Wafatnya Omar Dhani pada 24 Juli kemarin membuat saya ingat banyak hal. Tapi, dari semua ingatan itu, saya memilih untuk menghadir-ulangkan apa-apa yang ditulis dan ditafsirkan oleh Daniel Dhakidae tentang vonis hukuman mati yang pernah diterima Omar Dhani.
Dengan cara yang plastis sekaligus jenial, Daniel Dhakidae menafsirkan vonis hukuman mati Omar Dhani sebagai sebuah simptom di mana agama, kekuasan dan negara bersekutu dengan cara yang khas, unik dan juga halus.
Saya ketik ulang uraian Daniel Dhakidae itu seperti yang dituliskannya pada halaman 544-546 dari buku Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru:
——————-
Dengan begitu gabungan tiga hal di sini menjadi tak terelakkan; agama, kekuasaan (politik), dan negara, sehingga setiap konsep kekuasaan adalah negara, dan setiap konsep negara dalam bentuknya yang paling absolut adalah agama. Ketika konsep kekuasaan mencapai tingkat paling tinggi, absolut, maka penyatuannya dengan agama tinggal selangkah lagi, untuk mengatakan bahwa agama berubah rupa menjadi politik, politik menjadi agama, dan ilmu politik menjadi teologi, dan teologi menjadi ilmu politik.
Hukuman mati dan pelaksanaan hukuman mati adalah contoh paling ekstrem untuk bidang kekuasaan yang paling absolut itu. Dalam sejarah Indonesia contoh seperti itu bertaburan. Salah satu contoh paling dramatik adalah Omar Dhani, bukan karena dia sudah dihukum mati namun, justru karena tidak, ketika ditunda dan dihapus hukuman mati itu.
(more…)
Hari ini dikabarkan terjadi gerhana matahari. Hanya saja, di Indonesia, tak ada gerhana matahari total, yang ada hanya gerhana matahari cincin, itu pun terbatas di wilayah-wilayah tertentu saja. Itu sebabnya tak banyak kehebohan tersebab nilai gerhana matahari cincin tidak begitu tinggi karena bisa saja terjadi lebih dari sekali dalam setahun.
Tapi Indonesia pernah mengalami kehebohan luar biasa gara-gara gerhana, tepatnya gerhana matahari total [GMT]. Peristiwanya berlangsung pada 11 Juni 1983, tapi kehebohan yang membawa efek mendalam itu gaungnya sudah dimulai berbulan-bulan sebelumnya.
Prediksi para ilmuwan bahwa GMT akan melintasi wilayah Indonesia — terutama Jawa — dalam tempo yang cukup lama, sekitar 15 menit, membuat sejumlah titik di Jawa diincar oleh para ilmuwan asing dan para turis mancanegara yang berminat untuk menyaksikan keajaiban alam raya ini.
Sampai-sampai, National Aeronautics and Space Administration (NASA) mengirimkan sejumlah ilmuwannya ke Indonesia dalam rangka observasi ilmiah. NASA sendiri memilih daerah Tanjung Kodok di Pasuruan sebagai lokasi observasi ilmiah para pakar astronomi internasional. Dari sinilah kemudian muncul Stasiun Pengamat Dirgantara (SPD) Watukosek.
Menyadari bahwa momentum langka ini menjadi perhatian dunia internasional, pemerintah Orde Baru mencoba memanfaatkannya sebaik mungkin untuk mempromosikan Indonesia ke dunia luar. Segala persiapan dibuat sedemikian rupa, terutama dengan mencoba “mengamankan situasi”.
(more…)
It’s 1776 in Indonesia
Itu judul sebuah kertas kerja, bisa pula dianggap sebagai memorandum, yang ditulis oleh Soedarpo Sastrosatomo pada Maret 1949 di New York dan ditujukan bagi wartawan dan pejabat Amerika yang berminat dalam isu konflik antara Indonesia dan Belanda.
Tak banyak yang tahu ihwal dokumen itu, sebuah karya ringkas yang dipuji oleh Francess Gouda sebagai “pernyataan sikap elegan” sekaligus “memorandum [yang] cerdas” untuk “menggoda” imajinasi bangsa Amerika ihwal kesamaan perjuangan bangsa Indonesia melawan penduduk Belanda dengan perjuangan para founding fathers Amerika dalam upaya memerdekakan diri dari Inggris.
Soedarpo ketika itu menjabat sebagai “press officer” perwakilan Indonesia di Amerika, bersama Soedjatmoko. Darpo, begitu biasa dipanggil, baru berusia 34 tahun ketika itu. Bersama Koko, panggilan Soedjatmoko, keduanya diberi tugas untuk mewakili dan mengkampanyekan suara dan kepentingan Indonesia di Amerika dan di Lake Succes, kantor PBB.
Keduanya tidak punya latar belakang pendidikan diplomat apalagi pengalaman bernegosiasai dan melakukan lobi-lobi tingkat tinggi. Untuk itu, seperti pernah dikenangkan Koko, tugas itu membutuhkan “kursus kilat” dalam melakukan “lobi-lobi politik” sekaligus keahlian seorang PR dalam melebih-lebihkan kebenaran atau menunjukkan kemiripan yang agak dipaksakan dalam menyamakan perjuangan Indonesia dengan perjuangan Amerika di abad 18.
(more…)
Saya menemukan sebuah majalah tua yang tak jelas namanya.
Sampul majalah itu sudah copot entah di mana. Jadi, tak jelas siapa dewan redaksinya, juga tanggal terbitnya. Nama majalah itu pun tak begitu jelas, tapi bisalah saya kira-kira namanya: Majalah Indonesia. Perkiraan itu diambil dari selalu munculnya nama Indonesia di tepi atas di setiap halaman genap, sementara tepi atas halaman ganjil selalu berisi judul-judul tulisan yang dimuat di situ.
Saya hanya dapat satu eksemplar dari satu nomor penerbitan. Di situ ada esai Bahrum Rangkuti, Amal Hamzah, puisi-puisi M Balfas dan terjemahan esai Arthur Koestler tentang watak novel dan terjemahan surat-surat Dennis de Rougemont tentang bom atom di Hiroshima.
Saya menduga eksemplar yang saya dapatkan adalah edisi pertama majalah tersebut. Hal itu terlihat dari Kata Pengantar yang ditulis editornya. Tak ada keterangan siapa editornya. Kata pengantarnya menarik sekali, dan bisa dibaca sebagai seperti sebuah manifesto. Di sana terpacak dengan gagah sebuah sikap kebudayaan, yang dalam beberapa hal kadang terasa lucu.
Saya ketik ulang naskah kata pengantarnya untuk Anda. Semoga berguna.
(more…)
Paru-paru itu berdiam seperti akar yang nancap di dalam salju.
Akar-akar itu kadang terlihat ringkih dan dengan sedikit tenaga saja orang-orang bisa langsung dengan mudah mencabutnya.
“Tidak,” kata kau, “Orang-orang tak bisa mencabutnya begitu saja karena akar-akar itu tampaknya menancap dengan sungguh kuat.”
“Tapi lihatlah,” sanggahku, “Bahkan hal itu pun hanya tampaknya saja.”
[Saduran dari Franz Kafka, the Trees].
(more…)