»

Musotte

Obituari,ngaji,persona — pejalanjauh @ 1:57 am

– bukan panglima dari segala burung rajawali jilid 2

Enam tahun lalu, saat masih duduk di semester tiga, saya pernah menulis esai berjudul “Bukan Panglima dari Segala Burung Rajawali”. Esai tadi menggambarkan upaya Musso merebut pemerintahan dan mengendalikan Indonesia sesuai dengan garis Zhdanov yang keras. Tapi Musso gagal, PKI remuk redam. Ia sendiri tewas dan –merujuk Gie– mayatnya dibakar ramai-ramai.

Naskah itu tak pernah dipublikasikan di media massa, terutama karena terlalu panjang. Rubrik Ide di Koran Tempo, saat ukurannya masih besar, dan memberi space satu halaman penuh sekira 1800 kata, juga tak memungkinkan naskah itu tayang. Saya enggan memangkasnya. Awal 2006, saya putuskan menayangkannya di blog ini. Saya selalu merasa naskah itu sebagai salah satu naskah terbaik yang pernah ditayangkan di blog ini. Tagline blog ini [nasib adalah kesunyian masing-masing] mulai sering terngiang di kepala semenjak saya menulis tragika hari-hari terakhir kehidupan Musso.

Esai Susanto Pudjomartono, eks-Dubes Indonesia untuk Russia, yang ditayangkan majalah Tempo minggu ini, membuat saya kembali membuka naskah lama itu. Tulisan Susanto, yang menggunakan bahan-bahan primer dari arsip Russia, meneguhkan apa yang saya tulis sebelumnya: semua rencana Musso pada 1948 itu memang tak bisa dipisahkan dari visi komintern yang bermarkas di Moskow. (more…)

Puisi

cermin — pejalanjauh @ 1:25 am

ari dan reda, juga sarkem di jogja

Sebuah cerita yang mirip anekdot dikisahkan Reda Gaudiamo beberapa saat sebelum ia dan pasangannya, Ari Malibu, melantunkan musikalisasi puisi “Aku Ingin” karya Sapardi.

“Sepasang pengantin yang memilih puisi ini dalam undangan pernikahahannya menganggap sajak “Aku Ingin” sebagai karya Kahlil Gibran. Saya bilang padanya bahwa itu sajak Sapardi. Tapi dia tak percaya. Katanya, gak mungkin sajak puisi sebagus ini ditulis orang Indonesia.”

Para penonton yang menyesaki pertunjukan musikalisasi puisi di Newseum Cafe tergelak ramai-ramai. Tapi Reda belum menyelesaikan kisahnya. Setelah gelak tawa mereda, ia menutup kisah yang ia alami langsung itu: “Akhirnya, pasangan pengantin itu mencetak puisi ‘Aku Ingin’ di undangannya… tetap keukeuh dengan menyebutnya sebagai karya Kahlil Gibran.” (more…)

Pelacur

meracau — pejalanjauh @ 3:16 am

– karena socrates pun memuja seorang hetaire….

Yunani bukan cuma negeri para filsuf, tapi juga negeri dengan jumlah pelacur yang berlimpah.

Pada masa jayanya, tulis Nikolaos Vrissimtiz dalam “Love, Sex and Merriage in Ancient Greece”, tak ada yang jumlah pelacurnya sebanyak Yunani. Salah dua titik yang banyak ditinggali para pelacur adalah Pireaus (kota pelabuhan di Athena) dan Corinth (kota pelabuhan di Laut Aegea) di mana banyak kapal datang dari berbagai tempat datang untuk berlabuh.

Awal mula berkembangnya lokalisasi di Athena diperkirakan berlangsung pada abad 6 Sebelum Masehi, terutama setelah berdirinya lokalisasi legal pertama di Athena. Pendirinya adalah Solon. Dialah germo pertama dalam sejarah Yunani.

Pada masa itu, sebutan untuk pelacur adalah “porne”, ditakik dari kata “pernemi” yang berarti “menjual” –karena mereka memang untuk dijual. Hingga taraf tertentu mereka dilindungi oleh polis. Secara rutin, polis menarik pajak dari mereka. Pelacur yang bekerja di lokalisasi legal maka pajaknya dibayarkan oleh germo. Sementara pelacur partikelir membayar pajaknya sendiri. Kadang-kadang, layaknya Bulog di sini, polis juga melakukan operasi pasar untuk mengntrol tarif mereka. Bahkan, ada sebutan khusus untuk pajak para pelacur ini: “pornikon telos”. (more…)

Ibukota

ngaji — pejalanjauh @ 9:29 pm

– karena kita semua punya ibu!

Jika dulu ibu adalah mata air nilai-nilai, kini pasar sedang mencoba mengambil alih semuanya dan memastikan dirinya sebagai ibu dari semua nilai. Sedihnya, anak-anak menimba air susu dari ibunya yang baru ini!

Ibu-ibu kelas menengah di perkotaan menjadi titik sentral dalam mutasi sosial ini. Mereka, perlahan tapi pasti, ditarik ke dalam pusaran baru ini: konsumerisme sebagai ideologinya dan mall serta televisi sebagai biara persembahyangannya.

Dulu, semua makanan dan minuman yang melewati kerongkongan anak-anak pasti mendapat sentuhan ibunya. Anak-anak sarapan dengan makanan buatan ibunya, menyesap air susu langsung dari puting ibunya. Kini, semua hal sepele tapi amatlah mendasar itu perlahan-lahan digantikan oleh pasar. Makanan cepat saji dan susu kaleng meresap pelan-pelan ke dalam setiap pori-pori anak-anak.

Sedihnya, ibu di situ menjadi distributor dari pasar dengan anak-anaknya sendiri yang menjadi konsumennya. Dalam taraf yang paling menyedihkan, ibu kini bisa jadi adalah sales terbaik dari ideologi konsumerisme. Dari tangan dialah dan atas pilihannya sajalah barang-barang dari mall masuk ke ruang keluarga, kamar tidur dan dapur. (more…)

Batavia

flaneur — pejalanjauh @ 8:56 pm

– dini hari di kota tua….

Jalanan masih amat lengang. Tengah malam sudah lama lewat, sementara subuh masih jauh.

Saya berdiri tepat di depan Museum Bank Mandiri. Di sebelahnya berdiri Museum Bank Indonesia dan di sebelahnya lagi berderet-deret bangunan-bangunan tua, terus tembus hingga ke Taman Fatahillah. Di seberang tempat saya berdiri, Stasiun Beos terlihat jelas dengan muka bagian atapnya yang membentuk setengah lingkaran.

Lalu hal sama kembali terulang: bangunan-bangunan tua itu seperti lebih jujur mengatakan usia yang sebenarnya…. Selalu begitu. Di mana pun. Tidak hanya di Malioboro dan Kota Baru di Jogja, Jl. Braga dan Jl. Asia Afrika di Bandung, Tulangan di Surabaya, Besuki di Banyuwangi, kawasan Panjunan atau Pelabuhan Cirebon hingga Kota Lama atau Pasar Johar di Semarang. Bangunan-bangunan tua di semua titik-titik itu terasa lebih jujur mengutarakan usia yang sebenarnya pada titimangsa dini hari macam ini.

Kelupas semen di dindingnya, coklat kusam di tiang-tiangnya atau hitam pekat di lantainya tak lagi tertutupi oleh hiruk pikuk aktivitas orang-orang yang berlalu lalang atau bising kendaraan yang melaju. Semuanya terlihat lebih jelas. Lengang dan hening makin menyempurnakan aura ketuaan dan kelampauan mereka. (more…)

Grafiti

ngaji — pejalanjauh @ 3:28 pm

– tulislah sajak cinta di gardu pos kamling

Cinta bisa dinyatakan di toilet terminal, bokong truk, grafiti di tembok kota atau sprei sebuah ranjang penginapan murah. Sebuah bait dari kitab agung Sutasoma menghadirkan kemungkinan yang mengejutkan –biarlah saya mengutip (terjemahan)nya di sini barang sebentar:

“Satu waktu sang permaisuri sedang makan angin dalam sebuah mahanten (pondok kecil di taman sari). Di sana ia menyalin sebuah kakawin yang ditinggal seorang penyair yang sedang dilanda asmara. Ketika Sang Raja mengetahui sang istri menembangkan kakawin itu, meluaplah rasa curiga dan sedihnya; pasti ada seorang kekasih yang mengirimkan sajak-sajaknya lewat bunga pudak (sejenis pandan). Tetapi Dewi Marmawati menegaskan bahwa ia hanya menyalin kakawin itu…”

Selanjutnya, dikisahkan Mpu Tantular, Raja tersebut pergi ke mahanten yang disebutkan permaisuri, sayangnya kakawin yang dibaca istrinya telah terhapus oleh air yang menetes dari teratak. Rupanya, ada seorang pangeran, muda lagi nakal, yang terbakar oleh nafsu asmara kepada permaisuri sehingga ia terus menerus mengirimkan sajak-sajak asmara, biarpun cintanya itu ditolak. Amarah Raja tak tertahankan sehingga ia mengirimkan pangeran muda tadi ke medan pertempuran untuk seterusnya tak pernah kembali. (more…)

Yasadipura

ngaji — pejalanjauh @ 3:51 am

Salah satu karya terkenal dari pujangga Yasadipura I adalah Serat Bratayuda. Karya pujangga yang secara konvensional dianggap sebagai pelopor renaisans kesusasteraan Jawa itu adalah karya terjemahan abad delapan belas dari kakawin klasik Jawa Kuno abad kedua belas. Kakawin klasik yang diterjemahkan Yasadipura ini sendiri sebenarnya adalah suatu terjemahan dari klimaks wiracarita Mahabharata.

Serat Baratayuda versi Yasadipura I ini mengilhami seorang sarjana Belanda bernama A.B. Stuart Cohen untuk menyusun sebuah edisi filologi atas karya sastra Jawa. Karya Cohen terbit pada 1860 dengan judul Brata-Joeda, Indisch Javaansch Heldendicht. Ternyata, edisi filologi ini merupakan edisi filologis atas karya sastra Jawa yang terbit pertama kali. Untuk karyanya ini, Stuart Cohen diberi penghargaan oleh sementara orang sebagai salah seorang yang paling layak untuk ditahbiskan sebagai “Bapak Filologi Jawa”.

Tapi bagi Cohen sendiri, karya filologisnya itu justru dianggap sebagai karya yang tak terlalu penting, bahkan ia sendiri memandangnya sangat memalukan. Di bagian pendahuluannya, Cohen bahkan menyebut Yasadipura I sebagai pujangga yang terlalu dungu untuk diserahi tugas menerjemahkan sastra Jawa klasik ke dalam sastra Jawa baru. (more…)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity