– aubade singkong
Nyaris sudah setua usia Republik ini keduanya menjadi pedagang singkong di Pasar Telo, Jogjakarta. Pasangan suami istri ini menjadi pedagang paling tua di seantero pasar: Mbah Warso berusia 88 tahun dan Mbah Sutinah berumur 78 tahun.
“Anak saya ada yang jadi guru, bidan, ada pula yang jadi wakil camat. Kalau kami mati, mungkin kios ini tutup selamanya. Sudah banyak kios-kios yang tutup, sebagian dijual dan jadi toko kelontong. Banyak para pemilik kios yang kesusahan meneruskan usahanya. Anak-anak mereka banyak yang tidak mau meneruskan usahanya,” terang Mbah Sutinah.
Siang itu saya lihat hanya enam kios yang buka. Sisanya tutup. Sebagian berubah menjadi warung makan, warung bakso atau toko kelontong. Mbah Warso dan Mbah Sutinah sedang duduk di kursi plastik tanpa sandaran dalam posisi yang rasanya begitu filmis. Mbah Warso duduk menghadap jalan raya di sebelah timur yang penuh dengan seliweran kendaraan, sementara istrinya yang duduk di depan Mbah Warso menatap lurus ke arah deretan kios-kios lainnya di selatan. Mereka melemparkan pandang ke arah yang berbeda dalam sikap yang sepenuhnya diam.
Keduanya seperti kamitua pasar, penaka juru kunci. Pada mereka saya mengunduh kisah jatuh bangunnya Pasar Telo: satu-satunya pasar di Jogja, mungkin juga di Jawa, yang terang-terangan menggunakan nama “Pasar Telo” (singkong), tak peduli betapa belakangan kata “telo” sering digunakan sebagai kata untuk mengumpat. (more…)
– mengenang komidi putar yang makin langka….
1 Suro dihayati sebagian orang Jawa dengan menggelar tradisi tua yang sudah dipraktikkan di banyak kebudayaan dan peradaban: mengelilingi Kraton (mubeng beteng) dengan mulut terkunci (tapa mbisu).
Di Jogja, para peserta ritus mengelilingi beteng (benteng atau tembok) Kraton Yogyarta dari alun-alun utara, dilanjutkan ke barat lewat Kauman, lantas bergerak ke selatan hingga Pojok Beteng Kulon, lalu berbelok ke timur hingga Pojok Beteng Wetan, diteruskan berbelok ke utara hingga ke pertigaan Jl. Ibu Ruswo dan terakhir berbelok ke barat kembali menuju alun-alun utara.
Gerak melawan arah jarum jam ini, jika merunut cara mengelilingi candi-candi peninggalan Hindu-Buddha di tlatah Jawa, disebut “pradaksiwa”. (more…)
– kepada pram….
Beberapa lembar kertas di meja belajar itu mengejutkan saya. Begini salah satu bunyi paragrafnya lengkap dengan salah ketik dan tata bahasanya:
“Penjajahan Belanda mulai dipertanyakan karena pendidikan Belanda itu sendiri. Contohnya Minke yang duduk disekolah yang dibuat oleh Belanda. Selain bisa membaca, menulis, berhitung dan berbahasa Belanda, Minke banyak membaca buku-buku diluar pelajaran dan juga koran-koran yang memberitakan kemajuan yang dialami bangsa Jepang yang juga merupakan bangsa Asia. Akhirnya Minke mulai menyadari penjajahan yang dialami bangsa Indonesia. Walau pun sadarnya Minke itu muncul pelan-pelan.”
Saya menengok ke salah satu sudut kamar. Poster launching 7 buku Pramoedya pada 2003 di Jogja yang didesain oleh Hary “Ong” Wahyu masih menempel di sana. Poster itu sudah terlihat kumal. Ada robekan kecil di ujung kiri bagian bawahnya. Sambil melihat potret Pram, dalam hati saya bilang: “Bung, di rumah ini, sudah lahir pembacamu lagi. Pembaca dari generasi yang masih dini. Adik saya, Bung. Ya, adik saya yang paling kecil!” (more…)
– kunang-kunang tetap bercahaya walau malam makin larut….
Hiroshi Sugawara, melalui filmnya yang sederhana tapi menyentuh, “Hotaro no Hoshi”, mengisahkan seorang guru SD berusia muda, Hajime, yang mengajak murid-muridnya menangkarkan kunang-kunang yang sudah lama tak terlihat di Sungai Yamaguchi di Tokyo yang kadung gemerlap oleh pijar-pijar lampu.
Tiba-tiba saya sadar sudah teramat lama tak melihat kunang-kunang. Saya lupa kapan terakhir melihatnya, kendati –sungguh– saya tak pernah bisa lupa pendar cahayanya. Kunang-kunang pernah menjadi bagian mesra dari masa kecil yang telah lama lewat, masa silam yang sudah beranjak jauh.
Ini barangkali tak lebih dari sebentuk kerinduan yang nostalgik. Saya tahu, nostalgia adalah laku yang paradoks: ia mencoba menghadirkan kembali waktu lampau yang sebenarnya sudah menjauh dan tak mungkin kembali. Tapi, adakah yang salah dengan nostalgia?
Pada Marno dan Jane, dua tokoh dalam cerita Umar Kayam, “Seribu Kunang-kunang di Manhattan”, nostalgia sama sekali bukan barang haram. Sekujur cerita justru berisi perayaan nostalgia. Di sana, nostalgia hadir dalam pelbagai bentuknya, menyeruak di tengah kepungan pengaruh alkohol yang ditenggak Jane atau menyembul tiba-tiba saat Marno menyaksikan kelip-kelip lampu dari bangunan-bangunan menjulang kota Manhattan dari jauhan. (more…)