Kunang-kunang

– kunang-kunang tetap bercahaya walau malam makin larut….

Hiroshi Sugawara, melalui filmnya yang sederhana tapi menyentuh, “Hotaro no Hoshi”, mengisahkan seorang guru SD berusia muda, Hajime, yang mengajak murid-muridnya menangkarkan kunang-kunang yang sudah lama tak terlihat di Sungai Yamaguchi di Tokyo yang kadung gemerlap oleh pijar-pijar lampu.

Tiba-tiba saya sadar sudah teramat lama tak melihat kunang-kunang. Saya lupa kapan terakhir melihatnya, kendati –sungguh– saya tak pernah bisa lupa pendar cahayanya. Kunang-kunang pernah menjadi bagian mesra dari masa kecil yang telah lama lewat, masa silam yang sudah beranjak jauh.

Ini barangkali tak lebih dari sebentuk kerinduan yang nostalgik. Saya tahu, nostalgia adalah laku yang paradoks: ia mencoba menghadirkan kembali waktu lampau yang sebenarnya sudah menjauh dan tak mungkin kembali. Tapi, adakah yang salah dengan nostalgia?

Pada Marno dan Jane, dua tokoh dalam cerita Umar Kayam, “Seribu Kunang-kunang di Manhattan”, nostalgia sama sekali bukan barang haram. Sekujur cerita justru berisi perayaan nostalgia. Di sana, nostalgia hadir dalam pelbagai bentuknya, menyeruak di tengah kepungan pengaruh alkohol yang ditenggak Jane atau menyembul tiba-tiba saat Marno menyaksikan kelip-kelip lampu dari bangunan-bangunan menjulang kota Manhattan dari jauhan.

Jane, perempuan pemabuk yang menjadi kekasih gelap Marno, yang mengejek Marno sebagai “anak kampung yang sentimentil”, toh juga terus-terusan mengenang Tommy, bekas suaminya yang mungkin sedang di Alaska, seperti juga Jane terus mengabadikan boneka Uncle Tom yang menjadi teman tidur saat ia masih kanak dalam ingatannya.

Dan Marno, ah… dia memang anak kampung yang sentimentil. Di tengah ocehan Jane tentang pikiran-pikiran cabul dan jorok, tiba-tiba saja, seperti dikisahkan Umar Kayam, “Lampu-lampu yang berkelipan di belantara pencakar langit yang kelihatan dari jendela mengingatkan Marno pada ratusan kunang-kunang yang suka bertabur malam-malam di sawah mbahnya di desa.”

Tapi Marno pastilah bukan “anak kampungan”, kendati ia memang “anak kampung yang sentimentil”. Mengenang kunang-kunang yang bertaburan di atas hamparan sawah seperti yang kerap terlihat pada masa kecil bukanlah “laku kampungan”, karena mengenang-ngenang masa silam bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, di mana saja. Pada “anak kota”, nostalgia mungkin akan membawa ingatannya pada mobil mainan tamiya atau permainan di Taman Mini.

Saya “anak kampung”, lahir dan besar di kampung, dan itulah sebabnya, mungkin, saya akan teringat masa kecil tiapkali mendengar kata “kunang-kunang”. Kunang-kunang adalah bagian tak terpisahkan dari masa kecil saya, sama pentingnya dengan ketapel, bedil-bedilan dari pelepah pohon pisang, atau layang-layang yang benangnya direndam dalam lumpur yang lebih dulu ditaburi pecahan beling yang dihaluskan.

Kunang-kunang menjadi bagian absah dari masa kecil saya, persisnya masa kecil malam hari saya. Jika sekarang saya lebih sering menghabiskan waktu dengan berkawan malam ketimbang siang, cukup pantas jika saya memberi tempat yang lapang pada kunang-kunang dalam struktur ingatan ketimbang ketapel yang menjadi bagian dari masa kecil saya pada siang hari.

Dulu, terutama selepas mengaji di surau, saya sering menghabiskan waktu dengan menyaksikan kunang-kunang di sawah dekat lapangan bola. Bersama teman-teman mengaji, kami sering mengejar kunang-kunang dan menangkapnya. Amat menyenangkan menyaksikan belasan kunang-kunang yang kami tangkap berkelip samar-samar dari dalam mukena putih yang kami pinjam dari teman perempuan kami. Rasanya seperti melihat lampion.

Tidak banyak acara bermain yang bisa menyatukan anak laki-laki dengan perempuan. Mengejar, menangkap, menyaksikan kunang-kunang dalam mukena menyatukan kami, anak laki-laki dan perempuan, dalam satu ruang suka-cita yang sama.

Jika sedang malas, kami tak mengejar dan menangkap kunang-kunang. Cukuplah rasanya bisa menyaksikan titik-titik cahaya kunang-kunang yang berkelip di kejauhan. Toh itu tidak kalah indah dan justru sering terasa lebih menyentuh.

Menyaksikan tebaran cahaya kunang-kunang di kejauhan, rasa-rasanya, seperti mendekatkan langit. Langit gelap yang diseraki jutaan bintang-bintang, seperti menemukan padanannya pada hamparan sawah yang di atasnya ditebari titik-titik cahaya kunang-kunang yang berkelip-kelip. Jika menemukan kunang-kunang yang kelip cahayanya lebih terang dari yang lain, kami sering berkhayal, kunang-kunang itu seperti bulan pada langit malam dan kunang-kunang yang kelip cahayanya lebih redup sebagai serakan bintang-bintang.

Dulu kami tak pernah bertanya, dari mana asal cahaya yang dipancarkan kunang-kunang. Kenyataan indah itu kami terima apa adanya. Melihatnya saja, ketika itu, terasa sudah lebih dari cukup. Memahami bagaimana kunang-kunang bisa memendarkan cahaya, mungkin dirasa terlalu rumit dan karenanya bisa saja mengurangi arti keindahan kunang-kunang.

Sampai satu waktu, rasa ingin tahu itu akhirnya datang juga. Seperti biasanya, saya bertanya pada ibu. Syukurlah, ketika itu ibu tak memberi penjelasan rumit dan teknis, mungkin karena ibu sendiri tidak tahu, bagaimana ceritanya kunang-kunang bisa memendarkan cahaya. Ibu hanya bilang, cahaya yang berpendaran dan berkelipan dari setiap kunang-kunang sebagai ungkapan perasaan kunang-kunang.

“Kunang-kunang itu berbicara dengan teman-temannya melalui cahaya yang berkelip-kelip. Bahasa kunang-kunang itu bahasa cahaya,” demikian kurang lebih ibu menerangkan.

Belakangan, saya baru tahu, Ibu ternyata benar. Cahaya berpendaran itu memang bahasa kunang-kunang. Mereka tidak bercakap-cakap melalui suara, tetapi lewat cahaya. Bahasa cahaya, kalau kata ibu saya.

Tak hanya itu, pendar cahaya kunang-kunang juga menjadi cara untuk menyatakan perasaan kunang-kunang. Ibu lagi-lagi benar. Kunang-kunang jantan menggunakan cahaya tubuhnya untuk memikat kunang-kunang betina. Kunang-kunang jantan mengatur pendar cahaya tubuhnya dengan intensitas tertentu sebagai pernyataan cinta pada kunang-kunang betina yang bersembunyi di balik rimbun semak dan daun-daun. Kunang-kunang jantan yang mampu memendarkan cahaya lebih kuat dan lebih lama punya peluang lebih besar untuk memikat kunang-kunang betina mana pun yang diinginkannya.

Kunang-kunang yang bercahaya lebih terang dan lebih lama biasanya menghasilkan keturunan lebih banyak dan lebih baik. Cahaya terang dan lama dari kunang-kunang menjadi pertanda melimpahnya nutrisi dan energi yang dimiliki kunang-kunang jantan. Pantas saja jika kunang-kunang betina lebih menyukai kunang-kunang jantan yang cahayanya berpendar lebih terang dan lama.

Mata manusia mungkin tak cukup mampu membedakan pendar cahaya kunang-kunang yang satu dengan kunang-kunang yang lain. Setiap kunang-kunang punya struktur kode pencahayaannya sendiri-sendiri. Keunikan kode pencahayaan ini bukan hanya berlaku pada setiap spesies kunang-kunang, tapi juga pada masing-masing kunang-kunang.

Saya masih ingat, sewaktu bertanya pada ibu, saya menaruh beberapa kunang-kunang ke dalam toples kecil lantas mematikan lampu kamar. Bersama adik perempuan saya, kami bertiga menikmati pendar cahaya kunang-kunang. Saat ibu berbicara tentang bahasa cahaya kunang-kunang, saya sempat bertanya, apa ibu mengerti yang sedang mereka bicarakan. Ibu tertawa dan menjelaskan bahwa hanya kunang-kunang yang tahu, apa yang sedang mereka bicarakan.

Sepertinya, saya tidak akan pernah bisa mengerti bahasa cahaya kunang-kunang. Ini tentu bukan soal besar. Tidak semua harus dan bisa kita mengerti. Terdapat banyak hal yang mungkin akan lebih berguna justru jika dibiarkan menjadi sekuntum rahasia. Ia tak pernah berkurang keindahannya hanya karena saya tak mengerti artinya.

Tanpa itu pun, saya sudah menyukai kunang-kunang. Makhluk kecil ini seperti menjadi metafora dari keberanian menyatakan diri di hadapan jagat raya yang mahaluas dan diberkahi jutaan bintang dan benda langit yang juga memancarkan kelip cahaya yang tak kalah indahnya. Kunang-kunang seperti tak mengenal minder di hadapan bintang dan bulan. Mereka tetap beterbangan dan berkejaran dengan antusiasme yang tak berkurang.

Kunang-kunang yang memendarkan cahaya menjadi metafora dari hasrat kuat untuk terus mencoba mengatasi kegelapan yang begitu perkasa. Ini pernyataan sikap hidup yang enggan menyerah pada kerajaan gelap.

Cahaya kunang-kunang memang kecil, dan itulah sebabnya ia disebut kelip. Tapi, bisa jadi, itu juga pelajaran tentang kerendahhatian: “Ya, cahaya kami memang redup dibandingkan bulan atau matahari, tapi kami memang tidak berambisi menerangi jagat raya yang gelap saat malam telah menghumbalang. Kami sudah cukup berbahagia dengan membagi cahaya bagi diri kami sendiri. Jika kelip cahaya kami bisa membantu makhluk lain, kami menganggapnya sebagai berkah.”

Saya kira, banyak pelajaran yang bisa diunduh dari kunang-kunang dan cahaya yang berpendaran dari tubuhnya. Sebelum memutuskan angkat pantat dari kampus, saya sempat membaca uraian Fernand Braudel, pendiri mazhab Annales dalam studi sejarah. Salah satu kutipannya yang terkenal justru menggunakan kunang-kunang sebagai metafora dalam upayanya merumuskan arti peristiwa sejarah.

“Kepingan peristiwa-peristiwa melintasi pelbagai tahapan sejarah seperti kunang-kunang yang baru akan terlihat jelas justru ketika ia sudah tenggelam dalam kegelapan,” kata Braudel, penulis tiga jilid buku La Méditerranée et le Monde Méditerranéen a l’époque de Philippe II yang sudah dianggap klasik dalam studi sejarah.

Saya juga ingat kata-kata Crowfoot alias Isapo Muxilla, pemimpin suku Indian Blackfoot. Beberapa saat sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir pada 25 April 1890, Crowfoot sempat merefleksikan apa makna kehidupan sebenarnya.

“Kehidupan itu,” kata Crowfoot, “seperti cahaya kunang-kunang di tengah malam yang gulita, seperti helaan napas kerbau di tengah musim dingin yang menusuk, atau seperti bayangan kecil yang melintas di atas rumput dan lenyap saat matahari susut.”

Printed from: http://pejalanjauh.com/2009/02/kunang-kunang/ .
© Pejalanjauh 2010.

16 Comments   »

  1. sayurs says:

    dan mayoritas cerita tentang kunang-kunang kok mengarah pada nostalgia (umumnya waktu kecil) seakan-akan manusia dewasa ga ada (atau jarang) yang tertarik atau berkesempatan menikmati kerlip cahayanya..

    [Reply]

  2. Dudinov says:

    kunang kunang adalah sebentuk makhluk yg tak ingin jadi beban bagi yang lain

    [Reply]

  3. Chic says:

    terakhir liyat kunang-kunang? emmmm.. dua tahun yang lalu kayaknya pas pulang ke Palembang. kebetulan halaman belakang rumah luas banget dijadikan kebun sama papa, masih suka ada kunang-kunang disana… :D

    [Reply]

  4. hedi says:

    kunang-kunang menghilang dari kebanyakan daerah di Indonesia, apalagi jakarta, karena polusinya, dia sensitif

    [Reply]

  5. guspitik says:

    wah..tulisan apik kie..masalah “kunam-kunam”

    [Reply]

  6. nothing says:

    mrene mas, nang omahku eh omahe mak ku… sig ngarep e sawah… seh akeh kunang kunang

    [Reply]

  7. The Bitch says:

    woh! repost?! mabuk yo kowe?!

    [Reply]

  8. “Kunang-kunang yang memendarkan cahaya menjadi metafora dari hasrat kuat untuk terus mencoba mengatasi kegelapan yang begitu perkasa. Ini pernyataan sikap hidup yang enggan menyerah pada kerajaan gelap”

    Tapi buat saya, kunang-kunang juga lambang keanggunan yang–sayangnya–hanya bertahan sebentar dan lemah.

    *Wuedeh, buat aku jadi kangen pulang..

    [Reply]

  9. omoshiroi says:

    kunang-kunang itu kukunya orang mati..

    itu cerita yg beredar di antara kami anak-anak kecil pada masa itu..

    [Reply]

  10. omoshiroi says:

    beruntunglah kita yg sudah berumur, dapat bernostalgia mengenai kunang-kunang..
    bagaimana dengan anak-anak kota jaman sekarang?
    pernahkah mereka bermain dengan kunang-kunang?

    [Reply]

  11. zenteguh says:

    10 tahun lalu aku masih lihat banyAK DI kampungnya sana
    terakhir pulang, satupun aku tak lihat (oalah ternyata pas siang he..)

    [Reply]

  12. seni says:

    kunang-kunang? aku menikmati pendar cahayanya ketika kutangkup dalam tangan….

    [Reply]

  13. Peewee says:

    kata bapakku kunang-kunang dan kodok tu kukunya orang mati Kunang-kunang (kukune wong lanang) kalo kodok (kukune wong wedhok).

    [Reply]

  14. kunang2 adalah nostalgia masa sma,aku sering berburu mahluk kecil itu setiap kali pergi ke perkebunan milik ayahku.
    awalnya sekedar iseng,karena tak ada kegiatan yg di lakukan jika malam telah tiba,tanpa listrik,perkebunan kami itu benar2 sepi dan terpencil,sering sekali aku terjebak pada kegelapan malam yang begitu pekat,saat langit malam tak memberih sebutir bintang-pun,cahaya kunang2 adalah hal yang selalu kutunggu,dan memburunya dengan semangat 45,saat melihatnya terbang mendekat.kadang jika beruntung aku bisa mengumpulkan dalam jumlah yang lumayan 5 sampai 6 ekor.
    mahluk kecil yang bersinar indah itu,tanpa perasaan aku memasukanya dalam toples,kemudian membawanya ke kamarku.
    dan apa yang terjadi kemudian adalah,cahaya kunang2 itu pelan2 redup,mati kehabisan udara,seperti juga mataku yang pelan2 redup terbuai dalam tidur malamku.hmmm

    [Reply]

  15. Firefly are small animal..but big functions…coz Allah menciptakan makhluk tdklah sia2…selain menjaga stabilitas ekosistem alam… Jg mewarnai keindahan alam…dan menjadi motivator bg insan yg mau berfikir… Dimana makhli yg dmikian kecil…bermakna banyak… Menjadi penerang yg kegelapan…yg mmbwa makna..wlo kcl dia berusaha bermanfaat untk mahluk lainnya…

    [Reply]

  16. nupphy says:

    cahaya kunang-kunang itu kecil, tapi hangat.
    seperti bintang, namun lebih dekat.

    aku pernah dengar kalau kunang-kunang itu akan mati setelah bersinar semalaman. kira-kira bener gak ya??

    [Reply]

RSS feed for comments on this post , TrackBack URI

Leave a Comment