
Sumba ialah langit biru yang selalu terasa dekat dan seakan hendak runtuh-jatuh. Di Sumba, tak ada langit yang jauh, semuanya terasa dekat, segalanya tampak melekat lalu memiuh di ujung ringkik kuda yang melenguh.
Sumba ialah pantai-pantai landai dengan ombak-ombak yang dari jauh terlihat selalu melambai. Di Sumba, tak ada pantai yang ramai, semuanya terasa lengang, segalanya tampak mengembang panjang sejauh mata memandang.
Sumba adalah hamparan padang alang-alang. Di Sumba, tak ada alang-alang yang yang tak berguna: ia ada di atap rumah dan di ujung mulut kuda yang mengunyah. Alang-alang yang tak tersentuh bahkan mengabadikan sudut-sudut Sumba yang tak terjamah.
Sumbah adalah cerita tentang mulut-mulut yang tak berhenti memamah. Di Sumba, tak ada mulut yang sepi dari sirih, pinang dan tembakau yang sengat baunya hanya kalah oleh harum kayu cendana dari hutan-hutan yang basah. (more…)
Sumba adalah hasrat tentang sebuah keberangkatan yang sudah saya tunggu begitu lama, sejak SD, sejak saya membaca sebuah cerita tentang seorang Rato yang selalu meniup seruling malam-malam di atas punggung seekor kuda.
Hasrat saya pada Sumba, selanjutnya, dipantik oleh sepucuk puisi: saat SMP, saya memenangkan sebuah perlombaan membaca puisi pada perayaan bulan bahasa, dan puisi yang saya bawakan berjudul “Beri Daku Sumba”, satu-satunya karya Taufik Ismail yang saya suka.
Dua baris terakhir puisi itu, hingga hari ini, selalu saya bacakan di luar kepala tiap kali sedang membicarakan Sumba dengan siapa saja, di mana saja:
Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga
Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
Dan angin zat asam panas dikipas dari sana
Bari daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi di malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan 3 ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Bari daku tanah tanpa pagar,luas tak terkata, namanya Sumba
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh
Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
(more…)
– kepada bung kecil: 1909-2009
Bung, seandainya hari ini kau masih hidup, sangat ingin benar aku membawa “Renungan dan Perjuangan”, menyodorkannya padamu, agar bisa kau goreskan parafmu di situ, hingga kelak satu waktu, kepada darah dagingku, aku yang telah renta masih bisa dengan bangga bercerita: “Ayahmu ini, Nak, telah menemui Bung Sjahrir, pada satu hari di bulan Maret 2009, saat ia sedang merayakan seabad usianya.”
Tapi kau sudah tak lagi di sini, sudah lama, bahkan jauh sebelum kulewati gua garba dan kuhirup udara jagat raya. Yang tiba padaku hanyalah catatanmu, remah-remah pikiranmu, yang kadang jenaka kadang beratnya berkati-kati, yang sebagian selintas lewat tapi lebih banyak lagi yang melekat erat di benak.
Ada satu masa, Bung, di mana kau tak punya tempat di ruang baca. Usia di penghujung belasan yang menggelora, membuatku lebih kena pikat seniormu, Ibrahim yang kesohor itu. Ketika itu, memang ada kupunya beberapa buah buku pikiranmu, tapi selintas-lintas saja kujamah, itu pun tak begitu antusias, tanpa gelora yang membikin lintang pukang.
Apatah bisa patik kena limau dalam sekali kerjap jika catatanmu di pengasingan Bandaneira banyak diisi cerita main-main dengan anak-anak Baadilla? Apatah bisa patik kena pukau dalam sekali desau jika catatanmu di pengasingan terlalu pepak oleh bahasan-bahasan yang membebani kepala pemuda tanggung di ujung usia belasan? (more…)
Majapahit, imperium yang mewariskan Negarakrtagama dan Sutasoma, sudah lama lewat, tapi ia tak pernah benar-benar minggat. Lewat Muhammad Yamin, (tilas) Majapahit hadir kembali dengan jalan sedikit memutar, tapi justru tepat pada fase genting persiapan kelahiran jabang bayi republik ini.
Saat sedang merenung-renung di tengah sidang BPUPKI, Yamin mengucapkan satu parafrase yang diambil dari Kakawin Sutasoma, yang ia ucapkan hanya untuk dirinya sendiri, semacam gumaman lirih: “Bhineka tunggal ika…” Tak disangka, seorang dari Bali dengan penampilan bak pandita yang duduk di sebelahnya menyahut. “Tan hana dharma mangrwa,” katanya.
Saya tidak tahu persis siapa orang yang menyahut gumaman Yamin (ada yang bilang I Gusti Bagus Sugriwa, cendekiawan serba bisa dari Bali). Tapi, cukup jelas, fragmen kecil itu menjadi bagian tak terpisahkan dari digunakannya frase “Bhineka tunggal ika” sebagai sesanti atau semboyan Republik ini.
Frase “Bhineka tunggal ika” sendiri diunduh dari bait kelima metrum ke-139 Kakawin Sutasoma karya Rakawi Prapanca yang bunyinya: …Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa. Kurang lebih ia menjelaskan bahwa antara (agama) Buddha dan Syiwa itu berbeda tapi tetap satu karena memang tidak ada darma yang mendua. (more…)