– yahudi yang maskulin dan tuhan yang doyan perang
Sukar dibayangkan, tapi beginilah Karen Armstrong membayangkan tuhan-tuhan pagan: “Paganisme pada dasarnya merupakan keyakinan yang toleran: kultus-kultus lama tidak merasa terancam oleh kedatangan tuhan-tuhan baru, selalu ada ruang bagi tuhan-tuhan lain di kuil untuk berbagi tempat di altar dan duduk berjejer berbagi sesembahan tradisional.”
Saya membayangkan tuhan-tuhan sedang prasmanan sesajen. Sambil omong-omong ngalor ngidul, kongkow-kongkow dan menghisap cerutu. Semacam kopdar tuhan, barangkali. Kopdar blogger dijamin gak ada apa-apanya, kalah seru ![]()
Tapi, Y-H-W-H datang “merusak kopdar-kopdar tuhan” itu.
Jika Anda membaca kembali bab 1 dan 2 buku indah Sejarah Tuhan, akan banyak sekali ditemukan paragraf yang menggambarkan bagaimana Y-H-W-H berusaha sekerasnya untuk mengalahkan tuhan-tuhan yang “demen prasmanan sajen itu”. Berkali-kali, orang-orang Yahudi ingkar kesetiaan untuk berpaling kembali kepada dewa-dewa pagan orang Kana’an dan saat itu pula Y-H-W-H muncul kembali melalui serangkaian epifani kepada para nabi yang lantas diutus untuk mengingatkan agar orang Yahudi kembali menyembah Y-H-W-H.
Salah satu alasan penting kenapa orang Yahudi sering berpaling dari Y-H-W-H adalah karena sudah sangat lama Y-H-W-H dianggap sebagai dewa perang. Tidak heran jika pada masa-masa paceklik, saat kemarau panjang melanda, orang-orang Yahudi kembali memuja dewa-dewa pagan, dari mulai dewi kesuburan, dewi hujan, sungai atau air.
Beda cerita jika situasi yang dihadapi adalah represi dari kekuatan politik lain atau ancaman peperangan dari imperium yang tak bersahabat. Dengan segera, Y-H-W-H kembali dipuja dan disembah.
Will Durant pernah menyebut bahwa para penulis lima kitab Perjanjian Lama lebih sering menggambarkan Y-H-W-H sebagai tuhan yang ganas, juga imperialistik. “Ia tak akan membawakan omong-kosong seorang pencinta damai,” kata Durant, “(Sebab) ia tahu bahwa Tanah yang Dijanjikan sekalipun hanya dapat direbut, dan dipertahankan, dengan pedang ia dewa perang karena ia harus demikian…”
Ada banyak cerita dalam kitab-kitab Perjanjian Lama tentang Y-H-W-H yang unggul dalam situasi-situasi yang lebih membutuhkan tenaga, otot dan pedang. Salah satu contoh yang paling legendaris dan selalu diingat oleh orang Yahudi adalah saat Fir’aun menolak membebaskan Musa dan pengikutnya dari Mesir, sebuah cerita yang masyhur dengan sebutan “Pembebasan dari Mesir”.
Saya kutip dari Amstrong lagi: “…Tuhan mengirimkan sepuluh macam wabah mengerikan kepada Mesir. Sungai Nil menjadi darah, daratan dipenuhi belalang dan katak; seluruh negeri diselimuti gelap gulita. Akhirnya Tuhan menampakkan wabah yang paling mengerikan dari semuanya: dia mengutus malaikat maut untuk mencabut nyawa setiap bayi lelaki pertama di seluruh Mesir, sembari membebaskan budak-budak Ibrani.”
Fir’aun terpaksa membebaskan Musa dan pengikutnya. Tapi ia berubah pikiran dan mengejarnya. Selanjutnya, Anda bisa menebak, Tuhan lagi-lagi berperan dalam wataknya yang agresif melalui “pembunuhan massal” di Laut Merah.
Inilah Yahweh Sabaoth: Tuhan Para Tentara.
Orang-orang Israel sudah cukup paham bahwa Y-H-W-H amat bisa diandalkan dalam situasi perang dan tertindas. Ini bermakna ganda: di satu sisi melahirkan teologi pembebasan yang membela orang-orang tertindas, tapi sisi lain membuat teologi sarat dendam dan darah tetap menjadi sesuatu yang laten.
Tapi, lagi-lagi, orang Israel memang sukar melepaskan diri dari kultus pagan. Saat menetap di Kana’an, mereka kembali menyembah Baal, tuhan bangsa Kanaan, juga Asyera dan Anat, yang dipercaya tangguh dalam menyuburkan tanah dan menumbuhkan tanaman pangan.
Will Durrant, juga Karen Amstrong, kemudian juga menemukan bahwa Y-H-W-H yang ganas dan doyan perang itu pelan-pelan mulai digantikan oleh sesuatu yang lebih lembut dan penuh kasih sayang. Amstrong menisbahkan perubahan ini terutama pada kemunculan para mistikus Yahudi, seperti Rabi Yehezkiel hingga Rabi Akiva. Lantas muncul pula sekte farisi. Prakondisi inilah yang memungkinkan sosok lain bisa lebih mudah diterima karena prasyaratnya sudah tersedia: Yesus yang mewedarkan ajaran kasih sayang.
Masalahnya, pengasingan dan penghinaan panjang yang dialami orang-orang Yahudi bahkan hingga paruh pertama abad 20, membuat watak maskulin Y-H-W-H berpeluang kembali hadir, tentu saja dalam visi yang berbeda dan lebih kontekstual dengan situasi zamannya.
Salah satu responsnya adalah pendapat agar dibangun dan dikembangkan kembali gagasan tentang orang Yahudi yang berotot, maskulin dan kuat secara fisikal. Inilah proyek yang disebut Theodore Herzl sebagai “a new Jew” atau “aus judenjungen junge juden ze machen” (to form young jews out of Jewish lads).
Sepertinya ini gagasan aneh. Kalau bicara sumbangan orang Yahudi dalam tradisi intelektual, bahkan orang paling rasis di Eropa pun mengakui Yahudi bukanlah anak bawang. Sekadar menyebut beberapa: Freud dalam psikologi, Marx dalam filsafat dan ekonomi, Kafka dalam sastra hingga Schonberg dalam musik.
Tapi dalam soal otot, katakanlah olahraga, amat janggal ketika itu dibicarakan. Tapi keadaan memang membuat gagasan ini tak bisa tidak mulai ditengok. Situasi berbahaya yang dihadapi orang-orang Yahudi di Eropa memaksa mereka untuk punya kekuatan otot, ketangguhan fisikal. Inilah saat dimulainya kampanye, meminjam istilah Michael Benner dalam pengantar untuk buku Emancipation Through Muscle, “transforming the jewish body”.
Sebenarnya gagasan ini tak baru-baru amat, tapi keadaan yang membuatnya kali ini berbeda. Pada 1788, misalnya, seorang Yahudi bernama Abbe Gregoire sudah menulis esay menarik berjudul “The Physical, Moral, and Political Regeneration of the Jews”. Di sana sudah dipaparkan beberapa contoh orang Yahudi yang punya prestasi penting dalam dunia gymnastik, dari mulai era Romawi hingga modern.
Pada sekitar terbentuknya gerakan zionisme atas inisiatif Herzl, gagasan tentang tubuh Yahudi yang berotot sudah mulai masuk ke dalam gagasan emansipasi Yahudi yang tidak cukup hanya dengan pembebasan mental.
Nama Max Nordau pantas dikenang dalam kontestasi ini. Dia adalah orang penting pada awal internasionalisasi gerakan zionis selain Herzl. Dia juga datang pada konferensi di Basel yang diprakarsai Herzl. Nordau datang dengan pakaian yang casual, cenderung acak-acakan. Ini menggangu Herzl yang menginginkan konferensi ini berlangsung rapi dan jika perlu mewah untuk melahirkan imaji zionisme sebagai gerakan yang beradab dan sesuai dengan tata kesantunan Eropa. Herzl pula yang memaksanya mengenakan jas dan dasi.
Pada Kongres Zionis kedua 1898, dengan sangat ambisius, ia bicara dengan lantang: “We have to think of how to recreate a muscle Jewry.”
Itu sebabnya, pada 1903, ia menulis buku terkenal berjudul Jewry of Muscle pada 1903. Buku itu sebagai seruannya agar Zionisme menghidupkan kembali citra Yahudi pra-diaspora yang berwatak maskulin yang kukuh dan berotot. Ini menjadi cukup relevan dan punya tempat dalam psikologi kolektif Yahudi, terutama merujuk konsep teologi Y-H-W-H sebagai sebagai “jagoan” dalam urusan peperangan.
Pada halaman 26 bukunya, ia menulis: “Our new muscle-Jews [Muskeljuden] have not yet regained the heroism of our forefathers who in large numbers eagerly entered the sports arenas in order to take part in competition and to pit themselves against the highly trained Hellenistic athletes and the powerful Nordic barbarians. But morally, even now the new muscle-Jews surpass their ancestors, for the ancient Jewish circus fighters were ashamed of their Judaism and tried to conceal the sign of the Covenant by means of a surgical operation,… while the members of the “Bar Kochba” club loudly and proudly affirm their national loyalty.”
Momentumnya sudah didapat pada 1896 saat Olimpiade modern pertama digelar: atlet Yahudi mempersembahkan enam medal emas. Sejak itulah, orang-orang Yahudi makin percaya bahwa “tubuh bangsa Yahudi” tak kalah dengan “tubuh ras Arya”.
Ahmad Sahal pernah menyinggung soal Nordau ini, terutama dalam kaitannya dengan konsep “warga negara-sebagai-tentara” di Israel yang mewajibkan setiap warga negara, laki dan perempuan, mengikuti program wajib militer. (Namun, ini tidak berlaku bagi warga Yahudi-Arab alias Mizrahi, untuk membedakannya dengan Yahudi-Eropa yang disebut Askhenazi).
Butuh kajian yang lebih serius untuk mencari benang merah yang meyakinkan antara maskulinitas Y-H-W-H dan legenda ketangguhan orang Yahudi pada masa silam dengan perilaku pemerintahan Israel 1948 yang sepertinya amat mudah melontarkan roket dan menjatuhkan bom seperti yang kita lihat pada hari-hari terakhir ini.
Pada dasarnya, semua agama rumpun Ibrahim atau Abraham (sebagian menyebutnya agama langit, istilah yang aneh dalam cita rasa saya) punya rekam jejak masing-masing dalam perkara mencecerkan darah atas nama Tuhan.
wah, lama ga main ke sini, eh tulisan barunya udah banyak oy … btw, “pendapat agar2″ itu maksudnya gimana? istilah yang menarik
“Butuh kajian yang lebih serius untuk mencari benang merah yang meyakinkan antara maskulinitas Y-H-W-H dan legenda ketangguhan orang Yahudi pada masa silam dengan perilaku pemerintahan Israel 1948 yang sepertinya amat mudah melontarkan roket dan menjatuhkan bom seperti yang kita lihat pada hari-hari terakhir ini.” ohoho, sudut pandang orang beda2 ya? ni pengen ada analisis faktor yang rada intrinsik kayaknya?
orang lain ada yang berpendapat, “ini isu apa lagi sih yang sedang disembunyikan, sampe2 ’senjata terakhir’ (konflik israel-palestina) dikeluarin?”
[Reply]
Entah kenapa hal yang pertama kali terlintas di pikiran saya ketika membaca ini adalah konsep Ubermensch-nya Nietzsche…
[Reply]
agama yang maskulin vs agama yang feminin. belakangan, sosok ke-Tuhan-an yang feminin (bulan dan bukan matahari, ibu bumi alias mother earth, cinta alih-alih perang) banyak menjadi latar belakang novel2 Coelho
novel2 yang laris manis dan menjadi best-seller di berbagai belahan dunia. apakah ini karena orang-orang mulai merindukan ke-Tuhan-an yang lebih ramah?
[Reply]
Kaitan perang & Tuhan nampaknya sangat erat dgn persatuan. Saat persatuan dan dukungan tidak bisa dijalin via kepentingan, maka kesatuan bangsa/ras dikumandangkan. Jika itu tidak mempan juga, agama dijadikan landasan. Di perang israel-palestina, yang terakhir itu komoditas menarik. Nggak heran yg nggak tahu apa - apa pun ikutan demo/arak2an.
[Reply]
*membayangkan kopdar tuhan*
[Reply]
kata Maalouf, bukan hanya manusia yang dipengaruhi agama, tapi juga manusia memengaruhi agama. bukan hanya Tuhan yang memengaruhi manusia tapi juga manusia yang “memengaruhi” Tuhan.
[Reply]
dalam perbincangan dengan seorang kawan, saya menangkap pesan kuat dalam salah satu perkataannya. kurang-lebih dia bilang:
“ada penindasan terhadap yahudi. biarlah, saya bukan yahudi. lalu, ada penindasan terhadap etnis tiong hoa, biarlah, saya bukan tiong hoa. lalu, suatu kali kita menyesal karena berada di posisi mereka. kenapa? sikap diam kita, cepat atau lambat, menjadikan tirani bertumbuh subur.”
bukan karena santri aceh punya misil, mereka siap ke palestina melawan raksasa militer timur tengah (israel). bukan soal komoditas atau apa, publik di banyak negara berdemo dan ikut arak-arakan.
ini adalah tentang hal kecil yang sering kita lupakan; SOLIDARITAS.
karena itu, saya menghargai para penyampai solidaritas (bagi warga palestina, myanmar, tibet, irak, atau bangsa manapun) meski hanya bisa berdemo dan arak-arakkan. di situlah saya melihat betapa manusia mampu menghargai kemanusiaannya.
***
menurut saya, ada dua pola teologi di dunia ini: teologi pembebasan yang bisa berkonsekuensi pada darah, dan teologi pelarian atau eskapisme yang (sayangnya) tetap berkonsekuensi pada darah (karena memilih doktrin tidak melawan ketika ditindas).
sementara di luar sana, dunia bukanlah surga. machaira dewi justisia dan pedang putih kalky avtar tak bisa disarungkan begitu saja.
[Reply]
Memang benar solidaritas harus kita tumbuhkan, namun harus didasari pengetahuan agar tidak terjebak sentimen atas nama agama tanpa tahu duduk perkaranya. Pengetahuan itu membuat setiap langkah kita beralasan. Tanpanya, 2 tukang becak beda agama yg berantem karena togel bisa berkembang jadi perang antar suku & agama. Itu hanya karena terlalu berpijak pada 1 kata. Solidaritas.
[Reply]
Saya pikir itu juga dipengaruhi kebiasaan jaman itu tuk menyembah sesuatu yang bisa dilihat (patung dewa/dewi). Hal yang dilarang keras oleh Y-H-W-H, tapi susah dipertahankan berhubung tidak tuntasnya genosida di Kanaan.
Y-H-W-H yang sama, yang membawa mereka pulang ke tanah yang sama, seharusnya membawa jaminan menang perang yang sama pula.
[Reply]
mikir israel barang sugih men wektu kowe dab.. mending wektu selo dinggo kramas, creambath dsb ben tambah ayu iso dinggo bahan coli
[Reply]
mending kowe nyirami tuhanmu wae..wit-witan kae lho..sembari kramas lan creambath…
[Reply]
Y-H-W-H sebagai dewa perang? Wah, baru denger itu. Sayangnya yang dikutip di tulisan ini hanya kisah bangsa Israel yang berseru pada Tuhan saat keadaan perang.
Kalau Kitab Taurat dibaca dengan lengkap, banyak terdapat masa-masa bangsa Israel berdoa pada Y-H-W-H. Salah satunya saat mereka kelaparan di Padang gurun Sin, 1.5 bulan setelah keluar dari Mesir.
[Reply]
[Revisi euy, paragraf 2]
Kalau Kitab Taurat dibaca dengan lengkap, banyak terdapat masa-masa bangsa Israel berdoa pada Y-H-W-H pada keadaan non-perang. Salah satunya …
[Reply]
nyiram tuhan jangan pake sunsilk, ndak lemes kek rambutmu ntar.
*baru tau kalo elu bikin posting gini buat minimizing damage gara2 kita ngomongin malekat kanan-kiri*
[Reply]
menurut saya, nafsu berkuasa lah yang membuat peperangan itu tetap ada di dunia. dengan atau tanpa membawa nama tuhan.
manusia itu (sesuai kodratnya)memang mahluk penumpah darah.
[Reply]
pengetahuan apa lagi yang harus dipelajari untuk bisa menarik kesimpulan bahwa pembinasaan warga sipil di palestina saat ini benar-benar salah?? butuh berapa buku lagi yang harus dibaca untuk memahami itu??
aih.. betapa kerdil otak yang membenturkan analogi solidaritas atas TRAGEDI SEBUAH BANGSA dengan solidaritas a la tukang becak.
semasa SMA dulu, saya mengenal prinsip “apple to apple” dalam menarik analogi, agar tak terjebak dalam falasi. semoga prinsip ini dipahami, sebelum bicara soal agama.
[Reply]
Lha ngapain mempertanyakan benar-salah pembinasaan warga sipil di palestina? Orang jawabannya udah jelas. Ndak ada yg ngebantah…, nampaknya #debukaki menyusuri jejak yg salah dari apa yg ingin saya kedepankan.
Pembinasaan warga sipil di mana - mana adalah salah, ga cuma di palestina. Tidak harus jadi agamawan untuk tahu itu. Jadi, mengapa harus bawa2 agama & Tuhan? Nggak harus islam, kristen, katolik, etc,…ateis sekalipun harusnya tahu kalo ngerasa masih manusia. Ini tentang kemanusiaan. Selama solidaritas itu tidak ditempatkan dalam konteks kemanusiaan, saya tetap menganggap mereka (parpol islam tertentu, ormas islam tertentu, dan semacamnya) menjadikan perang israel-palestina sebagai komoditas dimana faktor agama lebih dikedepankan. Saya tdk setuju meski itu adalah kelompok2 dalam agama saya sendiri. Poin saya sebenarnya di situ.
[Reply]
Zen,
Dalam teologi kristiani, dipahami ada tiga tahap cara kerja Tuhan.
Pada perjanjian lama, Tuhan bekerja dengan cara keras (represif). Salah satu contoh pertama adalah kecaman terhadap Adam-Hawa dan ular (iblis).
Pada perjanjian baru, melalui reinkarnasi Yesus (Isa al Masih), Tuhan bekerja dengan lembut dan kasih (persuasif).
Pada masa setelah itu, masa pasca Yesus mati, Tuhan bekerja melalui roh kudus (lebih persuasif) dengan menuntut kesadaran umat.
Kenapa Tuhan bekerja dengan cara2 berbeda, itu kekuasaan Dia. Aku sendiri nggak bisa jawab. :d
[Reply]
BUDITYAS bertanya: “Lha ngapain mempertanyakan benar-salah pembinasaan warga sipil di palestina? Orang jawabannya udah jelas.”
oh, begitu.. kalo sudah jelas, lalu mengapa ada orang yang nulis kaya ini: “Nggak heran yg nggak tahu apa - apa pun ikutan demo/arak2an.”
I’m just wondering.. very wondering.. adakah orang yang BEGITU BLOON sehingga TIDAK TAHU APA-APA–alias ngga punya cukup pengetahuan–menimbang arti 900 korban tewas sipil dan 4.000 warga luka, lalu.. si BLOON ini ikut demo berbekal ketidakpahamannya itu?
jika jawabannya tidak ada (karena tak harus jadi agamwan untuk tahu itu), maka saya pikir yang bloon bukan mereka yang berdemo dan arak-arakkan itu, MELAINKAN yang menganggap bahwa DEMO-DEMO mereka itu dialasdasari jualan komoditas agama (dan bukan karena solidaritas kemanusiaan)
..which is sangat PICIK, dan tak lain merupakan aksi pamer falasi di muka umum bermodus ARGUMENTUM AD VERECUNDIUM. maksud saya, adakah otorisasi dan bukti untuk menuduh pendemo itu adalah korban jual-beli isu agama? jika tidak, maka budityas sedang membangun asumsi dari imajinasi..
tanpa repot menjual isu agama, semua orang (ga cuma muslim) bisa dengan mudah terketuk solidaritas mereka demi melihat ratusan nyawa sipil melayang. mereka SAMA-SEKALI TIDAK BERHAK dituduh sebagai korban jual-beli isu agama.
***
tanggapan BUDITYAS di atas makin memperkuat saran saya: pelajari dulu lah prinsip ‘APPLE TO APLLE’ sebelum ngomong soal agama, agar tak GEGABAH bicara ‘ngomoditasin agama’.
[Reply]
Emang yg berdemo itu dimulai setelah ada info korbannya segitu banyak? Israel nyerang palestina saat itu jg langsung pada demo kok. Mbok nonton tipi bos…,
Apa iya pendemo segitu banyak tu semuanya tahu duduk perkaranya? orang masalah apa & kenapanya aja baru dilansir kemudian…,korban berapa jg belum dihitung…
ARGUMENTUM AD VERECUNDIUM..apa pula ini, halah…yg pamer tu siapa sie..hehe, bahasa jawa aja deh klo bhs indo sulit..;p
[Reply]
BUDITYAS: “Apa iya pendemo segitu banyak tu semuanya tahu duduk perkaranya?”
nah, ini persoalannya. kalo sampeyan belum tau, jangan seenak udel menghakimi orang berdasarkan asumsi pribadi (yang dibangun di atas imajinasi)kecuali anda punya data valid.. gitu bos.
lalu, pelajari dulu lah ‘apple to apple’. kalo dah ngerti, nanti saya kasih tau argumentum ad verecundium itu apa. saya cuman ga tega ngeliat orang sok teu (bahasa jawa, kemlenthus) pamer falasi.
[Reply]
Tuh kalimat jgn dipotong2, asal ada tanda tanya dicomot buat dicounter..baca keseluruhannyalah. Kan sudah saya tulis alasan saya. Berita masalah & korban belum dilansir je.., anda minta rekaman kronologisnya?
Tambahan lagi, kalo anda liat tipi, ada demo anak2 TK/SD sambil nyambitin bendera israel. Mereka yg masih suka ngompol diajak demo. Klo anda bilang mereka tahu duduk perkaranya yah monggo, silakan..
Anda tetap nyuruh saya nunjukin orang2nya untuk memuaskan ego anda tentang BUKTI yg berupa angka? Ato minta dikenalin satu2 skalian? kekekekek…
Mending saya ngalah bos,…
Track aja komen itu ke atas,..yg ingin pamer itu sebenarnya siapa sie, hehehe. Ndak perlu ngajari saya, bahasa indo saya udah lumayan kok, ga perlu diajari aneka istilah cuman biar keliatan pintar…:-)
[Reply]
bagus-bagus.. sekarang BUDITYAS mengira anak TK ga ngerti arti darah dan kematian, sehingga tak layak ikut bersolidaritas (dan jadi korban jual-beli isu agama?).
cih.. lagi-lagi falasi yang menjijikkan dipamerkan!! memang kelakuan..
yang lebih parah, BUDITYAS NGIBUL tentang belum adanya jumlah korban yang dilangsir ketika pecah aksi protes dan demo.
PADAHAL, di hari pertama invasi israel (27 Desember), angka pasti jumlah korban palestina telah dilangsir sampe ke tanah air, yakni 140 jiwa.
nih baca:
http://kompas.co.id/read/xml/2008/12/27/20540150/mesir.kecam.serangan.israel.di.gaza
jadi, belum ada angka korban yang pasti?? BUDITYAS lagi-lagi pamer kibulan.. 140 JIWA tak berdosa MEREGANG, man! ke mana aja, loe? tirakat ama sultan jogja???
lalu, pada 30 Desember ALIAS di hari keempat serangan israel, media AS mencatat telah ada 100 kali aksi demo menentang invasi itu. baca ini:
http://dc.indymedia.org/feature/display/131641/index.php.
apa berarti orang AS itu korban isu jual-beli agama (karena jumlah korban palestina belum cukup banyak)?? pale loe..
***
mo ngomong apa lagi sekarang? mo bilang saya lagi pamer link pada anda? hahahaha.. yah, ga apalah. at least saya ga pamer KIBULAN dan KESESATAN LOGIKA PIKIR.
soal kepintaran, itu milik Allah. yang jelas, bukti yang saya paparkan di komentar ini menunjukkan kesalahan logika akal anda. sebelum anda ngalah, tolong itu dibenerin dulu..
[Reply]
Heheh.., kerja keras ya..
kejauhan dr point saya sebenernya.
back to my point #17.
Kalo anak2 ngerti darah, banyak kok pembantaian di afrika. Kok ndak ikutan demo? Atau, krn ga ada yg nyuruh? Anak2 loh…, Nyak babenya aja g ikutan demo,..beda agama sih…
ayo..cariin link lagi donk :p
[Reply]
semula BUDITYAS bilang: “Kan sudah saya tulis alasan saya. Berita masalah & korban belum dilansir je..,”
lalu saya tunjukkan FAKTA bahwa masalah & korban sudah dilangsir sejak pertama serangan, yang memicu DEMO.
lalu apa tanggapan BUDITYAS: nol. TAK MAMPU DIA MENGELAK KARENA KELIATAN KETIDAKBERESAN CARA PIKIRNYA, sama persis ketika saya tunjukkan FALASI di balik analogi di komentar #8.
kematian anak-anak afrika? kapan? di mana? tunjukkan fakta, baru kita bicara apakah fakta itu serta-merta MEMPERKUAT argumen anda bahwa anak-anak yang ikut demo israel itu korban jual-beli isu agama.
soal beda agama?? pale loe.. lihat di SOlO, anak-anak SD kristen menunjukkan solidaritas mereka. apa itu berarti mereka TAK TAHU APA-APA dan DIPOLITISIR? halah.. pale loe..
nih baca lagi link (jangan khawatir, ada banyak):
http://www.solopos.co.id/zindex_menu.asp?kodehalaman=h33&id=255413
ya, saya selalu kerja keras, karena selalu berusaha bicara dengan fakta, dan bukanya pamer BUALAN tanpa FAKTA. saya tanya: adakah fakta yang bisa anda sodorkan?? tak satupun.
***
@zen: bro, ruang publikmu ini kupinjem sedhelo. biasa, u know me lah.. wekekekeke
[Reply]
#17,
Konflik berbau agama lebih mudah utk ngumpulin orang buat demo dibanding yg nggak, meski korbannya sama2 banyak. Apalagi menjelang pemilu. Itu aja.
Heheh.., sori kalo sy ga akan kasi link dll.
Males. Lebih banyak penghakiman drpd diskusi.
Opini tetaplah opini.
[Reply]
Yahudi…..
adalah bangsa besar dan mulia(dulunya). lembar” kitab suci tersita banyak menceritakan mereka. tapi begitulah mereka, lurus ketika dibangkitkan nabinya dan segera sesat saat nabinya wafat. keasyikan merekalah sebenarnya semua kajian teologi, dari mereka pula sumber pembelajaran teologi.
belajar teologi konon diasumsikan sebagai olah pikir. saya pernah dpt oleh-oleh buku yg isinya rumusan kiprah mereka dan ketika saya baca dan fahami, jujur sulit sekali membersihkan akal saya dari virus yg tertular.kalo boleh mengutip bahwa org ateis justru yg paling banyak memikirkan tuhan………. wah nek mikir kok ndak percaya. eh…. ateis juga campur tangan mereka. saya ndak nyalahkan, tapi…. apa mau ngikut mereka. orang besar adalah yg memikirkan hal-hal yg perlu. dan mereka (telah) gagal mjd bangsa terunggul, mjd rendah dan hina mengingat sepak terjangnya.
[Reply]
BUDITYAS, saya 100% setuju dengan poin anda di nomor 17. namun yang saya persoalkan bukan itu, melainkan PENGHAKIMAN anda terkait motif para pelaku aksi demo.
dan jangan khawatir, orang yang gemar menghakimi biasanya emang hanya bisa bicara di tataran opini, BUKAN fakta.
[Reply]
hehehe, paragraf terakhir, jadi ingat kemarin habis diceramahi pendeta soal abrahamic faith. ide tentang bersatunya agama-agama dari abraham (agama langit?),…
[Reply]
yo…luwih apik le, Zen…iki tulisan
[Reply]