Socrates
– salah satu cara “termegah” menghadapi kematian
Plato menulis ulang dialog antara Socrates dengan beberapa sahabat dan muridnya di detik-detik terakhir menjelang kematiannya. Naskah yang diperkirakan ditulis 20 tahun usai kematian Socrates itulah yang dikenal dengan naskah Faedo.
Berikut saya ketik ulang bagian-bagian terakhir dari naskah Faedo yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sebagaimana saya membacanya dari buku Sokrates dalam Tetralogi Plato yang disusun oleh Ioanes Rakhmat.
——————
Nah, Krito, marilah kita mematuhinya, dan hendaklah seseorang membawa racun yang harus kuminum, jika racun itu sudah disiapkan; tetapi jika belum, mintalah orang itu menyiapkannya.”
Dan Krito berkata: “Tetapi Sokrates, aku pikir matahari masih ada di puncak bebukitan itu dan belum tenggelam. Aku juga tahu bahwa orang lain meminumnya sangat telat, lama setelah perintah datang kepada mereka, dan bahkan, untuk beberapa orang, setelah mereka berhubungan seks dengan siapa pun yang mereka inginkan. Jadi, jangan cepat-cepat, masih ada waktu untuk digunakan.”
Dan Sokrates berkata: “Orang-orang yang kau sebut itu, Krito, memang memiliki alasan yang masuk akal untuk melakukan semua hal itu, sebab mereka beranggapan mereka diuntungkan dengan melakukannya. Tetapi, bagiku, adalah masuk akal jika aku tidak melakukannya. Sebab aku tidak berpikir bahwa aku diuntungkan sama sekali jika aku meminum racunnya ditunda sebentar lagi, kecuali, tentu saja, jika aku mau menjadikan diriku sasaran olok-olokan dalam pandanganku sendiri, dengan membiarkan diriku melekat pada kehidupan dan pelit untuk melepaskannya ketika tidak ada sesuatu apa pun yang tertingal. Jadi, “katanya,” yakin dan percayalah dan jangan bertindak lain.”
Dan Krito, ketika mendengar hal itu, menganggukkan kepala kepada seorang bocah lelaki yang berdiri dekat situ. Lalu bocah ini, setelah pergi dalam waktu yang cukup lama, datang kembali membawa orang yang harus memberikan racunnya, dengan tangannya membawa sebuah cangkir yang berisi racun yang sudah disiapkan. Ketika Socrates melihat orang ini, dia berkata, “Baiklah, wahai orang yang budiman, karena engkau orang yang mengetahui tata caranya, apa yang aku harus lakukan?”
“Tidak ada,” katanya, “selain hanya meminumnya, lalu berjalan mondar-mandir sampai engkau merasa berat di kakimu, lalu berbaring; dan racunnya akan bekerja sendiri.” Setelah mengatakan ini, dia mengulurkan cangkir itu kepada Sokrates.
Dan dengan wajah riang, Sokrates mengambilnya, tanpa gemetar sedikit pun, dan juga tanpa warna kulit wajah dan ekspresinya berubah.
…Dia lalu menempelkan cangkir itu ke bibirnya, lalu meminumnya dengan tanpa beban dan dengan senang hati. Sejauh ini, kebanyakan kami cukup dapat menahan diri untuk tidak menangis. Tetapi kali ini, ketika kami melihatnya tengah meminum racun itu, dan bahkan dia sudah selesai meminumnya, kami tidak tahan lagi. Tidak aku harapkan, air mataku mengalir deras, sehingga aku menyembunyikan wajahku dan merapati kehilanganku; tetapi bukanlah untuknya aku meratap, oh tidak, melainkan untuk kemalanganku sendiri karena kehilangan orang dan sahabat yang istimewa. Krito bangkit dan pergi keluar bahkan sebelum aku, karena dia tidak dapat menahan air matanya. Tetapi Apollodorus, yang tidak pernah berhenti menangis dari awalnya, pada momen itu benar-benar, tak terkendali lagi, meratap dan menangis keras-keras dan tersedu-sedu, sehingga tidak satu pun dari antara kami yang hadir tidak diluluhkan olehnya, kecuali, tentu saja, Sokrates sendiri.
Menyaksikan itu dia hanya berkata: “Apa yang kalian lakukan? Kalian mengherankan aku! Bukankah justru itu alasannya mengapa aku menyuruh perempuan-perempuan itu pergi, yaitu untuk mencegah mereka membuat pemandangan seperti ini. Aku juga telah mendengar bahwa seseorang harus menemui akhirnya dengan ketenangan dan kedamaian. Karena itu tentramkan dan kendalikan diri kalian!”
[beberapa saat sebelumnya, Sokrates sudah menyuruh Krito untuk mengirim Ksanthippe, istri Sokrates, pulang ke rumah agar tidak histeris di detik-detik terakhir Sokrates]
Ketika kami mendengar ini, kami semua menjadi malu dan menahan isak tangis kami. Dia berjalan mondar-mandir, dan ketika dia mengatakan kaki-kakinya telah menjadi berat, dia, sebagaimana sudah diarahkan, merebahkan diri dan berbaring dengan punggungnya. Bersamaan dengan itu, orang yang telah memberinya racun memegangnya dan, setelah beberapa waktu, mulai memeriksa tungkai dan kakinya, lalu mencubit kakinya kuat-kuat dan bertanya kalau dia merasakannya, dan dia menjawab “tidak”; dan lagi, setelah itu, dia menucbit pahanya. Lalu dia melakukan hal sama dengan makin ke atas; dan dia menunjukkan bahwa tubuh Sokrates makin dingin dan kaku. Dan dia sendiri menyentuhnya dan berkata bahwa jika racun sudah sampai ke jantungnya, pada saat itulah dia akan mati.
Dan bagian bawah perutnya juga sudah mulai dingin ketika dia menyingkirkan penutup wajahnya, sebab sebelumnya dia sudah menutupinya, lalu mengatakan sesuatu yang merupakan hal terakhir yang dikatakannya, “Krito,” katanya, “kita berhutang seekor ayam pada Asclepius. Jadi, bayarlah dan jangan ceroboh.”
“Baiklah, itu akan dilaksanakan,” kata Krito, “tetapi adakah hal lain yang engkau mau katakan?”
Ketika dia menanyakan hal ini kepadanya, dia tidak lagi menjawab. Tetapi beberapa waktu kemudian dia bergerak, dan orang itu menelanjanginya, dan kedua matanya terbuka diam; dan ketika Krito melihat ini, dia menutup mulut dan kedua kelopak matanya.
Itulah akhir kehidupan sahabat kita, Ekhekretes, seorang, sebagaimana kita dapat katakan, yang terbaik, dan, ya, terbijaksana dan teradil, di antara orang lain dalam zamannya yang kita pernah jumpai.”
—————–
post-script:
[1] Asclepius yang disebut dalam kalimat terakhir Sokrates di atas dikenal sebagai hero mitologis yang dikenal oleh orang Yunani kuno sebagai penyembuh. Hutang ayam kepada Asclepius yang dikatakan oleh Sokrates di detik-detik terakhir kematiannya itu, oleh Glenn W Most, disebut sebagai alegori di mana dengan itu Sokrates “menabalkan” Plato sebagai calon penerus dan penggantinya.
Plato, ketika itu, tidak datang ke hari eksekusi Sokrates karena sedang sakit. Di detik-detik terakhir itu, Sokrates dipercaya melihat tanda bahwa Plato sudah sembuh, sehingga ia merasa perlu mengucapkan syukur dan terimakasih, sampai-sampai meminta Krito untuk membayar hutang seekor ayam kepada Asclepius, hero penyembuh. Sebelum sembuh dari sakit, Plato hanyalah seorang murid, tetapi kini, pada detik terakhir kehidupan Sokrates, ia telah mengesahlan Plato sebagai ahli warisnya, penjaga dan pemelihara argumen-argumen filosofis Sokrates.
Orang yang memilih mati karena taat hukum, dan demi menjaga ajarannya sendiri. Agak menyebalkan juga sih..
BTW:
Hero? Bukannya dewa masbro?
Saya selalu ingat soal utang ayam, yang saya ketahui saat masih bocah, tapi belum pernah membaca aslinya, eh naskah terjemahannya…
Dulu banget pernah baca petikan Phaedon tapi terjemahannya memusingkan. Sejak itu saya bertambah yakin, sastra dan filsafat dan alih bahasa memang membingungkan.
Selain hutang hutang yang harus dibayar terhadap segala yang lampau, godaan terbesar bagi para penulis, saya kira adalah dengan menjadi intelektual. .nah loe. .
– godaan terbesar bagi para komentator adalah selalu mencoba lebih tahu. nah loe. .
ternyata socrates, orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu,,punya cerita kematian seperti ini. Nice post.