Pelacur

– karena socrates pun memuja seorang hetaire….

Yunani bukan cuma negeri para filsuf, tapi juga negeri dengan jumlah pelacur yang berlimpah.

Pada masa jayanya, tulis Nikolaos Vrissimtiz dalam “Love, Sex and Merriage in Ancient Greece”, tak ada yang jumlah pelacurnya sebanyak Yunani. Salah dua titik yang banyak ditinggali para pelacur adalah Pireaus (kota pelabuhan di Athena) dan Corinth (kota pelabuhan di Laut Aegea) di mana banyak kapal datang dari berbagai tempat datang untuk berlabuh.

Awal mula berkembangnya lokalisasi di Athena diperkirakan berlangsung pada abad 6 Sebelum Masehi, terutama setelah berdirinya lokalisasi legal pertama di Athena. Pendirinya adalah Solon. Dialah germo pertama dalam sejarah Yunani.

Pada masa itu, sebutan untuk pelacur adalah “porne”, ditakik dari kata “pernemi” yang berarti “menjual” –karena mereka memang untuk dijual. Hingga taraf tertentu mereka dilindungi oleh polis. Secara rutin, polis menarik pajak dari mereka. Pelacur yang bekerja di lokalisasi legal maka pajaknya dibayarkan oleh germo. Sementara pelacur partikelir membayar pajaknya sendiri. Kadang-kadang, layaknya Bulog di sini, polis juga melakukan operasi pasar untuk mengntrol tarif mereka. Bahkan, ada sebutan khusus untuk pajak para pelacur ini: “pornikon telos”.

Ada beberapa jenis pelacur. Mereka yang mangkal di lingkungan lokalisasi legal disebut “katakleistae” (artinya: menetap). Mereka yang nongkrong di dekat jembatan atau pemandian umum dipanggil “gephyridae”. Sementara mereka yang mangkal di luaran disebut “chamaitypae” (berasal dari kata “chamai typo” yang berarti merebahkan diri). Lain lagi dengan para pelacur yang berjalan menjajakan diri laiknya pedagang keliling. Mereka dipanggil “perepatikae” (pengembara).

Dari semuanya, “hetaire” berada di posisi yang tertinggi. Inilah pelacur kelas atas yang mungkin bisa dibandingkan dengan geisha dalam tradisi Jepang. Layaknya geisha, mereka tak cukup hanya bisa ngangkang, melainkan harus bisa menari, memainkan beberapa alat musik (flute, tamborin, kastanet hingga lyre’).

Hetaire biasa beredar dalam symposia-symposia yang melibatkan para sosialita zaman itu. Symposia biasa diikuti para senator, orator hingga para filsuf. Mereka biasa minum-minum di atas dipan sembari membicarakan soal-soal yang beragam, dari mulai soal gosip sehari-hari, isu-isu politik hingga diskusi filsafat. Beberapa hetaire paling terkenal mampu mengkuti semua topik pembicaraan mereka. Tidak selalu, tapi terkadang symposia itu berakhir sebagai orgy yang heboh.

Leontion, seorang hetaire legendaris, disebut-sebut bahkan amat mempengaruhi filsuf Epicurus. Aspasia, hetaire yang lain, juga menjadi salah satu murid terpenting Epicurus. Sosok Pericles yang dihormati kabarnya bahkan memelihara seorang hetaire, tak lain dan tak bukan Aspasia sendiri. Alexander yang Agung juga intim dengan hetaire bernama Thais.

Salah satu adegan paling monumental dalam sejarah prostitusi di Athena adalah adegan ketika orator terkenal bernama Hyperides menjadi pembela seorang hetaire bernama Phyrne. Tak begitu jelas apa tuduhannya. Yang terang, seperti ditulis Vissimtiz, Hyperides datang membela Phyrne dengan teknik pembelaan yang tak pernah diduga para juri dan hakim: ia baringkan tubuh molek nan mulus Phryne di depan mata para juri, membaringkannya dalam keadaan telanjang. Mudah ditebak, Phyrne dibebaskan dari segala tuduhan.

Socrates, filsuf amat terkenal yang juga guru dari Plato, bahkan mengidam-idamkan bisa bertemu (mungkin juga berkencan) dengan hetaire bernama Theodete. Satu waktu, Socrates akhirnya menemui Theodote di kediamannya. Theodote, seperti halnya kebanyakan orang, terkesan dengan percakapannya bersama Socrates. Ia meminta Socrates untuk sering-sering mengunjunginya. Dengan diplomatis dan mungkin juga licik, seperti ditulis oleh Xenopohon dalam karyanya berjudul “Memorabilia” yang kaya dengan pengalaman dan uraian tentang kehidupan Socrates dari sudut pandang murdi-muridnya, Socrates menjawab: “Tentu saja, saya tidak ingin larut bersama kamu, saya mau kamu datang padaku… kecuali jika aku sedang bersama kekasihku.”

Dan, tahukah Anda, bahwa salah satu buku terkenal Aristoteles yang berjudul “Nichomachean Ethic”, diambil dari nama anaknya, Nichomachean, yang dilahirkan dari seorang hetaire bernama Herphylis. Aristoteles berhubungan akrab dengan Herphylis saat ia sudah tua dan duda.

Karena kecerdasan dan kemampuannya, para hetaire dibayar amat mahal. Mereka hidup kaya raya. Phyrne, yang sudah diceritakan di atas, bahkan pernah menyanggupi membangun kembali kota Thebes dari kehancuran dengan uangnya sendiri. Jangan heran jika Phyrne sanggup membayar Praxiteles, seorang seniman patung, untuk membuat patungnya yang terbuat dari emas. Kemasyhuran Phryne bahkan diabadikan di daerah suci Apollo, di dalam kuil Delphi. Di sana, terdapat inskripsi yang bertuliskan namanya.

Ini bukan barang langka di Athena. Banyak kuil-kuil suci yang dibangun dari dana yang diberikan para hetaire. Kuil-kuil itu biasa disebut “kuil prostitusi”. Di Yunani, kuil-kuil jenis ini banyak ditemukan di Corinth, Paphos dan Amatahus yang ada di dekat Siprus sekarang.

Saya tergoda untuk membandingkan ini dengan prostitusi yang terjadi –misalnya– di Bukit Kemukus. Ya, banyak pelacur yang ditempatkan di area-area suci. Mereka tidak ditempatkan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk menambah keuangan kuil. Seperti juga di Bukit Kemukus, hubungan seksual dengan para pelacur itu digelar untuk memperoleh berkah. Dalam konteks kuil-kuil di Yunani tadi, hubungan seks dengan para pelacur ini dipersembahkan sebagai bukti bakti pada para dewa, terutama dewa-dewa yang berhubungan dengan mitologi kesuburan.

Salah satu kuil prostitusi paling masyhur bernama Kuil Aphrodite di kota Corinth. Pada momen-momen tertentu, kuil-kuil tersebut akan dipenuhi oleh para pelacur-pelacur kelas tinggi. Dalam konteks inilah, barangkali, saya baru bisa mengerti kenapa penyair legendaris bernama Horace pernah menulis: Non cuivis homini contingit adire corinthum [Tak semua orang bisa mengunjungi Corinth].

post-script: dildo itu sudah dikenal pelacur Athena pada abad ke-5 sebelum masehi loh….

Printed from: http://pejalanjauh.com/2008/12/pelacur/ .
© Pejalanjauh 2010.

29 Comments   »

  1. sandalian says:

    Aku mikir kalau pelacur jaman dulu juga punya NPWP, untuk mempermudah segala urusan administrasi..

    Kapan rencana mo ke Gunung Kemukus dhe? Kuwi dekat ama daerah asalku :D

    [Reply]

  2. bahtiar says:

    bar nang kemukus mampir nang gunung kawi … :)

    [Reply]

  3. kw says:

    mereka ngga orgy ya?

    [Reply]

  4. pinkina says:

    gak ada gambarnya

    [Reply]

  5. Chic says:

    jadi pelacur ajah mesti pintar??!!! meh!!! :twisted:

    [Reply]

  6. hedi says:

    hetaire kalo jaman sekarang namanya Escort Lady, eh tapi menurutmu lebih vulgar mana Athena atau Napoli yg PSK jalanannya ga kenal jam operasi…mau pagi, subuh atau siang juga udah berdiri di pinggir jalan =))

    [Reply]

  7. zam says:

    menjual salah satu kebutuhan dasar manusia.. :D

    [Reply]

  8. Goen says:

    @ sandal: kang, ajarin cara milih yang bener di Gunung Kemukus doms, jangan sampai kepilih yang ternyata harus bayar. :mrgreen: *dibakar*

    [Reply]

  9. lha kok podo karo iki bul, wong lonte saiki wae yo bikin handbook barang lho

    [Reply]

  10. sapati says:

    Dan salah satu filsuf itu Zenus Rahmatix Cugitoxus…..dari Galia Javanicus…..

    [Reply]

  11. weka says:

    hmm…hmmm…tak penting plaza mana. ada beberapa gelintir mall, atau plaza, atau simbol keangkuhan lainnya. dan orang-orang yang diangap kecil yang menyimpan cintanya.

    [Reply]

  12. sekelebatsenja says:

    kalo yang di gunung kemukus kemaren itu di display ndak, zen?
    :p

    [Reply]

  13. weka says:

    ya…ya…aku juga gamang menggunakan istilah itu. sabar ya, aku sedang mencari diksi penggantinya. terima kasih sudah berkunjung dan koreksinya.

    [Reply]

  14. bangsari says:

    wis wayahi rabi cah iki.

    [Reply]

  15. nothing says:

    betul bang ipul… ndang rabi wae kowe mas.. :)

    [Reply]

  16. escoret says:

    kata orang2….buat apa pelihara kambing,klo bisa beli sate..???
    atau ..?? apakah klo harus makan sate? harus pelihara kambing..???

    mbuh bener po ra..?? aku yo ra dong….

    bener,kowe wayahe rabi..!!! kae arya di sikat wae..

    kekkekek

    [Reply]

  17. weka says:

    zen, aku sudah membuat revisi diksi “plaza”. barangkali kamu bisa menengoknya lagi. shalom :)

    [Reply]

  18. Dear Mas,
    ada hal penting yang sangat ingin saya diskusikan. Boleh saya minta dihubungi di email oryx_2000@yahoo.com?

    Terima kasih banyak sebelumnya,

    Mirisa

    [Reply]

  19. Dony Alfan says:

    Sam seperti di Jerman ya, ada kewajiban untuk membayar pajak. Bahkan pelacur di sana dilindungi UU, buset

    [Reply]

  20. Nadya Fadila says:

    jadi dari situ kata “porno” berasal??

    [Reply]

  21. Nadya Fadila says:

    hoooo… dapet dari mana sih cerita kya’ gini???
    keren..

    p.s. kabar baik, Alhamdulillah..=)

    [Reply]

  22. Nadya Fadila says:

    lagi sibuk apoteker, Zen. hehehe..

    gw mau nyoba bales lewat email kok gak bisa ya, error dah.. haha.

    [Reply]

  23. Beberapa bagian terasa menyesakkan dada.
    Mungkin karena ada sebutan “Pelacur”nya.

    [Reply]

  24. ell says:

    sebenernya pelacur it adlh konteks moral yang memang tdk di inginkan keberadaannya…

    tetapi pelacur dan koruptor mana yang lebih bersifat binatang dan menghancurkan moral?

    [Reply]

  25. Amanda K says:

    Kebetulan baru baca komik peradaban tentang Yunani kuno…

    Wah, dari yang saya baca sih sampai-sampai hetaire yang namanya Aspasia itu saking berpengaruhnya dia pada Pericles, saat kota kelahirannya Miletus diserang oleh Samos, Pericles mengerahkan pasukan dari Athena untuk mengalahkan Samos (walau kemudian Athena mengalami kerugian besar, huahaaa).

    Tapi walau dia banyak dikritik, tetap banyak orang yang mengakui kepintarannya dan oleh karena itu banyak cendekiawan yang terpikat untuk berdiskusi dengannya… Hmm…

    *baca pembelaan Phyrne di pengadilan*

    Wauhh, asyik juga ya kalau jaman sekarang bisa dibebaskan dari tuduhan dengan cara itu… *digampar*

    [Reply]

  26. meong says:

    entah kenapa, aku kok punya bayangan, kl di kehidupan laluku, aku adl seorang geisha dg klien kalangan elite dan pejabat penting.
    :mrgreen:

    [Reply]

  27. panah hujan says:

    giliiiiing.. postingnya keren abis!!

    wawasan saya bisa meluas, nih, kalo tiap hari disuguhin artikel kayak gini.. makasimakasi ^^

    setuju sama meong.. somehow somewhat, jadi kepikiran ke situ pas baca ini.. :P *iseng*

    [Reply]

  28. the bitch says:

    keknya gwa tau mbak2 yg sering lo ceritain dan lo kasi tau ke gwa potonya waktu itu… yg lucu dan imut ituuuu…

    DIBAYAR SANA!!!

    [Reply]

  29. luthfi says:

    jejen ya? salut. goenawan mohamad muda kau!

    [Reply]

RSS feed for comments on this post , TrackBack URI

Leave a Comment