ini soal kendaraan umum, tentu saja. Kendati saya akan memilih Express lebih dulu kalau jarak yang hendak ditempuh sejauh antara Gajah Mada–Depok pada jam-jam macet, apalagi kalau harus lewat Sahardjo atau Kuningan lebih dulu.

Menurut saya, bubur ayam di Barito kalah enak dengan bubur ayam di Cikini. Ini soal makanan, tentu saja. Kendati lebih ikhlas makan nasi uduk di depan rumah sakit Pasar Rebo jika habis kelayaban di Condet.

Menurut saya, Kramat Tunggak jaman dulu jauh lebih rapi daripada kawasan Royal di Pluit di masa sekarang. Ini soal lokalisasi ecek-ecek, tentu saja. Kendati saya lebih suka pergi ke Dolly yang di tengah-tengahnya ada taman bacaan.

Menurut saya, terminal Pulogadung lebih brengsek daripada terminal Lebak Bulus. Ini soal pangkalan bus-bus jarak jauh, tentu saja. Kendati saya akan lebih memilih Blok M seandainya saja angkutan 75 bisa sampai ke Bandung untuk nonton Persib minggu besok saat duit lagi cekak, kecuali jika masih ada warna oranye di pantatnya yang karatan.

Menurut saya, siang hari di Bekasi yang panas masih lebih asyik daripada Tangeran. Ini soal kawasan pinggiran Jakarta, tentu saja. Kendati saya lebih suka Depok, apalagi jika harus iseng main ke Kansas-nya UI.

Menurut saya, tulisan mendiang Firman Muntaco lebih maknyus daripada kolomnya Seno Gumira Ajidarma di Jakarta-Jakarta. Ini soal kolom kehidupan urban Jakarta yang terbit rutin, tentu saja. Kendati saya masih bisa rileks membaca kolomnya Indra Herlambang di Free Magazine jika kebetulan saya sedang hilang ingatan yang bikin saya lupa kalau dia adalah presenter gosip di “Insert” punya Trans TV.

Menurut saya, membaca “Hear The Wind Sing”-nya Murakami yang penuh bau alkohol di selasar Circle-K lebih mudah daripada membaca “Oliver Twist”-nya Dickens yang penuh aroma busuk di Tanjung Priok. Ini soal novel berlatar urban, tentu saja. Kendati saya akan lebih antusias membaca puisi-puisinya Baudelaire tentang archade di kota Paris jika harus jalan-jalan di Oud Batavia pada sore hari atau membaca “Lorong Midaq”-nya Mahfoudz ihwal sumpeknya Kairo saat harus duduk di taman Kwitang.

Menurut saya, perpustakaan CSIS jauh lebih ramah pelayanannya daripada perpustakaan Freedom Institute di Jalan Proklamasi. Ini soal buku-buku yang bisa dibaca cuma-cuma, tentu saja. Kendati saya masih lebih bersemangat ngubek-ngubek lantai lima Perpustakaan Nasional di Salemba.

Menurut saya, nonton bola di Senayan jauh lebih menggairahkan ketimbang nonton bareng di MU Cafe di Sarinah. Ini soal sepakbola, tentu saja. Kendati saya rela disebut tidak nasionalis daripada pergi ke Senayan hanya untuk melihat tim nasional yang didukung ribuan orang berseragam oranye yang bikin mata jadi sepet tak karuan.

Menurut saya, Metropole di Glodok jauh lebih melankolik daripada Kaisar di Duren Tiga. Ini soal hotel, tentu saja. Kendati saya akan langsung pergi ke Kaisar yang ada kafe dangdutnya jika harus mencari Binhad yang sedang memburu inspirasi buat puisinya.

Menurut saya, CCF di Salemba kalah elegan daripada Goethe Institute di Menteng. Ini soal pusat kebudayaan negara asing, tentu saja. Kendati saya pasti akan memilih Erasmus Huis di Kuningan kalau ada yang traktir untuk kursus bahasa Belanda.

Menurut saya, Galeri Nasional lebih membikin betah daripada Museum Gajah. Ini soal tempat pameran di pusat Jakarta. Kendati saya rela pergi ke Taman Prasasti di Tanah Abang pada tengah malam jika memang esoknya ada deadline menulis obituari.

Menurut saya, shalat di Mesjid Kampung Bandan jauh lebih khusyuk daripada Mesjid Istiqlal. Ini soal tempat ibadah, tentu saja. Kendati saya akan pergi ke Katedral di Gambir kalau sedang membutuhkan buku-bukunya Martin Buber atau Paul Tillich.

Printed from: http://pejalanjauh.com/2009/11/menurut/ .
© Pejalanjauh 2010.

10 Comments   »

  1. Menurut saya, Zen itu kadang ajaib, kadang aneh.
    Buset dah, saya bukan peminum, dan tidak funky.

    Tapi menurut saya yang awam, Carlsberg lebih enak ketimbang Anker. Padahal pabriknya sama: Delta Jakarta, yang juga bikin San Miguel. Dulunya itu BUMD milik Pemerintah DKI, sebagai warisan penjajah. Lantas lama-lama rikuh juga kalau Pemda ngurusi air berkandungan alkohol — bukan soal 5 persen atau lebih — akhirnya secara bertahap menarik diri.

    Menurut saya, air api memang dekat dengan kekuasaan. Cukai, misalnya. Juga dulu ketika orang partikelir ingin berbisnis gampang dengan menambahkan stiker pajak daerah untuk minuman berakohol. BUMN warisan kolonial juga pegang hak impor. Dulu, Zen tahu, pemerintah kolonial juga urusi tata niaga candu. Dan candu adalah bagian dari bisnis masa revolusi.

    Menurut saya katedral itu lebih cocok disebut berada di Lapangan Banteng. Yang digambir itu GPIB Immanuel. Kenapa GPIB punya gedung gereja tua, setahu saya itu salah satu hasil Konferensi Meja Bundar.

    Menurut saya komen ini nyinyir, kepanjangan. Lebih panjang dari “memo” dan (apalagi) “oh!” :D

    [Reply]

  2. hedi says:

    Menurutku, Gottlieb-Daimler Benz Arena di suburban Stuttgart lebih keren ketimbang Theater of Dream di pinggiran Manchester yang megah itu. Ini memang soal stadion di Eropa. Tapi aku sudah cukup seneng jika bisa nonton di tribun ekonomi Gajayana, Malang, yang tiketnya termahal se-Indonesia itu bila Arema Malang menang. :D

    [Reply]

  3. nothing says:

    #sam Hedi. tiket resmi naik, ekonomi jadi 20 rebu dan mainnya di Kanjuruhan, bukan di Gajayana lagi

    - menurutku gol thiery henry ke gawang irlandia sah sah saja. itu kalo bicara gol yang disahkan karena wasit tak lihat. tapi kalo bicara fair play, henry jelas kurang fair lah, curang.
    tapi menurutku, yang paling nyebelin adalah ismet sofyan, pemain timnas ini bilang pelanggaran yang dilakukannya tidak merupakan hal yang fatal.

    [Reply]

  4. arya says:

    aku lebih suka heineken ketimbang bintang. tapi kalo duit lagi cekak sih bintang jg mau :))
    oya, kamu solat toh? =))

    [Reply]

  5. erra says:

    Menurut saya membaca tulisan ini seperti membaca kumpulan status yang ditulis oleh 20 orang di FB, atau status yang 20 kali ditulis oleh orang yang sama.. Ini tentang tulisan atau status, saya sendiri jadi bingung wkwkwkwk….

    [Reply]

  6. emina says:

    Menurut saya, tulisan dan blog anda ini sangat unik. salam kenal :)

    [Reply]

  7. darsina says:

    menurut saya paman tyo seorang santo. Ini soa apa yng diminum dan tidak diminum paman sejak dulu. Beliau lebih suka minum air putih atu jus buah apa saja, terutama alpukat, apel, atau jambu merah. Paman, setahu saya, juga tidak suka minum air api atau sekadar minum berkarbonasi atau berenergy yg kian gencar iklannya belakangan ini…..
    itu sepengetahuan saya lho, zen, dan bs sj pengetahuan sy itu keliru….. :)

    [Reply]

  8. sherlanova says:

    Menurut saya, blog saya di Wordpress lebih
    asyik daripada yang di Blogspot, lantaran tulisannya
    bisa dipendekin kayak begini, yang jelas membuat
    pembaca bisa milih tulisan mana yang mau dibaca,
    dan gak pusing-pusing ngeliat tulisan saya yang panjang…
    *ngasih tau ceritanya*

    Ide yang bagus untuk tulisan saya; gaya nulisnya,
    maksudnya…

    [Reply]

  9. gendeng itu pilihan, sebagaimana waras atau sehat. Jika dengan gendeng bisa bebas hukum, saya akan milih gendeng.
    Namun mending saya jadi ketiadaan aja wis, daripada ikut-ikutan ngomyang kayak gini….

    [Reply]

  10. kalasenja says:

    Menurut saya MU klub terbaik di dunia dan Giggs pemain MU terbaik
    he he he nggak nyambung ya,,
    salam

    [Reply]

RSS feed for comments on this post , TrackBack URI

Leave a Comment