Sjahrir
– kepada bung kecil: 1909-2009
Bung, seandainya hari ini kau masih hidup, sangat ingin benar aku membawa “Renungan dan Perjuangan”, menyodorkannya padamu, agar bisa kau goreskan parafmu di situ, hingga kelak satu waktu, kepada darah dagingku, aku yang telah renta masih bisa dengan bangga bercerita: “Ayahmu ini, Nak, telah menemui Bung Sjahrir, pada satu hari di bulan Maret 2009, saat ia sedang merayakan seabad usianya.”
Tapi kau sudah tak lagi di sini, sudah lama, bahkan jauh sebelum kulewati gua garba dan kuhirup udara jagat raya. Yang tiba padaku hanyalah catatanmu, remah-remah pikiranmu, yang kadang jenaka kadang beratnya berkati-kati, yang sebagian selintas lewat tapi lebih banyak lagi yang melekat erat di benak.
Ada satu masa, Bung, di mana kau tak punya tempat di ruang baca. Usia di penghujung belasan yang menggelora, membuatku lebih kena pikat seniormu, Ibrahim yang kesohor itu. Ketika itu, memang ada kupunya beberapa buah buku pikiranmu, tapi selintas-lintas saja kujamah, itu pun tak begitu antusias, tanpa gelora yang membikin lintang pukang.
Apatah bisa patik kena limau dalam sekali kerjap jika catatanmu di pengasingan Bandaneira banyak diisi cerita main-main dengan anak-anak Baadilla? Apatah bisa patik kena pukau dalam sekali desau jika catatanmu di pengasingan terlalu pepak oleh bahasan-bahasan yang membebani kepala pemuda tanggung di ujung usia belasan?
Tapi, Bung, barangkali, beginilah memang harusnya: membacamu lebih patut dengan intensi yang terjaga, perlahan, sonder nafsu sonder berahi, lalu semuanya terjalin begitu saja, ibarat kisah cinta yang dipupuk oleh belasan pertemuan, puluhan percakapan dan ratusan perpisahan –sesuatu yang datang belakangan, amat pelan bahkan, tapi sungguhlah nyata untuk disangkal, apalagi ditangkal….
Di masa-masa dulu, saat pukau saudaramu, Ibrahim yang kesohor dan sarat legenda itu, ada kubaca sebuah cerita tentang perjalanan seorang anak muda, Santiago namanya, yang melakukan perjalanan panjang untuk menyempurnakan takdirnya. Kupercaya yang demikian itu, dulu, karena hidup saat itu dihayati layaknya sebuah lakon dengan awal yang terang dan ujung yang benderang, segalanya serba-terancang.
Waktu dan pengalaman membuatku mengerti betapa hidup terlalu sarat dengan hal-ihwal yang menyimpang, kelokan tajam di luar prakiraan, serta kejutan-kejutan kecil yang mendebarkan –pendeknya, semua yang sesat dari konsep-konsep, segenap yang berbeda dari fiil yang kuyakini dengan seteguh-teguhnya. Maka, dengan kepastian yang tak tertolak, cerita macam Santiago itu kutampik keras-keras.
Mungkin hawa udara kota telah membikinku menjadi sedikit lebih tua dengan cepat. Mungkin bala dan mara yang susah payah kulewati di hari-hari lampau sudah membikinku menjadi sedikit lebih tenang dan susah dibikin limbur. Emosiku terhitung menjadi “semenjana”, jika tak hendak dikata “datar”. Tak sedang kusangkal jika aku, kini, jadi lebih rileks memandang nasib. Tak hendak kutampik jika aku, kini, jadi lebih santai menatap waktu-waktu yang hendak menjelang. Kecamuk dan getar yang membakar sesekali singgah, tapi tak pernah lagi menjadi kelimun yang tak bisa kuguyah enyah.
Tidak, bukan karena kau maka hidup yang begitu itu mulai gemebyar pada hidupku. Padamu, aku ini, Bung, menemukan satu rujukan tentang hidup yang riang, hidup yang tak disusun berdasarkan akalbudi, hidup yang tak dirancang oleh skema-skema adiluhung. Tentu saja kau di sini sebagai pribadi-bebas, bukan kau sebagai politisi yang–mau tak mau—kudu ikut menyiapkan rancangan, larut menyusun siasat, turut menata skema.
Tak berarti aku tak lagi membaca, bukan maksudku untuk bilang aku tak punya lagi sinisme. Tapi, seperti yang pernah kau bilang pada salah suratmu, “…mengapakah kita akan memahitkan kehidupan kita dengan skeptisisme dan sinisme? Juga dalam pandangan kehidupan yang realistis ada tempat buat keindahan hidup.”
Melaluimu aku bercermin, hidup tanpa emosi menjadi terlampau positif, sejenis kehidupan yang tak memadai, sebuah “penalaran abstrak tentang hidup” tanpa “pengalaman”, yang tanpa dialami, sejenis prakiraan cuaca yang disusun dari observatorium di ketinggian Lembang, sebangsa penjelasan tentang hidup yang disusun dari ruang baca yang berpendingin atau kamar indekost yang kebak dengan kitab.
Aku, sesudah lama waktu terlewat, menolak hal semacam itu: tersebab itulah aku menghitung lebar pantai, mengukur panjang jalan, menjelajahi kota, menakar udara segar di pedalaman desa. Aku masih membaca, Bung, akan selalu, tapi ingin kupastikan jumlah waktunya tak akan menghabisi jumlah tempo yang kuhabiskan untuk keliaran tak bertujuan, merayakan apa yang oleh seorang rekanmu maksudkan sebagai “bebasari”.
Sesungguhnya, kadang begini kupikir, impuls, dorongan, gairah (drifts), seperti yang saya yakini sekarang, tidak pernah akan dilenyapkan oleh akalbudi, oleh konsep-konsep. Bahkan sebaliknyalah yang benar —akalbudi bertahta hanya sepanjang impuls, dorongan, gairah membiarkannya. Bukan begitu kau pernah menulis, Bung?
Mungkin aku, kini, tak lagi menjadi seorang idealis yang keras kepala, melainkan sudah salin rupa jadi penghayat realisme dari faal-nya yang mungkin pahit. Tapi, seperti juga katamu, selama masih ada kemauan untuk hidup, keadaan yang paling sepahit-pahitnya sekali pun tak akan membuat kita kehilangan karunia, asalkan dengan dada yang lapang dan bahu yang tegak kita berani bilang: aku hendak mengakui dan menikmati kehidupan, dan takkan kusangkal kepahitan.
Eureka, eureka, eureka!
hidup memang harus dinikmati
*bersiap menuju cirebun menuju hidup*
Doh, sementara di kepalaku masih berputar-putar crocosan Mas Marco…
bacaanmu terhadap sjahrir, zen, mirip dg GM yang mengontraskan sjahrir dengan hatta. apatah keduanya memang demikian kontras sih?–dalam soal hidup dan gairah…
demm…
aku tersihir dengan kata2mu…
dan membangkitkan gairah untuk menggali setiap cuplikan kecil sejarah yang mungkin akan tak pernah tuntas terpuaskan…
piye khabare jekdi?
Syahrir, bung kecil dengan tragika di akhir hayat.
wow. lagi kasmaran dab?
syahrir, tan malaka, dan sang alkemis. jangan2 mereka masih bersodara
Gagasan yang terlalu kecil kadang terpeta dengan begitu besar, atau bisa jadi sebaliknya. .aku tak tau pasti. Tapi aku yakin slalu ada proses dan (re)produksi yang bertahap(kadang malah berlangsung scara banal). .entahlah,yang jelas aku merasa lelah. .ngomong-ngomong kapan bunuh diri zen?aku dah gak sabar nunggu brita bahagia itu. .kirim kabar ya kalo masuk surga. Sms juga boleh. .
Baru nyasar kesini … nice blog, mistery blog
Kenapa menampik The Alchemist? Sudah tidak percaya bahwa keberuntungan hanyalah pencairan tabungan energi positif?
bung, tulisanmu tentang sutan syahrir bung..muantuap…lam knl
banyak tokoh: sjahrir, hatta, tan malaka, natsir, aidit, dikenang 100 tahunnya sebagai manusia. mereka adalah aktor. rezim yang menentukan apakah mereka menjadi pahlawan, oportunis, pengkhianat, atau bukan siapa-siapa.