»

T-H-N

ngaji — pejalanjauh @ 6:30 am

– the could-not-be-named

Orang ateis, pernah Pram berkata, justru adalah orang yang paling banyak memikirkan Tuhan. Tapi, amat bisa jadi, justru karena terlalu banyak memikirkan Tuhan maka seseorang dimungkinkan jadi ateis.

Pada satu waktu yang sudah lama lewat, di minggu-minggu pertama menjadi mahasiswa, saya mengikuti dua hari dua malam kelas teologi di Kaliurang. Seorang mentor mengajukan pertanyaan yang membuat mahasiswa-mahasiswa yang masih ingusan ini pening bukan kepalang: “Bisakah Tuhan menciptakan sesuatu yang lebih besar dari-Nya sendiri?”

Apa pun jawaban dari pertanyaan itu, semua akan bermuara pada satu kesimpulan: Tuhan tidak Maha Berkuasa. Jika Tuhan mampu membuat sesuatu yang lebih besar dari-Nya, ia bukan lagi Yang Maha Besar. Tapi jika Ia tak mampu melakukannya, Ia –dengan demikian– bukan pula Yang Maha Kuasa Yang Bisa Melakukan Apa Saja.

Pendeknya, itu pertanyaan yang “menjebak”. Tapi, “menjebak” untuk siapa? Mungkinkah Tuhan bisa dijebak? Tidakkah jebakan itu hanya berlaku pada konsep dan pemikiran manusia mengenai “Tuhan”, bukan Tuhan [tanpa tanda petik] itu sendiri?

Seorang teman yang menghabiskan masa mudanya dengan belajar teologi menjelaskan apa yang sudah ia dapatkan selama belajar dalam satu kalimat yang ringkas sekaligus metaforik: belajar teologi adalah mengejar yang tak terkejar, mencari yang tak pernah sepenuhnya diketahui, dan menyingkap apa yang sebenarnya tak tersingkap.

Seorang bikku yang saya temui di ashram tak jauh dari Candi Pawon mengibaratkannya seperti upaya menggenggam air. Sekali kau mencoba menggenggam air di telapak tangan, yang kau temui hanyalah ketiadaan.

Kemarin dulu saya juga pernah bertanya soal ini pada seorang bekas frater, seorang katolik yang saleh untuk ukuran awam tapi tampaknya “tidak cukup alim” untuk jadi seorang romo (halo Bas, apa kabar?). Kepadanya, saya bilang bahwa teologi mungkin tak lebih dari upaya menapaktilasi jejak-jejak-Nya saja.

Kawan saya ini cukup intensif mempelajari Derrida dan gelar sarjana filsafat yang digondolnya pun lahir karena studi itu. Tak heran jika kata “jejak-jejak” yang saya sebutkan membuatnya tertarik sehingga ia mau ngoceh cukup panjang.

Ya, Derrida memang menggunakan kosa kata “jejak” (trace) sewaktu menggarap proyek ambisiusnya untuk membongkar topik ADA atau BEING dalam metafisika. “Ada/Being” ini banyak menyita pikiran para filsuf, mungkin –jika boleh berandai– sama gentingnya sewaktu Ibrahim mencari Tuhan sampai-sampai ia sempat mengira matahari dan bulan sebagai sosok yang dicarinya. Ya, Ada/Being ini kadang juga merujuk pada Asal Segala Muasal, dan hingga aspek-aspek tertentu bisalah dibilang sebagai “Tuhan”.

Nah, bagi Derrida, apa yang disebut Ada/Being yang dibicarakan dan dipikirkan oleh para filsuf tak lain tak bukan hanyalah trace alias jejak-jejaknya saja. Ada/Being itu tak pernah hadir dalam dirinya sendiri dan sebagai dirinya sendiri. Yang hadir dalam pikiran dan perbincangan para filsuf hanyalah jejak-jejak kehadirannya saja. Dari situlah muncul istilah “metafisika kehadiran”.

Jejak Tuhan akan mudah kita temukan dalam banyak teks-teks tinggalan para teolog, ulama, sufi, mursyid, pastor, pendeta, suster, bruder, penyair, paderi, rahib, bikku, sanyasi, rabbi, pedande, kamitua (itu sebabnya Derrida banyak fokus pada teks, bahasa dan tanda, sampai-sampai ia menyusun “grammatologi” versinya sendiri), dari mulai tulisannya Agustinus dan Aquinas, al-Ghazali atau Ibn Arabi, Rabi Akiva atau Yehezkiel, Walmiki atau Aurobindo, hingga Levinas atau Badiou hingga Pangeran Jatikusuma di Cigugur-Kuningan atau Rato di kampung Kodi-Waikabubak.

Tapi jejak bukan Ada/Being/Tuhan itu sendiri. Ia hanyalah konsepsi tentang Ada/Being/Tuhan. Konsep atau rumusan tentang Tuhan bukanlah Tuhan itu sendiri. Bahkan walau pun seorang teolog atau sufi pernah melihat wujud Tuhan sekali pun, ia tak akan pernah bisa membahasakannya. Ini bukan semata karena Tuhan adalah ujud yang tak-ter-bahasa-kan, tapi lebih karena bahasa sendiri tak pernah memadai, bahkan untuk membahasakan sebiji pulpen sekali pun.

Jika saya menyebut sebuah alat tulis yang dinamai “pulpen”, Anda pasti bisa memahami apa yang saya maksudkan. Tapi kata “pulpen” sendiri sebenarnya tak bisa membahasakan “pulpen” yang sebenarnya dengan utuh dan sempurna. Kata “pulpen” tak bisa mejelaskan apa warna sebuah pulpen, di mana ia dibuat, siapa yang membuat, berapa harganya, terbuat dari bahan apa, dll.

Berbahasa, karenanya, mengandung laku kekerasan pada dirinya sendiri. Ada keragaman yang lantas diberangus demi kemudahan berkomunikasi. Dengan menyebut sebuah alat tulis sebagai “pulpen”, kita memang akhirnya bisa berkomunikasi, tapi pada saat yang sama banyak hal dalam diri alat tulis itu yang lenyap dan terbuang.

Itu baru ngomongin perkara pulpen, apalagi Tuhan yang dipercaya Tak Berbatas, Tak Berbingkai, Tak Berujung Tak Berpangkal. Saat saya mengetik “T-U-H-A-N” saja, hal yang sama sebenarnya sudah berlangsung, padahal saya berkali-kali melakukannya (hanya untuk) postingan ini saja.

Jadi, dapat dimengerti jika dalam ajaran Yahudi kata “Y-H-W-H” tak pernah boleh diucapkan, bahkan ketika menggelar ibadat di sinagoga atau sedang bermunajat di Tembok Ratapan sekali pun. Teman saya yang lain, mantan frater juga tapi jauh lebih sekuler daripada kawan pertama, memberi tahu saya bahwa Y-H-W-H itu “dulunya” seperti ucapan sengau atau gumaman atau sesuatu yang tak begitu jelas jika diucapkan [lain hari saya ingin mempelajari lebih lanjut mistik dalam paduan huruf Y-H-W-H ini].

Martin Buber, seorang Yahudi yang menulis traktat “Ich und Du” sekaligus lawan tanding Theodore Hezrl yang ngotot negara Israel hanya untuk orang Yahudi, pernah bertanya pada Dorothe Ssle ihwal profesinya. Ssle menjawab, “Saya seorang teolog”. Buber lantas memandanginya sembari berkomentar ringkas: “Bagaimana mungkin membicarakan yang tak dapat dibicarakan?”

Saya jadi teringat salah satu ucapan seorang bikku dalam kisah perjalanan Fa-Hsien ke barat mencari sutera-sutera Budhis. “Menamai sesuatu yang Tak Berbatas dan Abadi akan membuatnya menjadi terbatas dan tak lagi abadi,” begitu kalau saya tak salah ingat.

Budhisme mungkin bisa dianggap sebagai salah satu “agama” yang paling sadar akan keterbatasan bahasa. Ada contoh legendaris yang menarik untuk diketengahkan ihwal pemahaman budhis mengenai keterbatasan bahasa. Alkisah, seorang master (ajaran) zen yang dianggap luar biasa sampai-sampai dijuluki Bodhisatva, namanya Shanhui, diminta memberikan ceramah oleh seorang kaisar dari Dinasti Wu. Ia lantas naik ke mimbar, lalu memukul meja, setelah itu pergi. Hanya begitu saja. Kaisar kebingungan. Disebut-sebut, Shanhui lantas bicara: “Tidakkah Paduka memahami jika saya telah selesai memberi berbicara?”.

Bisalah dimengerti jika ada yang menyebut tradisi zen –juga banyak aliran dalam budhisme– sebagai “the voiceless tradition” (tradisi tanpa suara). Jangan heran jika Anda membaca sutra-sutra atau kisah tentang kehidupan Sidharta akan banyak dijumpai adegan ketika para siswa bertanya tentang sesuatu biasanya lantas dijawab hanya dengan mengarahkan telunjuk pada sesuatu (ditanya tentang sungai akan dijawab hanya dengan mengarahkan telunjuk pada arus sungai, misalnya).

Sebuah contoh lain diajukan oleh Anthony de Mello, seorang paderi Jesuit. Ia mengisahkan tentang seorang murid yang melihat anak-anak kecil yang begitu gembira bermain seakan-akan tak mengenal kesusahan dan cuma tahu kebahagiaan. Sang Guru lantas melemparkan koin ke tengah anak-anak tadi dan mereka langsung berebutan sampai ada yang berkelahi. Sang Murid pun mengerti bahwa Sang Guru hendak mengatakan bahwa antara “kebahagiaan” dan “kesenangan” tidaklah sama.

Maka bisa dimengerti jika bahasa amatlah dekat dengan berhala. Membahasakann sesuatu yang tak terbahasakan sebenarnya sesuatu yang mustahil dan sekali mencobanya kita ada di tubir “pemberhalaan konsep-konsep” –meminjam istilahnya Jean Marion.

Antara Tuhan sebagai dirinya sendiri dengan Tuhan dalam rumusan dan keyakinan manusia terdapat senjang yang tak kita tahu berapa dalam dan lebarnya. Dan kita sebenarnya beragama dan ber-Tuhan melalui rumusan, dengan konsep, di dalam bahasa. Sejarah peperangan karena bendera agama sebenarnya adalah pertempuran membela konsep dan rumusan.

Jika benar demikian, masihkah ada gunanya menulis, membicarakan atau bahkan mencari Tuhan? Saya kira tidak ada yang sia-sia dari aktivitas berfikir dan merenung, juga menuliskan semua hasil meditasi dan pencarian itu. Dengan catatan, kita tak memberhalakannya dan menempatkannya sebagai sebuah usaha yang tak pernah selesai. Ada ketidakpastian yang tak terukur dan ada samar yang mungkin tak selalu bisa ditembus.

Ada satu kata dalam kosakata filsafat Derrida yang bisa dirujuk untuk menyikapi hal ini: “differance” [bukan difference]. Saya tidak hendak menguraikan apa itu “differance”, tapi bisalah saya contohkan bagaimana “differance” digunakan.

Jika ditanya apa itu “ungu”, dan saya diminta menjawab dengan menggunakan “differance”-nya Derrida, kira-kira saya akan menjawab: (1) ungu itu perpaduan merah dan biru, (2) tapi ungu bukan merah dan biru, (3) lagi pula –ini yang penting dari “differance”– saya harus “menunda” kepastian rumusan dua poin sebelumnya.

Hanya itu? Ya, hanya itu. Selebihnya: diam. Mungkin juga hening. Atau sunyi, lebih tepat lagi sunya.

“Solitude is the place of purification,” kata Martin Buber.

————————-
Post-script:

Di Malaysia, baru-baru ini, koran The Herald dilarang terbit oleh pemerintah jika masih menggunakan kata “Allah” untuk mengacu pada Tuhan Kristen

26 Comments »

  1. tulisan akhir pekan yang berat sekaligus mencerahkan. klo kubilang mencerahkan, apakah aku memberhalakan konsep – konsepmu, zen? :P tapi bukankah memang bahasa adalah konsep – konep itu sendiri..

    Comment by dewi — 2009/01/09 @ 8:11 am
  2. nulis kok iso apik banget yo ngelu aku……….

    Comment by mendemningsunankuning — 2009/01/09 @ 9:15 am
  3. di buku filsafat ilmu-nya jujun ss, ada pengantar dari andi hakim nasution. kata andi: dl pas waktu jadi dosen, dia pernah ditanya ma jujun dengan pertanyaan jebakan: Jika Tuhan benar2 Maha Kuasa, bisakah Ia membuat sebuah batu yang begitu besar sehingga Tuhan sendiri tak sanggup mengangkatnya?

    jawabannya piye zen?:D

    Comment by haris — 2009/01/09 @ 9:58 am
  4. Bahasa kata-kata memang terbatas Dhe, banyak hal yang tidak bisa diselesaikan dengan kata-kata.

    Karena itu juga mungkin lebih gampang mencari teman untuk bercerita, bergurau, curhat dibanding mencari teman untuk menemani dalam diam.

    Hanya sedikit yang –mau– paham bahasa diam.

    Comment by sandalian — 2009/01/09 @ 11:27 am
  5. . . . .

    Comment by anakperi — 2009/01/09 @ 1:11 pm
  6. sandal : iyah ndal, kamu benar. lebih gampang untuk mencari teman bercerita daripada mencari teman dalam diam. btw topik ini dejavu banget dengan yg sempat aku tuliskan.

    Comment by dewi — 2009/01/09 @ 2:05 pm
  7. T-H-N = Tuhan…?
    ah… tulisan ini hanya luapan emosi ketakpastian dan marah ketaktahuan.
    ratusan paragraph yg tersusun hanyalah menyiratkan hatinya yang meranai kesesatan tak memahami jalan (kemanusiaan ‘kalaupun ada).
    sebenarnya semua teori ini hanya kosong melompong dari makna dan hakikat. bukan teori yg melahirkan terapan tetapi terapanlah yg memastikan teori.
    Alam ini terlalu tertata dan teratur buat ada tempat bernama ‘kebetulan, ‘boleh jadi, ‘jangan-jangan, ‘kemungkinan, dll.
    mau kembali ke ‘kemanusiaanMu…? find me

    – wah, komennya asyik, bro.

    betul, tak ada kebetulan. saya juga tak percaya pada kebetulan. buat saya, apa yg biasa dianggap kebetulan tak lain dari peristiwa-peristiwa yang blm kita pahami bentuk utuhnya, macam kepingan puzzle yg belum tersusun. susunan peristiwa2 (dari yg biasa dianggap kebetulan atau bukan) itulah yang kelak akhirnya menyusun apa yg disebut sejarah, setidaknya sejarah saya sendiri.

    thanks sudah singgah….
    :D

    Comment by bangtaufik — 2009/01/09 @ 2:29 pm
  8. “Jika Tuhan benar2 Maha Kuasa, bisakah Ia membuat sebuah batu yang begitu besar sehingga Tuhan sendiri tak sanggup mengangkatnya?”

    pertanyaan ini bukan menjebak, tapi mengandung falasi karena memakai basis logika yang tidak relevan.

    konsep ‘besar’-nya sebuah batu adalah konsep materi. Allah bisa menciptakan itu, sebesar apapun (dalam artian seluas dan seberat apapun dalam ukuran kita; ton, km, dll).

    namun, Dia akan selalu bisa “mengangkat” materi itu, karena Dia berada di luar dimensi ciptaan (yakni luas km, volume ton, dll).

    Dia, bukanlah materi, bukan bagian dari materi batu (yang merupakan ciptaan-Nya), sehingga terbebas dari ikatan yang membatasi batu itu.

    analoginya: konsep kuantitas (ton, kg) hanya berlaku untuk MATERI, namun tidak berlaku untuk RUH/ SPIRIT (yang hanya memiliki kualitas, bukan kuantitas).

    jika 2 hal itu saja tak bisa diperbandingkan, demikian juga tak mungkin membandingkan zat Allah (yang tak berukuran) dengan materi ciptaan-Nya (yang terkungkung dalam ukuran).

    wallahu a’lam..

    –eh, ada penganten baru….

    Iku jane pertanyaan yg dibuat oleh peter arbelard dan jawabane ancen koyo sik mbok omongno. dulu, waktu itu, boro-boro tahu sopo iku arbelard. iki pertanyaan kerep metu nang diskusi perkoro ngene iki, sik wes wes tau melu LK-I mesti ngerti. Ketoknya kowe lulus LK-2 :P

    Tapi ini memang pertanyaan menjebak dan ketika itu pertanyaan ini diajukan memang untuk “menjebak” peserta agar tune-in dengan alur kurikulum yang sebenarnya sudah disusun dg kesepakatan peserta. Kalo pun pertanyaan itu bukan falasi dan punya kelayakan formil sbg sebuah pertanyaan, jawaban apa pun yang diberikan dan kesimpulan apa pun yang akhirnya disepakati, itu masihlah menyangkut “trace” dan “jejak” T-H-N seperti yg ku bilang di postingan, bukan T-H-N sebagai das Ding an sich.

    ketoke ngono, dab :)

    Comment by debukaki — 2009/01/09 @ 2:37 pm
  9. waduh, saya masih kurang ilmunya untuk mengomentari tulisan yang begitu mengalir ini..
    yang jelas, saya meyakini bahwa antara manusia dan Tuhan, merupakan dimensi yang berbeda..

    – lha kalimat keduanya itu udah mengomentari tulisan ini loh…. to the point komentarnya, menurutku.
    :)

    Comment by omoshiroi — 2009/01/09 @ 2:40 pm
  10. “bahwa Y-H-W-H itu “dulunya” seperti ucapan sengau atau gumaman atau sesuatu yang tak begitu jelas jika diucapkan [lain hari saya ingin mempelajari lebih lanjut mistik dalam paduan huruf Y-H-W-H ini].”

    nek menurutku, bangsa yahudi menulis tuhan sebagai YHVH sih lebih kepada kepercayaan diri mereka yang luar biasa tinggi. bukankan mereka satu-satunya yang berani bilang sebagai bangsa yang telah bergelut dengan tuhan?

    Sebenarnya yahudi itu cuma mau ngomong, tuhan itu ga penting!

    Comment by bangsari — 2009/01/09 @ 4:22 pm
  11. kho ping hoo getol ngomong soal teologi, aku lebih pas pada filosofi dia

    Comment by hedi — 2009/01/09 @ 8:49 pm
  12. larangan menyebut atau mengucapkan YHWN untuk orang yahudi juga menyebut Allah untuk Tuhan kaum Nasrani di Malaysia ini berkaitan dengan kepercayaan terhadap Sang Pencipta,….. kalau sudah berkaitan dengan kepercayaan memang susah dinalar logika…. bagaimana mungkin jika suami hanya mengucapkan sebuah kata ‘cerai’ meskipun bercanda pada istrinya, maka terputuslah hubungan suami istri yang bersangkutan.. ini kembali lagi ke masalah keyakinan yang sangat susah dinalar….

    Comment by Anang — 2009/01/09 @ 8:54 pm
  13. zen alumni madha ?

    romo bas ? SCJ di deket banteng jakal itu ?

    wah….tulisanmu ini kok serasa tak asing ya….
    *teringat diskusi berhari-hari dengan seorang ‘guru’ di tebet*

    eh, di buku personality psychotherapy, dimana lynn wilcox membandingkan antara psikoterapi barat dan sufi, juga menyangkut keterbatasan bahasa tersebut.

    biru-ku bisa jadi berbeda dengan biru-mu, dan bagaimana menenerangkan biru dengan kata2 ?

    dan cobalah merasakan ADA daripada memikirkannya.
    *pasti banyak yg protes ini*
    *aliran rasa mmg belum populer* :mrgreen:

    Comment by meong — 2009/01/10 @ 12:41 am
  14. trus nek tuhan wit-witan ki ditulise piye? WTWTN?

    Comment by arya — 2009/01/11 @ 1:31 am
  15. tidak mengetahuinya sama sekali.. :)

    Comment by irdix — 2009/01/11 @ 5:08 am
  16. saya seperti diteror oleh tulisanmu, yang mungkin terlalu banyak memasukkan akan gegelisahanmu.

    Comment by sinta hernadi — 2009/01/11 @ 11:51 am
  17. membaca seperti ini sungguh menyenangkan.. untuk dipahami dan lebih memilih untuk tidak untuk dikomentari..

    makasih bang zen..

    Comment by hengki — 2009/01/11 @ 7:58 pm
  18. pengaku atheis adalah orang yang sangat religius minus rutinitas peribadatan…

    Comment by wonka — 2009/01/11 @ 9:15 pm
  19. dadi eling jaman kuliah

    Comment by nothing — 2009/01/11 @ 10:49 pm
  20. Hm.. Jmlh komennya dikit,tapi kog ‘banyak’ ya.. ^^

    mas, izin ngopi tulisannya ya..
    Buat klipping pribadi kog.. Ya,ya,ya..?
    Makasih..

    Comment by Falltara — 2009/01/12 @ 3:36 am
  21. @debukaki:
    (((“Jika Tuhan benar2 Maha Kuasa, bisakah Ia membuat sebuah batu yang begitu besar sehingga Tuhan sendiri tak sanggup mengangkatnya?”

    pertanyaan ini bukan menjebak, tapi mengandung falasi karena memakai basis logika yang tidak relevan.

    konsep ‘besar’-nya sebuah batu adalah konsep materi. Allah bisa menciptakan itu, sebesar apapun (dalam artian seluas dan seberat apapun dalam ukuran kita; ton, km, dll).

    namun, Dia akan selalu bisa “mengangkat” materi itu, karena Dia berada di luar dimensi ciptaan (yakni luas km, volume ton, dll).

    Dia, bukanlah materi, bukan bagian dari materi batu (yang merupakan ciptaan-Nya), sehingga terbebas dari ikatan yang membatasi batu itu.

    analoginya: konsep kuantitas (ton, kg) hanya berlaku untuk MATERI, namun tidak berlaku untuk RUH/ SPIRIT (yang hanya memiliki kualitas, bukan kuantitas).

    jika 2 hal itu saja tak bisa diperbandingkan, demikian juga tak mungkin membandingkan zat Allah (yang tak berukuran) dengan materi ciptaan-Nya (yang terkungkung dalam ukuran).)))

    seorang kawan menyederhanakannya menjadi: bahwa ketika kita ‘membayangkan’ Tuhan dan berusaha ‘mendeskrispikannya’ kita menggunakan logika manusia; ‘memanusiakan Tuhan’. kalau kita sepakat Tuhan berbeda dengan makhluk, maka mendeskripsikan Tuhan menurut karakteristiknya ‘yang berbeda’ itu.

    namun saya tak buru-buru mengatakan: pencarian Tuhan telah selesai karenanya. bagi saya pencarian Tuhan telah dicontohkan Ibrahim. berkali-kali Tuhan dalam kitab suci yang saya imani berfirman: ‘tidakkah kamu berpikir?’ ‘hai orang-orang yang berpikir’ dan sejenisnya.

    @zen
    (((“Ada/Being” ini banyak menyita pikiran para filsuf, mungkin –jika boleh berandai– sama gentingnya sewaktu Ibrahim mencari Tuhan sampai-sampai ia sempat mengira matahari dan bulan sebagai sosok yang dicarinya. Ya, Ada/Being ini kadang juga merujuk pada Asal Segala Muasal, dan hingga aspek-aspek tertentu bisalah dibilang sebagai “Tuhan”.)))

    soal ada atau tiada. saya mendapat dari seorang teman: bahwa sesuatu di dunia ini lebih dekat sebagai sesuatu yang by design ketimbang sesuatu yang ada dengan sendirinya. dalam logika penciptaan misalnya: alam diciptakan Tuhan, lalu Tuhan diciptakan siapa?

    saya pernah jawab Aristoteles menjawab secara filosofis-putus asa sebagai: ‘penggerak tak tergerakkan’. ada sebuah penggerak (baca: pencipta), yang ada dengan sendirinya (tak tergerakkan). dari bacaan saya Aristoteles tak menyebutkan penjelasan lebih lanjut. adakah zen dapat menjelaskannya?

    salam,
    masmpep.wordpress.com

    Comment by mpep — 2009/01/13 @ 11:50 am
  22. ancuk! arif wes rabi ta?!

    MABUMABUAN!!!

    Comment by The Bitch — 2009/01/13 @ 3:37 pm
  23. TU HAN HAN TU or NA HUT

    Comment by ANAK ZAMAN — 2009/01/14 @ 5:57 pm
  24. SALAAM
    sapaan penghuni surga

    Comment by ANAK ZAMAN — 2009/01/14 @ 5:58 pm
  25. Aha! Aku tahu itu, aku juga ada di ruang itu, di masa itu, memeras imajinasi dan nalar cuma untuk suatu usaha mengadu kebenaran, atau lebih tepatnya bagitu, mengoleksi kebenaran..

    Comment by Amrodhi — 2009/04/01 @ 12:20 pm
  26. Dalam teks Alkitab, Allah memperkenalkan diri-Nya kepada Musa di semak belukar sebagai: YHWH. God of speechless. Tapi, orang Israel tetap memiliki cara untuk memanggil-Nya. Mereka mengganti pemanggilan bagi YHWH, dengan Adonai. Hingga hari ini, kata YHWH, dibaca Adonai. Di hadapan yang tak berbatas, kata-kata menjadi terbatas. Tetapi bukan berarti perkataan terhadap yang tak terbatas itu mesti diakhiri. Kita tetap berkata-kata tentang Yang Tak Berbatas, sambil dengan rendah hati, bahwa kita pun tidak dapat berkata-kata tentangNya. Saya suka dengan blog ini. Amat mencerahkan. Yang Tak Berbatas itu memberkatimu

    Comment by Budiman — 2010/01/13 @ 6:24 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity