Madjallah

Saya menemukan sebuah majalah tua yang tak jelas namanya.

Sampul majalah itu sudah copot entah di mana. Jadi, tak jelas siapa dewan redaksinya, juga tanggal terbitnya. Nama majalah itu pun tak begitu jelas, tapi bisalah saya kira-kira namanya: Majalah Indonesia. Perkiraan itu diambil dari selalu munculnya nama Indonesia di tepi atas di setiap halaman genap, sementara tepi atas halaman ganjil selalu berisi judul-judul tulisan yang dimuat di situ.

Saya hanya dapat satu eksemplar dari satu nomor penerbitan. Di situ ada esai Bahrum Rangkuti, Amal Hamzah, puisi-puisi M Balfas dan terjemahan esai Arthur Koestler tentang watak novel dan terjemahan surat-surat Dennis de Rougemont tentang bom atom di Hiroshima.

Saya menduga eksemplar yang saya dapatkan adalah edisi pertama majalah tersebut. Hal itu terlihat dari Kata Pengantar yang ditulis editornya. Tak ada keterangan siapa editornya. Kata pengantarnya menarik sekali, dan bisa dibaca sebagai seperti sebuah manifesto. Di sana terpacak dengan gagah sebuah sikap kebudayaan, yang dalam beberapa hal kadang terasa lucu.

Saya ketik ulang naskah kata pengantarnya untuk Anda. Semoga berguna.

*****

KATA PENGANTAR

Dalam menerbitkan madjalah ini pertama sekali kami ingat kepada perkataan Du Perron:

“Di negeri Indonesia ini banjak sekali orang menerbitkan madjallah kebudajaan. Tapi selekas terbitnja madjallah2 itu, selekas itu pula hilangnja.”

Dan utjapan itu tidak bebas dari edjekan. Dan reaksinja hanja dua: berpangku tangan karena takut akan kebenaran utjapan2 itu atau menentang utjapan itu dengan kemauan memperlihatkan kepada Du Perron bahwa utjapannja itu tidak selamanja benar.

Du Perron sudah meninggal dunia, tapi Du Perron-Du Perron masih banjak di sekeliling kita. Dan Du Perron-Du Perron persis sama dalam djalan pikirannja dengan Du Perron jang sebenarnja.

Du Perron-Du Perron ini djuga menepuk-nepuk bahu kita seperti anak ketjil, seperti djuga Du Perron dulu menepuk-nepuk bahi Takdir Alisjahbana dan Sanoesi Pane seperti anak ketjil.

Du Perron-Du Perron ini pun mengadjari kita, supaya mempeladjari kebudajaan kita dulu kala, supaya djangan membatja Ilya Ehrenburg dan Adema van Scheltema, pendek kata: Du Perron-Du Perron ini maunja kita membatja buku2 jang diangapnja baik buat kita, pendek pula: sematjam pendjajahan rohani.

Berpangku tangan adalah sematjam Wu-Wei dari Laotse jang mengandjurkan djangan berlaku apa2. Tapi Wu-Wei dalam djaman atom ini tidak sadja berarti passiviteit, tapi djuga bahaja besar bagi kebudajaan Indonesia.

Tidak menulis berarti tidak berpikir dan tidak berpikir memberi djalan kepada pendjadjahan rohani.

Tidak ada seorang pun jang tahu pun djuga Du Perron-Du Perron itu, berapa lamanja hidup madjallah ini. Kita harus melihat ini dengan logis. Manusia tidak dapat diukur djasanja dengan pendek atau pandjangnya umurnja. Madjallah ini pun tidak.

Bagi kami setiap nomor jang terbit dari madjallah ini apa pun ada harganja, karena setiap nomor itu adalah pendjelmaan dari pikiran manusia jang menulis dalamnja. Dan selama manusia Indonesia menulis -ia berpikir– ia sanggup menjerukan kepada Du Perron-Du Perron: Stop dengan pendjadjahan rohanimu!

Kwaliteit djuga satu perkataan jang sering dipakai Du Perron-Du Perron. Dan kepada kita ditundjukkanlah madjallah2 jang kwaliteitnja internasional.

Akibatnja banjak kurban jang djatuh, banjak orang Indonesia yang pintar2 tidak berani menulis, karena takut karangannja tidak berkwaliteit internsional. Dan djika ada djuga jang menulis, mereka selalu berpegang pada katqa-kata orang luar negeri jang internasional, karena kalau tidak begitu, merea merasa tidak kuat, tidak internasional.

Dalam hal ini kami ingin mengandjurkan, agar bangsa Indonesia mendjadi nihilisten semua, tapi nihilisten seperti diartikan Turgenjew, jaitu melepaskan diri dari segala nilai2 apa pun dan baru mengikatkan diri kepadanja setelah ditilik dan diuraikan dengan setjara kritis.

Bazarow jang aktif, jang mentjipta mestinja adalah pemuda-pemuda tjita-tjita, karena Bazarow2 inilah jang sanggup mengatakan: kami tidak perlu tuntunanmu lagi. Kemerdekaan ialah kemerdekaan memilih dan kami bisa memilih.

Printed from: http://pejalanjauh.com/2009/07/madjallah/ .
© Pejalanjauh 2010.

5 Comments   »

  1. BudiTyas says:

    Kajaknja djustru terbitan terakhir deh, .. kajak pamitan plus ungkapan emosional saat mo dibreidel.

    [Reply]

  2. teguh saja says:

    terbit menjelang pemilu ‘55 ki, ” memilih dan kami bisa memilih”

    [Reply]

  3. mpep says:

    ‘kemerdekaan memilih dan kami bisa memilih’ rasanya bukan konteks pemilu. tapi anjuran redaksi agar sidang pembaca bersikap posmo–yang dalam bahasa dewan redaksi: nihilisten, yang kalau di EYD-kan menjadi nihilisme, satu paham yang ‘melepaskan diri dari segala nilai2 apa pun dan baru mengikatkan diri kepadanja setelah ditilik dan diuraikan dengan setjara kritis’.

    menakar dimensi waktu majalah ini sulit juga. konteksnya mungkin 1950an. dari ejaan huruf ‘u’ tidak ditulis ‘oe’, mengindikasikan majalah ini terbit setelah 1947. majalah-majalan kebudayaan indonesia memang sedang in kala itu. kalau tidak salah ada ’sastra’, ‘ziarah’, belum lagi kolom-kolom di harian.

    bagaimana analisis bung zen?

    [Reply]

  4. hedi says:

    aku kayak ngerti majalah itu, lupa :D

    [Reply]

  5. meong says:

    kok iso-isone tho, nemu majalah antik begini?

    *mulai berniat nyusuh*

    [Reply]

RSS feed for comments on this post , TrackBack URI

Leave a Comment