Mubeng

– mengenang komidi putar yang makin langka….

1 Suro dihayati sebagian orang Jawa dengan menggelar tradisi tua yang sudah dipraktikkan di banyak kebudayaan dan peradaban: mengelilingi Kraton (mubeng beteng) dengan mulut terkunci (tapa mbisu).

Di Jogja, para peserta ritus mengelilingi beteng (benteng atau tembok) Kraton Yogyarta dari alun-alun utara, dilanjutkan ke barat lewat Kauman, lantas bergerak ke selatan hingga Pojok Beteng Kulon, lalu berbelok ke timur hingga Pojok Beteng Wetan, diteruskan berbelok ke utara hingga ke pertigaan Jl. Ibu Ruswo dan terakhir berbelok ke barat kembali menuju alun-alun utara.

Gerak melawan arah jarum jam ini, jika merunut cara mengelilingi candi-candi peninggalan Hindu-Buddha di tlatah Jawa, disebut “pradaksiwa”.

Selama prosesi berlangsung, para peserta ritus tak boleh mengeluarkan satu patah kata pun. Mulut mesti terkunci, tanpa suara, juga tanpa bisik-bisik. Dengan mengunci mulut dan suara rapat-rapat, dibayangkan setiap orang akan melakukan dialog diri yang intens, sembari memanjatkan do’a-do’a dalam hati.

Di Jawa sendiri, tradisi mengelilingi pusat pemerintahan seperti ini mengakar cukup panjang. Ada frase “muser” atau “munjer” yang kurang lebih berarti “mengelilingi pusat”; pusat di situ bisa merujuk level pemerintahan desa hingga kerajaan. Tak mengherankan jika tradisi mubeng beteng hingga kini juga dilakukan tidak hanya di Kraton Yogyakarta, tapi juga di Gunung Kidul dan banyak tempat.

Gerak berputar –baik dengan mengelilingi objek tertentu atau tidak (seperti mubeng beteng ini) maupun gerak yang searah atau melawan putaran jarum jam– menarik dicermati karena mencerminkan bagaimana gerak dalam sebuah ritus bertahan selama ribuan tahun dan dipraktikkan di banyak tempat, di banyak peradaban, tentu saja dengan versi yang berbeda-beda.

Di Budha atau Hindu, dikenal istilah “pradaksina” yaitu gerak mengitari obyek kudus (stupa atau pohon Bodi) dengan posisi anjali (dua tapak tangan ditangkupkan di dada). Di India sendiri, dikenal ritus suci Hindu melakukan perjalanan mengelilingi kota Vārānasi (Benares).

Hal serupa dikenal dalam tradisi spiritual kuno Tibet, yang disebut “Bon”, yang salah satu ritusnya mengelilingi semacam stupa (chos rtans, dalam bahasa Tibet), dengan gerak melawan arah jarum jam.

Dalam Islam, dikenal ritual thawaf yang berupa gerak mengelilingi Ka’bah, baik pada umrah maupun pada ibadah haji. Dalam ibadah haji, thawaf bahkan menjadi wajib alias rukun yang tak boleh dilewatkan.

Pada kebudayaan Yunani Kuno, juga dikenal ritus mengelilingi altar suci sebanyak tiga kali sembari menyanyikan himne atau ode. Gerak berputar dimulai dari timur lantas selatan, barat dan utara. Tradisi ini berlanjut hingga era Romawi. Dalam naskah berjudul “Curculio” karya Plautus, tokoh Palinurus berkata: “Jika ingin menghormati Tuhan, kau harus berbelok ke kanan.”

Tampaknya, gerak berputar ini menjadi simbolisasi dari perjalanan menuju kesempurnaan jiwa. Setiap langkah dibayangkan sebagai tahapan menuju kesempurnaan.

Dalam tarian sama’ yang berkembang dalam tarekat sufi yang didirikan Rumi, misalnya, makin cepat putaran seorang penari, kesadarannya pun akan kian mendekati trance, dan perjumpaan dan penyatuan dengan Tuhan pun akan makin dekat (Di kebudayaan Skotlandia, juga dikenal tarian magis Druids yang mengitari altar atau cairn, sejenis monumen suci dari batu-batu).

Yang menarik dari tradisi gerak berputar ala Jogja alias mubeng beteng adalah dipilihnya kraton sebagai objek yang dikitari. Di dalam beteng kraton, memang terdapat tempat-tempat yang dianggap suci juga wingit, dari mulai mesjid agung hingga beberapa bangsal di istana. Tapi, tak bisa disangkal, kraton tetaplah sebuah institusi politik di mana kekuasaan bertahta dan semua proses politik berlangsung.

Dalam tradisi Jawa, kuasa memang bukan hanya bersifat profan dan duniawi, tapi berhimpit dan tak terpisahkan dari yang sakral, yang magis, juga illahiah. Para penguasa Jawa selalu mendaku diberi mandat oleh Yang Kuasa dan Yang Suci. Jangan heran jika para raja Jawa biasa menyandang embel-embel Khalufatullah dan Sayyidin Panatagama Penata atau pemimpin Agama. Mengelilingi kraton dalam satu ritus yang magis dan sakral pastilah meneguhkan kembali otoritas kraton bukan hanya sebagai pemangku urusan dunia, tapi juga perkara illahiah.

Jadi, tak perlu heran, jika pada awal Oktober 2008 yang bukan 1 Suro, digelar laku Mubeng Beteng dan Tapa Bisu dengan latar belakang yang tak bisa tidak berbau politik: seputar isu UU Keistimewaan DIY yang tak kunjung disahkan.

Apa yang dikatakan Geertz dalam penelitiannya tentang upacara-upacara di Bali pada abad-19 mungkin bisa digunakan sebagai pembanding. Geertz meletakkan dunia politik dalam kerangka “dunia pentas” atau “dunia panggung”, di mana kebesaran kekuasaan dipertaruhkan lewat kecanggihan dan kemegahan upacara-upacara yang digelar.

Upacara macam ini tidak berhenti semata sebagai upacara keagamaan, melainkan juga menjadi mantra yang melahirkan “medan energi” (semacam hegemoni) yang membuat peserta upacara dijadikan saksi dari keagungan dan keabsahan sebuah kekuasaan.

Di situ berlangsung bukan hanya pertemuan antara yang sakral dan yang profan, tapi juga persekutuan antara yang magis dan yang politis.

Printed from: http://pejalanjauh.com/2009/02/mubeng/ .
© Pejalanjauh 2010.

17 Comments   »

  1. Budityas says:

    Wah, wong mubeng dadi tulisan apik. Pernah dikasi tau juga klo mo kebal mkan silet, saratnya pake muter kampung malem2. Pdhal silet ra enak dipangan.., ada2 aja.

    [Reply]

  2. yudhi says:

    mubeng gedong panjang, nganti kukut golek sing semlohay. yihaaaa..

    [Reply]

  3. wonka says:

    mubeng,selalu mengandaikan siklus yang berulang.karena begitulah nyatanya dunia ini berjalan, tak bumi, tak pula matahari, tak bisa hindarkan dari siklus.

    siklus selalu mengandaikan poros, dengan gaya sentripetal sebagai relnya. sedangkan ritus mubeng dalam berbagai peradaban mengandaikan gaya sentrifugal yang tak terejawantah rumus fisikanya, namun bisa dinalarkan efeknya.

    secara fisik, poros harus ditubuhkan pada benda sebagai manifes dari imajinasi. kerinduan pada pusat sentrifugal. dalam bahasa tasawuf, itulah jumbuhing kawula gusti. titik henti dari dari siklus yang membuat hallaj dibakar api…

    [Reply]

  4. ramaprabu says:

    mubeng..muter..muter memang jadi tradisi kita termasuk dalam kata-kata..hee!

    [Reply]

  5. Dudinov says:

    ada wajib haji, ada rukun haji, dalam ritual haji, itu adalah dua hal yang berbeda…mubeng ama mupeng (muka pengen) beda ya :-) piss….

    [Reply]

  6. tea says:

    – mengenang komidi putar yang makin langka….

    pancen langka, tapi di pasar malam masih ada (dengan sangkar burungnya)

    [Reply]

  7. nothing says:

    mrene mas, saiki nang malang ada dua tempat yang lagi gelar komedi putar dan model model permainan jadul lainnya

    [Reply]

  8. sekelebatsenja says:

    he he he he….:p

    [Reply]

  9. RhoMayda says:

    weeee baguuus ;)

    [Reply]

  10. goop says:

    saya malah pernah merasa takut saat melihat tong setan yang cuma muter-muter, entah kenapa….
    mungkin pengendara motor itu pun sedang menari, hanya dekatkah ia dengan sama’-nya rumi?

    [Reply]

  11. espito says:

    mubeng juga bisa menghasilkan (atau mengubah, tepatnya) energi: mubengnya turbin generator listrik yang digerakkan air, angin, maupun uap.

    [Reply]

  12. isyana says:

    perasaan pernah baca.

    oh iya, ini kan pernah terbit di yang-nggak-bisa-aku-kasih-kopiannya-itu, hehehe.

    [Reply]

  13. Zen, maren sempet datang gak keacara 1000hari pram?oya,dah trima bukunya?dah dibaca kan. .aku baru slesai. .menanggapi usulmu tentang “hari arsip nasional”aku setuju, bukan karna pram ato apa,tapi lebih pada bagaimana proses domumentasi itu bekerja,juga aku-setidaknya-beberapa tahun belakangan ini juga mulai gelisah dengan hal tersebut.

    [Reply]

  14. Syahid says:

    Smua mmg hrs brptr dn tdk ada yg slmny diam. Akn dtg ms kglpan mggulingkn kjyaan,bgt jg sblkny. Mk dmnkh skrg kaki kt brpijak?

    [Reply]

  15. Sebenarnya ada rujukan yang menarik untuk kasus “mubeng” ini. .bukankah borges sering menguarkan laku waktu yang serupa itu. .kita tau,borges juga mengakui,bawasanya konsepsi tentang hal tersebut olehnya bukanlah sesuatu yang orisinil, ya,saya menduga borges memulungnya dari khasanah klasik china sebagaimana crita “bajak laut perempuan,janda ching”yang ditulisnya dengan gilang gemilang. .

    [Reply]

  16. debukaki says:

    oh, baru inget.. mubeng adalah pola kehidupan; evolusi matahari, daur hidup, dll. realitas binner, menurutku, juga mubeng. cara berpikir linier ala modernisme, sedikit-banyak merusak pola kehidupan yang terjaga berabad-abad itu.. fyuh..

    [Reply]

  17. aji says:

    [... Gerak melawan arah jarum jam ini, jika merunut cara mengelilingi candi-candi peninggalan Hindu-Buddha di tlatah Jawa, disebut “pradaksiwa”...]

    bukannya ‘pradaksina’?

    [Reply]

RSS feed for comments on this post , TrackBack URI

Leave a Comment