Logika

– sebuah lompatan pikiran

Seorang perampok berhasil menculik seorang gadis yang masih sangat muda. Ibu sang gadis dengan susah payah berhasil menemukan penculik anak gadisnya itu. Dengan segala upaya berikut wajah yang sungguh memelas, ia memohon agar anak gadisnya dikembalikan kepadanya.

Sesungguhnya perampok cum penculik itu merasa iba pada sang ibu tadi. Ia sangat ingin mengembalikan anak gadis yang sudah berhasil diculiknya dengan susah payah. Hanya saja, ia merasa perlu untuk menjaga reputasinya sebagai perampok dan penculik paling tangguh di seantero hutan Dandaka.

Untuk itulah ia menyiapkan sebuah tebak-tebakan yang harus ditebak sang ibu. Katanya: “Baiklah, akan kukembalikan anak gadismu, dengan syarat kamu bisa menerka jawaban dari pertanyaanku. Jika jawabanmu benar, anakmu akan aku kembalikan. Jika salah, anakmu terpaksa tak akan aku kembalikan. Bagaimana?”

Si ibu tak punya pilihan. Ia mengangguk. “Apa pertanyaannya?”

Perampok sekaligus penculik itu mengelus-elus janggutnya. Sejurus kemudian, dengan nada suara yang tegas dan jelas, ia berkata: “Coba tebak, apa yang akan aku lakukan pada anak gadismu? Menurutmu aku akan mengembalikannya atau tidak?”

Pertanyaan itu tak pernah diduga oleh si ibu. Ia berpikir beberapa kali sebelum menjawabnya. Dia merasa perlu untuk berhati-hati menjawab. Bukan cuma berjaga atas kemungkinan pertanyaan yang menjebak, tapi juga mencoba mencari celah yang bisa dimanfaatkannya.

Setelah beberapa waktu berlalu, ibu itu pun merasa mantap dengan jawabannya. “Berjanjilah bahwa kau akan mengatakan yang sebenarnya. Katakan dengan jujur apa yang akan kamu lakukan setelah aku nanti mengatakan terkaanku,” ujar sang ibu.

Perampok dan penculik itu mengangguk. “Ya,” katanya dengan mantap, “aku pasti akan mengatakan yang sebenarnya, jika terkaanmu memang benar, aku akan mengatakan yang sebenarnya. Sekarang, katakan apa terkaanmu!”
Ibu itu menjawab: “Kamu tidak akan mengembalikan anakku!”

Demi mendengar terkaan ibu itu, perampok sekaligus penculik tadi tertawa terbahak-bahak. Ia yang memang berniat mengembalikan anak gadis yang diculiknya itu menggeleng-geleng sambil tersenyum. “Jawabanmu salah. Sungguh, tadi aku akan berniat mengembalikan anakmu!” ujarnya kali ini dengan nada yang datar. “Karena tebakanmu salah, terpaksa anak gadismu tidak akan aku kembalikan.”

Ibu itu tersenyum. Dengan tenang, dia berujar: “Tidak, kamu justru harus mengembalikan anak gadisku.”

“Bagaimana bisa? Bukankah kamu salah menerka?” tanya perampok sekaligus penculik itu sedikit kesal.

“Bukankah kamu akhirnya memang tidak mengembalikan anakku?”

“Iya, itu karena tebakanmu salah. Terkaanmu keliru, karena nyatanya aku berniat mengembalikan anakmu,” sanggah sang perampok dan penculik itu.

“Betul, terkaanku memang salah,” tukas si ibu. “Tapi,” ibu itu melanjutkan, “…pada akhirnya kamu memang tidak mengembalikan anakku, bukan?”

Persoalannya: bagaimana jika si perampok sekaligus penculik itu akhirnya memang mengembalikan si anak. Bukankah dengan begitu tebakan si ibu [yang menebak si perampok tak akan mengembalikan anaknya] benar-benar salah?

————————–
Post-script:

Diolah dari paparan Prof. Dr. Poedjawijatna dalam buku Logika: Filsafat Berpikir [1978: hal. 113]. Prof. Poedjawijatna memperkenalkan “dilema” di atas untuk menguraikan apa yang disebutnya sebagai “keruwetan bentuk”.

Printed from: http://pejalanjauh.com/2009/10/logika/ .
© Pejalanjauh 2010.

7 Comments   »

  1. udin says:

    pertamax!!!

    mantaff tebak2annya, gan. boleh dicoba nih…

    [Reply]

  2. haris says:

    keduaxxx!

    @ udin: kamu ni komentar di kaskus ato blog? ha3. ya jelas u yg pertamax, lebih pertamax dari zen. ha3.

    [Reply]

  3. jensen99 says:

    Kalo begitu si perampok ikut saja dengan ibu dan anak itu, dengan demikian si anak kembali sekaligus tidak kembali… :roll:

    – itu artinya, perampok itu sudah tobat :D

    [Reply]

  4. ardianzzz says:

    Jika logika tersebut diterapkan pada sistem komputer, mungkin yg disebut buffer overflow ya.. komputer langsung heng

    – baru tahu saya soal buffer overflow :)

    [Reply]

  5. enno says:

    hey zen…

    akhirnya kutemukan juga dirimu disini…
    apa kabar? :)

    – lumayan baik. gimana denganmu?

    [Reply]

  6. teguh saja says:

    perampoke goblog, wis ngerti tebakane simbok salah kok malah ngomong jujur, jika p–>1; maka q–>1
    lah iki malah p –>0;q–>1
    jadinya ya p–>0/1; tetep wae harus q–>1

    [Reply]

  7. bangtaufik says:

    x=y, x-y=0
    tapi bila tidak:
    x.a=y.b
    masalahnya
    a=0 atau a=1~ yang berlaku pula bagi b=0 atau b=1~
    bila a=0 maka hasilnya pasti nol.
    bila a=1~ maka hasilnya sangat buanyak buanget, sebanyak angka hitungan yang kita kenal.
    kesimpulan:
    seberapa perlunya (a) dan (b) didefinisikan.
    mengingat (a) bukan bapak/saudaraku dan b bukan ibu/saudariku maka aku ndak perlu.
    silakan bagi yang perlu….(he he he)

    [Reply]

RSS feed for comments on this post , TrackBack URI

Leave a Comment