Munyuk
Buku “Dutch Culture Overseas” karya Dr. Frances Gouda menarik untuk dicermati karena ia mencoba menguraikan bagaimana persepsi kolonial dan orang-orang Belanda tentang Hindia Belanda dan penduduknya, berikut segala macam sikap hangat, rasa hormat, sinisme, hingga rasisme.
Dari semua bab di buku ini, bab 4 menjadi bagian paling menarik. Di bagian ini Dr. Gouda memaparkan bagaimana orang-orang Belanda (sekaligus juga orang Eropa) membangun pemahaman ihwal siapa sebenarnya “orang-orang pribumi”. Secara ringkas, bab sepanjang 75 halaman ini menguraikan bagaimana prasangka rasial terhadap orang-orang pribumi dibangun. Dengan menelusuri artikel-artikel, catatan perjalan, guntingan berita, catatan harian, surat-surat dan novel-novel, penulisnya mencoba memaparkan betapa “rendahnya” orang-orang pribumi di mata orang-orang Eropa kala itu.
Bab ini menarik secara intelektual karena penulisnya mengkonfirmasi kutipan-kutipan yang digunakan dengan teori-teori evolusi, dari Darwin, Ernest Haeckal, Herbert Spencer, hingga Lamarck. Tapi bab ini juga lumayan menjengkelkan karena dipenuhi kutipan yang menceminkan “rasialisme” Eropa yang memirip-miripkan penduduk Hindia Belanda dengan kera.
Contoh “kekasaran rasialis” yang dibungkus dengan retorika ilmiah bisa kita temukan dari kutipan psikiater Belanda yang bekerja di Jawa pada 1920-an. Dia bilang: “Laki-laki dan perempuan Jawa dewasa masih memperlihatkan kelemahan psikologis khas anak-anak karena kaum inlanders itu masih berada pada tahap awal perkembangan evolusi mereka.”
Dalam kosa kata Dawinian, dengan merujuk kata-kata Richard Dawkins, kutipan di atas bisa dibaca dengan cara begini: “Para inlanders itu masih berada pada tahap transisi sebagai kera besar yang memulai proses menjadi homo sapiens (manusia).”
Simak juga kutipan novel PA Daum berjudul Nummer Elf (Nomer Sebelas) yang menjadi ilustrasi pandangan rasialis orang-orang Eropa yang sengak: “Siapa yang berani memanggil mahuk-mahluk ini (pribumi)? Yang matanya lebih menyerupai kera daripada orang-orang berkulit merah di (Amerika Utara) yang jinak.” (pribumi di sini bahkan disebut lebih mirip kera ketimbang orang-orang Indian di Amerika)
Coba bandingkan kutipan-kutipan itu dengan pernyataan Lamarck yang berbunyi: “Ras-ras yang lebih rendah secara psikologis lebih dekat dengan mamalia sejenis kera dan anjing daripada orang-orang Eropa yang beradab!”
Kutipan Lamarck itu juga saya baca dari buku kecil tentang Richard Dawkins yang diterbitkan Jendela pada 2002. Ketika membaca kutipan Lamarck itu beberapa bulan lalu, saya tak merasakan apa-apa. Biasa saja. Datar. Tapi, ketika saya ingat kutipan itu setelah membaca buku Frances Gouda yang memberikan konteks historis bagaimana pandangan Darwinian macam itu beroperasi di Hindia Belanda, ujung-ujungnya saya merasa sedikit jengkel juga.
Saya jadi mengerti kenapa para pejabat kolonial dulu, juga koran-koran pada awal abad 20 di Hindia Belanda, senang betul dan bahkan penuh semangat melaporkan kesaksian orang-orang yang bertemu dengan “manusia kerdil” di belantara Sumatera di sekitar Jambi.
Saya menyimpulkan, orang-orang Eropa di Hindia Belanda ternyata masih terobsesi dengan konsep “missing link” dalam teori Darwin dan bahkan sampai pada tahapan mencoba meyakini bahwa ada kemiripan yang sahih antara manusia pribumi dengan kera-kera besar yang ditemukan di belantara Sumatera dan Kalimantan.
Saya membayangkan bagaimana jengkelnya perasaan para pemimpin pergerakan kalau membaca kutipan-kutipan itu. Sayangnya, satu-satunya kutipan dari pemimpin pergerakan nasional yang saya temukan pernah menyinggung-nyinggung pandangan Darwinian itu justru seperti menerima saja dan bukannya marah.
Ya, saya ingat pernah membaca kutipan Tjiptomangoenkoesoemo yang ada menyebut-nyebut proses evolusi itu. Dalam salah satu pidatonya di Volksraad yang (kalau saya tidakk salah) membicarakan tentang Bali, seorang Tjiptomangoenkoesoemo yang dikenal berani dan punya nyali yang tantang-menantang, pernah menyebut kemerdekaan sebagai “kondisi utama dan penting bagi proses evolusi kaum pribumi”.
Saya senyum-senyum kecut gimana gitu kalau ingat kutipan Tjipto itu. Tapi saya juga membayangkan: Lamarck juga pasti senyum-senyum penuh kemenangan kalau tahu hal ini.
Kalau Pram, saya yakin dia adem-adem saja. Sebab Pram sepertinya sudah sangat sadar hal itu. Jangan heran jika Pram menamakan tokoh utama dari kuartet novel Pulau Buru dengan sebutan Minke (plesetan dari “Monkey”).
Penulis buku ini, DR. Frank Gouda, menyebut pilihan Pram itu sebagai kemampuan menertawakan yang canggih.
ya,priyayi pribumi walaupun dpt panggilan kanjeng gusti ndoro juragan ya tetap aja kurang pede di depan sinyo&noni. sukarno aja sampai mengencani noni belanda baru dia yakin kalau dia adalah manusia seutuhnya….
padahal, darwinisme kan cuman teori yang belon kebukti dan malah dipatahkan oleh penganut creationisme. gimana atuh?
lho, kata siapa kalo kreasionisme sudah terbukti mematahkan teori darwin?
Kok ironis banget. Belanda menilai Hindia Belanda masih berada di tahap awal evolusi (Darwin). Tapi mereka menggunakan rempah-rempah dan sumber bumi kita demi kelangsungan hidup mereka.
namanya juga penjajah..pasti selalu merasa lebih unggul dari yg dijajahnya..
tapi kebangetan beutt!!
oo, teori darwinisme belon terpatahkan tho? lha penemuan fosil puluhan juta taun dari serangga di dominika seperti disodorkan kreasionis adnan oktar kok membantah klaim darwinis bahwa mahluk berubah?
teori pemilihan seksual a la merak belakangan juga diketahui gak mendukung darwinisme. baca Evolution of Living Organisms (Pierre-Paul Grassé), di situ teori mutasi darwinis dibantai.
kecoa yang hidup sejak zaman dinosaurus juga gak berubah? apa teori darwin itu pilih-pilih? kalo emang manusia sekerabat dengan kera, kok ga ada “kerabat” kita itu yang kriting or kribo (apa kera secara kebetulan mencetak gen anti-kriting?) wah, kita kalah dong.. ;D
*ketawa ngakak lihat komen debukaki*
ternyata umat memang masih banyak yg menjadi korban misinformasi..
*masygul*
*pasang toa volume penuh*
SORAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!
sepertinya tugasmu dalam memberi pencerahan kian berat nak
Evolution, berubah, bisa maju maupun mundur. Bung, saya rasa jikalah kita” yg inland dianalisa demikian, kita analisa pula mereka mengalami evolusi mundur (menuju kera) toh secara budaya dan sastra serta pemikiran, ndak lagi mengalami kemajuan. yg ada ya kemunduran….
munyuk tenan cen wong wong kuwi
Kira2, bentuk kepribadian macam apa yang bikin para sinyo itu berpikir bahwa wangsa kita adalah wangsa yang secara evolusioner masih tertinggal ya? Apakah cara berdiskusi kita dan cara kita mencerap ilmu salah satunya?
In that case, ikutan ngetawain aja ah
.
munyuk kowe!
bible bilang: manusia diciptakan serupa dengan Tuhan (Kejadian 1:27). mengikuti teori evolusi, berarti Tuhan kurang lebih sama seperti moyangnya munyuk. jadi, londo itu secara tak langsung bilang orang jawa masih setengah munyuk, sedangkan mereka sudah atau mendekati rupa Tuhan (physically bule?).
BTW, aku masih nunggu SIAPAPUN yang merasa cerah (hanya karena berada sebarisan dengan penganut teori evolusi??) untuk menunjukkan bukti rantai evolusi yang hilang. mana itu fosilnya??? biar aku bisa tercerahkan dari kabut kegelapan teori kreasionisme. wuakakakak..
aduh aku raiso nggawe link :-&
iya e, aku juga kepikiran hal yang sama dengan mas koen #10.
@ debukaki
Saya tidak akan menjelaskan kepada Anda. Tetapi sebaiknya Anda ikuti diskusi di [sini]. Ingat, dibaca baik-baik dengan pikiran jernih dan tidak memihak benar-salah, baik-buruk. Tapi bacalah dengan niat mencari tahu. Dan jangan diloncat-loncati.
Maaf, tapi saya tidak mau mulut saya berbusa lagi untuk menjelaskan masalah teori evolusi vs kreasionisme ini.
@debukaki
Atau anda bisa juga membaca FAQ mengenai teori evolusi [di sini]; Semoga kesalahpahaman anda mengenai teori evolusi (vis-a-vis kreasionisme a’la Adnan Oktar/Harun Yahya) bisa sirna.
@ pandu: saya dah baca situsnya. pening juga liat orang mengritik orang lain, tapi melakukan hal serupa dengan yang dikritik. sama-sama najis..
@catshade: setelah baca-baca, saya liat komentar si empu blog, “Benar, evolusi itu memang bukan fakta. Ia sekadar teori yang kebetulan bisa menggambarkan beberapa gejala alam. Meskipun mempunyai keberhasilan di beberapa aspek, teori tsb juga masih punya ‘lubang’ yang harus dijelaskan.”
done. it’s just theory, belum terbukti benar. sesuai postulat “sesuatu itu salah kecuali terbukti benar” maka janganlah menjadikan evolusi sebagai ideologi, demikian juga sebaliknya untuk kreasionis.
evolusionis ga bisa tunjukkan fosil THE MISSING LINK, namun kreasionis bisa tunjukkan bukti fosil yang membuktikan ‘instant creation on sophisticated creature in cambrium age really exist’.
jadi, 1-0 dong untuk kubu kreasionis?
tapi okelah, sebagai sesama penganut teori, keduanya sah-sah aja saling serang dan mematahkan. tapi, kenapa ada “keturunan nenek moyang munyuk” yang merasa lebih cerah hanya karena menganut teori evolusi?
saya sedih, karena evolusi sepertinya gagal membentuk mereka menjadi pribadi manusia yang posmodernis..
Wah, ada dagelan.
*gelar permadani*
Halo jen keple. Hehehe.
Anak biologi IAIN (UIN) bisa bingung: kok virus flu burung bisa ada? Kabar punya kabar, rupanya waktu kuliah nggak ada mata pelajaran evolusi.
@debukaki
lihat dari komen anda, sepertinya anda masih belum paham arti “teori” di dunia sains bung. Kalo untuk hal yang sesederhana ini saja anda masih belum paham, kok bisa2nya anda mengatakan kalo kreasionisme telah mematahkan teori evolusi?! Sebenarnya anda sudah baca belum seeh link yang udah diberikan pandu? ato cuman baca skiming aja?
*masygul*
*ikutan duduk di permadaninya geddoe*
postingan munyuk, sing komentar munyuk, sing moco yo munyuk. munyuk kabehhhh. wes ra sah padu, ndang golek gedhang, selak mbengi, toko kukutan.
@ agiek
bukan tak paham. saya hanya skeptis, dengan tak menganggap evolusi sebagai ideologi. buktinya, hipotesa darwin dibantah dari berbagai sisi.
mungkin saya berlebihan ketika menyebut teori darwin dipatahkan oleh kreasionis. namun, sejauh ini para evolusionis tak menyodorkan bukti THE MISSING LINK, dan para kreasionis menyodorkan bantahan atas keilmiahan teori darwin.
tanpa bukti, sebuah hipotesa (darwinian) tak bisa dijadikan sebagai fakta. apalagi dijadikan alasan untuk merasa lebih cerah dari kaum kreasionis (demikian juga sebaliknya).
ingat derrida, tunda dulu kesimpulanmu, bung..
bagus! berarti teorinya HY juga nggak bisa dianggap sebagai kebenaran mutlak, kan?
artinya, bisa jadi kita keturunan munyuk dan bisa juga kita bukan keturunan munyuk, tho? yang salah adalah ketika ada anggapan bahwa teorinya HY adalah maha-benar hanya karena menunjukkan ke orang-orang bahwa darwin memiliki missing-link.
saya jadi inget sama diri saya sendiri. kemarin waktu endonesa lawan ostrali, tendangannya musafri melenceng sedikit di samping tiang gawangnya ostrali. saya bisa menunjukkan ke orang-orang kalo tendangannya melenceng, “tuh, liat. geblek betul. tendangannya miring!” tapi saya toh kalo berada di posisi itu belum tentu bisa menunjukkan tendangan yang benar.
saya tau kalo musafri salah. tapi saya hanya bisa menunjukkan kesalahannya tanpa bisa membuktikan kalo saya bisa melakukan yang lebih benar ketimbang dia. tentunya, kalo kayak gitu, saya belum berhak untuk bisa dianggap lebih baik ketimbang musafri, apalagi saya sendiri belum pernah masuk timnas
intinya, sih, bagaimana kita bersikap obyektif pada lubang2 yang ada darwin, tapi juga tidak lantas membabi-buta mendukung HY. maka, tunda dulu kesimpulan anda, bung
@ all:
“Différance”, bukan “Différence”. bukan begitu, saudara-saudara sekalian?
@ zen
bisa bantu nggak? kapan aku bilang teori HY merupakan kebenaran mutlak? di bagian mana aku DUKUNG teori kreasionis bin HY membabi buta?
kalo mbandingin keduanya sih, iya. terus, mengajukan P-E-R-T-A-N-Y-A-A-N (bukan KESIMPULAN) skeptis.
makanya, aku heran ama orang yang ikut-ikutanan ngomong soal ‘tundalah kesimpulanmu’, tapi justru MENYIMPULKAN isi kepala orang lain seenaknya (menghakimi).
ibarat menasehati: “cintailah umat manusia,” sembari mbacok kepala orang yang dinasehati.
tapi, salut juga sih dengan analogi yang menggambarkan MELESETNYA darwin “mengegolkan” teori evolusi, dan celoteh para kreasionis yang TAK BISA MEMATERIALKAN hipotesa mereka.
hipotesa tak termaterialkan = keyakinan imani. CMIIW
saya ndak mengeluarkan statement kalo ada orang yang bilang teori HY adalah kebenaran mutlak lho. saya kan pake tanda “?”
“tunda kesimpulan” itu juga cuma guyon. niru2 aja. makanya ada smileynya
Untuk semua, yang merasa baru kenal teori evolusi, silakan baca ini dulu: http://nationalgeographic.co.id/featurepage/40/darwin-modern/2
Penjelasannya gampang dimengerti. Lumayan untuk mengenal dasar-dasar teori evolusi terkini.
Nah, kalau sudah paham, baru baca buku2nya richard dawkins. Setelah itu, baru baca origin of species.
Kata kunci: tulang, batu, dna, seleksi alam, mutasi, organik
@inal:
sibuk ngopo kowe, ple? dadi anak buahe dani yo saiki?
*akhirnya, sarjana biologi yang “tulen” pun ikut rembug perkara munyuk satu ini. hahahaha….*
Sinau nulis meneh jen (yo, sambil dadi anak buahe dani). Wis sui, aneh rasane.
*akhirnya, sarjana biologi yang “tulen” pun ikut rembug perkara munyuk satu ini. hahahaha….*: Yah, apalagi yg bisa dilakukan sarjana biologi amatir.
Pengikutmu akeh yo? Wis iso gawe sekte kae. Gawe wae jen, mengko aku melu casting jadi nabine (malaikat ya ra popo ding).
Kakakak…,
aku ikut casting jd pengikut wae,
ning seragame ojo melu2 putih2,
gawe sik gaul, hehe
@ setan
ini bukti omongan anda, gak pake tanda tanya di situ. jadi, baca dulu derrida, baru ngemeng. –>
“yang salah adalah ketika ada anggapan bahwa teorinya HY adalah maha-benar hanya karena menunjukkan ke orang-orang bahwa darwin memiliki missing-link.”
saya memang menunjukkan bahwa darwin memiliki missing-link, tapi kapan saya menganggap teori HY maha benar??
***
@ inal
sudah baca “Evolution of Living organisme”? share juga dong..