»

Tafsir

ngaji,persona — pejalanjauh @ 1:45 am

Islam menganjurkan kekerasan dan terorisme?

Seandainya Anda menemukan tagline macam itu, apa yang Anda lakukan? Kalau saya, kemungkinan akan bersikap: jika kalimat itu tanpa penjelasan dan tak lebih dari yel-yel, akan saya abaikan tak ubahnya kentut. Tapi, jika di bawah kalimat itu ada argumen yang dipaparkan, ada penjelasan yang dihamparkan –selemah atau sekuat apa pun argumen dan penjelasannya– maka saya akan membacanya dengan seksama, mempelajarinya sebaik mungkin.

Di sini, saya ingin mengajukan satu pokok diskusi, mungkin juga semacam kekhawatiran: lama-lama makin sukar mendiskusikan dengan jernih kaitan antara agama dan kekerasan.

Ya, mencoba membicarakan kaitan antara agama dan kekerasan di area publik belakangan terasa makin dibayang-bayangi oleh fobia SARA. Banyak yang mulai alergi berbicara tentang persoalan ini. Bahkan koboi-koboi di Gedung Putih sekali pun belakangan cukup sering berbicara: Stop menghubungkan antara kekerasan (katakanlah terorisme) dengan agama!

Sikap ini tidak banyak membantu karena bisa jadi memungkinkan kita kehilangan kesempatan untuk memahami bagaimana kekerasan bisa muncul atas nama atau membawa-bawa agama, apa pun agama yang dibawa-bawa itu!

Saya percaya, setiap agama membawa pesan kebaikan dan punya tugas mewedarkan kasih-sayang. Tapi, harus diakui juga, ada banyak teks dalam kitab suci yang memungkinkan agama hadir dalam wajahnya yang keras dan mengerikan.

Semuanya dimungkinkan karena tafsir!

Ada satu asas dalam hermeneutika yang –kalau tidak salah– pernah saya baca dari Gadamer: penafsiran hanya mungkin dilakukan sepanjang sebuah teks memang menyediakan kemungkinan itu. Di situ, tak ada batas dalam tafsir, dari tafsir yang paling ramah hingga yang keras atau tafsir yang terdekat sampai tafsir yang terjauh, sepanjang teks memang menyediakan kemungkinan ke sana.

Ada banyak perangkat yang mesti dikuasai oleh seseorang jika ingin menjadi seorang penafsir yang kredibel, kendati orang awam pun tidak dilarang untuk melakukannya sepanjang ia melakukannya dalam semangat diskusi dan bukan propaganda, serta bersedia membuka diri pada kemungkinan bahwa tafsirnya masih ecek-ecek dan bersedia pula meralatnya jika memang terbukti tidak meyakinkan.

Bagi saya, menghindari diskusi kaitan antara agama atau kitab suci dengan kekerasan dan terorisme hanya akan membuat medan tafsir menjadi terlalu terbuka untuk dikuasai oleh orang-orang yang menggunakan agama dan kitab suci sebagai justifikasi untuk apapun yang ingin dilakukannya, termasuk kekerasan.

Kita mestinya adil sejak dari pikiran.

25 Comments »

  1. … dan mereka yang nafsir sak penak udele dewe merasa sudah melantangkan suaraNya…

    might by right, i presume?

    *ngramasi jmt*

    Comment by pit — 2009/01/14 @ 1:57 am
  2. semua penganut agama selalu punya golongan ini; berperang atas nama Tuhan (yg mereka sembah). tapi apa dan bagaimana, aku ga paham…ga wani membahas :D

    Comment by hedi — 2009/01/14 @ 2:24 am
  3. apa yang anda tafsirkan ? dengan sesama ayat, surat, yang juga meraka tafsirkan!

    adakah 1, 2, 3, 4, 5 penafsir menawarkan surga pikiran?

    jadi pengen tau juga tafsiran anda…adakah temuan baru bagi saya….

    SALAAM

    Comment by Anak Zaman — 2009/01/14 @ 4:21 am
  4. Kadang orang kekeuh bahwa kitabnya 100% dari Tuhan untuk justifikasi tindakan, lupa dia kalo sebenarnya otaknya yg buat mikir isi kitab itu yg sebenarnya sedang bermasalah.

    Comment by BudiTyas — 2009/01/14 @ 5:09 am
  5. lah, emang manusia bisa adil? menurut siapa mas zen?

    Comment by dewi — 2009/01/14 @ 10:30 am
  6. konon, Hermeneutika adalah metode yang dikembangkan untuk mengatasi carut marut kitab suci tertentu. ide dasarnya, ide apapun bisa dicari pembenarannya dalam tafsir kitab suci. metode ini menjadi penting karena bisa membelok-belokan tafsir yang sudah ada. apalagi pihak penguasa. hehehe

    “Kita mestinya adil sejak dari pikiran.”

    jadi ingat semboyan: adil dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

    Comment by bangsari — 2009/01/14 @ 11:46 am
  7. hooh, jadi inget jadoel, jaman coepoe (sekarang masih cupu dink), kalo diskusi permasalahan sosial njuk ada yang ngeliat dari segi kultur n ada yang ngeliat dari segi struktur/konstelasi power bla bla :-)

    tema kekerasan dan agama, misalnya. yang kultur sibuk menelusuri nilai2 agamanya, konteks sejarah, kebiasaan2, deelel. yang struktur sibuk ngebahas peta kepentingan kubu-kubu begini begitu/”agenda” (termasuk kepentingan2 di luar agama itu sendiri bahkan yang tersembunyi), konteks sejarah (juga), relasi kekuasaan, deelel.

    kayaknya mas zen banyak make tanda pentung di tulisan ini,, hohohoho

    Comment by nadya — 2009/01/14 @ 12:30 pm
  8. film 3 doa 3 cinta cukup bagus menggambarkan bagaimana akibat tafsir, orang2 yg mengimani tuhan yang sama dan membaca kitab suci yang sama bisa berbeda jalan pikiran dan tindakan.

    Comment by arya — 2009/01/14 @ 12:48 pm

  9. And no religion too
    Imagine all the people
    ….
    John Lennon

    Comment by Anusapati — 2009/01/14 @ 1:16 pm
  10. @pietz: betul, sepakat.. *boleh bantuin ngramasi nggak? :D

    Comment by debukaki — 2009/01/14 @ 8:58 pm
  11. setuju dengan yang ini >>>> Kita mestinya adil sejak dari pikiran

    Comment by nothing — 2009/01/14 @ 10:29 pm
  12. bukan hanya agama, semua “institusi kebenaran” yang teradikalisasi adalah akar kekerasan.

    pluralisme yang teradikalisasi juga adalah bibit kekerasan yang sedang menunggu diledakkan..

    Comment by wonka — 2009/01/14 @ 11:33 pm
  13. sinau sastra ndisik wae nek ngono yo, zen?
    hehe

    btw, so?

    Comment by sekelebatsenja — 2009/01/15 @ 12:25 am
  14. 3 tulisan terakhir tentang tuhan dan agama melulu. :P

    Melihat kalimat terakhir saya jadi keingat Marais.

    Comment by Goen — 2009/01/15 @ 10:31 am
  15. mesthine kowe ki jujur sejak dalam pikiran…
    dadi nek mikir mesum, yo ngomong mesum lan berbuat mesum…
    *tuku sampo*

    Comment by guspitik — 2009/01/15 @ 10:32 am
  16. @pitek
    mestine sampeyan ki yo jujur dalam tindakan ataupun pemikiran, dadi yen misale s2, tindakan juga harus mencerminkan pelajar dan pemikiran seorang s2.

    *belajar renang*

    Comment by yudhi — 2009/01/15 @ 11:09 am
  17. sy rekomenkan org2 yg menurut saya sebebas kita2 merasakan kemerdekaan..
    http://griyacommunication.blogspot.com/

    ANDA SALAH SATUNYA

    Comment by Anak Zaman — 2009/01/15 @ 11:50 pm
  18. dalam al qur’an ada nasih dan mansukh. di satu sisi ada ayat yang menganjurkan berperang, di sisi lain menekankan perdamian. harusnya itu dibaca secara kontekstual dengan turunnya ayat tersebut (asbabunnuzul).

    kenapa arrahman muncul sebelum arrahiim dalam bismillahirrohmanirrohiim…? pernahkah kita berpikir,kenapa banyak koruptor yang selamat. tidakkah tuhan risih dengan perbuatan mereka. kenapa israel yang jahat itu dibiarkan saja, apa tuhan memberikan restu pada mereka?

    ada hal-hal yang tak terjangkau dalam pemahaman kita, manusia sebagai ciptaanNya. kasih sayang tuhan ternyata tak hanya untuk umat muslim, tapi juga kepada umat manusia lainnya. tak cuma untuk gus muh yang rajin beribadah, tapi juga untuk pejalansesat –yang punya blog ini–.

    apakah benar kekerasan itu dilakukan untuk agama semata, tidakkah ada nafsu untuk menguasai hal lain di sebaliknya? yang kerap terjadi, ayat-ayat suci ditafsir secara manipulatif untuk kepentingan si penafsir.

    sebagai contoh, mereka yang mendukung kekuasaan penuh laki-laki atas perempuan akan menggunakan ayat, arrijaalu qowwamuunaa alannisaa… laki-laki adalah pemimpin para perempuan. harusnya ia juga membaca, waasiruuhunna bil ma’ruf. hidupilah keluargamu dengan baik. seorang pemimpin membaca ayat wa’mur bil adli wal ihsan, pimpinlah dengan adil dan bijaksana, sebelum membaca ayat lain yang mengukuhkan dirinya sebagai wali rosul/tuhan sehingga patut ditaati.

    konflik palestina israel sebenarnya bukan murni konflik agama, tapi lebih luas konflik kemanusiaan. bahwa di palestina tak cuma hidup orang muslim, tapi di sana ada juga yahudi. edward said menggambarkan dengan apik bagaimana kebencian anak palestina terhadap israel. tapi di luar seolah-olah konflik yang terjadi konflik agama.

    di indonesia, kelompok fpi dan afiliasinya menyerukan perang melawan israel. titik tolak fpi dan gerombolannya saya kira bukan solidaritas kemanusiaan, tapi kepercayaan bahwa yahudi israel musuh islam. apakah semua orang israel adalah zionis?

    adakah yang melakukan propaganda, atau orang-orang itu belum selesai “membaca”?

    Comment by cah ilang — 2009/01/16 @ 12:08 am
  19. singgah lagi om, ni tulisan memang asyik dan cenderung mengundang…?

    Dunia tanpa kekerasan, apa mungkin..!. lalu ketika mereka-mereka’ yg memerlukan adanya musuh bagi tegak dan didukungnya ideologi (sistem)nya menjadikan islam sbg materi bahasan ‘kekerasan’ dan kmd menyebarkan asumsi dan persepsi, nah lalu kita (terjebak)menerimanya dgn berbagai alasan(yg tentu saja dengan niat baik, teramat malah).
    saya tdk menemui suatu metode pun sebaik tulisan buat mematrikan sesuatu keakal manusia. dan gilanya lagi semua mereka memang menayangkan racun (kalau boleh) tersebut dgn tulisan.
    sejarah sudah mencatat dgn fair betapa mereka malah lebih ‘ganas lagi’ bahkan pernah memunahkan ras manusia dimasanya (hitler,mussolini, mao, lenin, stalin, polpot, musso, aidit,….). setiap sistem punya aturan, penegakannya merupakan syarat tegak sistem, ya… ada yg dirugikan dan diuntungkan, ada yg patuh ada yg ingkar, dan ada konsekwensi. Islam di tuduh keras…? ya..! tapi ndak seganas yg lain. lalu diDekatkan kekajian tafsir…. wah..makin luas deh..! yg jelas sama bodohnya dgn orang yg menjanjikan ada sistem tanpa kekerasan, lebih bodoh lagi yg lantas berkesimpulan..”kalau begitu mari kita tolak semua sistem”.
    itulah manusia yg memang harus teratur dan tersistem, yang sudah begitupun masih besar kemungkinan merusaknya, dirinya, org lain, ras manusia, bahkan alam tempat tinggalnya. “Kekerasan bukan islam, bukan pula hasil kajian tafsir”
    sama saja kajian existensi THN, memangnya siapa yg bilang Tuhan itu Ruh (spirit), zat-Nya tidak sama dgn apapun

    Comment by bangtaufik — 2009/01/16 @ 2:35 pm
  20. kekerasan yang mengatas namakan agama itu seperti duri yang menusuk-nusuk kedamaian beragama.Ada kepentingan dibalik tindakan itu, politik, ekonomi..apa lagi..?

    Comment by vyta — 2009/01/16 @ 4:55 pm
  21. .

    Comment by yuswae — 2009/01/16 @ 9:24 pm
  22. Hmm ..jd ingat Tafsir Al Misbah-nya Quraish Shihab..

    Comment by astri — 2009/01/16 @ 10:29 pm
  23. sepakat!

    Comment by diesonne — 2009/01/17 @ 7:46 pm
  24. @ cah ilang: sepakat om.. kadang, ada yang ‘membaca’ teks belum selesai, udah seenaknya menafsir sehingga bermuara pada simpulan yang jahil.

    lalu ada kelompok yang merespon dengan teriak-teriak: “tuh, agama A blablaba..” mereka lupa bahwa yang ga beres mungkin penafsirnya, metodologi tafsirnya, dan BUKAN teksnya.

    Comment by debukaki — 2009/01/18 @ 5:32 pm
  25. Jadi kalau yang membuat kisruh sebenarnya otak manusia, misalnya membaca buku yang sama tapi tafsirnya berbeda.ada yang menafsirkan menjadi kekerasan, ada yang sebaliknya.
    Pertanyaan kita bisa menjadi demikian :
    ” yang membuat otak manusia siapa?”
    Sebagi orang beragama kita akan mengatakan Tuhan.!
    Kalau begitu,apakah Tuhan merancangkan kekerasan?
    tentu jawaban kita tidakk.!
    lalu…?
    kita akan mengatakan manusia itu sendiri yang cenderung menyukai kekerasan!
    Kenapa ?.. karena keinginan hatinya.!
    nah.. sumber keinginan dari mana?
    dari dada? atau dari hati? dari pikiran (otak)?, atau dari tempat yang lain?
    kalau kita mengatakan dari pikiran, maka kita akan kembali berputar seperti pertanyaan diatas. tapi kalau kita mengatakan berasal dari tempat lain, maka oknum apa yang mampu memotifasi pikiran kita untuk berbuat kekerasan? dan kenapa tidak semua orang mampu dirasukinya.?
    mungkin kita akan mengatakan yang bisa dirasiki adalah orang yang lemah, yang kuat tidak.
    astag.. pertanyaan kita bisa menjadi kenapa ada yang lemah dan ada yang kuat?
    Tuhan maha besar dan tidak terselami oleh pikiran manusia. kita hanyalah debu dihadapannya.

    Comment by golsom — 2009/05/07 @ 7:36 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity