»

Musotte

Obituari,ngaji,persona — pejalanjauh @ 1:57 am

– bukan panglima dari segala burung rajawali jilid 2

Enam tahun lalu, saat masih duduk di semester tiga, saya pernah menulis esai berjudul “Bukan Panglima dari Segala Burung Rajawali”. Esai tadi menggambarkan upaya Musso merebut pemerintahan dan mengendalikan Indonesia sesuai dengan garis Zhdanov yang keras. Tapi Musso gagal, PKI remuk redam. Ia sendiri tewas dan –merujuk Gie– mayatnya dibakar ramai-ramai.

Naskah itu tak pernah dipublikasikan di media massa, terutama karena terlalu panjang. Rubrik Ide di Koran Tempo, saat ukurannya masih besar, dan memberi space satu halaman penuh sekira 1800 kata, juga tak memungkinkan naskah itu tayang. Saya enggan memangkasnya. Awal 2006, saya putuskan menayangkannya di blog ini. Saya selalu merasa naskah itu sebagai salah satu naskah terbaik yang pernah ditayangkan di blog ini. Tagline blog ini [nasib adalah kesunyian masing-masing] mulai sering terngiang di kepala semenjak saya menulis tragika hari-hari terakhir kehidupan Musso.

Esai Susanto Pudjomartono, eks-Dubes Indonesia untuk Russia, yang ditayangkan majalah Tempo minggu ini, membuat saya kembali membuka naskah lama itu. Tulisan Susanto, yang menggunakan bahan-bahan primer dari arsip Russia, meneguhkan apa yang saya tulis sebelumnya: semua rencana Musso pada 1948 itu memang tak bisa dipisahkan dari visi komintern yang bermarkas di Moskow.

Arsip-arsip dari Sovyet yang sudah dideklasifikasi –yang jadi rujukan Susanto– tentu bisa mempertajam naskah saya. Tulisan Susanto sendiri, buat saya, tidak menjelaskan bagaimana Musso sebenarnya kehilangan kendali justru pada saat gerakan di Madiun itu dimulai. Dikesankan, semua peristiwa yang terjadi di Madiun bergerak sepenuhnya berada di bawah kendali Musso dan sesuai dengan garis “Jalan Baru”, risalah politik yang ditulis Musso tentang langkah-langkah yang mesti diambil kaum komunis di Indonesia.

[Jika Anda ingin tahu bagaimana seorang dedengkot PKI merencanakan kudeta dan mengambil-alih pemerintahan, bacalah risalah "Jalan Baru" di sini]

Saya tidak ingin mengulangi kembali apa yang sudah saya tulis di naskah sebelumnya, seperti halnya saya juga tak akan menguraikan kembali arsip-arsip Sovyet yang dirujuk oleh Susanto. Anda bisa langsung membaca saja dua-duanya langsung.

Saya hanya berharap tulisan Susanto bisa memicu orang-orang yang punya informasi lain tentang pribadi Musso untuk berbicara dan menuliskannya. Ada banyak kabut yang menyelimuti sosok ini, jauh lebih pekat kelimun kabut yang menyelimuti sosok Musso ketimbang sosok Aidit atau Sjam.

Seorang senior saya di pers mahasiswa dulu, mengaku, pernah bertemu dengan sisa-sisa keluarga Musso. Yang mengejutkan, senior saya itu bilang bahwa keluarga Musso sebenarnya adalah keluarga kyai. Mungkin jadi tidak mengherankan jika ada penulis yang menyebutnya sebagai KH Musodo. Yang saya tahu, nama Musodo pernah muncul sebagai anggota pengurus Tri Koro Darmo. Saya belum sempat memastikan kebenarannya.

Musso dikesankan sebagai pribadi yang keras. Kritik tajam Tan Malaka terhadap rencana perlawanan bersenjata pada 1926 ia abaikan. Ia –barangkali– satu-satunya orang yang berani terang-terangan mendamprat Soekarno-Hatta sebagai “pengkhianat jahanam” di muka publik. Tan sendiri tak pernah seartikulatif dan sesarkas itu kendati berseberangan secara total dengan Soekarno-Hatta-Sjahrir.

Ia senior yang dihormati oleh kaum komunis. Pada Agustus 1948, saat ia kembali ke tanah air, tokoh-tokoh komunis lain tak mampu menandingi wibawanya. Aidit, Njoto, Lukman, atau Soedisman ketika itu hanyalah kurcaci di hadapan Musso. Dalam sekali pukul, ia mampu menyatukan nyaris semua organ dan partai kiri di Indonesia ke dalam organ Front Demokratik Rakyat.

Wibawa dan pengaruh Musso ini terbentuk lama. Salah satu yang terpenting adalah karena ia orang yang langsung berhubungan dengan komintern, barangkali satu-satunya, terutama setelah Tan meninggalkan garis Komintern. Selain itu, ini yang terpenting, Musso punya jasa besar membangun kembali sel-sel PKI setelah remuk dan rontok pasca kegagalan perlawanan bersenjata 1926. Pada pertengahan 1930-an, ia kembali ke Hindia Belanda dan dengan susah payah membangun kembali jaringan PKI.

Istilah PKI Bawah-Tanah mulanya merujuk pada sel-sel PKI yang coba dibangunkan kembali oleh Musso. Semua revolusi sosial yang terjadi di bulan-bulan pertama kemerdekaan, baik itu di Surakarta, Brebes, Pemalang, Tegal hingga Sumatera Timur, yang banyak meminta tumbal nyawa para elit-elit politik lokal, kebanyakan dipromotori oleh sisa-sisa PKI Bawah Tanah ini. Sebagian lainnya berasal dari orang-orang PKI yang pada masa kolonial lari ke Australia atau Belanda.

Saya masih ingat potret mayat Musso di buku karya Nasution. Wajahnya bulat, dengan pipi yang penuh, dan garis-garis muka yang keras.

Matu Mona, dalam dwilogi novel “Pacar Merah Indonesia”, menuliskannya dengan sebutan “Musotte”.

[post-script: Sebelum tewas, Musso sempat membawa lari sebuah mobil. Itulah terakhir kalinya Musso naik mobil. Ironinya, salah satu seri mobil buatan Korea bermesin Mercedes Benz malah dinamai Musso]

9 Comments »

  1. woi posting di sini aja…
    selamat tahun baru, semoga makin funkeh….

    Comment by kw — 2008/12/31 @ 2:32 am
  2. setuju mas, asline kudune tulisane sampeyan sing “Bukan Panglima dari Segala Burung Rajawali” yang nampang nang tempo.
    trus sampeyan oleh honor trus aku di traktir mendem bir plethok

    tahun baru?? taek selama negara tetep telek

    Comment by nothing — 2008/12/31 @ 7:31 am
  3. sip. selamat tahun baru.
    semoga tahun depan kata-kata tidak hanya hidup dalm tulisan..

    Comment by gembos — 2008/12/31 @ 4:35 pm
  4. “Enam tahun lalu, saat masih duduk di semester tiga”
    asuuu..enom kowe yo?

    Comment by gus pitik — 2008/12/31 @ 7:18 pm
  5. musso ki dudu mersedes ben cuk, tapi ssangyong seko korea, mesine nganggo mersedes pancenan, tapi mung lisensi. meh podo karo proton karo mitsubishi. sori aku mung moco ngisore tok.

    Comment by rambo insap — 2008/12/31 @ 7:24 pm
  6. pengusung komunis selalu punya kisah-kisah menarik dalam kehidupannya, tapi lebih banyak yang berakhir tragis. *CMIIW*

    Comment by hedi — 2008/12/31 @ 11:37 pm
  7. selamat malam
    dan selamat tahun baru.
    salam kenal selalu dari Sidoarjo,mas zen.
    sekiranya ada waktu singgah sejenak ke gubuk saya,hehe

    Comment by langtijiwa — 2009/01/01 @ 7:09 pm
  8. Bravo Zen…..nulis Muso lagi juga akhirnya.
    Tulisan Susanto, bagian akhirnya agak terburu-buru. Musso memang menyiapkan rencana pengambilalihan kekuasaan, tapi apa iya dilakukan 18 September 1948? Kesan yang timbul, pemberontakan itu karena tindakan sembrono Soemarsono. Bisa jadi toh, hari H yang direncanakan Muso sebetulnya lebih lama lagi?

    Comment by Anusapati — 2009/01/05 @ 6:51 pm
  9. setahu saya, kudeta bukan cara marxist, tapi cara anarkist-nya bakunin.

    Comment by raga candradimuka — 2010/11/28 @ 9:33 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity