Kromoleo

– bersatulah kere-kere sedunia

Seorang teman bertanya apa pernah saya mendengar kata “kromoleo”. Saya mengangguk dan menjawab apa yang saya tahu tentang “kromoleo”.

Apa yang saya tahu tentang “kromoleo” ternyata berbeda sekali dengan apa yang dimaksud teman yang bertanya tadi. Jika saya menjawab “Kromoleo” sebagai nama tokoh yang memimpin Sarekat Kere di Semarang pada 1914, teman saya justru memaksudkannya sebagai “sejenis hantu yang dipercaya berwujud keranda mayat dan kerap meminta tumbal”. Versi lain menyebutnya “memedi pandosa”, yang muncul berlima, empat hantu mengusung keranda, satunya lagi terbujur di atas kerandanya.

Obrolan sambil lalu dengan teman tadi membuat saya jadi tertarik lagi dengan sosok “Kromoleo”.

Satu-satunya informasi yang saya ketahui tentang sosok Kromoleo didapatkan dari studi Soe Hok Gie tentang transformasi Sarekat Islam (SI) cabang Semarang yang disusunnya untuk mendapatkan gelar Sarjana Muda (BA) di Departemen Sejarah UI. Saya membacanya di akhir tahun 1990-an dan tak pernah punya ketertarikan lebih pada sosok “Kromoleo”. Seingat saya, namanya hanya disebut sekali oleh Gie.

Kromoleo, dalam catatan Gie, adalah pemimpin Sarekat Kere, organ bentukan SI Semarang. Sarekat Kere didirikan sekitar Februari 1919, saat di mana SI Semarang sudah makin radikal dan tinggal menunggu waktu untuk bertransformasi menjadi partai komunis pertama di Asia.

Ketika itu, pemerintah kolonial mulai bertindak represif pada tokoh-tokoh SI Semarang. Sneevliet sudah diangkut ke kapal untuk dikirim pulang ke Eropa. Darsono sejak September 1918 telah diperam di penjara Surabaya. Semaoen dituntut karena menerjemahkan tulisan Sneevliet. Si Bengal Marco Kartodikromo, musuh tradisional Belanda, hampir-hampir pula dijerat Asisten Residen karena ia menulis sebuah sajak yang dapat ditafsirkan sebagai anjuran mengusir kaum “kafir”. Partoatmodjo, Ketua Seksi Perburuhan SI Semarang, dipenjara selama 3 bulan.

Sebelumnya, wabah kekurangan pangan tak membuat pemerintah Belanda menerima ide pengurangan areal perkebunan tebu untuk memaksimalkan area persawahan. Volksraad menolak ide pengurangan areal tebu dengan perbandingan suara 10 lawan 20.

Dari situ muncul sindiran bahwa Volksraad bukannya “menjadi” raad-nya (dewan) rakyat (volks), tetapi raad-nya (dewan) gula (suiker), suiker raad.

Dalam situasi itulah SI Semarang mencoba melipatgandakan semangat radikalisasi di kalangan anggota-anggotanya. September 1918 didirikan Sarekat Islam seksi perempuan di mana para propagandis SI Semarang masuk ke pasar-pasar untuk mengajak kaum perempuan bergabung.

Puncaknya, pada Februari 1919, berdiri Sarekat Kere. Organ ini menghimpun semua gelandangan, gembel-gembel, para pengemis, sampai kuli-kuli angkut yang berada di wilayah Semarang.

Situasi dan kondisi ekonomi yang berat dan melarat membuat orang-orang dari kalangan di atas mudah sekali diorganisir. Mereka tidak mempunyai apa-apa selain tenaga dan pakaian melekat di badan, sehingga apa pun yang akan terjadi mereka tak akan kehilangan apa-apa pula seumpama ditangkap, dipenjara, atau bahkan dikirim ke Digul.

Pendirian Sarekat Kere ini dimungkinkan atas inisiatif pemimpin Sarekat Islam Semarang yang tujuannya menghimpun “orang-orang yang selalu miskin dan tidak punya bondo“, tanpa memandang bangsa. Itu sebabnya, dalam Sarekat Kere ini terhimpun pula gembel-gembel “bumiputra Tionghoa”.

Orang-orang kaya di Semarang memang ketakutan dengan gembel-gembel kota ini. Mereka mudah ditemui di jalanan, di lorong-lorong pasar dan di pintu-pintu gang. Diinjeksi oleh ideologi Sarekat Islam Semarang yang pada masa itu paling radikal, mereka mudah digerakkan untuk apa yang dianggap sebagai solidaritas sesama orang kere.

Situasi itulah yang menjadi sumur inspirasi bagi Si Bengal Mas Marco Kartodikromo menulis prosa berjudul Semarang Hitam. Dalam salah satu bagiannya, Marco yang memang terkenal dengan “pena yang galak”, menulis begini:

“Seorang laki-laki muda duduk di atas kursi rotan panjang membaca koran. Ia tenggelam dalam keasyikan. Kemarahannya sekali-kali dan pada saat yang lain senyumannya menjadi tanda pasti ia sangat menaruh minat pada cerita yang dibacanya. Ia balikan halaman-halaman koran, berpikir mungkin ia dapat menemukan sesuatu yang menghentikan perasaannya yang sangat menderita. Sekonyong-konyong ia mendapati sebuah artikel dengan judul:

KEMAKMURAN

Seorang gelandangan jatuh sakit dan tewas di tepi jalan karena kedinginan.”

Aktor intelektual di balik pendirian Sarekat Kere adalah Partoatmodjo, kepala seksi perburuhan SI Semarang yang berkali-kali memimpin aksi pemogokan. Sementara orang yang menjadi pimpinan Sarekat Kere tak lain adalah orang yang bernama Kromoleo.

Siapa Kromoleo? Saya tidak mendapat informasi yang memadai.

Soe Hok Gie sendiri hanya menyebutkan namanya sekali dan Sarekat Kere hanya disebutkan sebanyak tiga kali. Tidak begitu jelas juga bagaimana kiprah Sarekat Kere ini di bulan-bulan selanjutnya. Gie sendiri mengambil informasi dari berita yang tercantum dalam harian Sinar Hindia, koran terbitan SI Semarang.

Saya menduga, Kromoleo adalah nama samaran dari seorang tokoh SI Semarang. Atau, bisa juga, Kromoleo adalah nama panggilan salah seorang pentolan kaum miskin kota Semarang. Sebab, saya kira, agak sukar membayangkan ada orang tua yang menamai anaknya dengan nama sejenis hantu yang mengerikan (sebagai informasi, kromoleo sebagai hantu cukup populer di Jawa, dan sempat muncul isu tentang gentayangannya kromoleo di Surakarta pada tahun-tahun sekitar itu juga).

Spekulasi tentang siapa Kromoleo tentu saja hanya akan menjadi spekulasi sepanjang tidak ada dokumen tertulis yang bisa memberi penjelasan tentangnya. Mungkin hanya dengan meluangkan waktu untuk memeriksa koleksi Sinar Hindia milik perpustakaan nasional di Salemba saja misteri Kromoleo bisa sedikit diungkai.

Printed from: http://pejalanjauh.com/2009/11/kromoleo/ .
© Pejalanjauh 2010.

10 Comments   »

  1. hedi says:

    kesanku, kromoleo di pasukan kere itu dimaksudkan seperti rombongan pembawa keranda terkait. Katakanlah dalam bahasa modern; manusia bayangan (underground).

    [Reply]

  2. hedi says:

    komenku dimoderasi?

    [Reply]

  3. bangtaufik says:

    mas,
    mbok jangan memamerkan ke-komunisan trus, gimana…..
    lidah, mata, telinga dan hatiku dah alergi dengan itu. karna menurut saya (ini menurut saya lho) semua sanjungan anda kepada tulisan dan tokoh hanyalah manis dan lembut jinak dialam teori, giliran mereka nyata berkuasa, seketika menjadi mahluk buas yang menjadi pembantai manusia terbanyak nomer satu sepanjang keberadaan manusia di bumi ini.
    saya tantang anda (kalo berani) menulis apapun tanpa mendekatkannya kepada kehebatan teologi filsafat yang nyasarnya kekomunis…..(yang tlah gagal itu…), tapi ya…. mesti kalo berani….. maksudnya kalau darahnya merah….. jangan jangan darahnya udah dak merah lagi….. berani gak………

    ———————————-

    @ bangtaufik@gmail.com

    sebenarnya sayang juga kalo sampeyan alergi dg tulisan saya, bukan apa2, soalnya sampeyan salah satu komentator yg cukup rajin di blog ini. berarti saya kudu siap2 kehilangan salah satu komentator kalau anda alergi nih kayaknya :D

    sebenarnya saya ndak pernah pamer ke-komunis-an di tulisan2 saya, lha perasaan saya bukan komunis je, entahlah kalau ternyata sampeyan bisa lebih tahu isi dan kepala saya. tapi ya seorang penulis memang harus siap jika tulisannya ditafsirkan hingga batas yang tak pernah diguga sebelumnya oleh pembaca. so, saya ndak soal kalau ditafsirkan sedang pamer ke-komunis-an.

    lagian kalo menulis tentang teologi komunis kenapa gitu? alergi ya? hehehe… perasaan saya ndak pernah nulis tentang “teologi komunis” deh, tapi siapa tahu besok2 saya malah tertarik. siapa tahu, kan?

    *etapi, saya jadi penasaran macam mana teologi-nya komunis ya?*

    :)

    [Reply]

  4. arya says:

    wah, aku lagi tau krungu sarikat kere kie.

    [Reply]

  5. Si Kaypangcu (pemimpun kaypang atau partai kere) Kromoleo ini memang misterius. Gak jelas. Ejaan namanya pun kurang lumrah untuk nama Jawa — CMIIW. Tapi penggunaan “kromo” atau “krama” memang lumrah , spt halnya “kramadangsa”. BTW, episode “SI Merah” memang romantis kayaknya. :D

    [Reply]

  6. haris says:

    baik sebagai tokoh pemimpin, maupun sbg hantu, aku blm pernah dengar nama ini zen. walaupun kau bilang hantunya bergentayangan di surakarta. he2. kalo om leo aku tau :D

    [Reply]

  7. dewi says:

    quote :
    Situasi dan kondisi ekonomi yang berat dan melarat membuat orang-orang dari kalangan di atas mudah sekali diorganisir.

    maksude kalangan bawah ya zen? tumben awakmu salah tulis :P

    maksud tulisan ini apakah untuk membangkitkan ide menggagas partai kere era hari ini? mungkin akan semakin banyak anggotanya, kecuali yang sudah kemakan gengsi

    [Reply]

  8. kok yo pas to zen, pas aku moco2 buku lentera merah, kok sampeyan mbahas sarekat kere, lha iki opo onok hubungane ambek pertemuan “kere kumpul kene 2.0 ?” (Kumpulane wong-wong SEO lek gak salah)

    [Reply]

  9. Bobmarley says:

    “…Orang-orang kaya di Semarang memang ketakutan dengan gembel-gembel kota ini. Mereka mudah ditemui di jalanan, di lorong-lorong pasar dan di pintu-pintu gang. Diinjeksi oleh ideologi Sarekat Islam Semarang yang pada masa itu paling radikal, mereka mudah digerakkan untuk apa yang dianggap sebagai solidaritas sesama orang kere…”

    Rasa-rasanya pola yang sama ada saat ini di Jakarta ya mas. Ga tau deh, orang-orang bersepeda motor, berbambu, dan berbendera itu juga sudah mulai meresahkan. Bukan, bukan mereka yang salah. Pertanyaannya masih sama sejaman kromoleo-manusia masih hidup, siapa cukong di belakangnya. Ketakutan orang Semarang tentu ada alasannya ya, Sarekat Kere bisa jadi pernah bikin ancaman, atau benar-benar mengancam. :)

    [Reply]

  10. Taryono says:

    Semarang, selalu merah paling tidak jambon, maka lebih mudah cari abangan dari pada santri ato putra_altar dikota ini, “Atheis praktis” mungkin lebih tepat dari pada “agama KTP”.

    thx Zen soal Kromoleo, meski yang kutau sekarang cuma Kromosate.
    [Kopi hitam panas, pagi ini, lebih emak cari pada Bir item. ]
    selamat natal dan tahun baru… {Avatar sebagai Prodiakonnya, Kidung Ekaristinya “Jika kami bersma” SID}

    [Reply]

RSS feed for comments on this post , TrackBack URI

Leave a Comment