Payen
Jika kunjungan ke Gedung Agung, satu dari lima Istana Kepresidenan, di ujung Malioboro terjadi 3 tahun silam, mungkin saya menganggapnya sebagai napak-tilas perjalanan Larasati a.k.a Atik dan Setadewa a.k.a Teto, dua tokoh utama roman Burung-burung Manyar.
Tapi ini 2009, dua tahun setelah saya membaca buku Bianglala Sastra yang disusun oleh Robert Nieuwenhuys, juga setahun setelah saya sempat “menengok” uraian Peter Carey tentang Java-Oorlog. Dua tulisan itulah yang pertama kali memperkenalkan sosok Antoine Payen, sang arsitek Gedung Agung, kepada saya.
Jadilah kunjungan ke Gedung Agung [yang tak mungkin terjadi tanpa gerombolan Cah Andong yang entah kenapa semuanya rapi jali nan sopan] sebagai napak-tilas atas sepenggal perjalanan panjang kehidupan seorang Payen, kendati beberapa saat sebelum memasuki Gedung Agung, Muhidin M Dahlan datang membawakan Burung-burung Manyar dengan sampul hijaunya yang lawas.
Pagi itu saya datang ke Gedung Agung dari arah utara, persis seperti Si Teto bersama pasukannya mengendap-ngendap menelusuri Malioboro dalam rangka menyerbu dan mengambil alih Gedung Agung yang kala itu menjadi kantor Presiden Soekarno. Beginilah Romo Mangun mengisahkannya: (more…)