Ch.
Seorang lelaki muda berjalan di tembok dermaga. Pakaiannya serba hitam. Rambutnya ikal. Ia berjalan dengan langkah yang gontai. Sendirian. Saya tak tahu siapa namanya.
Di kejauhan, senja turun dengan sempurna. Warnanya bukan merah yang matang, tapi merah bersemu kuning, tajam, ada sisa-sisa violet yang sedikit menyilaukan. Rasanya seperti melihat merah yang marah, senja yang murka dan siap menelan siapa saja.
Menatap senja macam itu, juga sosok lelaki yang berjalan gontai sendirian, tak bisa tidak saya ingat bait terakhir dari sebuah sajak yang tak mungkin bisa terlupakan:
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
Ku bayangkan lelaki muda itu adalah Chairil yang sedang patah hati dan remuk redam perasaannya oleh sebab yang tak begitu jelas. Saya tahu ia bukan Chairil, tapi imajinasi tak pernah berdosa, juga tak pernah sia-sia.
Ini Pelabuhan Sunda Kelapa, saya sedang berada di Pelabuhan Sunda Kelapa, melihat senja di Pelabuhan Sunda Kelapa. Dari sinilah sejarah Jakarta dimulai, dari situ pula sajak “Senja di Pelabuhan Kecil” dimungkinkan lahir.
Banyak yang bilang, termasuk Jassin dan Sri Ajati yang menjadi tujuan sajak itu dibuat, pelabuhan kecil yang menjadi judul sajak Chairil di atas tak lain tak bukan adalah Pelabuhan Sunda Kelapa.
Kebetulan itu senja terakhir di 2008. Bukan karena menjelang tahun baru saya memburunya. Saya tak punya urusan dengan segala macam pesta kembang api dan tiup terompet. Saya berkunjung ke sana dengan spontan.
Saya sedang membaca sajak Senja di Pelabuhan Kecil sore itu, sekitar pukul 16.00. Lalu saya teringat Pelabuhan Sunda Kelapa. Dua kali saya ke sana, dua kali pula saya melihat langit yang datar oleh kelabu yang ditebarkan mendung yang menggayut. Lalu, saya bertanya pada teman kantor soal cuaca dan dijawabnya langit cukup cerah.
Tak butuh lama bagi saya memutuskan untuk pergi ke sana. Tiba-tiba dan mendadak. Selalu begitu jika hendak melakukan perjalanan, jauh atau dekat. Merencanakan perjalanan seringkali identik dengan membatalkannya. Saya tak perlu minta ijin pada siapa pun –situasi yang selalu bisa membuatku bersyukur.
Saya, senja, dan Sunda Kelapa seperti sudah berjanji dengan adzan. Tepat pada saat kumandangnya terbantun perlahan, saya sudah di atas perahu kecil yang segera bergerak menuju laut lepas. Pemiliknya seorang lelaki tua, wajahnya hitam mendekati gosong oleh panas matahari, suaranya pelan, artikulasinya tak jelas. Melihatnya, saya ingat tukang perahu dalam cerita Sidharta karangan Herman Hesse.
Tapi ini bukan tentang Sidharta dan Herman Hesse, ini tentang Chairil dan juga cinta yang kandas. Tapi, seperti kata Chairil di baris pertamanya, ini kali saya tidak sedang mencari cinta. Sebab di pelabuhan hanya ada kapal, perahu, tali temali, gudang, rumah tua, dan sehimpun cerita. Ya, ceritera….
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Ya, ini cerita tentang hasrat yang kandas, bahkan saat ia belum lagi dinyatakan. Sri Ajati, perempuan yang kata Jassin “tidak ada agaknya pemuda sehat yang tidak akan jatuh cinta padanya”, yang mana sajak ini ditujukan untuknya, mengaku tak ada yang istimewa dalam hubungannya dengan Chairil. Sang Penyair tak pernah menyatakan cinta padanya.
Jadi, kira-kira, inilah sajak patah hati yang tak jelas penyebabnya. Atau, mungkin, lebih tepat dikatakan: inilah ungkapan cinta seorang penyair yang memilih tak mengatakan apa pun mengenai perasaannya pada sang pujaan, dan itulah sebabnya ia merana, oleh cinta yang tak sampai bukan karena bertepuk sebelah tangan, tapi justru karena tak pernah diungkapkan.
Barangkali itu sebabnya sajak ini seperti sebuah sedu-sedan, bukan tangis yang meratap, bukan pula gumam yang tanpa suara. Ada suara di sana, ada pernyataan di sana, tapi semuanya terlalu lirih, terlampau di tahan, tapi tidak pula dipendam-pendam. HB. Jassin menyebut sajak itu sebagai suatu kerawanan hati, suatu kesedihan yang mendalam yang ”tidak terucapkan”, tapi hanya di-sedu-kan, cuma di-sedan-kan.
Tak ada kata-kata “patah hati”, “sedih”, “lunglai” atau yang sejenisnya. Tapi parade kata-kata, susunan bebunyian dan hamparan suasana di sajak itu tak mampu mengelakkan suasana batin yang tertekan. Kita seperti melihat sebuah bingkai dan siapa pun bisa meletakkan potret dirinya sedang termangu sendirian.
Laki-laki muda yang berjalan di tembok dermaga kini tak lagi tampak dalam penglihatan. Ia telah lelap dalam penghidupannya sendiri, sibuk bergumul dengan nasibnya sendiri, sebab nasib memang tak bisa dibagi, ia adalah “kesunyian masing-masing”, tulis Chairil dalam sajak “Pemberian Tahoe”.
Saya ingat sajak “Pemberitan Tahoe” juga ditutup oleh larik yang menyebut-nyebut kapal.
kita berpeluk ciuman tak jemu
rasa tak sanggup kau ku lepaskan
jangan satukan hidupmu dengan hidupku
aku memang tidak bisa lama bersama
ini juga ku tulis di kapal di laut tak bernama!
Bukan kebetulan jika senja ini saya sedang berada di kapal kecil, perahu tanpa mesin, yang di badannya tak tertera satu pun nama. Bapak tua pemilik perahu, yang mukanya gosong oleh matahari, tak saya tahu namanya. Juga lelaki muda yang berjalan gontai sendirian itu. Semuanya anonima, atau dalam kata-kata Chairil, “di kapal di laut yang tak bernama”.
Saya sempatkan berdiri di atas perahu kecil yang terlalu mudah goyang hanya karena sebuah gerakan kecil. Angin laut mulai mendesir dengan kuat. Kapal-kapal phinisi hendak beranjak, kuli-kuli pelabuhan mulai bersijingkat, awak kapal sudah bersiap, sedang senja makin lama makin terperam oleh malam yang kian lengkap. Terbayang seraut wajah yang tak bisa lagi ku dekap.
Saya nyalakan sebatang kretek. Dalam diam, saya baca “Senja di Pelabuhan Kecil”, hanya dalam hati, hanya mengalun dalam gelut senda di rongga dada.
Tiba-tiba saja, saya merasa, sajak itu berubah menjadi sebilah mantra….
[foto-foto lainnya bisa dilihat di sini]



hmm…cerita tentang cinta, menyaru cerita perjalanan.
hmmm..perempuan manalagi zen yang kau gombali!!!
jiakaka
hmm,
sampe baris terakhir tulisan ini aku kok ndak mudeng blas ya, mau cerita tentang apa to sampeyan ki?
senja, perjalanan, sunda kelapa, cinta po patah hati?
apa aku saja yang ndak cermat mbacanya ya
sik tak baleni sik
jalan sendirian kadang memang lebih mengasyikkan. betah ya berlama-lama di pantai sunda kelapa?
Poto potomu dahsyat dab
.
kowe lagi jatuh cinta karo anto yo?wis ndang kramas meneh…
chairil abis2 nih ye:)
aku ga seneng puisi, eh ga bisa menikmati dadi ga iso seneng. tapi aku seneng fotomu, sampek isih kepikiran opo bener langit marah
Wah foto2nya keren dah
dimana tuh?
great pic.anyway.. aq suka sama warna langit senja.. aq selalu suka dan ngga akan pernah lupa warna langit di kala senja.
coz 4 me warna langit dikala senja bisa membuat hati yang galau menjadi tenang,bisa meluapkan warna kemarahan,bisa buatku berhenti berjalan menatap secercah harapan2 baru dalam semburat warna-warna senja..
fotone mangtab juragan…..
demaga, sajak dan kesunyian pejuang yang menepi menanti hari terbaiknya!
iri sama photo senja itu.. huwaaaaa
*pengemar senja*
waaah bapak zen ini
bisa banget posting tulisan dan foto yg bikin ngiri
nice writing and great picture -as always hehe-
jadi penasaran….
habis ini bakalan nulis apa lg ya bapak satu ini???
[...]Saya sempatkan berdiri di atas perahu kecil yang terlalu mudah goyang hanya karena sebuah gerakan kecil. Angin laut mulai mendesir dengan kuat. Kapal-kapal phinisi hendak beranjak, kuli-kuli pelabuhan mulai bersijingkat, awak kapal sudah bersiap, sedang senja makin lama makin terperam oleh malam yang kian lengkap. Terbayang seraut wajah yang tak bisa lagi ku dekap[...]
dan senja pun ditingkah suara jeritan nyaring yang membuat semua romantisme Chairil menghunjam bumi dan kandas:
“ASUUUUUUUU… Aku gak iso renang cukkkkk!!!”
– tak lanjutke, pit, sekaligus mempertegas flamming nih:
lalu yudhi pun segera membaca syahadat, seakan-akan ajalnya segera mendekat….
Langit memerah, pertanda esok akan cerah. Kuwi jarene pelatih Pramuka-ku mbiyen
Sajak-nya CA itu mengingatkan aku pada cerita Layla Majnun, Dhe. Qaiz yang saking cintanya malah menjadi gila, tak bisa menyampaikan perasaannya karena menyebut nama orang yang dicintainya aja membuatnya bergetar dahsyat..
Kapan yo aku iso mencintai seperti itu
hmm…senja di sunda kelapa…
sebenarnya dengan menggantungkan perasaan jatuh cinta tanpa menyampaikan justru bisa membuat orgasme para penyair kata2, daripada ketika mereka jatuh cinta dan bahagia, bisa mandul untuk menuliskannya..
asu
andai senjamu menawarkan kursus renang..
hahahaha
cerah nek ora ana awane… he
Indah banget.
wuih..
ampuhlah..
asulah…
terkagum-kagumlah..
Ch sendiri itu apa Om ?
nice sunset… mantaf bro…