»

Fiksi

Bola — admin @ 5:21 pm

– tentang tiki taka & tipu daya

Bagian tubuh Busquet mana yang disentuh Marcelo? Dada. Apa yang dipegangi Busquet sambil guling-guling? Muka. Sobekkah kaus kaki Dani Alves oleh terjangan kaki Pepe? Tak ada, karena memang tak kena. Berapa kali Alves guling-guling karenanya? Hitung sendiri. Apakah Alves langsung bermain lagi? Tidak, doi sampai harus ditandu ke luar lapangan untuk insiden yang fiktif itu. Lalu, berapa pemain Barca yang seketika itu merubungi wasit Stark? 9 pemain [lihat potongan video INI]

Apa artinya? Klasik: sepakbola tak pernah berhenti sekadar hanya menjadi sebuah “permainan”, tapi selalu berpotensi terangkat menjadi sebuah “kisah” – yang melahirkan banyak tafsir, banyak kemarahan, kekecewaan, rasa senang, terkadang bahkan rasa jijik untuk sepotongan scene fiktif yang dilebih-lebihkan.

Lalu, apa lagi? Sederhana: sepakbola tak hanya membutuhkan sejumlah keterampilan taktik dan teknis, tapi juga kemampuan mengelabui, berpura-pura, melakukan intimidasi, juga teror yang mengecoh.

Dalam hal Barca, masihkah ada yang percaya bahwa tiki-taka adalah segalanya?

(more…)

TMP

meracau — admin @ 3:44 pm

– perihal makam heru atmodjo di tmp kalibata

Letkol (pnb) Heru Atmodjo dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata pada 29 Januari 2011. Dua pekan kemudian, Gerakan Umat Islam Bersatu di Jawa Timur menuntut agar makam Heru Atmodjo di TMP Kalibata dibongkar dan dipindahkan. Alasannya: Heru Atmodjo terlibat dan sebagai pelaku G 30 S/PKI.

Tak ada kabar lain setelahnya. Lalu, tiba-tiba saja, kemarin beredar kabar kalau makam Heru Atmodjo sudah dipindahkan. Hari ini beredar foto makam Heru Atmodjo sudah kosong dan tanpa nisan [hingga catatan ini diunggah, saya belum menemukan berita yang bisa mengkonfirmasi kabar ini, tapi rilis yang dikirimkan Keluarga Besar Rakyat Demokratik memastikan bahwa makam Heru Atmodjo memang sudah dibongkar].

Saya ingat film dokumenter karya Lexy Rambadeta, Mass Grave, yang mengisahkan perjuangan keluarga Sri Muhayati di Wonosobo untuk memakamkamkan secara layak tulang belulang ayahnya yang tewas terbantai pasca pageblug 1965. Upaya itu tak berhasil karena ditentang habis-habisan oleh sekelompok orang.

Apa yang terlihat? Kebencian yang tak kunjung susut. Selang waktu puluhan tahun tak bikin kebencian itu lenyap. Mayat yang jadi tulang belulang tak bikin kebencian menjadi hilang. Kebencian, barangkali, memang utuh dalam dirinya sendiri, pejal, bulat, dan tak tertawar.

Lalu, bagaimana dengan makam Heru Atmodjo di Taman Makam Pahlawan Kalibata?

(more…)

Paraji

meracau — Tags: , , , — admin @ 10:38 am

– mengenang paraji terakhir di kampung

Seorang bekas mahasiswa antropologi yang mencalonkan diri sebagai lurah menghilang secara misterius di malam menjelang hari pencoblosan. Ia meninggalkan pesan di pintu kamar mandi: “Pemilihan lurah mestinya dilakukan secara adat melalui duel satu lawan satu sampai mati.”

Di masa kecilnya, dia dikenal sebagai anak pintar dengan keberanian luar biasa. Saat pencoblosan berlangsung di halaman balai desa, orang-orang masih mengenang kepintarannya saat mempermalukan rombongan tukang sulap yang tiba di kampung menjelang maghrib untuk mempertunjukkan keahlian mereka bersulap yang ternyata hanyalah tipuan kecil bermodalkan kemampuan menghitung kartu dengan sangat cepat. Orang-orang juga masih ingat keberaniannya menaklukkan seekor macan yang masuk kampung saat lereng sebelah tenggara Gunung Ciremai dilanda kebakaran hebat gara-gara dua orang lelaki pendaki asing lupa mematikan rokoknya saat sibuk membuat penis tiruan dari dahan pohon pinus.

Dia anak satu-satunya seorang paraji (dukun beranak) yang menikah dengan bekas serdadu Belanda yang desersi dari kesatuannya karena tertangkap basah menggunakan bendera Belanda sebagai selimut saat sedang buang air besar di pinggiran sebuah rawa yang terkenal karena sengatan nyamuknya yang mematikan.

(more…)

Berjalan

Buku — admin @ 3:14 pm

– buku dan perjalanan menggapai mata (yang) baru

Buku atau novel perjalanan tak akan pernah memikat dan mengguratkan tilas yang kuat pada pembacanya jika ia hanya berhenti dengan memerikan lanskap-lanskap baru nan asing, betapa pun indah dan memukaunya pemerian itu. Sebab, melulu menawarkan pemerian lanskap hanya akan membuat sebuah buku tak lebih sebagai “travel guide”.

Tak bisa disangkal, buku-buku “panduan perjalanan” punya kegunaan praktis bagi para pejalan, turis atau peziarah. Buku semacam itu bisa dengan mudah memberi jawaban praktis atas sejumlah pertanyaan praktis.

Beda dengan buku-buku macam (sekadar menyebut beberapa yang populer) “The Alchemist”-nya Paulo Coelho, “Soul Mountain”-nya Gao Xingjian, “On the Road”-nya Jack Kerouac, “The Solitaire Mystery”-nya Jostein Gaarder atau “The Celestine Prophecy”-nya James Redfield.

(more…)

Kalender

– aku tidak tahu apa nasib waktu

“[Foto] saya selalu ada dalam kalender,” kata Marylin Monroe, “Tapi saya tak pernah tepat waktu.”

Saya suka pernyataan itu karena jenaka, cerdas dalam memainkan ironi, sekaligus artikulatif dalam memotret bagaimana manusia modern memahami, memperingati dan menghadapi waktu.

Saya tidak tahu apakah Monroe mengerti betapa kalender pernah menjadi salah satu tolok ukur tinggi rendahnya peradaban. Hampir semua peradaban-peradaban agung dalam sejarah manusia punya kalendernya sendiri-sendiri. Mesir, Persia, Romawi, Babylonia, Maya, Islam, hingga Yahudi masing-masing punya kalender.

Kalender menjadi vital karena ia menegaskan keberadaan manusia yang berada “di-dalam-waktu”. Manusia, juga peradaban, butuh kompas sebagai panduan dalam mengarungi lautan waktu yang tak berujung.

(more…)

Batas

– gus dur dan/di tapal batas

Bahkan dalam kegelapan yang paling gulita sekali pun kita punya hak untuk mengharapkan seberkas cahaya, dan seberkas cahaya semacam itu akan lebih banyak datang bukan terutama dari teori dan konsep-konsep, akan tetapi dari sinar yang tak pasti, berpendaran, dan sering kali lemah lembut yang telah dibiaskan oleh pribadi-pribadi besar dalam hidup dan karyanya, yang mereka pancarkan sepanjang rentang waktu yang diberikah oleh hidup kepadanya….

Kalimat bergelombang itu ditulis Hannah Arendt dalam buku Man in the Dark Times, sebuah buku yang berisi uraian Arendt tentang riwayat beberapa tokoh dan filsuf penting dengan teknik eksposisi yang akrab, intens tapi juga tajam. Dengan kalimat itu, Arendt hendak mengatakan betapa mereka — pribadi-pribadi besar yang sudah tiada– yang dalam kekalahan dan kematiannya pun tetap berjaya, entah lagi jika mereka menang dan hidup, dan karena itulah mereka yang hidup masih akan merasa perlu untuk menggapai-gapai lagi pendar cahaya yang mereka biaskan tiap kali kegelapan dirasakan datang.

Saya kira, metafora “pendar cahaya” itu juga berlaku untuk Gus Dur. Pendar cahaya yang dibiaskan oleh hidup dan kematian Gus Dur adalah sejenis cahaya yang berpendaran di tapal batas: sebab di sanalah, di tapal batas itu, Gus Dur tak henti-hentinya menerabas sekat, menjebol demarkasi dan –seperti arti nama kecilnya yaitu “ad-dakhil”– mendobrak tembok-tembok yang membatasi perserawungan antar sesama manusia, antar umat beragama, antara para penganut aneka ragam ideologi.

Indonesia adalah negeri yang diberkahi –atau mungkin dikutuk, tergantung bagaimana menghayatinya– keragaman yang begitu kaya. Dalam hamparan keragaman itu, “batas-batas” melela di mana-mana sekaligus menjadi sesuatu yang konkrit: ada batas antar agama, ada batas antar suku, ada batas antar budaya, ada batas antar ras….

(more…)

Ganyang!

Bola — Tags: , , , , , — admin @ 6:15 am

– tembak nurdin di lapangan banteng

16 Desember [seperti hari ini, saat postingan ini terunggah] adalah hari kematian Soe Hok Gie.

Saya masih ingat salah satu kutipan dari catatan harian Gie yang rasanya justru masih tetap relevan. Kutipan itu bertarikh 12 Desember 1959, 51 tahun silam. Bunyinya tanpa tedeng aling-aling: “Mereka generasi tua… semua pemimpin yang harus ditembak di Lapangan Banteng.”

Siapa yang harus ditembak di Lapangan Banteng? Dalam catatan hariannya itu, Gie menunjuk nama-nama seperti Soekarno, Ali Iskak, Lie Kiat Teng, Ong Eng Die. Tapi siapa yang harus ditembak di Lapangan Banteng di masa kini? Untuk saya jawabannya adalah para koruptor!

Korupsi dan koruptor adalah lintah yang penghisap darah bangsa ini. Membasmi dan mengganyang para koruptor-lintah adalah tugas yang harus kita panggul sama-sama. Semua-mua mesti ikut ambil peran, siapa pun juga harus ambil bagian.

Tak terkecuali dalam dunia sepakbola. Tidak ada tempat bagi korupsi dalam sepak bola, tak boleh ada tempat bagi koruptor dalam sepakbola.

(more…)

Nurdin

Bola — admin @ 11:29 pm

– aku berlindung dari godaan nurdin yang terkutuk

Bagi saya, dosa terbesar Nurdin Halid adalah ia selalu berhasil membuatku ragu untuk datang ke stadion, baik untuk mendukung Persib Bandung dan [terutama] tim nasional Indonesia.

Bagi seorang suporter [Persib Bandung dan tim nasional] dan penggemar sepakbola [Manchester United], seperti saya ini, datang ke stadion untuk menyaksikan Liga Super Indonesia atau/terutama tim nasional Indonesia sebenarnya bisa dibaca sebagai sebentuk legitimasi diam-diam atas kepemimpinan Nurdin Halid dan antek-anteknya di PSSI.

Tentu Anda boleh tidak bersetuju dengan pernyataan di atas. Tapi, untuk saya, pernyataan di atas itu paralel dengan situasi ambigu yang selalu muncul dalam menyikapi prestasi tim nasional Indonesia. Hitung-hitungan personalnya begini: Jika tim nasional gagal atau sukses (misalnya) dalam Piala AFF 2010, selalu akan muncul rasa lega dan enek sekaligus.

(more…)

Njeplak

meracau — Tags: , , , , — admin @ 1:13 am

– perihal discard dan usia yang rasanya makin tua

Di milis Cah Andong, Si Paman mengajukan pertanyaan: “Apakah dari para sadulur pernah mengurungkan niat send reply di milis manapun, forum, Twitter, dan FB? Seberapa sering?”

Saya sendiri akan menjawab: pernah dan bahkan (belakangan ini) agak lumayan sering. Tentu sukar mencari batas waktu kapan kecenderungan itu dimulai. Tapi, ya… begitulah: belakangan cukup sering saya men-discard a.k.a membatalkan kicauan/ocehan/kalimat yang sebelumnya sudah dituliskan.

Ada banyak alasan. Sebagian karena tidak yakin dengan apa yang ditulis, sebagian disebabkan karena merasa apa yang ditulis tidak terlalu penting, sisanya karena tidak cukup percaya apa yang saya tulis itu benar (mis: dari segi akurasi), dan cukup sering juga karena saya berpikir perihal akibat yang mungkin muncul jika tulisan itu akhirnya dilempar ke publik.

(more…)

Althusser

Obituari,biografi — Tags: , , , — admin @ 2:56 am

– 20 tahun kematian (23/10/1990 — 23/10/2010)

Pada 1992, dua tahun setelah kematiannya, otobiografi Althusser yang berjudul The Future Lasts a Long Time (judul aslinya: L’Avenir dure longtemps) diterbitkan. Otobiografi itu, tak bisa disangkal, memecahkan kesunyian dan keheningan yang (sebelumnya) melingkupi nama dan kehidupan Althusser, terutama di tahun-tahun terakhir kehidupannya.

10 tahun sebelum kematiannya, Althusser seperti “menghilang” dari orbit dunia intelektual. Semuanya dimulai saat ia dianggap telah mencekik sampai mati istrinya sendiri, Hélène Legotien. Dia tidak dijebloskan ke penjara, tapi justru dirawat di sebuah klinik jiwa. Ya, Althusser dibebaskan dari dakwaan kriminal karena ia dianggap mengalami kerusakan mental. Oleh panel ahli yang memeriksanya, Althusser dianggap mengidap iatrogenic hallucinations.

Persoalan kesehatan mental bukan sesuatu yang baru bagi Althusser ketika itu. Pada 1947, ia sudah mulai merasakan gangguan kesehatan, baik fisik atau mental. Dia bahkan sudah menerima electroconvulsive therapy, yang belakangan lazim digunakan pada pasien yang mengidap depresi berat.

Dalam penyelidikan atas kematian istrinya, Althusser tidak menyangkal bahwa ia memang telah mencekik. Hanya saja ia mengaku lupa kenapa dan bagaimana bisa ia mencekik istrinya sendiri. Althusser hanya ingat bahwa mulanya ia sedang memijat leher istrinya, lalu kemudian terjadilah pencekikan berujung kematian itu.

(more…)

Next Page »
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2011 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity