»

Rikalpa

meracau — pejalanjauh @ 9:47 pm

Maharaja tua itu sedang melihat sebuah peta, tapi –demikian saya bayangkan– ia hanya melihat wajahnya yang rapuh oleh waktu dan lebam oleh ketakutan-ketakutan yang tak wajar.

Diikutinya titik-titik keemasan yang menandai garis terluar dari keluasan tahtanya, tapi yang ia lihat justru telunjuknya sendiri yang gemetar tak beraturan. Telunjuk itu, bukan hanya tak lagi mampu mengarahkan balatentara di garis depan peperangan, tapi bahkan sudah terlalu lunglai hanya untuk menelusuri titik-titik yang saling-silang di peta yang terhampar di hadapannya.

Tahta, tahta, tahta…. Oh, Syiwa, kenapa tak kau katakan sedari dulu betapa merananya seorang maharaja tua di ujung hidupnya?

Maharaja itu mengusap misainya. Dan, pada setiap usapan itu, ia selalu merasa ada sehelai yang berlolosan ke lantai marmar maha indah yang bahan-bahannya didatangkan khusus dari negeri para penyembah api. Tidak, keluasan tahtanya belum lagi rontok, nusa-nusa yang jauh di atas angin dan di bawah angin belum pula khianat. Semua masih menghaturkan sembah padanya. Tapi berapa lama lagi? Tapi seberapa bentar lagi? Tapi seberapa jenak lagi? (more…)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2011 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity