»

Patriot*

Bola — pejalanjauh @ 3:40 am

– apakah tim nasional indonesia bisa mengalahkan oman? voor siji untuk oman!

Ada istilah bagus yang diperkenalkan Grant Jarvie pada bukunya yang berjudul “Sport Culture and Society”. Pada bagian yang memerikan hubungan antara olahraga dan nasionalisme, Jarvie melansir istilah “90-minutes patriots”.

Istilah itu dilansir untuk membantunya menjelaskan bagaimana simbol-simbol olahraga, terutama sepakbola, membantu mempromosikan sentimen dan identitas politik nasional dalam event-event besar, seperti Piala Dunia atau Piala Eropa.

Sampai taraf tertentu, sepakbola akan selalu dijadikan sebagai medium untuk mengekspresikan sentimen dan identitas politik nasional. Sejarah sepakbola modern digelimangi banyak sekali contoh yang bisa membenarkan tengara itu.

Eduardo Galleano, sastrawan Uruguay yang menulis trilogi novel “Memoria del Fuego”, pernah mencoba memeriksa betapa dalamnya pengaruh sepakbola dalam jiwa masyarakat Amerika Latin. Dalam bukunya yang berjudul “El futbol a Sol y Sombra” (Soccer in Sun and Shadow), ia juga mengkritik bagaimana sepakbola di banyak negara Amerika Latin digunakan untuk kepentingan politik baik dari kalangan kanan maupun kiri. Ia menyerang kapitalisme global yang menjadikan sepakbola begitu komersil, sekeras ia menyerang intelektual kiri yang merusak sepakbola semata untuk mengkampanyekan keyakinan ideologis mereka.

Baginya, mengobarkan perlawanan terhadap kapitalisasi sepakbola merupakan bagian inheren dari arus pasang revolusi di Dunia Ketiga. Dia menyusun argumennya, tentu saja, dengan mengutip kata-kata Che Guevara: “It’s not just a simple game. It’s a weapon of the revolution.”

Nafas itulah yang sempat muncul sewaktu FIFA melarang La Paz (ibukota Bolivia) menggelar pertandingan internasional karena kota itu dianggap terlalu tinggi sehingga kadar oksigennya begitu tipis. Presiden Bolivia (Eva Morales) dan Presiden Venezuela (Hugo Chavez) dengan segera menggunakan isu ini untuk menggelar kampanye perlawanan yang tak bisa disangkal kental dengan isu-isu ideologis.

Bagaimana sepakbola digunakan sebagai medium mengekspresikan perlawanan terhadap pihak yang dianggap dominan banyak sekali muncul pada awal-awal pertumbuhan sepakbola modern.

Inggris, yang mengklaim sebagai penemu sepakbola modern (Piala Eropa 1996 di Inggris bahkan diberi tajuk “Football Comes Home”), menjadi sasaran utama perlawanan. Pengertian “sepakbola modern” di situ mengacu pada sepakbola yang telah dilengkapi sejumlah aturan main, dari mulai soal wasit, kostum hingga jumlah pemain yang berjumlah sebelas.

Baca juga esai saya di Detiksport ihwal kenapa Milan dan Kaka sebaiknya menolak tawaran Manchester City. Klik DI SINI

Tidak mengherankan jika hingga awal-awal abad 20, klub-klub yang berada di luar Inggris, seperti di Belanda, Swiss, Argentina dan negara yang bukan berbahasa Inggris, masih menggunakan term-term seperti Sporting Club, Footlball Club dan Racing Club di depan nama klub mereka. Bahkan nama-nama klub pun kerap kali diambil dari term bahasa Inggris: misalnya River Plate di Argentina, Go Ahead di Belanda, The Strongest di Bolivia, dll.

Nasionalisasi istilah-istilah sepakbola di mulai menjelang Perang Dunia I. Pada 1908, asosiasi sepakbola Italia meng-Italia-kan istilah “Football” ke dalam kosa kata Italia, “Calcio”. Kroasia menggantinya menjadi “Nogomet” dan Hungaria menggantinya dengan “Labradors”. Negara yang kesulitan menasionalisasi kata “football” memilih menasionalisasi fonetiknya. Portugal yang mengganti kata “football” dengan “futebol”, Spanyol dengan “Futbol” atau Jerman dengan “Fussbal”.

Nasionalisasi istilah-istilah sepakbola ke dalam bahasa nasional merupakan bagian penting dari gerakan nasionalisme yang mencoba memposisikan kembali identitas nasionalnya di hadapan kekuatan-kekuatan asing, terlebih jika kekuatan asing itu dianggap sebagai kolonialis. Inggris adalah kekuatan kolonial terbesar, yang saking luasnya koloni Inggris sampai-sampai –pinjam istilahnya Ben Anderson—Inggris dijuluki sebagai ‘”negeri yang mataharinya tak pernah tenggelam”.

Jerman menjadi contoh paling ekstrim. Begitu Perang Dunia I usai, semua istilah-istilah Inggris dihapus dari kosakata sepakbola Jerman. Union atau Sport Association diterjemahkan menjadi Eintracht dan SpVgg (Sportverieningung). Di Italia, klub-klub mulai menggunakan nama yang diambil dari kosa kata Latin, seperti Pro Patria, Juventus atau Ars et Labor.

Tak mengherankan jika di Balkan atau di Amerika Latin pun penamaan sebuah klub sepakbola kental dengan nuansa perlawanan simbolik atas kolonialisme. Di ibukota Cile, Santiago, klub paling populer di sana dinamai Colo Colo, diambil dari nama pemimpin Indian yang melawan pendudukan Spanyol. Klub tersukses di wilayah Balkan, Dalmatia, mengubah namanya menjadi “Hajduk Split”. “Hajduk” merupakan nama gerombolan lokal yang menentang para penyerbu asing yang datang dari Turki dan Venesia pada abad 15 dan 18.

Subjek-subjek pembahasan seperti itu cukup dominan dalam silang wacana yang berlangsung di seputar dunia sepakbola, terutama pada tiga dekade pertama abad 20. Komentator-komentator sepakbola, baik dari Eropa maupun Amerika Latin, seringkali berbicara dan menulis tentang perbedaan cara dan gaya bermain bola masing-masing negara sebagai cerminan politik identitas masing-masing.

Mestikah diherankan jika pelatih-pelatih Brasil hingga tahun 1960-an seperti enggan mengadopsi teknik kepelatihan yang mengkombinasikan teknik bermain bola dengan perencanaan kepelatihan yang ditunjang sains dan ahli psikologi. Padahal, dalam waktu yang cukup lama, Hungaria, di bawah komando Gustav Sebers yang menjabat Wakil Presiden Komite Nasional Olahraga dan Kebudayaan, sudah mengadopsi sains dan teknologi untuk menunjang teknik kepelatihan.

Bagi Brazil, karakter dan identitas sepakbola mereka tak memerlukan sains. Bagi Brazil, sepakbola adalah kegembiraan dan kesenangan. Dua faktor itulah, yang termaktub dalam tarian rakyat Samba, yang menggerakkan naluri para pemain Brasil. Antropolog dan sejarawan Brasil terkemuka, Gilberto Freye, menyebut naluri bermain pemain Brazil sebagai “a dance of irrational surprises”.

Lain lagi dengan Barcelona, klub etnik Catalan yang oleh penulis Spanyol, Manuel Vazquez Montalban, disebut sebagai “senjata pamungkas sebuah bangsa tanpa negara”. Etnis Catalan kerap diposisikan sebagai “yang lain” oleh pemerintahan Spanyol yang dikuasai etnis Basque. Orang-orang Catalan ingat bagaimana rejim militer Jenderal Franco memerlakukan mereka dengan minor. Orang-orang Catalan tahu persis: Jenderal Franco adalah penggemar fanatik Real Madrid.

Bagi orang-orang Catalan, Madrid adalah representasi paling ideal dari apa yang dsebut “pusat yang menindas” dan Barca diasosiasikan sebagai “pinggir yang dilupakan”. Maka, pinjam sitirannya Montalban, Barca adalah bendera dari hasrat alam bawah sadar orang-orang Catalan yang tak pernah sepenuhnya membuang impian menjadi sebuah bangsa yang merdeka. Dan Nou Camp, markas Barca, adalah kuil tempat di mana hasrat kemerdekaan yang mengendap itu dirayakan dengan hebat. Tak perlu heran jika kostum Barca dianggap terlalu suci untuk dikotori oleh iklan. UNICEF yang kini tersemat di dada kostum pemain Barca jelas bukan Samsung di kostum Chelsea.

Tidak terlalu berlebihan jika Eric Hobsbawm, dalam karya terbaiknya, “Nations and Nationalism Since 1780”, pernah menunjukkan kalau apa yang kelak dinyatakan sebagai komunitas imajiner (immaginary community) terlihat nyata justru dalam pertandingan sepakbola antar negara. Dengan bertitik tolak dari pandangan Hobsbawm plus menyusupkan konsep Ben Anderson, seorang profesor dari University of Texas at Austin, Miriam Schacht, memperkenalkan istilah “immagined communities on the pitch”.

Tak ada yang salah dengan upaya membangkitkan sentimen dan ekspresi identitas nasional dalam sepakbola, sepanjang ia tak tampil dalam bentuknya yang ganas dan rasialis. Di sini, istilah “90-minutes patriots” menunjukkan satu hal yang bisa jadi merupakan berkah: betapa pun patriotiknya para pemain yang berlaga selama 90 menit, toh itu hanya berlangsung 90 menit.

Begitu pluit tanda berakhirnya pertandingan ditiup, selesai pula patriotisme yang kadang –dalam banyak fragmen sejarah—kerap bersimbah darah. Pada akhirnya, pemain-pemain yang berseteru akan bersalaman dan menggelar ritus yang sebenarnya terasa jorok: bertukar kostum yang sudah penuh keringat dan bau ketiak.

FIFA, UEFA dan segenap organisasi sepakbola sendiri sudah berupaya sekuat mungkin menjauhkan sepakbola dari kemungkinan digunakan sebagai kendaraan politik dan ideologi yang sempit. Ini sebagai upaya untuk “membersihkan” nama FIFA yang pernah gagal bersikap netral dalam kecamuk ideologis dalam tata dunia pasca dua seri Perang Dunia.

Hanya saja, FIFA dulu sering tak konsisten. Selama tahun-tahun antara Perang Dunia I dan II, FIFA lebih sering mengakomodasi usulan dari negara yang pada PD I tergabung pada Entente Cordiale dengan Inggris dan Prancis sebagai porosnya. Setelah itu, FIFA seringkali dianggap antikomunis.

Kasus paling kentara mencuat pada “Kasus Cile”. Pada 21 November 1973, di Santiago, Cili, direncanakan berlangsung pertandingan kualifikasi Piala Dunia antara Cili dengan Soviet. Kebetulan, dua bulan sebelum pertandingan digelar, Cili dilanda kudeta militer yang dipimpin Agusto Pinochet yang didukung negara sekutu dan berhasil menumbangkan pemerintahan Salvador Allende yang berhaluan sosialis, yang tentu saja didukung oleh Soviet.

[btw, ada yg tau apakah Nerruda, sobat kental Allende, pernah nulis puisi tentang bola?]

Akibatnya, ribuan pendukung Allende dipenjara di Stadion Nasional Cili. Soviet menolak bermain dan menyebut stadion itu sebagai “stadium of death” dan meminta FIFA menginspeksi langsung. Tapi FIFA memutuskan pertandingan tetap digelar di sana. Keputusan diambil setelah mendengar penuturan hanya dari Menteri Pertahanan rezim Pinochet. Soviet yang menolak bermain di sana akhirnya didiskualifikasi dari Piala Dunia 1974.

Belakangan FIFA makin tegas menjauhkan sepakbola dengan politik. Ketegasan itu tercermin dalam beleid yang melarang pemerintah sebuah negara turut campur dalam segala urusan federasi sepakbola di negaranya masing-masing. Sudah banyak contoh di mana federasi sepakbola sebuah negara diskorsing karena terlampau diintervensi rezim setempat.

Ini bisa dibaca sebagai upaya FIFA merealisasikan kata-kata pendirinya sendiri, Jules Rimet, yang satu waktu pernah bermimpi menjadikan FIFA sebagai “a sort of mini League of Nations (PBB)”. Sebagian, visi Rimet itu sudah terealisir, setidaknya hari ini jumlah anggota FIFA jauh lebih banyak daripada angota PBB.

————————————-
*Naskah ini dikembangkan dari paper pengganti ujian akhir untuk matakuliah “Teori Sepakbola I” di semester tiga, tentu saja waktu saya masih kuliah dulu. Paper ini ditolak dan saya ganti dengan paper tentang “Peran dan Fungsi Libero dalam Sistem Total Football Belanda pada Piala Dunia 1974″. Paper ini pun nyaris ditolak. Untung saya bisa meyakinkan dosen pengampu bahwa Johan Cruyff bermain dalam peran dan area operasi yang hampir sama seperti Franz Beckenbauer bermain untuk Jerman Barat.

18 Comments »

  1. berarti harusnya Indonesia menggunakan Piala Indonesia, bukan Copa Indonesia. Ah tapi percuma, Indonesian football is unsignificant hahaha

    Comment by hedi — 2009/01/17 @ 3:49 am
  2. kuliah dimana dulu mas?

    Comment by bangsari — 2009/01/17 @ 10:32 am
  3. tulisan yang menarik..
    kalo di Indonesia sendiri gimana mas?

    Comment by omoshiroi — 2009/01/17 @ 10:48 am
  4. Jadi banyak tau nih tntang sepakbola.
    *td pagi futsal, dan sore ini mw nonton persiba bantul vs persik*
    hari ini berasa bola banget bagi saya :D

    Comment by ndebakulsempak — 2009/01/17 @ 1:50 pm
  5. voor siji nggo endonesyah! *banting samsu*

    Comment by arya — 2009/01/17 @ 3:45 pm
  6. dadi kelingan pemain sepakbola muslim yg menunjukkan simpati atas palestina dg menunjukkan kaos bertuliskan “Palestina” saat ia mencetak goal di laga liga spanyol. dy dapat sanksi krn federsi spanyol menolak adanya ekspresi politik dlm pertandingan. bagaimana fenomena ini dibaca, zen? bukankah muasalnya sepakbola dan politik adalah dua entitas yg tak terpisahkan? tapi, kenapa di liga spanyol, atau mngkn liga lain pula, sepakbola justru hendak “dimurnikan” dari ekspresi politis?

    Comment by haris — 2009/01/18 @ 10:06 am
  7. Etnis Catalan kerap diposisikan sebagai “yang lain” oleh pemerintahan Spanyol yang dikuasai etnis Basque.

    Ahem, Bukannya etnis Basque juga suku minoritas di Spanyol bro? Lebih kecil dari Catalan malah. :D

    Comment by jensen99 — 2009/01/18 @ 12:49 pm
  8. Biar sepakbola tetap enak dinikmati sbg tontonan & bisnis kali. Klo dah bau politik jd serem…

    Comment by BudiTyas — 2009/01/18 @ 12:50 pm
  9. Lupa komen soal bola… :P
    Ya, AFAIK, pada level klub, seperti Barcelona, ada banyak klub yang mewakili identitas tertentu. Athletic Bilbao juga klub ‘separatis’ milik suku Basque; Glasgow Rangers katanya mewakili loyalis Skotlandia yang Protestan, sementara Celtic mewakili pendatang Irlandia yang Katolik dsb. CMIIW
    Ada yang bilang juga kalo sepakbola (terutama antar negara) sangat populer karena dianggap mewakili “kebutuhan manusia untuk berperang dan menaklukkan”. :mrgreen:

    Comment by jensen99 — 2009/01/18 @ 1:26 pm
  10. ga ilmiah babarblas kok dadi paper…kuliah neng endi to mbiyen?

    Comment by pitik — 2009/01/18 @ 3:56 pm
  11. – apakah tim nasional indonesia bisa mengalahkan oman? voor siji untuk oman!

    *semoga nasib endonesa ga separah singapura yang disikat iran 6-0

    Comment by nothing — 2009/01/18 @ 7:35 pm
  12. ha ha jadi ingat dulu pernah gabung dan bangga banget menjadi bagian dari kesebelasan bola yang namanya MBFA ( Menteng Boys Football Asociation ) yang mangkal di stadion Persija Menteng.
    Sementara waktu SD, di lapangan dekat rumah, bikin klub namanya STRONGEST..
    Jadi memang harus patriotik ya.
    Jadi ingat salah satu bukunya – buku bacaan anak anak – Arswendo, yang judulnya lupa..tentang sekelompok anak anak yang mendirikan klub bola, dan dikaptenin oleh seorang perempuan – namanya Kunti – yang jadi kiper, hingga sampai pertandingan besar dia baru ketahuan perempuan. Diceritakan juga ada perdebatan memilih nama klubnya yang akhirnya harus nama nama garang.

    Comment by iman brotoseno — 2009/01/18 @ 7:42 pm
  13. @mas iman
    Jadi inget, dulu saya pernah nonton filem yang mirip. Anak perempuan yang hobi main bola dan nyamar jadi anak laki-laki. Judulnya “Bekisar Merah”.

    Comment by edel — 2009/01/21 @ 12:18 pm
  14. zen, sampeyan ini dulu kuliah di jurusan apa, kok ada teori olahraga? “dasar-dasar sejarah dan olahraga” kah, wkkkkk….

    Comment by cah ilang — 2009/01/21 @ 1:13 pm
  15. wah skripsi kayak gini? kok seru? hehe..

    Comment by aRdho — 2009/01/21 @ 9:56 pm
  16. aku mbiyen gawe klub jenenge aborigin
    tapi babar blas ra ono sangkut paute karo kanguru nang australi…
    la nyambunge nang ndi ya aku ra ngerti..
    tapi tulisanmu cukup mencerahkan..najan rodo ra ilmiah tapi nyata

    Comment by gopal — 2009/01/26 @ 10:36 pm
  17. ulasan yang menarik? masih fans nya MU kan bro….?

    Comment by opik — 2009/01/29 @ 12:44 pm
  18. ciao zen,
    Sepertinya johan cruyff agak beda dgn sang kaisar yang bermain total serang dan selalu menyerang. Johan sepertinya gak selalu begtu karena diakan bwa pesan dri rinus yg jelas bgt gak sama metodenya dgn jerman. Kalo kamu teliti pasti kamu tahu? Salam ya buat dosenmu
    Ciao ciao

    Comment by gobbie — 2009/02/23 @ 12:21 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity