Gotas

meracau — pejalanjauh @ 4:53 am

– ngeblog itu agamanya, mejeng itu ibadahnya….

Suka atau tidak, blogger dan politisi itu seperti kembar siam dalam urusan nampang. Bedanya mungkin cuma pada momentum: politisi makin rajin nampang menjelang Pemilu, sementara blogger (termasuk yang jadi umat “agama” micro-blogging) getol nampang setiap ada waktu.

Bagian paling mengharukan dari postingan Om Wicak tentang Si Matt, menurut saya, adalah potongan kalimat yang bunyinya gini: “Blogger Filipina mirip Indonesia, suka foto-foto, hahaha….” [beuuuh, baru tau dia]

Ini tentu kesimpulan yang ditakik Si Matt dalam beberapa tempo bersemuka dengan blogger-blogger di WordCamp kemarin yang warna matanya mendadak mirip bendera PPP kalo liat moncong Nikon atau Canon. Seandainya Si Matt menyimak lalu lintas per-nampang-an di antara blogger sekaligus umat facebook pasca Pesta Blogger kemarin, tentu hahaha Si Matt akan lebih banyak dari sekadar tiga kali “ha”. Dahsyat bener ibadah nge-tag foto di facebook ketika itu…..

[agama facebook itu termasuk rumpun agama semit, soale Mark Zuckerberg itu Yahudi. Ayo, yang ngaku anti-Yahudi, segeralah delete akun facebook-nya, jadilah anti-yahudi yang kaffah. hihihihi]

Hasrat untuk dikenal sebanyak mungkin orang memang manusiawi. Dengan memajang wajahnya di mana-mana, tiap orang membayangkan bahwa ada banyak orang lain yang akan melihat dan memperhatikannya. David Elkind menyebutnya sebagai “imaginary audience”, semacam fenomena psikologis yang muncul dalam diri seseorang yang membayangkan dirinya berada di tengah panggung seraya pada saat yang sama berpikir: ada berapa orang ya yang matanya terbelalak melihat foto saya dan berapa liter ngeces orang tersebut saat memandang wajah saya?

Tapi, tak mengapa, mungkin struktur nasab saya terlalu jauh dari Almukarom Narciscus, sehingga dalam urusan begituan saya lebih baik menepi untuk memberi jalan bagi yang doyan berada di red-carpet [red carpet dalam tanda petik, tentu saja]. Lagi pula, nampang itu tidak dosa, makruh juga bukan, mubah kayaknya juga nggak, kendati nampang itu saya bisa pastikan tidak di-sunnah-kan dan jangan pernah berharap untuk di-fardlu-kan. Kalau di-fardlu-kan, alamat setiap orang bakal minta supaya hukumnya “fardlu ain” daripada “fardlu kifayah”, soalnya kalau “fardlu ain” berarti nampangnya itu diwajibkan kepada setiap individu dan tak bisa diwakilkan.

Saya juga senang kok di-foto, apalagi kalo yang njepret Eugene Smith [emange aku korban minamata] atawa John Stanmeyer [emange aku gunung berapi]. Tapi kalo hasil njepret itu berlomba-lomba dipajang di mana-mana… ampun euy. Sekali dua sih masih oke-lah, tapi kalo sering-sering, saya nyerah, benwit saya masih cekak. Kalo lomba banyak-banyakan jumlah karakter (with or without space) dalam postingan, saya masih bisa ikut. Kerjaan saya memang nulis.

Toh saya juga paham kalau nampangnya para blogger beda dengan para politisi yang lagi nyaleg: yang pertama nampangnya gratis, yang kedua harus bayar, yang pertama tidak berpretensi apa-apa, yang kedua ada maunya. Jika pun nampangnya para blogger itu punya pretensi, ya… paling banter cuma sekadar ingin diakui kecantikan dan ketampanannya oleh sebanyak mungkin orang, kendati kalo saya sendiri lebih milih diakui tampan oleh seorang Natalie Portman [peduli setan kalo dia Yahudi] daripada diakui ratusan orang yang saya tidak berkepentingan dengannya. Hehehe….

Saya juga sebenarnya bisa maklum dengan para caleg yang belakangan makin demen nampang di spanduk, poster dan iklan di koran-koran lokal. Biar bagaimana pun mereka “dipaksa” untuk memperkenalkan dirinya pada para konstituen. Tapi, ada seorang politisi yang syahwat nampangnya itu rada-rada aneh. Ijinkan patik mengisahkannya barang sebentar atau tiga bentar.

Saat saya ke Cirebon kemarin, saya sempatkan memborong koran-koran lokal. Rugi rasanya kalo di kota kecil pun saya masih beli Kompas, Tempo, Media Indonesia dan sebangsanya. Salah dua yang saya beli adalah harian Mitra Dialog dan Radar Cirebon. Sumpah, di nyaris semua halaman, selalu ada politisi yang lagi nampang dengan wajah yang mencoba ramah plus senyum yang kebanyakan lebih mirip nyengir.

Tapi tak ada yang paling unik selain berita di halaman 3 Mitra Dialog edisi 20 Januari 2009. Di situ ada berita tentang kegiatan HUT PDIP. Ada dua kegiatan utamanya. Pertama, pengobatan gratis. Kedua, lomba mirip Algotas, nama lengkapnya H. Tasiya Soemadi Algotas. Dia bukan sembarang orang. Di Cirebon ia termasuk orang dari level A. Selain menjabat sebagai Ketua DPC PDIP Kabupaten Cirebon, dia juga menjabat Ketua DPRP Cirebon periode 2004-2009. Kebetulan ia juga nyaleg untuk periode 2009-2014.

Ini kutipan dari omongan Gotas: “Bagi masyarakat yang wajahnya mirip saya, silakan mendaftarkan diri ke DPC PDIP atau ke ranting. Siapa yang paling mirip dengan wajah saya, dialah pemenangnya. Kami menyediakan hadiah satu unit sepeda motor, tentu (berdasar) hasil penilaian dewan juri, bagi mereka yang benar-benar wajahnya mirip saya.”

Hebatnya lagi, Si Gotas ini menyebut lomba mirip wajah dirinya sebagai “Perlombaan Kerakyatan”.

Saya pikir, Si Gotas ini punya cukup kecerdasan sewaktu memilih tagline “Perlombaan Kerakyatan”, minimal kecerdasan dalam berbahasa. Imbuhan “ke-an” –biasa disebut imbuhan gabung atau konfiks– yang diletakkan pada kata “rakyat” kira-kira berarti “menyerupai atau memiliki sifat seperti rakyat”. “Perlombaan Kerakyatan” menurut saya cukup tepat dalam satu segi: lomba mirip wajah Si Gotas memang bersifat kerakyatan karena salah satu sifat rakyat Indonesia memang senang nampang. Hehehehe….

[kata James Nachtwey, saingan sekaligus kolega Stanmayer dalam urusan njepret-menjepret pernah bilang orang Indonesia itu mudah kalo mau dijepret, beda dengan --misale-- orang Australia]

Saya yakin tidak akan ada blogger yang mendaftar, kendati probabilitas bagi para blogger untuk memenangkannya lebih besar ketimbang ikut lomba wajah mirip Brad Pitt. Soalnya cukup jelas: blogger-blogger kebanyakan memang sinis dengan politisi, kendati dalam perkara nampang keduanya punya hubungan genetis yang gak jauh-jauh amat.

Lomba ala Gotas, secara kualitatif, sebenarnya memantulkan wajah kita semua :P

33 Comments »

  1. Saking doyan nampang with sinis ampe2 ada bloger yg dg cara minta maaf untuk si plagiat (re-wayr) agar sudi menyertakan sumber colongan..hehe

    klo itu yg terjdi, menurud anda apa murni imagin yg jln?

    Kok tumben posting like that?

    keren keren!

    Comment by ANAK ZAMAN — January 22, 2009 @ 5:02 am
  2. deleteeeeeeeeeeee acc FB, eeeeeeeeeeeehh ndak jadi dinggggg, wong FB yo agamaku….

    Comment by mendemningsunankuning — January 22, 2009 @ 7:35 am
  3. sebenarnya suka nampang karena ga punya kamera, coba klo punya kamera.. akan sibuk untuk memfoto saja :P

    Comment by dewi — January 22, 2009 @ 8:20 am
  4. huahahahaha… anjirrr, tulisanmu sukses bikin ku ktawa-ktiwi dari awal mpe akhir

    jeli bgt siy :-P

    Comment by nadya — January 22, 2009 @ 8:32 am
  5. PDIP? ati-ati ndak diamuk kebo mabuk yang lagi ngamuk,
    sesuai tagline-nya “mata merah moncong putih”

    Comment by bangsari — January 22, 2009 @ 9:16 am
  6. bro, aku ki ora anti yahudi, tapi anti israel (negara yang dibangun di atas darah dan pengusiran). ono hubungan gak, antara FB dengan israel? ;D

    Comment by debukaki — January 22, 2009 @ 9:24 am
  7. hahaha..
    Kalo mbahas friendster lebih parah lagi. Foto2 anak2 sma nasisnya minta amplop, bisa2 bikin kita muntah darah

    Comment by ndebakulsempak — January 22, 2009 @ 9:30 am
  8. errrrr.. si Pak Gotas itu punya bukumuka ndak? kan kalo ada yang mirip tinggal di tag… hihihihihi

    Comment by Chic — January 22, 2009 @ 9:50 am
  9. lah kw ra arep ngenekke lomba mirip Zen to?ha3. pasti banyak kok yg daftar. :D

    Comment by haris — January 22, 2009 @ 10:07 am
  10. Bukan paid review to ini,..hehe
    Hadiahe motor,dab,…lumayan buat ngojeg.

    Comment by BudiTyas — January 22, 2009 @ 11:45 am
  11. akhirnya nulis soal blog eh blogger juga dia hahaha

    Comment by hedi — January 22, 2009 @ 12:30 pm
  12. loh?!
    emang blogger amerika ndak suka poto poto?!!!
    ah, ndak SAH mereka jadi blogger..

    Comment by -tikabanget- — January 22, 2009 @ 12:30 pm
  13. satu hal saya salut kepada dia: jujur dan berani (atau sebaliknya).
    dia jujur mengakui bahwa dirinya tokoh, setidaknya jujur merasa ditokohkan secara lokal.
    tak ada kerikuhan dianggap jumawa.
    tak ada ketakutan untuk diperolok.

    kita, eh saya?
    dalam beberapa hal hipokrit. maaf. :D
    dalam hal lain (kadang) memang tak kuat nyali untuk nampang. :D

    Comment by paman tyo — January 22, 2009 @ 2:05 pm
  14. hahahaha. jd inget dulu ada kontes mirip (kalo ga salah) dolly parton. dolly ikutan dan dia malah kalah.

    Comment by arya — January 22, 2009 @ 2:12 pm
  15. Perlu dan tidak perlu

    Telah hidup (ada) dunia ini sejak lama, banyak kejadian, berubah dan bertumbuh, bertambah dan berkurang. Masa akan berubah, waktu slalu berganti tdk ada menjadi ada lalu yg ada menjadi tiada. Tetapi semua dlm konstanta yg tetap, hitungannya selalu sama, nilainya itu-itu juga, rumusnya tak berubah (menunggu kita semua menemukan rumusan itu dan menyajikannya sbg temuan yg memudahkan manusia).
    Manusia lalu dalam memahami sesuatu membagi keilmuan dgn exact dan non exact yg masing” berjalannya dgn alur dan cabangnya sendiri-sendiri saling asing dan saling tak mengindahkan yg padahal ndak menghasilkan apapun dengan kesendiriannya itu .
    Belajar dari alam (mengambil istilah harun yahya), memikirkannya secara mendalam pastilah kita menemukan keduanya sebenarnya ndak terpisah, keduanya bersama dalam sistem yg sempurna. Saya belajar banyak ketika ikut LATSARMIL dulu sekali, ttg yg perlu dan yg tidak (disekian banyak pelajaran yg negatif tentu saja). Idealnya mendidik manusia memang didasari hal ini.
    Ini masa dimana manusia melakukan banyak hal yg tidak perlu, baginya, kehidupannya, alam sekitarnya. Terlalu sedikit melakukan yg perlu. Bahkan hidup dan mendapatkan keuntungan dari ketakperluan tersebut.
    Semua teori kemanusiaan adalah tidak perlu ketika memunahkan manusia dan kemanusiaan itu sendiri, teori ketuhanan adalah tidak perlu ketika meniadakan tuhan itu sendiri tidak mematuhinya lagi bahkan berani melogikakannya dgn rendah, semua teori keadilan dan persamaan adalah tidak perlu ketika malah tidak adil dan tidak sama, semua teori ekonomi adalah gagal ketika berbuah kebangkrutan, semua teori keilmuan adalah tidak perlu ketika melahirkan kebodohan dan kegoblokan, dan seterusnya (inikan pelajaran kita SD dulu).
    Ini adalah dunia tranparans, ilmu adlh landasan sejatinya, ilmu pun perlu pengujian (klarifikasi) baik dasar maupun terapan.
    Aah… Jangan jadi anak-anaklah yg mencoba selalu menghindar dan beralasan dengan segala hujjah teori orang lain ketika tertangkap tangan berbuat salah… Kita kan udah dewasa (…?)

    Comment by bangtaufik — January 22, 2009 @ 2:16 pm
  16. kapan lomba ala pria sunsilk di gelar?

    *cling*

    Comment by yudhi — January 22, 2009 @ 2:27 pm
  17. buruk muka, tag foto di-remove
    :)

    Comment by kw — January 22, 2009 @ 3:05 pm
  18. right man,,you re right

    Comment by irfanbgenk — January 22, 2009 @ 8:13 pm
  19. untung fotone gak kayak anak smp dengan andalan pose “ssstt” itu ya[telunjuk di bibir yang monyong] :))

    Comment by sekelebatsenja — January 22, 2009 @ 10:59 pm
  20. TAEK! KOWE KI NEK POSTING DURUNG TAK KOMENI YO NARSIS!!! NDADAK PAMER NGOMONG2 NENG YM! BAJINGAN!!!

    nek di rimuf tak jambak rambut lan jembut sunsilkmu!!!

    Comment by The Bitch — January 23, 2009 @ 2:29 am
  21. Bahkan yang terakhir
    lomba mirip Obama dimenangkan oleh Indonesia

    Comment by pembaca blog ini — January 23, 2009 @ 8:14 am
  22. m. alfan alfian m menulis di kompas bagus: narsisme politik. politisi yang narsis.

    Comment by mpep — January 23, 2009 @ 10:11 am
  23. pak pak.
    jangan marah ya baca postingannya saya yg terakhir
    hahahahahahahah
    namanya kebetulan sama

    *mbak chichi yg ingetin*
    wakakakaka

    oia, kalo saya lomba mirip dian sastro aja deh

    Comment by nana — January 23, 2009 @ 4:33 pm
  24. tegeltanan.dasar avoy kowe….

    Comment by plak! — January 24, 2009 @ 8:45 am
  25. cara kampanyene cukup unik. berbeda dari yang lain..
    iku lebih mengena timbang mejeng mesem neng koran..
    :D

    Comment by yuswae — January 25, 2009 @ 6:30 pm
  26. siip

    Comment by gopal — January 26, 2009 @ 11:07 pm
  27. kayaknya tuhan bikin dunia ini dengan selera humor yang bagus.

    Comment by the refugee — January 27, 2009 @ 11:44 am
  28. Denger-denger mau ada kesting poto iklan sampo sunsilk ya?

    *narik kabel*

    Comment by mr.bambang — January 27, 2009 @ 3:35 pm
  29. yo, yo, yo, yo…apik-apik, apik le…Zen

    Comment by bambang bonding — January 28, 2009 @ 12:59 am
  30. ada2 aja.. lomba mirip2 segala

    Comment by ario saja — January 29, 2009 @ 12:20 am
  31. hahahaha bagus bagus
    tumben nulis yg kayak ginian
    bukan…bukan doyan nampang
    saya cuma suka memoto terfoto dan difoto kok :D

    Comment by tyas — February 5, 2009 @ 1:17 pm
  32. Merdeka!!!!!!!!!!!Jika aku ada di zona satu pasti aku yang paling mirip,,,,siap ketua.selalu tetap setia walaupun sampai langit runtuh hehehehehe…………………………………!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!1111

    Comment by ade hendra h — February 26, 2009 @ 3:13 pm
  33. asskum…! smua

    Comment by iping — February 28, 2009 @ 3:37 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2009 [nasib adalah kesunyian masing-masing] | powered by WordPress with Barecity