– salah satu cara “termegah” menghadapi kematian
Plato menulis ulang dialog antara Socrates dengan beberapa sahabat dan muridnya di detik-detik terakhir menjelang kematiannya. Naskah yang diperkirakan ditulis 20 tahun usai kematian Socrates itulah yang dikenal dengan naskah Faedo.
Berikut saya ketik ulang bagian-bagian terakhir dari naskah Faedo yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sebagaimana saya membacanya dari buku Sokrates dalam Tetralogi Plato yang disusun oleh Ioanes Rakhmat.
——————
Nah, Krito, marilah kita mematuhinya, dan hendaklah seseorang membawa racun yang harus kuminum, jika racun itu sudah disiapkan; tetapi jika belum, mintalah orang itu menyiapkannya.”
Dan Krito berkata: “Tetapi Sokrates, aku pikir matahari masih ada di puncak bebukitan itu dan belum tenggelam. Aku juga tahu bahwa orang lain meminumnya sangat telat, lama setelah perintah datang kepada mereka, dan bahkan, untuk beberapa orang, setelah mereka berhubungan seks dengan siapa pun yang mereka inginkan. Jadi, jangan cepat-cepat, masih ada waktu untuk digunakan.”
(more…)
– di antara pen-Tidak-an dan peng-Iya-an
Bagi Rendra, hidup adalah perjuangan dan dalam kasus Indonesia, setiap perjuangan –apa pun perjuangannya– pastilah punya kadar sebagai perjuangan politik.
Yang menonjol dari jelujur riwayat kehidupan Rendra adalah kenyataan betapa ia hidup dalam lingkungan yang nyaris selalu berkata “tidak” kepadanya. Hidup Rendra –sedari kecilnya– diabadikan untuk berjuang mencoba mengubah “pen-Tidak-an” itu agar menjadi “peng-Iya-an”, paling tidak permakluman.
Rendra kecil hidup dan dibesarkan di tengah keluarga yang keras. Ayahnya (Raden Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo) adalah sumber pertama perjuangannya. Sang Ayah inilah yang dianggapnya kerap menjegal kegairahan yang terus membesar Rendra pada fantasi dan imajinasi dengan terus menerus mendesakkan kaidah-kaidah kehidupan yang rasional, ilmiah juga taat asas. Ayahnya pula yang bahkan meminta pihak sekolah untuk men-skors Rendra yang urakan dan sukar diatur.
Sajak “Suto Mencari Bapak”, salah satu sajaknya yang terpanjang, adalah bukti otentik perjuangan Rendra dalam menghadapi “pen-Tidak-an” yang diterimanya dari sang bapak. Rendra, kepada Romo Mudji Sutrisno, memang akhirnya membeberkan tafsirnya sendiri atas sajak itu di mana –kata Rendra– “bapak di situ bisa ditafsirkan sebagai Tuhan…”
(more…)