Maharaja tua itu sedang melihat sebuah peta, tapi –demikian saya bayangkan– ia hanya melihat wajahnya yang rapuh oleh waktu dan lebam oleh ketakutan-ketakutan yang tak wajar.
Diikutinya titik-titik keemasan yang menandai garis terluar dari keluasan tahtanya, tapi yang ia lihat justru telunjuknya sendiri yang gemetar tak beraturan. Telunjuk itu, bukan hanya tak lagi mampu mengarahkan balatentara di garis depan peperangan, tapi bahkan sudah terlalu lunglai hanya untuk menelusuri titik-titik yang saling-silang di peta yang terhampar di hadapannya.
Tahta, tahta, tahta…. Oh, Syiwa, kenapa tak kau katakan sedari dulu betapa merananya seorang maharaja tua di ujung hidupnya?
Maharaja itu mengusap misainya. Dan, pada setiap usapan itu, ia selalu merasa ada sehelai yang berlolosan ke lantai marmar maha indah yang bahan-bahannya didatangkan khusus dari negeri para penyembah api. Tidak, keluasan tahtanya belum lagi rontok, nusa-nusa yang jauh di atas angin dan di bawah angin belum pula khianat. Semua masih menghaturkan sembah padanya. Tapi berapa lama lagi? Tapi seberapa bentar lagi? Tapi seberapa jenak lagi?
Ditariknya nafas dengan helaan terdalam yang bisa ia lakukan. Ia menoleh ke arah ranjang. Sekeropak lontar masih terbuka minta disambangi oleh matanya yang makin rabun. Ia beranjak menjangkau keropak lontar itu, dibawanya ke meja, dengan lebih dulu menyingkirkan peta tadi yang makin lama dipandangnya makin terasa mengejek kerapuhannya. Ia menatap keping lontar terluar, beberapa baris yang ditulis sengaja dengan lebih tebal. Ada namanya di situ.
Rikalpa, rakawi paling berbakat yang pernah lahir di masa kekuasaannya, mempersembahkan kakawin ini untuknya. Kabarnya, kakawin yang ada di hadapannya ini dibuat selama 13 purnama dalam sebuah pengasingan yang sulit di belantara yang terhampar di kaki gunung Kailasa. Bagaimana kakawin ini dicipta saja sudah membuatnya tertarik. Kailasa bukan gunung biasa, ia wingit, teramat bahkan. Para kasim dan emban yang mengasuhnya di masa kecil secara berulang mengatakan padanya di sanalah lima anak Kunti setapak demi setapak hendak naik kahyangan usai pralaya di Kurusetra, sebuah panggung di mana garis takdir yang tak tertolak terhampar dengan gemuruh yang akan selalu dikenang hingga ratusan wangsa berikutnya.
Di negeri yang dikuasainya ini, Kailasa dianggap sebagai Mahastupa tempat semua wujud dan mahluk hadir sebagai Aruphadatu. Hanya orang dengan kenekatan yang sebanding dengan masyuknya Rahwana saat melihat leher jenjang Sinta saja yang berani menerobos kelebatan pepohonan Kailasa dan hanya orang dengan kesucian dan kemurnian yang setara dengan ketegaran Bhisma saat melakoni takdir yang akan mengantarnya rebah berdarah berbantalkan puluhan anak panah Arjuna saja yang mampu keluar dengan selamat dari Kailasa.
Tak begitu jelas mantra dari sutta mana yang dihaturkan Rikalpa hingga bisa dengan tentramnya menyelesaikan kakawin ini di tengah belantara Kailasa. Jnanabhadra, gurunya yang bestari, memperkirakan kalau muridnya ini membacakan sepotong bait tersembunyi dari Kakawin Bhratayudha, sebuah bait dengan kekuatan yang sebanding dengan ribuan mantra, yang sayangnya tak akan pernah bisa dibaca oleh mata biasa. Bait itu sebenarnya mudah saja ditemukan. Ikat saja keropak lontar kakawin Bhratayuda dengan ketat, lantas miringkan, dan olesilah tepiannya dengan kapus barus paling murni yang didatangkan dari barat daya Swarnadwipa, maka potongan bait itu pun bisa dibaca dengan mudah:
Mojar Bhatara Hari hawya magong wuyungta/ Swasthiniking bhuwana kasihi tolenta
Jnanabhadra tak pernah memberitahu muridnya soal bait suci itu, sebab ia tak berguna jika diajarkan begitu saja, karena ia mesti ditemukan oleh siapa pun yang garis hidupnya ditakdirkan untuk bisa membacanya, tentu saja melalui sebuah pencarian panjang yang meletihkan: sebuah pencarian yang membuatnya bukan menemukan, melainkan ditemukan.
Dan, tepat seperti yang diperkirakannya, kakawin yang dipersembahkan untuknya itu memang luar biasa. Bukan, bukan keindahan bahasa dan ketaatannya pada metrum yang membuatnya berbeda, melainkan caranya menyusun bait, caranya mengolah bunyi dan –terutama dan yang terpenting—kedalaman pesannya yang tak pernah bisa dibayangkan Sang Maharaja bisa ditemukan dan dihayati dengan intim oleh seorang rakawi yang betapa pun berbakatnya tapi toh ia masih terlampau muda.
Rikalpa sudah menuliskan sesuatu yang belakangan justru membuat Sang Maharaja tak pernah lagi bisa menikmati punama di mahanten, sesuatu yang telah menjadikan Sang Maharaja layaknya kasim hina yang tak pernah bisa memuaskan para wanodya dengan pinggul paling ringkih sekali pun.
Rikalpa sudah meramalkan masa tua Maharaja yang rudin, ujung hidup yang sangsai, sekaligus masa depan yang kelam dari tahta yang dengan susah payah dibangunnya. Dengan ketepatan ayunan godam Bima di paha Dursasana, Rikalpa menulis tentang tahta sebagai “tuak terbaik yang musnah kenikmatannya begitu lenyap di ujung kerongkongan”.
Kau benar, batin Maharaja sembari mengelus halaman lontar di depannya. Ketakutan, Rikalpa. Ya, rasa takut. Kau memang benar, sangat benat. Setelah kemasyhuran yang ditulis di ratusan helai lontar, seorang raja akan menghitung hari-hari terakhirnya dengan ketaksanggupan membayangkan. Hari-hari terakhir seorang raja, macam aku kini, selalu dibayangi pertanyaan seberapa abadi tahtanya, seberapa mampu penerusnya mempertahakan. Telah banyak yang sudah kuperbuat, tapi akhirnya aku harus menyerah pada takdir: bahwa apa yang sudah kuperbuat akan diteruskan oleh seseorang yang tak pernah bisa aku kendalikan lagi, tak mampu aku pastikan kedigdayaanya. Tahta itu seperti tuak terbaik yang hanya bisa dirasakan nikmatnya hanya sebelum tandas di ujung kerongkongan.
Entah bagaimana caranya Rikalpa bisa dengan sungguh persis menuliskan tentang jenis-jenis mimpi yang mendatangi seorang Maharaja tua di ujung hidupnya, sama tepatnya dengan saat Rikalpa mencatatkan jenis-jenis ketakutan yang setiap malam akan menyambangi Maharaja tua di ranjangnya. Semuanya begitu nyata dan benar, seakan-akan Rikalpa menyalinnya berdasar pengakuan Maharaja yang selarut ini masih saja duduk menghadapi keropak lontar buatan Rikalpa.
Tapi, bukan itu yang mengejutkan, sama sekali bukan. Barusan, ya baru saja, Maharaja menyelesaikan membaca kakawin karya Rikalpa yang hingga kini tak berjudul itu. Pada bagian terakhirnya, Rikalpa memaparkan semua penawar dari mimpi buruk dan kecemasan Maharaja tua. Ya, Rikalpa secara cermat menyusun langkah-langkah yang memungkinkan suatu tahta yang agung tetap mampu bertahan, bahkan jika ia dikendalikan oleh seorang Maharaja yang paling lemah sekali pun.
Maharaja menemukan –untuk pertama sekaligus terakhir kalinya—cara meredam intrik-intrik di keputren, menangkal siasat culas para adipati, menawarkan akal bulus para panglima. Dengan begitu teliti, Rikalpa mengatur lapis demi lapis kerja telik-sandi, menyebarkannya hingga ke lubang-lubang paling kecil yang biasa dianggap tak penting oleh para panglima dan laksamana terhebat sekali pun. Disusunnya tema-tema yang mesti ditulis oleh para rakawi yang dipekerjakan khusus untuk menjadi bagian dari upaya pamungkas sekaligus sempurna dari tahta yang hendak mempertahankan kuasanya.
Semuanya, segala penjelasan yang rumit dan njlimet itu, tetap diuraikan dengan sepenuhnya taat pada metrum, guru, langgam dan pakem penulisan kakawin. Bahasanya bahkan gilang gemilang, dengan bunyi yang akan tetap menggema di batin pembacanya hingga hari-hari yang jauh.
Maharaja menarik nafas, sedikit lega kali ini, tapi tetap terdengar berat helaannya. Dengan lirih, ia menggumam: “Rikalpa, kau telah menyatukan kekejian dan keindahan dalam satu hentakan, menyekutukan kebuasan dengan puisi yang cemerlang.”
*****
Hingga sejauh ini, saya belum mengisahkan siapa diriku. Baiklah, saya ceritakan garis besarnya:
Saya seorang pemuda 26 tahun, seorang yang berminat dengan segala kelampauan dan kesilaman, berikut semua tilas dan warisannya. Saya mencintai syair-syair tua, sedalam saya menyukai perempuan-perempuan dengan mata legam dari Konstantinopel. Dan, ini yang terpenting, saya sedang memburu sebuah naskah tua yang tak pernah bisa disentuh oleh para peneliti sastra paling unggul di negeri ini, baik peneliti dari abad yang telah lewat atau yang baru saja minggat. Casparis, Krom, Brandes, Zoetmulder atau siapa saja nama yang bisa kau sebutkan, tak pernah bisa menyentuh naskah tua yang sedang diburu. Mereka tahu, sangat tahu, tapi mereka tak bisa membicarakannya, sebab mereka tak pernah melihatnya, hanya pernah mendengarnya, dan –yang terpenting—mereka sadar betapa berbahayanya naskah tua ini.
Seorang rahib Katolik dari Merbabu mengaku pernah melihat dan diijinkan membaca naskah tua itu yang entah bagaimana caranya dibawa seorang perempuan muda cantik nan misterius yang selalu mengaku sebagai titisan Pradnya Pramitha, perempuan yang kilau pahanya mampu mengubah seorang begal menjadi pemburu tahta paling hebat dalam sejarah Jawa.
Rahib itu, setelah teryakinkan oleh minat dan ambisiku, memberiku dua alamat penting yang bisa kutemui di Bali, dua alamat yang mungkin bisa memberi petunjuk, tapi mungkin juga tidak. Dua alamat itu merujuk dua kelompok sekaha bebasan yang sudah berabad-abad lamanya saling bermusuhuan tapi secara konsisten juga melakukan pekerjaan yang sama: menyalin lontar-lontar. Mereka kelompok rahasia yang kerumitan jaringannya hanya bisa diuraikan oleh seorang pedande paling berpengalaman.
Semuanya serba tak jelas, tapi jika kau mengira ketidakjelasan ini akan menyurutkan minatku, kau salah besar. Semuanya justru membuatku terangsang hebat, melebihi berahi yang pernah meledak di kepalaku saat melihat seorang dengan wajah yang mungkin hanya bisa ditandingi kecantikannya oleh Djahan, baik Djahan dari India yang membikin seorang Mumtaz sanggup membangun Taj Mahal maupun Djahan yang mampu membuat Omar Khayam bisa menyusun Rubayyat yang sebelumnya dianggap picisan menjadi bentuk puisi yang gilang-cemerlang.
Dari rahib Katolik yang menghabiskan separuh usianya di lereng Merbabu, saya menemukan sedikit rincian tentang naskah tua yang tak jelas itu. Beberapa saat sebelum ia melepas kepergianku, rahib itu menepuk bahuku dan berkata:
“Kau sedang memburu naskah yang keindahannya bisa diuji di hadapan semua karya Homerus. Kau juga sedang mengejar karya yang kandungan praktis dan kebuasannya tak bisa ditandingi oleh Il Principe-nya Machiavelli.”
Kata-katanya membuat badanku sedikit gemetar. Satu penjelasan sederhana membuatku paham dengan serta merta kenapa seorang jenderal muda diam-diam melatih, menyusun dan lantas menyebarkan orang-orang yang dilatihnya itu untuk mencari dan memburu naskah ini. Jenderal ini, saya mengenalnya dari surat kabar dan televisi, dikenal tampan, cerdas, sekaligus ambisius. Dia putra sulung jenderal bintang lima yang berjasa besar membangun tentara negeri ini. Dialah Si Darah Biru itu, dialah yang disebut-sebut penguasa masa depan negeri ini.
Saya berburu dengan waktu. Dan saya tahu, harus seberapa cepat gerakanku agar orang-orang sang jenderal tak sanggup mengejarku mendapatkan naskah tua itu.
“Ini tidak berurusan dengan kesusastraan,” batinku, “tapi dengan desing peluru.”
writing, photography, traveling...
asulah zen…
medeni temen..
[Reply]
tak doain supaya cepet entuk mas daB..
Tetep ngati2
[Reply]
Siapa jendral muda itu zen?
[Reply]
ryan giggs patut jadi panglima perang!
[Reply]
lagi saingan karo jenderal kok malah pasang pengumuman di blog. ini namanya nantang perang.. :p yen koen butuh serat waringin sungsang nggo lawan bedil, nang nggonku wae.. hehehe..
[Reply]
The ballot is stronger than the bullet..hehehe ra nyambung ki
[Reply]
“carilah sesepuh di lereng gunung merbabu dan ke sana ngangsu kawruh.” ini saja belum saya lakukan, eh, dikau malah sudah mau melawan peluru, nyo! bukan main….
[Reply]
bagus! kejarlah naskah itu. juga gadis pembawanya.
selamat berjuang njo!
Tabik!
[Reply]
menahan nafas sambil membaca, fiuh…
[Reply]
saya lebih tertarik dengan gadis yang kempolnya bercahaya itu
btw, mas zen semoga sukses, tur jo lali ayo main travian
[Reply]
saya mohon fotokopiannya bila sudah didapat..
[Reply]
Zen,
ga mau komen yang kamu tulis, wong belum baca. nomer hpmu ganti ya? cuma pengen curhat dikit, gi sedih karena koki (community kompas), akhirnya dibunuh juga…. dengan alasan pengembangan… padahal….
sukses selalu ya, wherever you are. dan jangan jadi manusia kerah putih ya… kayae jelek dikamu wakakakka
Salam.
[Reply]
dasar pikun…. tapi wajar siy, kan emang kita ndak pernah ketemu kikikik… cuma chat mulu, itu punklao pas barengan OL.
kupikir kamu ngerti alasan sebenarnya dibalik dibunuhnya koki… sebel banget niy….
ya sutra, ga usah dipikir. nitip aja kalau nemu darmogandul infoin aku by email, en kalo nemu bahan2 buat Wisanggeniku…
trims ya…. see you someday pas ol, jika Tuhan menghendaki (karena aku masih percaya Tuhan, ndak tahu kalau kamu
)
[Reply]
Jika Rikalpa sanggup mnuliskan kakawin yang sama persis dengan krumitan nasib maharaja tua di ujung hidupnya,maka dapat dipastikan,dia pn mmpu mnulis kakawin yg sama bgi siapapn jg,tmasuk pmuda 26 th itu,mkn malah jejaring nasibmu Jen. .
jika naskah itu adalah Rahasia bg kekalahn siapa sj. .maka renungkn lah kembali keinginn unt mbacanya, ,dr hkayat yg jauh pernah kdengar-seorng ksatria dg ktampann yg hy bs dsandingkn dg wibisana mcoba mbaca naskah itu, saking antusias dn bsemangatnya ia justru gagal mbaca naskah itu dg cermat dn sabar,dn pagi harinya-sluruh pjuru istana gempar,ksatria yg mrka puja tlh beralih rupa mjd raksasa. . .
[Reply]
iki sakjane tentang opo ya. berat, he-he-he.
[Reply]
“…ketegaran Bhisma saat melakoni takdir yang akan mengantarnya rebah berdarah berbantalkan puluhan anak panah Arjuna saja…”
Kok Arjuno, Kang. Bukannya Bhisma hanya mempan ama panahnya Srikandhi, bekas cinta masa lalunya yang tak kesampaian.
[Reply]
Ngomong2 spa maharajanya jen,kok ketakutan bangetz . . ? ? ! guyon dab. .guyon. .kapan2 nek sempet ktemuan yo jen. .tak gawake arak plumpungan(telerama)rung tau to. .lbh mantep timbang lapen lo. .
[Reply]
menyegarkan sekaligus memberatkan……….. rak nyambung yo zen
[Reply]
wahhh… mumet ki…
[Reply]
*spicles*
waaw…ambisi yang besar!
smoga berhasil mz jejen
*tapi kok tampaknya mengerikan…*
[Reply]
gm yunior wanna be?;>
salam,
tau blog ni dr ishaq uny.
naskah buatan manusia kok segitunya dikejar sih?
mana dipublikasiin lg biarpun rivalnya anak jendral
kayaknya masih nyari ‘tongkat kehidupan’ ya? ^-^
[Reply]
hohoho..menarik..
jadi kelak nanti pasti berhadapan dengan anak jendral yang skrg masih ngumpet sembari dinas militer itu? hohohoho…
tak nteni kisah selanjutnya!
[Reply]
bung…
menulis adalah menyurahkan dan menumpahkan…..
Ia bisa kekurangan tapi terkadang berlebihan.
maka sebagai “penikmat tulisan”, kadang saya bisa mengetahui segalanya tentang penulis dari secarik tulisannya.
dan…
belum saya rasakan anda punya ideologi dari tulisannya. terasa seperti pengagum suatu ideologi.
atau belum mengalami pendewasaan ideologi…?
jangan jadi “ambivalens” dong. dibilang sosialis nggak, komunis juga nggak, islam…nggak juga.
[Reply]
wedew, hebat banget ya bisa tahu segalanya ttg penulis hanya dari secarik tulisan. jago! ah, tapi saya milih jadi ambivalen aja lah. kalo nggak neo-lib aja deh. neo-libido. hehehehe
[Reply]
maaf niy Zen, tapi kurasa, bukan kamu yang akan menemukan kakawin itu… karena kamu pintar dan bukan orang biasa(menurutku). Seperti ramalan itu, seseorang itu… ya kamu tahu sendiri kan…. Yang jelas, meski aku belum pernah ketemu kamu, aku yakin kamu bukan seseorang yang terlihat bodoh. Hehe… maaf yo Zen.
Salam, semoga sukses. Aku tetap mendoakanmu.
[Reply]