Sumba adalah hasrat tentang sebuah keberangkatan yang sudah saya tunggu begitu lama, sejak SD, sejak saya membaca sebuah cerita tentang seorang Rato yang selalu meniup seruling malam-malam di atas punggung seekor kuda.
Hasrat saya pada Sumba, selanjutnya, dipantik oleh sepucuk puisi: saat SMP, saya memenangkan sebuah perlombaan membaca puisi pada perayaan bulan bahasa, dan puisi yang saya bawakan berjudul “Beri Daku Sumba”, satu-satunya karya Taufik Ismail yang saya suka.
Dua baris terakhir puisi itu, hingga hari ini, selalu saya bacakan di luar kepala tiap kali sedang membicarakan Sumba dengan siapa saja, di mana saja:
Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung hargaTanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
Dan angin zat asam panas dikipas dari sanaBari daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi di malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan 3 ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Bari daku tanah tanpa pagar,luas tak terkata, namanya SumbaRinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduhRinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Puisi pula yang diam-diam terus merawat ingatan dan hasrat saya pada Sumba, tapi dengan cara yang sedikit berbeda: seorang lelaki tua, dengan reputasi yang nyaris menjadi legenda dan mitologia di jagat sastra, dengan unik terus memompa gambaran tentang Sumba di kepala saya sebagai tempat yang tak ada padanannya.
Umbu Landu Paranggi, nama lelaki tua itu, belakangan baru saya tahu sempat pula menulis sajak tentang tanah kelahirannya, judulnya “Sabana”.
memburu fajar
yang mengusir bayang-bayangku
menghadang senja
yang memanggil petualangsabana sunyi
di sini hidupku
sebuah gitar tua
seorang lelaki berkudasabana tandus
mainkan laguku
harum nafas bunda
seorang gembala berpaculapar dan dahaga
kemarau yang kurindu
dibakar matahari
hela jiwaku risau
karena kumau lebih cinta
hunjam aku ke bibir cakrawala
Sekali waktu, di hari terakhir Ramadhan kemarin, untuk pertama kalinya saya memimpikan Sumba: mula-mula saya naik kereta, untuk mudik, tapi begitu turun di stasiun tujuan, tiba-tiba yang terlihat hanyalah hamparan savana dan hilir mudik rombongan kuda, juga seorang lelaki tua yang tak jelas parasnya.
Sumba adalah ingatan yang sudah lahir bahkan sebelum perjumpaan itu benar-benar hadir.
writing, photography, traveling...
Lagi malas menulis zen? Dikit kali postingan kau…
[Reply]
Ini pasti bukan sedang malas posting, tetapi dikuasai perasaan akan Sumba ha ha
Salah satu tempat yang ingin aku kunjungi juga Sumba, entah kenapa aku suka sabana.
[Reply]
kamu adalah lelaki, yang kali ini berjalan menyongsong mimpi.
[Reply]
lelaku tua yang tak jelas parasnya itu ngga medeni toh Zen?
hihihihi
jadi mana cerita soal Sumba nya? udah sampe belum sebenernya kesana?
[Reply]
jatuh cinta sama siapa lagi ini?
[Reply]
kok mirip? cuma dalam kejadian saya mah sumbawa. Juga dipicu oleh buku di perpustakaan SD, tentang joki kecil badung -kalau gak salah namanya Seman. Lalu, sejak itu: sumbawa, padang savana, kuda, langit biru; mengharu biru nostalgia akan sesuatu yang belum pernah teralami.
Tahun 2007, september, berhasil ke sana. Dari ujung barat hingga ke tengah, Taliwang ke Sumbawa Besar, membelah padang-padang kecoklatan dan kuda liar. sayang tidak sampai ke bima sana. Someday, i will.
Mau backpacking ke sana? Saya lagi nyari temen, yang mau backpacking soro-soroan. Tapi tidak sekarang2 ini. Mungkin setahun atau dua tahun ke depan.
[Reply]
Ooooo…terobsesi dengan sumba toh zen,
bay de wey..sumba itu ada dimana zen?
(harap maklum, pelajaran geografiku cuma padang dan sekitarnya he he)
[Reply]
Selamat jalan, Nyo…semoga selamat sampai di sana….
Sudah barangtentu kisah-kisah yang menarik, semoga.
[Reply]
hayah…kepencet.
sudah barangtentu ditunggu kisah-kisah yang menarik.
–fuhh, terbetulkan–
[Reply]
jadi pengen ke sumba…
[Reply]
nggak pingin ke old trafford?
[Reply]
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
hmmm…
[Reply]
wow keren banget ya sumba?
[Reply]
ternyata kau juga bs senang sama puisinya taufiq ismail ya?he2. dengaren.
[Reply]
Sudah berangkat bro? Jangan-jangan mau berguru sama Umbu Landu?
[Reply]
kita berbagi mimpi yang sama
[Reply]
puisinya mengingatkan saya pada “Syair untuk Seorang Petani dari Waimital, Pulau Seram, yang pada hari ini Pulang ke Almamaternya” (dalam Kembalikan Indonesia Kepadaku:
1979).
Waimital memang nun di maluku. namun sama eksotisnya dengan sumba saya kira.
[Reply]
Wah wah jen jen, wis dadi intelek muda tenan to. .ngomong4 “. .kata fucoult”nya mana?La nasibnya “nusantara: jawa yang selalu retak”mana?posting bulan apa sich?he. .
[Reply]
Sabana dan lelaki tua, saya kok ingat Umbu Landu Paranggi, penyair dari Sumba..
[Reply]
Hmmm.. Sumba..sumba.. Tambora juga berada disana kah???
[Reply]
Hallo…salam kenal dari sumba island
bagi rekan rekan yg ingin menulis artikel khususnya ttg sumba, silahkan kirim artikel anda ke email kami info@sumbaisland.com atau kunjungi website http://www.sumbaisland.com, dgn senang hati bisa berbagi informasi demi kemajuan bersama.
[Reply]
wah…membaca posting ini saya smakin ingin ke sumba…
ga sabar menikmati sabana ny…
kalau boleh tw km ke sumba dalm rangka apa??
[Reply]