Ibukota
– karena kita semua punya ibu!
Jika dulu ibu adalah mata air nilai-nilai, kini pasar sedang mencoba mengambil alih semuanya dan memastikan dirinya sebagai ibu dari semua nilai. Sedihnya, anak-anak menimba air susu dari ibunya yang baru ini!
Ibu-ibu kelas menengah di perkotaan menjadi titik sentral dalam mutasi sosial ini. Mereka, perlahan tapi pasti, ditarik ke dalam pusaran baru ini: konsumerisme sebagai ideologinya dan mall serta televisi sebagai biara persembahyangannya.
Dulu, semua makanan dan minuman yang melewati kerongkongan anak-anak pasti mendapat sentuhan ibunya. Anak-anak sarapan dengan makanan buatan ibunya, menyesap air susu langsung dari puting ibunya. Kini, semua hal sepele tapi amatlah mendasar itu perlahan-lahan digantikan oleh pasar. Makanan cepat saji dan susu kaleng meresap pelan-pelan ke dalam setiap pori-pori anak-anak.
Sedihnya, ibu di situ menjadi distributor dari pasar dengan anak-anaknya sendiri yang menjadi konsumennya. Dalam taraf yang paling menyedihkan, ibu kini bisa jadi adalah sales terbaik dari ideologi konsumerisme. Dari tangan dialah dan atas pilihannya sajalah barang-barang dari mall masuk ke ruang keluarga, kamar tidur dan dapur.
Tak ada lagi dongeng yang dikisahkan saat anak-anak ditimang-timang ibunya. Hanya ada baby-sitter yang mungkin sebelumnya lebih dulu sibuk bergosip dengan baby-sitter tetangga dan baru saja menelan gosip ala infotainment di televisi atau malah si anak bareng-bareng nonton gosip bareng pengasuhnya.
Tak ada lagi “bahasa ibu” dalam pengertiannya yang paling dalam. “Bahasa ibu” di sini bukan semata bahasa sebagai alat komunikasi, melainkan juga cara berpikir, rumah pikiran. Bahasa ibu adalah kompas pertama bagi anak-anak dalam mengarungi dunia dan kehidupan, penentu orientasi nilai-nilai.
Di Sumba, ada istilah “rumah ibu”. Tempat itulah yang memproduksi sekaligus menentukan orientasi nilai, spasial dan budaya. Pada “rumah ibu” itu pula semua upacara-upacara yang vital bagi keberlangsungan budaya diselenggarakan. Sementara pada “rumah bapak”, ditentukan hal-ihwal yang terkait dengan tata-sosial, pembagian kerja, negosiasi politik.
Kini, bahasa ibu itu telah digantikan oleh televisi. Bahasa televisi menjadi bahasa asal, bahasa pertama, sekaligus bahasa sehari anak-anak sekarang. Jangan heran jika gaya tutur anak-anak sekarang nyaris mirip dengan apa yang disajikan televisi, lengkap dengan logat ala sinetron, berikut kelakuan dan cara berpakaian macam tokoh-tokoh sinetron.
Saat itulah ibu pulang setelah lelah seharian bekerja atau sibuk berbalanja, kembali ke rumah, dengan anak-anak yang sudah setengah mengantuk menunggunya seharian sejak pulang sekolah.
Ini bukan persoalan sederhana, tapi betul-betul mendasar, karena menggambarkan satu mutasi yang dashyat: Jika dulu ibu adalah tempat anak-anak pulang, kini ibu sendiri yang jutru pulang menuju anak-anaknya.
Tak ada lagi ibu (di) kota, jika pun ada, hanya ada ibu selama 12 jam (antara jam 7 sore sampe jam 7 pagi). Ini sama seperti desa-desa yang ibu-ibunya pergi menjadi TKI ke luar negeri. Di situ, seperti halnya rumah-rumah tangga di kota, desa tanpa bisa dicegah serupa anaknya yang kehilangan tali pusar nilainya yang biasanya tersampir di pundak ibu.
Ironisnya, hal yang hampir sama juga sedang berlangsung dengan kota-kota. Bagi saya, tak ada lagi ibu kota dalam situasi ini –sesuatu yang membedakan Indonesia dengan negara-negara lain di Barat.
Bagaimana bisa sebuah kota disebut ibukota jika tak ada lagi ruang publik yang memungkinkan anak-anak bermain dengan leluasa tanpa ada ancaman penculikan, tanpa ancaman ditabrak kendaraan. Bagaimana bisa sebuah kota disebut ibukota jika anak-anak harus berdiam seharian di dalam pagar sekolah yang tinggi, dengan gerbang yang dijaga ketat oleh Satpam, dan hanya bisa dijemput oleh supir atau pengasuh yang mesti menyerahkan identitasnya lebih dulu di daftar tunggu.
Sebuah kota layak disebut ibukota jika dia benar-benar bisa memainkan peran ibu, tempat di mana anak-anak bisa nyaman berkeliaran, tempat anak-anak bisa menimba pengalaman dan mengunduh nilai-nilai kehidupan. Bukan ibukota jika sebuah kota hanya mengajarkan kepengapan, kepanikan, ketakutan, kemacetan, dan udara yang sesak.
Sebuah kota layak disebut ibukota jika bisa menyediakan ruang bagi setiap penghuninya untuk bertumbuh dengan sehat dan wajar, bisa berinteraksi satu sama lain tanpa ketertekanan dan mampu mengaktualisasi dirinya secara merdeka.
Sebuah kota layak menyandang gelar ibukota jika ia bisa membikin segenap penghuninya merasa menjadi anaknya ketika tinggal di sana dan bukannya menjadi orang yang terancam dan terasing.
Di sini, sepertinya, ibukota tak lebih hanyalah capital-city atau hoofdstad.
**foto diambil di atas busway jalur Kota-Blok M
jadi rindu sentimen-sentimen klasik sesama manusia. sekarang ngga penting lagi. dulu masih ada “jamuran” di bawah rembulan. sekarang xbox di dalam kamar. dulu boleh main di kali, sekarang kali ngga ada lagi. banyak got. dulu masih bisa ikut tetangga panen di sawah. sekarang semua orang ke pabrik. desa sepi. kota sesak. terlalu banyak orang berlomba-lomba jadi pemenang. jadi banyak yang jahat. ibukota makin banyak penggemar, tapi makin ngga ramah juga. mana bisa ibukota ngga ramah. ibu kan harus bisa ramah. ibuku ramah.
Di balik ekspresi rasa malas saya karena ‘dipaksa’ mudik menjelang Natal, sebenarnya saya sangat menanti hari-hari di mana saya bisa kembali ke kota itu, saat ibu bisa sedikit bersantai di saat liburan. Bagaimana tidak, semenjak ayah berpulang, waktu untuk ibu di rumah menjadi semakin sedikit. Waktunya banyak dihabiskan di luar rumah untuk bekerja. Di kantor, di toko. Beliau berjuang untuk anak-anaknya.
Walau hanya ibukota provinsi, bagi saya Palangkaraya tetaplah ibukota bagi saya. Jalangan yang lengang, pohon dan hijau-hijauan yang banyak ditemukan bahkan di tengah kota. Tidak begitu tergerus arus migrasi dan pembangunan yang begitu cepat. Benar-benar seperti sosok ibu bagi saya.
Ah, uhmmm…
film Ateng jaman dahulu pun berjudul ‘ibukota lebih kejam daripada ibu tiri’
masih ada sosok seorang ibu, di rumah saya
Ah alhamdulillah Vio tidak digantikan dengan bahasa televisi
Alhamdulillah, saya dibesarkan oleh seorang ibu
bukan oleh baby sitter
@Chic: ati2, papanya vio udah niat mo ngajak ngebilyar sebelum dia umur 10 taun. hihi.
Ironis juga jaman sekarang melihat baby sitter menggantikan posisi ibu terutama pada golongan menengah ke atas. Tidakkah merekah membayangkan bagaimana kalo mereka digitukan?
meski dunia telah berubah, zen, tetap ada ibu yang selalu menjaga anak-anaknya dengan kasih sayang yang tulus dan menggetarkan. televisi boleh masuk, konsumerisme boleh ada, tapi manusia tidak hanya akan bisa hidup dengan itu. manusia butuh sesuatu yang lebih dari sekadar banalitas hidup sehari-hari.
makanya nanti klo sudah jd ibu pengen berhenti kerja ih zen
tapi para ibu nggak boleh merajuk walau jaman telah merampas sebagian porsi mereka, karena penghormatan dan pengakuan terhadap ibu adalah abadi sehingga ada ibukota dan ibu pertiwi.
pertanyaanku sederhana: kapan zen punya ibu (untuk anak-anaknya)? :p
jakarta maneh …
@arif: touche, brotha! touche! huahahaha!!!
*mbayangin pakdhe pamei bersungut2 baca komene om arif*
kenapa ya memoar seorang anak lelaki kepada ibunya selalu mengharubiru? lebih dari tulisan perempuan.
yuk diajak pindah aja ibukotanya.
bahas ibu gada habisnya.
panjang, seperti kasihnya.
suka fotonya. motret sendiri?
pertanyaannya: masihkah ada harapan ketika seorang ibu-atas nama kesetaraan-bekerja di luar?
saya kira banyak dari kita yang sudah sadar dengan kondisi ini. mereka mau berubah kok. banyak ibu-ibu yang kini memberi asi ekslusif bagi anak-anaknya. banyak bapak yang bersusah-susah mendongeng ‘kancil mencuri timun’ yang tak dapat dibayangkan anaknya dalam dunia dimana ia tak pernah melihat ujud kancil.
seperti arswendo dalam ‘canting’ menjawab keluhan pengusaha batik tulis saat tergerus batik printing dan perubahan mode:
tak usah menyalahkan kapitalisme.
tak usah menyalahkan republik.
semua bekerja. semua berusaha….
salam,
masmpep.wordpress.com
sebagai seorang calon ibu dan tentu saja punya ibu, aku beruntung dibesarkan ibu dengan ASI ekslusif dan tanpa televisi….
sebagai calon ibu dan -tentu saja- punya ibu, aku beruntung dibesarkan ibu dengan ASI dan tanpa televisi
membaca ini membuat tambah yakin bahwa alam itu telah menyediakan semua. Namun, penghuninya merenggut dengan paksa untuk pongah, bahwa segala sesuatunya bisa diatur.
alhamdulilah msih mersakan kehangatan seorang bu..
[...] anak juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan atas keadaan ini. Tulisan berjudul “Ibukota” dari Mas Zen Rachmat Sugito yang baru saya baca tadi pagi cukup banyak menjelaskan semuanya. Bukan [...]