Melankolia

Beberapa saat sebelum pasola berakhir, saya memungut sebatang tombak yang tergeletak di tanah.

Jam mendekati pukul dua, berarti sudah 7 jam perang lempar tombak di atas punggung kuda berlangsung. Matahari masih sangat terik. Pasola masih berlangsung, masih sengit. Para pemain pasola sering memberi aba-aba mengejek untuk memancing lawan merengsek maju. Tak ada tempat bagi kelengahan di sini. Semua mesti waspada, bahkan termasuk penonton. Seliweran tombak itu kadang terlontar ke arah penonton yang berkerumun di keempat sisi arena pasola.

Seorang tua dengan pakaian adat yang tak ikut bermain terkena tombak di dadanya. Untuk kekuatannya tak seberapa sehingga tak membuatnya luka. Saya melihatnya meringis menahan sakit, tapi ia tak mengeluh dan tak memajang tampang kesakitan.

“Sakit, Pak?” tanya saya. Ia menggeleng. Saya tersenyum. Tiba-tiba lelaki tua itu menarik badan saya hingga saya nyaris terjengkang. Ternyata, sebuah tombak pasola meluncur deras ke arah posisi di mana sebelumnya saya berdiri. Fiuh!

Dengan bantuan tombak yang baru saja saya pungut, saya bangkit berdiri. Ujung tombak itu terperciki sesuatu yang berwarna merah. Sedikit bau amis tercium saat saya mengendusnya. Darah, tentu saja.

Saya kadang berpikir bagaimana ritus berdarah ini masih bisa bertahan di tengah laju modernitas yang tak bisa lagi dibendung. Tapi, nyatanya, saya berada di situ, menjadi saksi ritus berdarah ini.

Para penghayat agama Marapu percaya darah dalam upacara adalah persembahan pada bumi untuk kesuburan sawah dan keberhasilan panen. Mereka juga yakin pada tiap tetes darah berlangsung sebentuk penyucian. Pemain pasola yang tewas dipercaya sebagai hukuman atas perbuatan salah dan jahat yang pernah dilakukannya dan dengan itu perbuatannya di masa lalu menjadi termaafkan. Pasola, dari sisi ini, adalah sejenis penyucian yang dibayar dengan pengorbanan.

Setiap agama memang punya konsepsi pengorbanannya masing-masing.

Seorang perempuan yang bekerja sebaga reporter tv swasta yang datang meliput pasola berkomentar dingin: “Lagi-lagi perempuan menjadi asal muasal sebuah peperangan.”

Saya ingat kalau pasola muncul untuk mengikis duka lara Ubu Dulla yang dikhianati istrinya, seperti halnya Drupadi yang ditelanjangi Kurawa telah memicu sumpah berdarah Bima dan menjadi salah satu bagian penting dalam epik berdarah di padang Kurusetra. Saya juga tak lupa ihwal peperangan antara Rama dan Rahwana yang juga karena penculikan perempuan Shinta.

Saya tersadar betapa puitika Sumba jauh lebih menyentuh ketimbang yang digambarkan oleh sajak berjudul “Beri Daku Sumba”.

Lirih saya berkata pada diri sendiri: ritus berdarah yang sangat maskulin ini ternyata dihela karena sebuah melankolia.

Printed from: http://pejalanjauh.com/2009/04/melankolia/ .
© Pejalanjauh 2010.

17 Comments   »

  1. dewi says:

    satu lagi cerita, bagaimana kaum maskulin berusaha untuk menutupi melankolianya dengan sesuatu yang terlihat superior, penuh kekerasan, pertarungan, darah misalnya.. dan kekuatan untuk menanggung penderitaan diukur dengan menggunakan tolak ukur ragawi.

    [Reply]

  2. nothing says:

    asik kayane lek nonton langsung

    [Reply]

  3. bangsari says:

    sayang do nganggo kaos partai kabeh pesertane…

    – GOLKAR karo PDIP ngirim kaos akeh ke kantong2 kampung pasola beberapa hari sebelumnya. Ditambah kemiskinan yang di beberapa tempat memang luarbiasa, mudah ditebak jika beberapa di antaranya pakai kaos terbaru. Tapi ora kabeh, kok. Seperempat wae gak sampe. Ku hitung cuma sekitar 10-15 orang. Sengaja kupasang foto ini supaya ironi nya tersampaikan.

    [Reply]

  4. debukaki says:

    kalo kalimat ini ironi juga nggak?

    “Saya melihatnya meringis menahan sakit, tapi ia tak mengeluh dan tak memajang tampang kesakitan.”

    bukannya ‘meringis’ itu contoh ‘tampang kesakitan’.. hehe..

    – ben wae, ora tak beneri meneh, ra po2 keliru. kekekekeke

    [Reply]

  5. kw says:

    serem nian.
    (*yuk ke pantai “itu”

    [Reply]

  6. sekelebatsenja says:

    kenapa harus perempuan?
    hiks..

    [Reply]

  7. haris says:

    moral ceritanya: lelaki itu sangat meloankolis. he2.

    [Reply]

  8. dian ina says:

    kisah yang menunjukkan bahwa sepanjang sejarah, laki-laki kesulitan mengekspresikan kesedihan dan kehilangan dengan kata-kata atau air mata, tetapi lebih fasih berbahasa kemarahan dan kekerasan?

    [Reply]

  9. Chic says:

    dan photo-photo mu itu sukses membuat saya iri Zen :|

    [Reply]

  10. pipit says:

    Makin matang jd ‘empu’ kata-kata, saya mau berguru pada zen kapan2

    [Reply]

  11. ceznez says:

    sakit gak tuh yg kena tombak? :)

    [Reply]

  12. Hummmm, lama tak menjamah blog produktif ini!

    Selamat merenungi hari berkurangnya usia buat sang produser produktif!!! (hehehhe, yo opo yho yo bosoneeeeeeeee).

    Met ultah!

    [Reply]

  13. denologis says:

    hem, bumipun ada memang karena wanita. :)

    [Reply]

  14. Ika says:

    Dan perempuan2 penyebab pertempuran itu selalu dgambarkan sbg perempuan cantik,bukan?. Huh.
    Ada kisah ttg perempuan tdk cantik yg jd pemicu perang g?

    [Reply]

  15. acink says:

    dan harus ada darah yang mengalir, untuk tetap trus bernafas.

    [Reply]

  16. Mbok Moco2 demokritus junior disik jen, ,

    [Reply]

  17. pejalanjauh says:

    @tentang hari arsip nasional: “Sori, dab, saranmu kurang memikat. Lagi sibuk ngisi TTS kiye. hihihi….”

    [Reply]

RSS feed for comments on this post , TrackBack URI

Leave a Comment