– imagining: transportation!
Apa hal terbaik yang diberikan busway kepada Anda?
Busway memungkinkan Anda yang sedang duduk di kursi seperti sedang melihat lukisan-lukisannya Picasso: seorang perempuan berdiri tak lebih dari tiga jengkal di depan muka Anda, dengan tangan bergelantungan ke atas. Dunia terasa seperti sebuah kotak tepat saat semuanya menjadi lonjong.
Apa hal terburuk yang diberikan busway kepada Anda?
Busway memungkinkan Anda yang sedang duduk di kursi seperti sedang melihat serial “The Banana Album”-nya Andy Warhol: seorang lelaki paruh baya yang merasa dirinya seganteng Michel Foucault berdiri tak lebih dari dua jengkal di depan muka Anda. Rasanya seperti mendengar Basquiat berteriak: Hey, I got a toilet in here.
Pernahkah Anda berpikir untuk bercinta di dalam busway?
Tidak pernah. Saat di busway, saya lebih sering ingat Sutiyoso dan Fauzi Bowo daripada Natalie Portman atau Sandra Dewi.
Perlukah setiap shelter menyediakan perpustakaan kecil?
Tidak perlu, kecuali jika isinya semua kitab suci. Dunia akan segera tahu betapa Indonesia bukanlah negara agamis.
(more…)
– tentang jacatra dan tempat-tempatnya
Menurut saya, kawasan Kemang lebih rapi daripada kawasan Gajah Mada, tapi Kemang kalah praktis dibandingkan kawasan Gajah Mada. Ini soal dunia malam, tentu saja. Kendati saya dengan senang hati pergi ke Kemang dari jam 11 sampai jam 2 dan pindah ke Gajah Mada dari jam 2 sampai siang.
Menurut saya, para penari striptease di Alexis jauh lebih hot daripada penari striptease di Malio. Ini soal tarian tanpa koreografi, tentu saja. Kendati saya cukup puas hanya melihat sexy dancing di NU China karena di sana bisa pesan satu pitcher kungfu hustle di saat sedang kere permanen.
Menurut saya, belakangan lebih mudah menemukan kaum gay daripada kaum lesbian. Ini soal sebaran orientasi seksual, tentu saja. Kendati saya dengan senang hati tak memilih keduanya.
Menurut saya, Jim Beam jauh lebih menantang daripada Johny Walker. Ini soal minuman keras, tentu saja. Kendati saya dengan senang hati memilih Cointreu atau Absolut [baik Vodka atau Mandrin] yang lebih lembut jika pagi-pagi buta saya di-oleh-oleh-i oleh sesepuh funky macam Paman Tyo seperti yang terjadi tempo hari.
(more…)
– bersatulah kere-kere sedunia
Seorang teman bertanya apa pernah saya mendengar kata “kromoleo”. Saya mengangguk dan menjawab apa yang saya tahu tentang “kromoleo”.
Apa yang saya tahu tentang “kromoleo” ternyata berbeda sekali dengan apa yang dimaksud teman yang bertanya tadi. Jika saya menjawab “Kromoleo” sebagai nama tokoh yang memimpin Sarekat Kere di Semarang pada 1914, teman saya justru memaksudkannya sebagai “sejenis hantu yang dipercaya berwujud keranda mayat dan kerap meminta tumbal”. Versi lain menyebutnya “memedi pandosa”, yang muncul berlima, empat hantu mengusung keranda, satunya lagi terbujur di atas kerandanya.
Obrolan sambil lalu dengan teman tadi membuat saya jadi tertarik lagi dengan sosok “Kromoleo”.
Satu-satunya informasi yang saya ketahui tentang sosok Kromoleo didapatkan dari studi Soe Hok Gie tentang transformasi Sarekat Islam (SI) cabang Semarang yang disusunnya untuk mendapatkan gelar Sarjana Muda (BA) di Departemen Sejarah UI. Saya membacanya di akhir tahun 1990-an dan tak pernah punya ketertarikan lebih pada sosok “Kromoleo”. Seingat saya, namanya hanya disebut sekali oleh Gie.
Kromoleo, dalam catatan Gie, adalah pemimpin Sarekat Kere, organ bentukan SI Semarang. Sarekat Kere didirikan sekitar Februari 1919, saat di mana SI Semarang sudah makin radikal dan tinggal menunggu waktu untuk bertransformasi menjadi partai komunis pertama di Asia.
(more…)
– bergelut dengan kelit
Seorang anak muda belajar caranya membela perkara di depan pengadilan kepada seorang empu yang mahir bersilat lidah dan berpengalaman membela satu perkara di muka pengadilan.
Disepakatilah besaran biaya belajar yang harus dibayarkan anak muda itu kepada sang empu. Biaya dibayar separuh di muka, sisanya akan dibayar jika anak muda tadi terbukti sudah bisa memenangkan satu perkara yang diajukan ke pengadilan.
Sekian waktu berlalu setelah anak muda tadi tuntas belajar pada sang empu. Nyatanya, anak muda itu tak pernah mau membela suatu perkara di pengadilan. Sang empu yang mengajarinya tentu saja berang. Jika anak muda itu tak pernah berani maju ke pengadilan untuk membela satu perkara, bagaimana ia akan menerima sisa pembayaran yang belum dilunasi anak muda itu?
Empu itu pun akhirnya mengajukan persoalan ini ke depan pengadilan. Mahamantri sendiri yang rencananya akan memimpin persidangan. Sementara, anak muda itu, karena sudah mempelarjari bagaimana teknik dan cara membela perkara di pengadilan, kemungkinan akan membela dirinya sendiri.
Ingat, perjanjian awalnya berbunyi: sisa pembayaran akan dibayarkan jika anak muda tadi memenangkan perkara di pengadilan.
(more…)
– tentang wabah dan harapan
Sampeyan pasti pernah mendengar istilah “kotak pandora”. Tapi, tahukah bagaimana istilah itu muncul?
Saya baru mengetahuinya setelah membaca buku tipis berjudul “Puspa Sari Mitologi Yunani” karangan Herman J Weschler yang diterbitkan penerbit Ganesha pada 1976. Buku ini saya dapat dari Kwitang kemarin sore (16/01/2008) dengan harga hanya 2 ribu perak.
Di perpustakaan pribadi saya di Jogja, saya punya delapan jilid buku mitologi Yunani dalam edisi hard cover dan full color. Tapi, seingat saya, tak ada satu pun yang berkisah tentang “kotak pandora” (saya tak berkesempatan mengeceknya lagi karena saya sedang di Jakarta).
Begini ceritanya: Selain manusia, bumi dulu juga ditempati oleh para titan. Zeus sangat tidak menyukai beberapa titan, dan titan yang paling tak disukainya adalah Promotehus yang bersikukuh hendak mencuri cahaya pengetahuan dari puncak Olympus.
(more…)
– the real hero is always a hero by mistake [umberto eco]
Para pahlawan tak pernah dilahirkan tapi diciptakan. Mereka diciptakan mula-mula dan pertama bukan untuk dijadikan role-model agar diteladani atau ditiru, melainkan untuk meneguhkan narasi “perjuangan nasional merebut kemerdekaan”. Pendeknya: untuk kepentingan mereproduksi narasi nasionalisme secara kontinyu. Dengan itu, narasi perjuangan nasional yang terjadi pada masa lampau yang jauh bisa terus menerus “dihadirkan” dalam kekinian.
Selanjutnya, barulah para pahlawan yang “diciptakan” untuk kepentingan naratif itu diharapkan jadi “role-model” yang bisa diteladani dan ditiru.
Tapi, peneladanan dan peniruan itu bukan area yang leluasa untuk diisi secara mana-suka [arbitrer]. Apa yang bisa diteladani dan ditiru hanya aspek-aspek yang berkaitan dengan kepentingan melanggengkan narasi nasionalisme itu tadi; sejenis imajinasi reproduktif [imaginative reproduction, dalam istilah Paul Ricoeur] yang minimalis sifatnya karena hanya mengulang-ulang bayangan masa silam.
Tak penting bagaimana latar belakang seorang pahlawan nasional mengangkat senjata terhadap para penjajah. Menjadi tak penting bagaimana perlawanan Diponegoro –salah satunya– dipicu oleh sesuatu yang sebetulnya privat: karena Belanda mencabut patok yang menandai tanah milik leluhurnya. Yang pokok dan ditonjolkan adalah fakta bahwa Diponegoro angkat senjata terhadap Belanda!
(more…)
– namanya tren selalu sesaat, bukan?
Tidak ada yang salah dengan omongan Roy Suryo soal blog yang tak lebih sebagai tren sesaat. Beberapa kali saya berdikusi [offline atau online] dengan beberapa kawan soal pernyataan itu, dan kesimpulan saya masih sama: blog memang tren sesaat. Itu terjadi jauh sebelum munculnya wabah facebook atau twitter.
Mari kita mulai dengan membuka KBBI online. Di sana, “tren” diartikan sebagai “gaya mutakhir”. Beberapa kamus yang saya buka menunjukkan benang merah yang sama: kata “tren” merujuk pada fenomena yang sifatnya mutakhir, kecenderungan terbaru, sehingga dalam kosa kata ekonomi [pasar] kata itu kadang diartikan sebagai “the current general direction of movement for prices or rates”.
Kunci untuk memahami pengertian “tren” adalah: kebaruan, kesementaraan, tentatif.
Dengan merujuk hal itu, pernyataan kalau “blog hanyalah tren sesaat” tidaklah berlebihan. “Sesaat” adalah satuan yang lebih kecil dari apa yang tadi saya bilang sebagai “sementara”, “tentatif”. Satuan lainnya bisa “dua saat”, “tiga saat”, “semingu”, “sebulan” dan seterusnya. Tak ada kata baku dalam soal durasi waktu dari apa yang disebut “sementara”.
(more…)