– hari guru: karena kita semua punya guru dan pernah berguru
Namanya Uken Sukendar. Bersamanya saya melewati masa kecil. Dengannya saya menyelesaikan jenjang Sekolah Dasar. Olehnya saya diantar ke muka gerbang masa remaja yang berwarna.
Sayangnya, ia tak pernah melihat saya mengenakan seragam putih biru anak SMP.
Di hari terakhir saya mengenakan seragam merah putih anak SD, momen di mana saya akan menerima STTB, ia justru kedapatan tewas di mobil yang ia kendarai dalam sebuah kecelakaan tragis, teramat tragis, yang membuat darah tetap menetes dari kepalanya yang luka. Hingga detik-detik terakhir saya melihat jenazahnya sebelum dikebumikan, darah itu masih menetes, terus menetes, membasahi –tepatnya memerahi– kafannya, sehingga putih kafan di sekitar kepalanya jadi bersemu merah.
Sehari sebelumnya, saya masih menemuinya. Ia datang ke sekolah agak siang, sekitar jam 9 pagi. Kami semua datang ke sekolah karena ingin tahu Nilai Ebtanas Murni (NEM) yang akan diumumkan hari itu. Ia datang dengan mengendarai mobil L-300 miliknya, kendaraan yang sering ia gunakan untuk mencari uang tambahan. Itu tak biasa. Biasanya ia datang ke sekolah dengan mengendarai Honda 70 yang antik itu.
Kami menyongsongnya. Di tangannya tergantung sebuah tas hitam yang kami duga berisi salinan hasil NEM semua murid kelas 6. Saat kami menyambutnya, ia melemparkan senyum yang hingga kini masih saya kenang dengan lekat. Ia menepuk-nepuk tas yang dibawanya.
“Selamat, ya. Nilai kalian bagus-bagus. Asep kali ini lebih bagus nilainya darimu,” katanya pada saya sembari berjalan menuju kantor, istilah kami untuk menyebut ruangan para guru. Asep adalah teman kecil saya, salah satu teman terbaik yang saya miliki hingga kini.
Tulisan(ku) terkait:
Guru sebagai Pemimpin
Asal-usul Hari Guru
Semua yang ia katakan saat itu benar. NEM saya di bawah Asep. Ini tak begitu mengejutkan karena kami berdua biasa saling bergantian menduduki ranking pertama. Yang mengejutkan, NEM tertinggi dipegang Dede Ela Sulastri, teman perempuan kami yang sebelumnya tak pernah melampaui pencapain saya dan Asep. Ela, kelak menjadi sarjana pertanian UGM, meraup nilai 43,08. Asep, sarjana teknik mesin Undip, menangguk nilai 43,04.
Itu pencapaian luar biasa bagi sekolah kami. Rata-rata NEM angkatan kami menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah SD tempat saya bersekolah. Rata-rata NEM itu tak pernah terlewati oleh generasi-generasi selanjutnya.
Semua karena kinerja dia sebagai guru kelas 6. Dia teramat telaten memperhatikan satu per satu murid-muridnya. Metode mengajarnya mudah dicerna. Suasana belajarnya rileks, kendati ia juga terkenal keras. Entah kenapa pada kami ia selalu bersikap lembut. Setiap hari, sebelum pulang, ia menerapkan permainan “nerlik”, akronim untuk “nu bener balik” (yang benar bisa pulang). Aturan mainnya: ia mengajukan pertanyaan, siapa yang bisa menjawab bisa pulang lebih dulu. Macam-macam pertanyaan yang diajukannya. Dari mulai pelajaran sekolah hingga pengetahuan umum.
Selain mengajar, ia juga berjualan es mambo. Bukan berjualan eceran, tapi menjadi produsen. Tiap pagi, sebelum mengajar, ia mendistribusikan es buatannya ke beberapa pengecer. Bukan hal yang aneh jika ia pulang dengan menggondol beberapa kotak es yang sudah kosong. Ia melakukannya untuk menambah penghasilan, karena gaji guru ketika itu belum sebaik sekarang.
Selain itu, ia sering membawa mobil L-300 milik ayahnya. Mobil itu kerap ia gunakan untuk mengangkut penumpang yang menyewa mobilnya untuk perjalanan jarak jauh. Semacam travel gelap a.k.a omprengan. Ia sering membawa rombongan ke Jakarta.
Ajal yang merenggut kehidupannya pun datang saat ia sedang mengantarkan penumpang ke Jakarta. Malam itu, sehari setelah pertemuan kami yang terakhir dengannya dan sehari sebelum penyerahan STTB alias ijazah, ia membawa beberapa TKW ke Jakarta. Di perjalanan, di sekitar Indramayu, kecelakaan itu datang. Ia pergi dengan membawa kesan mendalam di ingatan saya, kenangan yang sukar dihapuskan, tak akan pernah terhapuskan.
Bersama orang tua saya, beberapa orang tua murid dan teman-teman sekelas, saya melayat ke rumahnya. Istrinya yang sedang hamil muda tak henti-hentinya menangis. Niar, anak pertamanya yang baru berusia 2 tahun (yang namanya ia terakan di kaca belakang mobil L-300), saya lihat digendong oleh kakeknya yang juga bermuram durja menahan duka.
Ia dimakamkan di pekuburan tak jauh dari rel kereta api. Letaknya juga dekat dari stasiun kereta kecil. Saat kuliah di Jogja, saya selalu naik kereta ekonomi dari stasiun kereta itu. Saya mengantarnya hingga ke pemakaman. Saya masih ingat tetesan darah yang membuat putih kain kafannya bersemu darah. Bayangan itu melekat kuat di kepala saya.
Saya masih ingat adegan singkat ketika saya naik dari kereta api menuju Jogja untuk mendaftar UMPTN, di hari pertama saya menerima ijazah SMA, selang enam tahun dari kematiannya. Saya naik kereta ekonomi Tirtonadi ketika itu. Kereta berangkat perlahan. Dalam kecepatan yang masih pelan itu, kereta melewati pekuburan tempat dia dimakamkan. Pekuburan itu ada di sebelah kanan laju kereta. Saya berdiri di pintu, melihat deretan nisan-nisan dari kejauhan.
Pohon beringin raksasa di tengah pekuburan itu masih berdiri di sana. Di bawah beringin itulah jenazahnya dikebumikan. Dari pintu kereta yang masih berjalan pelan, saya hanya bisa melihat beringin yang tampak semakin tua itu.
Dalam hati, ya… hanya dalam hati, saya menghaturkan terimakasih untuk apa yang sudah ia lakukan semampunya, dengan sebaik-baiknya yang bisa dilakukan seorang guru di desa. Itu terjadi di hari pertama saya mulai mengayunkan langkah pertama sebagai mahasiswa, status yang tak pernah bisa –tak akan pernah bisa—saya tuntaskan.
Saat itu, dengan lamat-lamat, saya mencoba mengingat kata-kata terakhir yang saya dengar dari mulutnya –kalimat penghiburan yang ia tujukan karena saya gagal mendapatkan NEM tertinggi di sekolah.
“NEM-mu bukan yang tertinggi, tapi cukup untuk masuk ke SMP 1. Nilai itu penting, tapi yang jauh lebih penting adalah ini,” katanya sembari melekatkan ujung telunjuk ke keningnya sendiri.
Bertahun-tahun kemudian, saya mengerti apa yang ia maksudkan.
——————-
Baca juga kenang-kenangan Arya dan Pito tentang gurunya di sini dan di sini.
guru kerap dilupakan. tugas siapa untuk mengingat mereka?
[Reply]
aku jd inget buku soe hok gie…
“guru bukan dewa,dan murud bukan kerbau”….
au ah..helapp…
*pernah kuliah,tapi belom pernah tahu ujud ijazah kyk apa”
[Reply]
ooo kowe ternyata jenius to, Zen
[Reply]
pada masa2 tertentu, selalu ada guru yang berkesan bagi kita, selalu tak bisa dilupakan.mereka memang orang2 yang luar biasa. selamat hari guru!
[Reply]
saya dulu punya cita cita jadi guru, karena saya lihat ini profesi asik dan mulia…tapi akhirnya ndak jadi, entah…tiba tiba cita cita itu berbelok di sebuah tikungan
[Reply]
halo..
sebulan yang lalu saya lihat tulisanmu di menarik..
[Reply]
di NG maksudnya…
[Reply]
aq dadi pengen nulis pengalamanku sama guru TU SMP..
tapi,gak sido ah…
[Reply]
kang zen. ah memang engkau…
[Reply]
guru itu pasti bangga padamu, zen.. pesannya mengena benar: NILAI itu tak penting, yang penting adalah ITU *jari telunjukku menunjuk jidatmu..
buktine, tanpa embel-embel IPK, tulisanmu mbobol media kelas nasional maupun internasional. jutaan pemilik IPK sekian-koma di indonesia raya ini belum tentu bisa seperti kamu.
[Reply]
Zen (kalo namamu bener itu)…… salut ku buatmu….
[Reply]
selamattt … dikau murid yang sangat beruntung ..
dikasih guru yang seperti itu ..
ah, ya.. semoga amal baiknya diterima di SisiNya,
dan didoakan oleh murid2lamanya ..
********
maaf, ane tidak bermaksud apa2,
tapi guru mu itu sama tulusnya dengan bu mus,
gurunya si andrea hirata.
********
[Reply]
ada nggak ya, guru yang seperti itu
di bumi yang modern dan edan ini ?????
kalo ada, nggak akan terjadi lagi, tawuran pelajar itu ..
[Reply]
terima kasih telah membuat saya merinding membaca post ini..
[Reply]
kupikir pak Uken akan menunjuk tempat yang lain … “melekatkan telunjuknya di dadaku … “
[Reply]
kisah ini membuat hati saya tergetar
kenangan yang luar biasa.
[Reply]
yaa, gw sedih,,, entah ama temen loe, entah ama guru loe…
[Reply]
Kata guru saya pada saat melepas kelulusan: “Kami ini cuman papan titian di atas sungai, Kami ridho tetap disini dan melapuk, asal kalian sampai ke tujuan :)”
[Reply]