»

Jeneng

meracau,ngaji — pejalanjauh @ 1:42 pm

– what’s in a name? that which we call a rose

Pada setiap nama, otoritas eksternal sebenarnya sedang memamerkan ujudnya.

Ada kutipan bagus dari James Joyce, novelis Irlandia yang terkenal karena karya besarnya, “Ullyses”. Dalam sepucuk surat yang ditulis pada 18 September 1905, Joyce berkata pada saudaranya, Stanislaus: “Kupikir, setiap anak berhak untuk menggunakan nama ayah atau ibunya jika ia kelak sudah dewasa.”

Joyce bukan orang yang memuja komunalisme dan nilai-nilai luhur keluarga. Novel semi-autobiografisnya, “A Portrait of the Artist as a Young Man”, menunjukkan betapa Joyce berusaha membebaskan diri bukan hanya dari standar moral keluarga, tapi bahkan dari nilai-nilai Kristen, serta keharusan berbakti pada negara. Kutipan Joyce di atas justru mencoba menegaskan kerinduannya pada kebebasan individual, termasuk kebebasan untuk menggunakan nama yang diinginkan setiap orang, apakah itu nama ayah atau ibunya atau apa pun.

Setiap bayi yang baru lahir, tak pernah bisa bicara, karenanya cukup banyak alasan memilihkan si bayi nama yang sekiranya paling baik tanpa harus dan perlu berembuk lebih dulu dengan si bayi. Di situ, nama menjadi penegasan, betapa setiap bayi sebenarnya tak sendiri. Dalam ketidaksendiriannya itulah, setiap nama justru menjadi peneguhan, betapa banyak sekali otoritas di luar dirinya yang sedang mulai merasuk-mendalam. (more…)

Munyuk

Buku,ngaji — pejalanjauh @ 8:42 am

Buku “Dutch Culture Overseas” karya Dr. Frances Gouda menarik untuk dicermati karena ia mencoba menguraikan bagaimana persepsi kolonial dan orang-orang Belanda tentang Hindia Belanda dan penduduknya, berikut segala macam sikap hangat, rasa hormat, sinisme, hingga rasisme.

Dari semua bab di buku ini, bab 4 menjadi bagian paling menarik. Di bagian ini Dr. Gouda memaparkan bagaimana orang-orang Belanda (sekaligus juga orang Eropa) membangun pemahaman ihwal siapa sebenarnya “orang-orang pribumi”. Secara ringkas, bab sepanjang 75 halaman ini menguraikan bagaimana prasangka rasial terhadap orang-orang pribumi dibangun. Dengan menelusuri artikel-artikel, catatan perjalan, guntingan berita, catatan harian, surat-surat dan novel-novel, penulisnya mencoba memaparkan betapa “rendahnya” orang-orang pribumi di mata orang-orang Eropa kala itu.

Bab ini menarik secara intelektual karena penulisnya mengkonfirmasi kutipan-kutipan yang digunakan dengan teori-teori evolusi, dari Darwin, Ernest Haeckal, Herbert Spencer, hingga Lamarck. Tapi bab ini juga lumayan menjengkelkan karena dipenuhi kutipan yang menceminkan “rasialisme” Eropa yang memirip-miripkan penduduk Hindia Belanda dengan kera. (more…)

Gotas

meracau — pejalanjauh @ 4:53 am

– ngeblog itu agamanya, mejeng itu ibadahnya….

Suka atau tidak, blogger dan politisi itu seperti kembar siam dalam urusan nampang. Bedanya mungkin cuma pada momentum: politisi makin rajin nampang menjelang Pemilu, sementara blogger (termasuk yang jadi umat “agama” micro-blogging) getol nampang setiap ada waktu.

Bagian paling mengharukan dari postingan Om Wicak tentang Si Matt, menurut saya, adalah potongan kalimat yang bunyinya gini: “Blogger Filipina mirip Indonesia, suka foto-foto, hahaha….” [beuuuh, baru tau dia]

Ini tentu kesimpulan yang ditakik Si Matt dalam beberapa tempo bersemuka dengan blogger-blogger di WordCamp kemarin yang warna matanya mendadak mirip bendera PPP kalo liat moncong Nikon atau Canon. Seandainya Si Matt menyimak lalu lintas per-nampang-an di antara blogger sekaligus umat facebook pasca Pesta Blogger kemarin, tentu hahaha Si Matt akan lebih banyak dari sekadar tiga kali “ha”. Dahsyat bener ibadah nge-tag foto di facebook ketika itu….. (more…)

Patriot*

Bola — pejalanjauh @ 3:40 am

– apakah tim nasional indonesia bisa mengalahkan oman? voor siji untuk oman!

Ada istilah bagus yang diperkenalkan Grant Jarvie pada bukunya yang berjudul “Sport Culture and Society”. Pada bagian yang memerikan hubungan antara olahraga dan nasionalisme, Jarvie melansir istilah “90-minutes patriots”.

Istilah itu dilansir untuk membantunya menjelaskan bagaimana simbol-simbol olahraga, terutama sepakbola, membantu mempromosikan sentimen dan identitas politik nasional dalam event-event besar, seperti Piala Dunia atau Piala Eropa.

Sampai taraf tertentu, sepakbola akan selalu dijadikan sebagai medium untuk mengekspresikan sentimen dan identitas politik nasional. Sejarah sepakbola modern digelimangi banyak sekali contoh yang bisa membenarkan tengara itu.

Eduardo Galleano, sastrawan Uruguay yang menulis trilogi novel “Memoria del Fuego”, pernah mencoba memeriksa betapa dalamnya pengaruh sepakbola dalam jiwa masyarakat Amerika Latin. (more…)

Tafsir

ngaji,persona — pejalanjauh @ 1:45 am

Islam menganjurkan kekerasan dan terorisme?

Seandainya Anda menemukan tagline macam itu, apa yang Anda lakukan? Kalau saya, kemungkinan akan bersikap: jika kalimat itu tanpa penjelasan dan tak lebih dari yel-yel, akan saya abaikan tak ubahnya kentut. Tapi, jika di bawah kalimat itu ada argumen yang dipaparkan, ada penjelasan yang dihamparkan –selemah atau sekuat apa pun argumen dan penjelasannya– maka saya akan membacanya dengan seksama, mempelajarinya sebaik mungkin.

Di sini, saya ingin mengajukan satu pokok diskusi, mungkin juga semacam kekhawatiran: lama-lama makin sukar mendiskusikan dengan jernih kaitan antara agama dan kekerasan.

Ya, mencoba membicarakan kaitan antara agama dan kekerasan di area publik belakangan terasa makin dibayang-bayangi oleh fobia SARA. Banyak yang mulai alergi berbicara tentang persoalan ini. Bahkan koboi-koboi di Gedung Putih sekali pun belakangan cukup sering berbicara: Stop menghubungkan antara kekerasan (katakanlah terorisme) dengan agama! (more…)

Otot

ngaji — pejalanjauh @ 6:39 am

– yahudi yang maskulin dan tuhan yang doyan perang

Sukar dibayangkan, tapi beginilah Karen Armstrong membayangkan tuhan-tuhan pagan: “Paganisme pada dasarnya merupakan keyakinan yang toleran: kultus-kultus lama tidak merasa terancam oleh kedatangan tuhan-tuhan baru, selalu ada ruang bagi tuhan-tuhan lain di kuil untuk berbagi tempat di altar dan duduk berjejer berbagi sesembahan tradisional.”

Saya membayangkan tuhan-tuhan sedang prasmanan sesajen. Sambil omong-omong ngalor ngidul, kongkow-kongkow dan menghisap cerutu. Semacam kopdar tuhan, barangkali. Kopdar blogger dijamin gak ada apa-apanya, kalah seru :D

Tapi, Y-H-W-H datang “merusak kopdar-kopdar tuhan” itu.

Jika Anda membaca kembali bab 1 dan 2 buku indah Sejarah Tuhan, akan banyak sekali ditemukan paragraf yang menggambarkan bagaimana Y-H-W-H berusaha sekerasnya untuk mengalahkan tuhan-tuhan yang “demen prasmanan sajen itu”. Berkali-kali, orang-orang Yahudi ingkar kesetiaan untuk berpaling kembali kepada dewa-dewa pagan orang Kana’an dan saat itu pula Y-H-W-H muncul kembali melalui serangkaian epifani kepada para nabi yang lantas diutus untuk mengingatkan agar orang Yahudi kembali menyembah Y-H-W-H. (more…)

T-H-N

ngaji — pejalanjauh @ 6:30 am

– the could-not-be-named

Orang ateis, pernah Pram berkata, justru adalah orang yang paling banyak memikirkan Tuhan. Tapi, amat bisa jadi, justru karena terlalu banyak memikirkan Tuhan maka seseorang dimungkinkan jadi ateis.

Pada satu waktu yang sudah lama lewat, di minggu-minggu pertama menjadi mahasiswa, saya mengikuti dua hari dua malam kelas teologi di Kaliurang. Seorang mentor mengajukan pertanyaan yang membuat mahasiswa-mahasiswa yang masih ingusan ini pening bukan kepalang: “Bisakah Tuhan menciptakan sesuatu yang lebih besar dari-Nya sendiri?”

Apa pun jawaban dari pertanyaan itu, semua akan bermuara pada satu kesimpulan: Tuhan tidak Maha Berkuasa. Jika Tuhan mampu membuat sesuatu yang lebih besar dari-Nya, ia bukan lagi Yang Maha Besar. Tapi jika Ia tak mampu melakukannya, Ia –dengan demikian– bukan pula Yang Maha Kuasa Yang Bisa Melakukan Apa Saja.

Pendeknya, itu pertanyaan yang “menjebak”. Tapi, “menjebak” untuk siapa? Mungkinkah Tuhan bisa dijebak? Tidakkah jebakan itu hanya berlaku pada konsep dan pemikiran manusia mengenai “Tuhan”, bukan Tuhan [tanpa tanda petik] itu sendiri?

Seorang teman yang menghabiskan masa mudanya dengan belajar teologi menjelaskan apa yang sudah ia dapatkan selama belajar dalam satu kalimat yang ringkas sekaligus metaforik: belajar teologi adalah mengejar yang tak terkejar, mencari yang tak pernah sepenuhnya diketahui, dan menyingkap apa yang sebenarnya tak tersingkap. (more…)

Ch.

cermin,flaneur — pejalanjauh @ 4:32 am

Seorang lelaki muda berjalan di tembok dermaga. Pakaiannya serba hitam. Rambutnya ikal. Ia berjalan dengan langkah yang gontai. Sendirian. Saya tak tahu siapa namanya.

Di kejauhan, senja turun dengan sempurna. Warnanya bukan merah yang matang, tapi merah bersemu kuning, tajam, ada sisa-sisa violet yang sedikit menyilaukan. Rasanya seperti melihat merah yang marah, senja yang murka dan siap menelan siapa saja.

Menatap senja macam itu, juga sosok lelaki yang berjalan gontai sendirian, tak bisa tidak saya ingat bait terakhir dari sebuah sajak yang tak mungkin bisa terlupakan:

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

(more…)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2011 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity