– aubade singkong
Nyaris sudah setua usia Republik ini keduanya menjadi pedagang singkong di Pasar Telo, Jogjakarta. Pasangan suami istri ini menjadi pedagang paling tua di seantero pasar: Mbah Warso berusia 88 tahun dan Mbah Sutinah berumur 78 tahun.
“Anak saya ada yang jadi guru, bidan, ada pula yang jadi wakil camat. Kalau kami mati, mungkin kios ini tutup selamanya. Sudah banyak kios-kios yang tutup, sebagian dijual dan jadi toko kelontong. Banyak para pemilik kios yang kesusahan meneruskan usahanya. Anak-anak mereka banyak yang tidak mau meneruskan usahanya,” terang Mbah Sutinah.
Siang itu saya lihat hanya enam kios yang buka. Sisanya tutup. Sebagian berubah menjadi warung makan, warung bakso atau toko kelontong. Mbah Warso dan Mbah Sutinah sedang duduk di kursi plastik tanpa sandaran dalam posisi yang rasanya begitu filmis. Mbah Warso duduk menghadap jalan raya di sebelah timur yang penuh dengan seliweran kendaraan, sementara istrinya yang duduk di depan Mbah Warso menatap lurus ke arah deretan kios-kios lainnya di selatan. Mereka melemparkan pandang ke arah yang berbeda dalam sikap yang sepenuhnya diam.
Keduanya seperti kamitua pasar, penaka juru kunci. Pada mereka saya mengunduh kisah jatuh bangunnya Pasar Telo: satu-satunya pasar di Jogja, mungkin juga di Jawa, yang terang-terangan menggunakan nama “Pasar Telo” (singkong), tak peduli betapa belakangan kata “telo” sering digunakan sebagai kata untuk mengumpat.
Mulanya mereka berjualan bagor, semacam karung goni tapi lebih tipis, yang pada masa pendudukan Jepang mulai sering digunakan untuk membuat pakaian di Malioboro, persisnya di sekitar Kantor Pos Besar sekarang.
Pasangan ini sedang bersiap menggelar dagangannya saat Belanda menggelar Agresi Militer II pada Desember 1948, “doorstoot”, kata Mbah Warso. Belanda datang dari udara dan darat. Di atas kepala, pesawat Belanda berkitar-kitar. Dari darat, tepatnya dari arah utara, pasukan Belanda merayap perlahan dengan mengendap-ngendap. Saya berkhayal, mungkin pasangan ini sempat melihat Setadewa alias Teto –lelaki dalam novel “Burung-Burung Manyar”—yang juga sedang mengendap-ngendap memburu Istana Negara di ujung Malioboro dengan hati berdebar karena berharap bisa ketemu Larasati a.k.a Atik, gadis pujaan hatinya.
Pada 1950, mereka mulai berjualan singkong di Pasar Ngasem. Tujuh tahun kemudian, para penjual singkong di Pasar Ngasem dipindahkan ke lokasi yang terus mereka tempati hingga sekarang. Mulanya, para pedagang membangun lapak-lapak yang bisa dibongkar pasang.
Beberapa tahun kemudian, barulah dibangun kios-kios permanen yang hingga kini tak pernah sekali pun direnovasi. Pada masa jayanya, panjang Pasar Telo mencapai antara 50-70 meter. Kini semuanya menyusut hampir tiga-perempatnya. Dari ujung ke ujung, saya perkirakan, panjang Pasar Telo hanya tinggal 15 meter, angka yang teramat sedikit untuk disebut “pasar”.
Penetrasi beras sebagai satu-satunya makanan pokok menjadi salah satu sebabnya. Pasokan singkong ke Jogja hampir seluruhnya diserap bukan untuk sumber makanan pokok seperti tiwul, tapi untuk diolah sebagai cemilan, kue, jajanan pasar, gorengan atau kolak.
“Makanya tiap Ramadhan omzet meningkat karena banyak yang membuat kolak. Juga kalau musim hujan. Orang-orang mungkin butuh banyak makanan camilan. Sehari bisa menjual 8 ton kalau lagi ramai kaya gitu. Di hari-hari biasa, paling cuma 5 ton,” terang Bu Kawit , pemilik kios lain di Pasar Telo.
Bu Kawit mengalami problem yang sama: tak ada anaknya yang hingga kini mau meneruskan usaha berjualan singkong yang sudah dirintis sejak 1953. “Harus ada yang mau meneruskan. Entahlah siapa. Sayang kalau tidak diteruskan, soalnya susah payah saya merintisnya bareng suami saya,” katanya lagi.
“Gimana ini, Pak?” saya melontarkan pertanyaan ini pada Pak Slamet, suami Bu Kawit. Pak Slamet hanya tersenyum sembari mengangkat bahu. Di sebelahnya, seorang lelaki yang usianya sebaya dengan Pak Slamet, justru menjawab lontaran yang saya tujukan pada Pak Slamet dengan jawaban yang sebenarnya tak pernah saya tanyakan: “Dari Tempel (Sleman) saja sekarang cuma saya yang jadi pemasok, padahal dulu ada sekitar enam orang yang rutin memasok singkong ke sini.”
Namanya Ahmin Sudarmadi. Dia salah satu pemasok singkong terbesar di Pasar Telo. Dari dialah saya mendapat sedikit gambaran bagaimana para pemasok singkong ke Pasar Telo juga mulai berkurang, berbanding lurus dengan kian menyusutnya jumlah kios di Pasar Telo. Satu per satu sejawatnya dari Tempel beralih menjadi pengepul atau pemasok salak pondoh.
Dalam sehari, ia bisa mengirim singkong ke Pasar Telo sebanyak dua kali. Sekali kirim sebanyak 1,7 - 2 ton. Singkong yang dibawanya ia jual ke Pasar Telo seharga Rp. 1000 per kilo. Sementara para pedagang Pasar Telo menjualnya kembali seharga Rp. 1200-1300 per kilo. Jika sehari bisa menjual singkong sebanyak 5 ton, orang seperti Bu Kawit atau Mbah Sutinah bisa menangguk keuntungan sampai sejuta per hari. Ini angka yang mencengangkan.
Saya bisa mengerti jika anak-anak Mbah Sutinah bisa melanjutkan kuliah, punya profesi yang lebih “bergengsi” dan enggan meneruskan usaha berjualan singkong. Ingin saya mengatakan pada Mbah Sutinah atau Bu Kawit jika anak-anaknya seperti kacang lupa kulit. Tapi saya merasa tak pantas mengatakannya.
writing, photography, traveling...


Wah, turun ke lapangan ni critanya. Ada tips pilih singkong yg empur? Saya bli dpt ‘genyol’ terus,hehe…
[Reply]
pendidikan tinggi tak hanya membuat orang pintar, tapi juga memiliki sisi negatif: menaikkan gengsi, melunturkan kemauan bekerja keras, memperbanyak pertimbangan, serta meninggikan rasa takut.
itulah sebabnya sektor ekonomi riil (terutama makanan dan perdagangan)dikuasai oleh orang-orang yang berpendidikan kelas rendah. padahal omzet dan penghasilan mereka jauh lebih besar daripada gaji para orang-orang gajian itu.
[Reply]
ah, ujan2, dingin2, enaknya makan telo goreng. dasar bangsa telo!
[Reply]
yukkk dagang telo ae yukkk, koyoke lebih menjanjikan
mek bondho lungguh thok, duit moro dewe :))
/*eh koreksi, telo itu yha telo/ubi jalar, kl singkong itu boso jowonya pohung cmiiw
[Reply]
Jika kemarin awakmu melakukan napak tilas Pram, emang Pram pernah ke Pasar Telo juga Dhe? *awam soal Pram*
[Reply]
seandainya putra2nya mbah warso tidak ada yg berkenan meneruskan bisnis keluarga, mau tidak ya, mbah warso menjual bisnisnya tersebut ke orang lain?
(thinking)
postingan yg maknyus…
aku sbg orang jogja wae, rung tau nang pasar telo…mung lewat thok.
[Reply]
telo…
di setiap musasi, selalu ada telo (mbuh kuwi ubi ato singkong)
enaknya dimakan pas masih panas, mak nyus…
anak-anak juga suka ama singkong keju alias cheese telo hahaha…
enak…
telo… i love telo…
[Reply]
cuma kepingin ngomentari fotomu, dungaren resik dan kinclong…mesti ilmu anyar
[Reply]
Telo dalam bahasa sunda: sampeu. beuleum sampeu, goreng sampeu maknyus komo gratis mah
[Reply]
telo…sampeu meureun…! hee….seneng pisan ngagarap singkong coy…!
[Reply]
“Ingin saya mengatakan pada Mbah Sutinah atau Bu Kawit jika anak-anaknya seperti kacang lupa kulit. Tapi saya merasa tak pantas mengatakannya.”
Mungkin karena kita sebagai kacang juga sering lupa kulit ya, zen?he2. hayo ngaku!:D
[Reply]
kalo ngga salah, telo tu salah satu warisan kolonialisme, yang sampai sekarang kita nikmati dan kita uri-uri.
jadi, atas nama nasionalisme (halah) gimana kalo tanaman singkong diganti kedele aja? sayang banget, makanan sekunder kita tempe tapi bahannya (kedele) ngimpor.
[Reply]
hebat jualan singkong bisa bikin anak2nya pinter..ah jd pengen blanggem alias telo goreng..zen beliin to??
[Reply]
zen, kamu mungutin dari mana aja vocab-vocab itu? atau kamu sudah setengah dewa bisa menciptakan sendiri?
[Reply]
mas… wis nyoba telo gunung kawi?? enak mas, mak nyuss rasane
[Reply]
Saya juga pernah jual Telo di Jogja tapi gak laku…
kamu suka singkong? tapi kan kamu udah punya “singkong” sendiri. gede lagi. ueenak tenan!
[Reply]
iyhoh, fotomu resik. tapi bukannya ini stok lama yah zen?
soalan dagang telo yang ga ada penerusnya, banyak sih. seiring kemajuan jaman, pekerjaan2 seperti itu terkalahkan oleh gengsi dan tuntutan komunitas, mengesampingkan penghasilan.
[Reply]
telo. dan teto.
kacang. dan kulit.
ah ya. memang dua hal yang relevan.
telo sekarang sedang kehilangan kacangnya.
teto rela menjadi antagonis karena tak rela kulitnya dirampas.
salam.
dari yang masih berlindung pada kulit.
dan berusaha mencari kacangnya.
[Reply]
Klangenane wong jaman biyen…..anak2 sekarang dibeliin telo kesohor cilembu…cuma nanya doang…”apa tuh….?”….disentuh pun enggak….ayo mangan telo ben ngentutan….
[Reply]
aku ming arep ihi ihi iki lho, zen:
“Saya berkhayal, mungkin pasangan ini sempat melihat Setadewa alias Teto –lelaki dalam novel “Burung-Burung Manyar”—yang juga sedang mengendap-ngendap memburu Istana Negara di ujung Malioboro dengan hati berdebar karena berharap bisa ketemu Larasati a.k.a Atik, gadis pujaan hatinya.”
[Reply]
gambaran perjuangan manusia untuk memperbaiki nasibnya meskipun (kurang tepat jika kita pakai kata meskipun) jualan telo
[Reply]
Urip iki suwi-suwi cen koyo telo, bro! Hahaha…
[Reply]
telo: rotine wong ndeso..
[Reply]
telo: rotine wong ndeso
[Reply]
baru tahu saya kalo telo itu singkong yah?
[Reply]