»

Sumba [2]

cermin — pejalanjauh @ 8:22 pm

Sumba ialah langit biru yang selalu terasa dekat dan seakan hendak runtuh-jatuh. Di Sumba, tak ada langit yang jauh, semuanya terasa dekat, segalanya tampak melekat lalu memiuh di ujung ringkik kuda yang melenguh.

Sumba ialah pantai-pantai landai dengan ombak-ombak yang dari jauh terlihat selalu melambai. Di Sumba, tak ada pantai yang ramai, semuanya terasa lengang, segalanya tampak mengembang panjang sejauh mata memandang.

Sumba adalah hamparan padang alang-alang. Di Sumba, tak ada alang-alang yang yang tak berguna: ia ada di atap rumah dan di ujung mulut kuda yang mengunyah. Alang-alang yang tak tersentuh bahkan mengabadikan sudut-sudut Sumba yang tak terjamah.

Sumbah adalah cerita tentang mulut-mulut yang tak berhenti memamah. Di Sumba, tak ada mulut yang sepi dari sirih, pinang dan tembakau yang sengat baunya hanya kalah oleh harum kayu cendana dari hutan-hutan yang basah.

Sumba adalah epos tentang laki-laki gagah yang duduk di atas punggung kuda untuk saling baku kucur darah. Di Sumba, tak ada darah yang sia-sia, sebab pada tiap tetes darah ada mimpi tentang hamparan padi yang menguning di sawah dan daging-daging ternak yang setiap seratnya akan ditukar untuk sehelai seragam sekolah.

Sumba adalah perempuan-perempuan yang bekerja dengan dada telanjang dan punggung yang dijerang panas matahari. Di Sumba, pada tiap keringat perempuan yang mengucur, lahir anyaman-anyaman yang tak biasa dan kain tenun yang tak sobek bahkan jika diinjak oleh puluhan tapal kuda.

Sumba adalah batu-batu yang dijaga para rato dengan garis wajah yang tegasnya seperti liukan sungai Lamboya. Di Sumba, tak ada leluhur yang tak bersemayam di balik batu-batu yang ligat, dan di setiap batu itu, terpacak ribuan kisah persilangan keluarga dan ratusan dongeng tentang arwah yang selalu datang pada dua-pertiga purnama.

Sumba adalah upacara-upacara yang sinambung tanpa henti, dari abad ke abad, dari hari ke hari. Di Sumba, tak ada upacara yang tak terjalin dengan penghidupan sehari-hari, dan pada setiap upacara itu, Dia yang Tak Terjamah hadir sebagai sesuatu yang intim, seperti angin dari Pantai Nihiwatu yang menyusup dari sesela tanjung yang sunyi.

Sumba adalah rindu yang kepadanya aku akan kembali, pada suatu hari nanti…

24 Comments »

  1. sudah meninggalkan Sumba ya? hmm. indahnya foto2 mu.

    Comment by haris — 2009/03/27 @ 10:24 pm
  2. penemuan yang sangat indah…pencapaian mimpi yang terdalam…ditunggu untuk menjelajah pulau kecil sederhana…

    Comment by yanti — 2009/03/27 @ 10:45 pm
  3. i’ve told you..
    i wish i were you, zen

    Comment by sekelebatsenja — 2009/03/28 @ 12:03 am
  4. sumba adalah cerita tentang lelaki yang menjemput mimpi.

    Comment by dewi — 2009/03/28 @ 9:34 am
  5. ternyata benar juga ya zen, kamu jatuh cinta pada sumba-meski entah dalam tataran yang mana-

    Comment by seni — 2009/03/28 @ 1:30 pm
  6. Piye to jen, kok mendayu-dayu ya. .aku malah khilangan karakter sumbane e.

    Comment by Tentang hari arsip nasional — 2009/03/29 @ 11:30 pm
  7. huwaaaaaaaaaaa…. photo-photo mu bikin aku kangen backpacker-an…. huhuhuhuhuhu
    *iri*

    Comment by Chic — 2009/03/30 @ 10:31 am
  8. @tentang hari arsip nasional:

    kamu toh yang kehilangan karakter sumba? aku tidak!

    Comment by zen — 2009/03/30 @ 11:18 am
  9. Sumba yang digambarkan oleh mas Zen ini mengingatkan saya pada Toba yang pernah disyairkan oleh Sitor Situmorang betul gak sih? Horas Bah. he.,he.,

    Comment by wandi barboy silaban — 2009/03/30 @ 11:16 pm
  10. aku jadi pingin nangis……………………..

    Comment by walesa — 2009/03/31 @ 6:37 pm
  11. Sumba adalah tempat yang aku belum pernah kesana.

    Comment by mr.bambang — 2009/04/01 @ 2:55 am
  12. sepertinya, sumba adalah potret lain dunia ketiga; keindahan yang ditelikung kemiskinan. tinggal menghitung hari hingga kemiskinan mencabik-cabik keindahannya.

    Comment by debukaki — 2009/04/01 @ 12:50 pm
  13. “Sumba adalah tempat yang aku belum pernah kesana.”
    dan aku ingin kesana :)

    Comment by Peewee — 2009/04/01 @ 8:29 pm
  14. saya punya banyak teman dari sumba, tapi tak pernah mereka bercerita bahwa sumba begitu menakjubkan seperti yang tuan zen paparkan,…

    Comment by kresna — 2009/04/03 @ 7:43 am
  15. hoho…
    selamat pulang!

    Comment by lamanday — 2009/04/05 @ 3:11 pm
  16. pengagum pulau-pulau kecil ya? kalau saya pengagum gunung gemunung. adem….

    Comment by mpep — 2009/04/08 @ 7:39 am
  17. Sumba adalah sebuah takjub atas gambar indah yang didapat oleh lelaki yang baru saja melepas sebagian rindunya. Sayang sekali aku hanya bisa menikmati gambar itu :(

    Comment by lida — 2009/04/08 @ 9:14 am
  18. Sumba adalah mozaik peradaban….hampir setiap jengkal tatapan selalu terpaut dalam rayuan kemolekan budaya megalit yang syarat nilai dan mistis…betapa tidak! hanya di sumba, nilai-nilai modernitas berpaut rasa dalam dekapan kultur merapu..

    Sumba tidak ada duanya….hanya di sumba, ritus merapu, arena pasola, padang savana dan jutaan kuda menyatu dan berpadu dalam pentas irama peradaban…

    kuda sumba adalah kuda sang dewa ruci…kuda sang dewa nyale…kuda perkasa tak ada tandingannya…kuda yang siap bertempur kapan saja dan dimana saja…

    Comment by Ferdian Rondong — 2009/04/11 @ 9:38 pm
  19. trimakasih telah berkumjumg kesumba

    Comment by rahmatsumba — 2009/04/15 @ 1:35 pm
  20. eksotik…..km orang sumba tah

    Comment by fan baru — 2009/04/18 @ 2:54 pm
  21. wah bagus banget. kalo dulu aku belajar nulis. sekarang mau belajar jadi fotografer yang baik. :)

    Comment by R. N. Bayu Aji — 2009/04/25 @ 9:36 am
  22. fotonya kok cm 2?

    Comment by musa — 2009/06/27 @ 6:54 pm
  23. Salam kenal, foto2nya bagus ya, sangat eksotik. Jadi ingat istilah Flobamor : flores – sumba – timor

    Comment by Mas Gaptek — 2009/06/27 @ 9:03 pm
  24. sumba adalah sorga para marapu

    Comment by Oskar Shaja — 2010/01/14 @ 1:07 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity