1776
It’s 1776 in Indonesia
Itu judul sebuah kertas kerja, bisa pula dianggap sebagai memorandum, yang ditulis oleh Soedarpo Sastrosatomo pada Maret 1949 di New York dan ditujukan bagi wartawan dan pejabat Amerika yang berminat dalam isu konflik antara Indonesia dan Belanda.
Tak banyak yang tahu ihwal dokumen itu, sebuah karya ringkas yang dipuji oleh Francess Gouda sebagai “pernyataan sikap elegan” sekaligus “memorandum [yang] cerdas” untuk “menggoda” imajinasi bangsa Amerika ihwal kesamaan perjuangan bangsa Indonesia melawan penduduk Belanda dengan perjuangan para founding fathers Amerika dalam upaya memerdekakan diri dari Inggris.
Soedarpo ketika itu menjabat sebagai “press officer” perwakilan Indonesia di Amerika, bersama Soedjatmoko. Darpo, begitu biasa dipanggil, baru berusia 34 tahun ketika itu. Bersama Koko, panggilan Soedjatmoko, keduanya diberi tugas untuk mewakili dan mengkampanyekan suara dan kepentingan Indonesia di Amerika dan di Lake Succes, kantor PBB.
Keduanya tidak punya latar belakang pendidikan diplomat apalagi pengalaman bernegosiasai dan melakukan lobi-lobi tingkat tinggi. Untuk itu, seperti pernah dikenangkan Koko, tugas itu membutuhkan “kursus kilat” dalam melakukan “lobi-lobi politik” sekaligus keahlian seorang PR dalam melebih-lebihkan kebenaran atau menunjukkan kemiripan yang agak dipaksakan dalam menyamakan perjuangan Indonesia dengan perjuangan Amerika di abad 18.
Pesan utama dari kertas kerja itu adalah: “Perjuangan Indonesia membebaskan diri dari penjajahan Ratu Belanda Wilhelmina sama dengan perjuangan 13 koloni di AS melepaskan diri dari pemerintahan Raja Inggris George III. Soekarno-Hatta adalah pemimpin yang membawa bangsa Indonesia ke Indonesia Merdeka, begitu juga George Washington dan Thomas Jefferson, merupakan pemimpin kemerdekaan AS.”
Ini kerja yang sulit karena, seperti pernah diungkapkan Merle Cochrahn, diplomat Amerika yang bertugas di Indonesia pada masa itu, rakyat Amerika masih menyimpan dengan kuat kesan bahwa orang-orang Belanda adalah pribadi yang hangat, religius, baik, tak mungkin melakukan brutalitas yang militeristik. Terutama, bangsa Amerika masih mengenang bantuan uang beberapa orang kaya Belanda kepada John Adams, Presiden ke-3 Amerika.
Tentu saja bukan karena kertas kerja Darpo yang membuat Amerika akhirnya memutuskan untuk lebih pro-Indonesia sejak pertengahan 1948. Sikap Amerika untuk lebih berpihak pada Indonesia juga tak sepenuhnya karena simpati ala Declarations of Independence pada semua gerakan anti-kolonial, melainkan karena dipicu oleh Agresi Militer Belanda ke-II dan pilihan taktis terkait strategi perang dingin dengan Sovyet.
Hanya saja, seperti digambarkan Frances Gouda dan Thijs Daalberg dalam bukunya American Visions of the Netherlands East Indies/Indonesia, mencari-cari paralelisme antara perjuangan Indonesia dengan revolusi Amerika itu memang bukannya tak ada.
Entah dari mana, spanduk dan coret-coretan di dinding kereta atau tembok-tembok di banyak kota di Jawa penuh dengan bahasa Inggris, bukan Belanda. Tak hanya itu, frase-frase yang dipilih pun kental dengan bau Declarations of Independence 1776 atau bahkan pidato Gettysburg Address-nya Lincoln. Coretan di Jogjakarta berbunyi “All People Are Created Equal” itu jelas comotan dari Declaration of Independence, di mana kata “Man” diubah menjadi “People”.
Situasi ini sebenarnya sama dengan yang terjadi di Vietnam saat mencoba membebaskan diri dari Prancis. Ho Chi Minh, saat membacakan pernyataan kemerdekaan Vietnam, bahkan meminta seorang perwira Amerika memastikan akurasi kutipan-kutipan Declaration of Independence yang digunakannya. Bedanya, jika di Vietnam itu Amerika terus keukeuh membela Prancis, di Indonesia, terutama setelah Agresi Militer Belanda ke-2, Amerika lebih pro-Indonesia ketimbang Belanda.
Tak sampai setahun usai penyerahan kedaulatan dari Belanda, pemerintah Indonesia lantas mengeluarkan seri prangko yang terang-terangan mencoba menggambarkan paralelisme antara perjuangan Indonesia dengan perjuangan Amerika pada abad-18.
Prangko pertama bergambar Soekarno dengan gambar George Washington muncul di belakangnya. Prangko kedua berisi potret Hatta yang tersenyum dengan gambar Abraham Lincoln di belakangnya. Lincoln sebenarnya tidak termasuk pendiri Amerika atau penandatangan Declaration of Independence. Tampaknya, menjajarkan Hatta dengan Lincoln lebih karena Hatta dianggap seperti Lincoln yang tanpa kompromi dalam menghadapi perang saudara, tepatnya pada periode genting 1948 saat Hatta tampil menggantikan Amir Sjarifuddin.
Prangko ketiga bergambar Menteri Keuangan AA Maramis yang ditampilkan bersama Alexander Hamilton yang juga terkenal karena efisiensi kepemimpinannya. Agus Salim, eks-Menlu yang terkenal dengan joke-joke cerdasnya, tampil bersama Benjamin Franklin yang kerap pula digambarkan sebaga negarawan yang usil dan senang kelakar.
Yang paling menarik, barangkali, adalah prangko terakhir, prangko dengan harga paling murah. Di sana tampil Soetan Sjahrir dengan Thomas Jefferson, otak dari Declaration of Independence yang sebenarnya sangat dihormati, mungkin melebihi tokoh-tokoh Amerika lainnya. Sedikit bisa dipahami jika prangko itu yang paling murah, karena Sjahrir sudah mengundurkan diri dari lingkaran utama politik Indonesia. Tapi, menjajarkan Sjahrir dengan Jefferson tetap menyediakan kemungkinan semiotik yang menarik.
Dengan harga yang paling murah pula, prangko Sjahrir justru menjadi sangat mudah dijumpai dan mudah didapatkan oleh rakyat dengan penghasilan paling tiris. Dengan itu, prangko Sjahrir menjadi prangko yang paling merakyat.
Di sinilah ironinya: Soekarno yang kerap dianggap paling dekat sekaligus paling paham jiwa rakyat Indonesia justru menjadi tak terjangkau, dan Sjahrir yang kerap didakwa elitis dan tak terjangkau justru menjadi begitu mudah dijangkau oleh rakyat — setidaknya di level harga prangko.

Wah, pangko lain kok ga ditampilin zen? Marai penasaran wae..
wow.
prangkosium
Amerika lebih pro-Indonesia ketimbang Belanda.
Apakah mungkin ada tendensi lain selain beberapa hal yang disebutkan diatas?
karena mereka memang punya kepentingan lain dengan Indonesia, soal industri gas dan hasil bumi misalnya, yang muncul belakangan..
Semua orang “tahu” bahwa Washington adalah presiden pertama (sejauh ini) dari 43 Presiden AS. Tetapi , bukan ini yang sebenarnya. Pada Revolusi Amerika Serikat, Kongres Kontinental (atau ‘Kongres Gabungan Amerika Serikat’) memilih Peyton Randolph sebagai Presiden pertama. Dibawah Randolph, salah satu tindakan pertamanya adalah membentuk Tentara Kontinental (sebagai pertahanan melawan Britania Raya), menunjuk Jenderal Washington sebagai komandannya. Randolph digantikan pada 1781 oleh John Hancock, yang memimpin kemerdekaan dari Britania Raya. Setelah Washington mengalahkan Britania dalam Pertempuran Yorktown, Hancock mengirimkannya surat ucapan selamat. Balasan dari Washington dikirimkan kepada “The President of the United States”. Delapan tahun kemudian, sebagai pahlawan perang, Washington sendiri menjadi Presiden yang terpilih langsung pertama di Amerika – tapi sebagai, Presiden ke-TUJUH BELAS! (menurut saya, Washington adalah presiden ke-17 bila sejarah juga mencatat para Presiden Kongres Kontinental)
http://www.writespirit.net/ad/greatest_historical_myths
sekian puluh tahun merdeka, menyisakan revolusi “adem” dan “seneng” (mall dan konsumerisme).
kalau mengagumi sjahrir, argumentasi pun dapat ditulis dengan pengandaian yang manis:
‘Soekarno yang kerap dianggap paling dekat sekaligus paling paham jiwa rakyat Indonesia justru menjadi tak terjangkau, dan Sjahrir yang kerap didakwa elitis dan tak terjangkau justru menjadi begitu mudah dijangkau oleh rakyat — setidaknya di level harga prangko.’