Gerhana
Hari ini dikabarkan terjadi gerhana matahari. Hanya saja, di Indonesia, tak ada gerhana matahari total, yang ada hanya gerhana matahari cincin, itu pun terbatas di wilayah-wilayah tertentu saja. Itu sebabnya tak banyak kehebohan tersebab nilai gerhana matahari cincin tidak begitu tinggi karena bisa saja terjadi lebih dari sekali dalam setahun.
Tapi Indonesia pernah mengalami kehebohan luar biasa gara-gara gerhana, tepatnya gerhana matahari total [GMT]. Peristiwanya berlangsung pada 11 Juni 1983, tapi kehebohan yang membawa efek mendalam itu gaungnya sudah dimulai berbulan-bulan sebelumnya.
Prediksi para ilmuwan bahwa GMT akan melintasi wilayah Indonesia — terutama Jawa — dalam tempo yang cukup lama, sekitar 15 menit, membuat sejumlah titik di Jawa diincar oleh para ilmuwan asing dan para turis mancanegara yang berminat untuk menyaksikan keajaiban alam raya ini.
Sampai-sampai, National Aeronautics and Space Administration (NASA) mengirimkan sejumlah ilmuwannya ke Indonesia dalam rangka observasi ilmiah. NASA sendiri memilih daerah Tanjung Kodok di Pasuruan sebagai lokasi observasi ilmiah para pakar astronomi internasional. Dari sinilah kemudian muncul Stasiun Pengamat Dirgantara (SPD) Watukosek.
Menyadari bahwa momentum langka ini menjadi perhatian dunia internasional, pemerintah Orde Baru mencoba memanfaatkannya sebaik mungkin untuk mempromosikan Indonesia ke dunia luar. Segala persiapan dibuat sedemikian rupa, terutama dengan mencoba “mengamankan situasi”.
Simaklah apa kata Komandan Distrik Militer 0734 Yogyakarta waktu itu, Letkol M. Hasbi, seperti dikutip Tempo, 16 April 1983:
“Terus terang, operasi ini untuk meratakan suasana aman menjelang gerhana matahari 11 Juni mendatang. Kalau tamu dari luar negeri nanti diganggu, mereka akan berkata: ‘Jangan pergi ke Indonesia. Di sana banyak copet, garong …’ Kan kita rugi.”
Maka lahirlah apa yang kelak disebut sebagai “penembakan misterius” alias “petrus”: sebuah istilah yang merujuk pada peristiwa massif menghilangnya para gali, preman, tukang copet dan yang sejenisnya dari jalanan. Beberapa di antara mereka akhirnya tewas dengan luka tembak dan “dengan sengaja” dipertontonkan ke publik dengan cara menempatkan mayat-mayat mereka di tempat-tempat terbuka.
Penting untuk dicatat bahwa peristiwa petrus itu tidak sekonyong-konyong dilakukan menjelang hari-H saja, tapi sudah dilakukan setidaknya sejak 1982. Peristiwa GMT membuat Orde Baru punya cukup argumen untuk melakukan tindakan yang oleh seorang pengamat asing, Ward Keeler, dianggap sebagai demontrasi kepercayaan diri Soeharto dalam menghadapi dunia internasional yang mungkin akan menyerangnya habis-habisan.
Di sini, Orde Baru menunjukkan taringnya dengan cara yang eksplisit. Kekuasaan diterjemahkan secara harfiah sebagai sebentuk dominasi yang bahkan bisa merembes hingga soal yang begitu nyata dan dramatis: hidup atau mati, hilang atau mati.
Tapi Orde Baru tak merasa cukup hanya dengan itu.
Beberapa bulan sebelumnya, aparat birokrasi pemerintah hingga level yang terbawah secara terus-menerus dan kontinyu memberi peringatan bahayanya melihat langsung gerhana matahari dan siapa pun yang nekat melakukannya bisa mengalami kebutaan langsung dan permanen. Poster-poster dan selebaran bahkan sampai dikirim hingga ke desa-desa.
Tak lupa RRI dan TVRI dilibatkan untuk memberi “penyuluhan”. Pemerintah menjanjikan: TVRI akan menyiarkannya, jadi masyarakat tak usah memaksakan diri untuk tengadah ke langit.
Soeharto yang memang paham benar kebudayaan Jawa mereproduksi terus menerus mitologi gerhana matahari sebagai akibat ditelan oleh Bathara Kala. Tidak mengherankan jika di Jawa banyak sekali beredar isu-isu tidak jelas: sumur harus ditutup karena airnya bisa menjadi racun, bahkan ada isu ternak pun bisa buta dan mati sehingga harus dikandangkan.
Saya masih sangat kecil waktu itu, tapi sudah bisa jalan dan lari-lari di pekarangan. Simbok saya bercerita, untuk membuat saya anteng di rumah, simbok sampai harus membelikan beberapa mainan baru.
Menjelang pukul 11 siang, jalanan betul-betul sepi. Sekolah diliburkan, kantor-kantor swasta dan pemerintah banyak yang tak beraktifitas. Situasi terus berlanjut hingga sekitar pukul 1 siang kendati GMT hanya berlangsung selama 15 menit.
Ward Keeller, dalam laporan berjudul Sharp Rays: Javanese Responses to a Solar Eclipse yang diterbitkan jurnal “Indonesia”, menggambarkan suasana jalanan di pelosok-pelosok Jawa dengan nada yang plastis: senyap di permukaan, tapi bergemuruh oleh cekaman ketakutan di dalam batin.
Bahkan ternak pun, kata simbok saya, tak ada yang berkeliaran di jalanan.
Selepas itu, masyarakat baru bisa menarik nafas lega, seakan baru saja lepas dari bala yang mengerikan, seraya menghaturkan terimakasih kepada pemerintah Orde Baru atas peringatannya dan juga tayangan gerhana di TVRI.
Barangkali, tak akan ada lagi momentum di mana secara serentak mayoritas rakyat menarik diri ke dalam, mengundurkan diri ke ruang-ruang aman, dan semua dilakukan dengan keikhlasan yang aneh.
Inilah momen di mana — meminjam alur pikir Clifford Geertz ketika menguraikan metode pertunjukkan kuasa di kerajaan Bali — sebagai teater raksasa di mana kekuasaan memperagakan kekuatannya dengan jelas dan semua yang undur diri ke dalam rumah “dipaksa dengan rela” menjadi saksi keagungan dan keabsahan kekuasaan — bahkan ternak pun menjadi “aktor pembantu” pertunjukkan teater ini.
Jika petrus adalah cara Orde Baru untuk menujukkan kekuasaannya secara fisikal dan telanjang, maka operasi “politik-kebudayaan” Orde Baru kepada khalayak luas dalam soal GMT menunjukkan bagaimana Soeharto membangun hegemoni yang membuat penetrasi kekuasaan negara tampak menjadi sesuatu yang normal, bahkan sudah seharusnya, juga sewajarnya, sebagai pengejawantahan negara sebagai “Bapak”, sebagai “pengayom”, yang melindungi masyarakat dan rakyatnya.
John Pemberton, antropolog yang meraih gelar PhD dalam studi tentang Indonesia di Cornell University, mengeksplorasi persoalan ini dalam salah satu bab disertasinya yang berjudul On the Subject of Java. Peristiwa GMT itu dijadikan salah satu titik pijaknya untuk membedah logika kekuasaan Orde Baru yang digelar dengan mentransmutasikan kode-kode kebudayaan Jawa.
Pemberton mengajukan konsep “slamet” dalam kebudayaan Jawa sebagai kunci untuk memperjelas bagaimana Orde Baru mencoba membangun hegemoni tentang pentingnya kekuasaan negara sebagai pengayom dan pelindung masyarakat dari ancaman marabahaya apa pun, termasuk bahaya kebutaan massal dan permanen akibat GMT.
Pada halaman 316 bukunya itu, Pemberton mengekstrapolasikan persoalan itu dengan bernas. Katanya:
“…Unlike the brutal tactics of Petrus, the security measures employed in the obscured light of the eclipse fit well within the rhetoric of “slamet”. …For it is precisely in contradistcintion to the construct “incident,” that “tradition” appears as an ideally cultural means for securing “slamet” and successing even the most unusual of events. By contras, Petrus death squads and discarded corpses woud seem to represent the very anthitehsis of slamet, a state within which the security of culture itself was no longer compelling. The timely emergence of the Petrus operation, however, proved otherwise.”
Di sini kita berhadapan dengan kekuasaan yang tampil secara eksesif dan massif, halus sekaligus kasar, pengayom yang ke-Bapakan-an tapi juga bisa bertiwikrama jadi buto yang sanggup bertindak brutal. Dengan merujuk rumusan Louis Althusser, inilah kekuasaan yang secara telanjang menggunakan dua taringnya: State Apparatus (SA) dan Ideological State Apparatus (ISA).
SA merujuk intrumen kekuasaan formal, seperti polisi, militer, pengadilan, kejaksaan dan birokrasi pemerintahan. Cara kerjanya lebih sering menggunakan teknik-teknik yang kasat mata, terutama kekerasan, sehingga Althusser kadang menyebutnya represive apparatus. Dengan SA inilah operasi petrus dilakukan.
Sementara ISA menggunakan institusi-institusi –katakanlah non-formal dan informal– seperti tokoh agama, cendekiawan, sistem pendidikan, hingga media massa. Jika SA cenderung menggunakan cara-cara kasar dan terbuka, ISA lebih sering melakukan penetrasi kekuasaan dengan cara yang perlahan, merasuk ke kesadaran, dan menyetem opini publik. Penyuluhan dan kampanye ke masyarakat tentang gerhana bisa dibilang dilakukan dengan ISA ini.
Kendati demikian, keduanya seringkali bergerak dengan serentak dan kadang mencampur-baurkan pendekatan. Dalam momen-momen tertentu, dua tangan kekuasaan itu sama-sama saling topang-menopang untuk membangun keabsahan kekuasaan, dengan dominasi yang memamerkan teror fisikal dan hegemoni yang bergerak di wilayah kesadaran/alam bawah sadar.
Ada banyak pribadi dengan kenekatan yang besar dan rasa ingin tahu yang tinggi yang mampu lolos dari jeratan hegemoni Orde Baru sehingga berkesempatan menyaksikan keajaiban alam GMT pada 11 Juni 1983 itu. Mereka menikmati rasa takjub yang tak terpermanai di tengah sunyi yang aneh.
Tapi, jauh lebih banyak lagi yang memilih tenggelam dalam selimut di ruang keluarga, dan hanya bisa menyaksikan GMT di TVRI. Dengan itu, mereka melewatkan satu momentum indah yang mungkin tak akan pernah bisa mereka saksikan lagi sampai sisa akhir hayatnya.
Saya berharap bisa menyaksikannya kelak. Mungkin sambil dengan diam-diam membatinkan pasase milik Victor Hugo yang dinukil dari bagian kelima Les Misérables yang terkenal itu:
“Nations, like stars, are entitled to eclipse. All is well, provided the light returns and the eclipse does not become endless night. Dawn and resurrection are synonymous. The reappearance of the light is the same as the survival of the soul.”
Menarik sekali.
Saya masih anak kecil saat itu, walaupun sudah sekolah, tidak terlalu ingat apa yg terjadi. Saya tidak di Jawa waktu itu, tapi di kota kecil di Sumatera.
Tapi iya, yg saya ingat soal TVRI itu, betapa besar peranan TVRI dalam menyeragamkan informasi soal gerhana.
Soeharto memang top, jempolan orang itu padahal di luarnya senyum terus
soeharto cen sip. mangkanya negara ini ga maju-maju. emangnya negri jajahan? huh!
sayang, zen. di india langit sedang mendung karena memang begitulah cuaca menjelang winter, jadi tak puas melihat gerhana matahari deh. cuman sebentar kelihatan.
tanjung kodok di paciran, lamongan.
bukan pasuruan.