»

Slauerhoff

Obituari — pejalanjauh @ 2:20 am

Jika kuli pelabuhan menyandang beban “dari kapal ke daratan”, penyair menyandang beban “dari sunyi ke bebunyian”.

Jacob Slauerhoff menuliskannya dalam sajak berjudul “Dwangarbeiders”. Uniknya, hidup Slauerhoff sendiri seperti pembalikan total atas apa yang dituliskannya itu. Hidupnya bukan proses pemindahan beban “dari kapal ke daratan” dan “dari sunyi ke bebunyian”, tapi justru membawa beban “dari daratan ke lautan” dan menghayati “bunyi menuju kesunyian”.

Selepas menuntaskan studi kedokterannya di Amsterdam, ia memutuskan menjadi dokter, tepatnya seorang dokter kapal. Sebegitu dalam dan kuat kehidupan di atas kapal ini merengkuhnya, sampai-sampai ia hanya sesekali saja menetap di daratan, itu pun hanya dalam tempo yang tak lama. Segera ia kembali berlayar, terus begitu, sampai waktu penghabisan itu –ajal yang tak bisa ditenggang—akhirnya datang.

Sekujur riwayat hidupnya seperti lambang hidup dari penolakan yang penuh seluruh atas “kemapanan” — kemapanan nyaris dalam semua definisi dan penampakannya. Jengah ia dengan kehidupan dan sopan santun borjuasi, suntuk ia dengan definisi kebahagiaan yang mesti turut selera orang banyak, dan tak tahan ia menetap di tempat dengan orang-orang yang itu-itu saja serta peradatan yang sama begitunya juga.

Sekuen ketika ia menghardik seorang dosennya menjadi misal paling ilustratif dari sikapnya yang keras pada etik sosial ala borjuasi. Ketika itu ia datang terlambat pada sesi kuliah Dr. Kijzer [pengampu mata kuliah pembedahan dengan mayat sebagai alat praktikum] yang kerap mengenakan perhiasan berlebihan dan sering pula mengejeknya dengan tajam. Slauerhoff langsung menyelinap masuk dan Kijzer menyergapnya dengan sindiran yang tak kepalang: “Sudah datang, Raja Penyair?”

Slauerhoff membalasnya dengan lebih telengas. Katanya, “Ya, Kaisar bangkai, aku sudah tiba!”

Spontanitasnya yang kuat membuatnya diakrabi sejumlah pengarang seangkatannya [seperti Maarsma dan du Perron], tapi bangun rasa-hatinya yang cepat berubah laksana pasang surut ombak membuat kawan-kawan terbaiknya sering membangun jurang pengertian yang sukar terjembatani. Sluerhoff memang orang yang tak mudah dipahami oleh orang lain.

Sedihnya, seperti pernah diuraikan oleh Gerald Remohuiszen, ia juga orang yang sukar bahkan bagi dirinya sendiri.

Hidupnya penuh ketegangan, tapi bukan dari jenis ketegangan fisikal, tapi mental dan pikiran. Ia seringkali dilamun oleh campur baur pengertian tentang banyak hal, terombang-ambing oleh pemahaman yang acak dan serba buyar –macam pelaut dan kelasi yang hidupnya diabdikan antara haluan dan buritan.

Tak perlu lagi diherankan jika ia memutuskan menjadi dokter di kapal, memilih hidup dalam ayunan buih ombak lautan.

Sesekali daratan menggodanya turun dari geladak. Di situ daratan bukan semata merujuk tempat [place] atau ruang [space], tapi juga tata nilai, seperangkat gagasan tentang kebahagiaan, tak terkecuali ilusi kebahagiaan yang bisa dihela oleh institusi perkawinan. Maka menetaplah ia satu waktu di Tanger, Afrika Utara, berkawin dengan seorang perempuan, dikelimuni harapan-harapan yang berseri tentang hidup yang datar dan sederhana. Satu waktu ia menjelajahi pedalaman Tiongkok, negeri yang selalu disenandungkannya dalam metrum penuh puja-puji sebagai padang di mana masa lampau dan masa kini melebur dalam padu-padan yang tak terpetakan dan terpisahkan.

Tapi segera pula ia menemu kebosanan di ujung keseharian daratan. Maka melangkahlah ia kembali ke pelabuhan, menapaki tangga-tangga kapal untuk mengakrabi lagi temali, layar dan palka. Selalu terulang hal yang sama tiap kali ia memunggungi lautan. Sampai satu waktu, kepada seorang kawannya di Belanda, ia meneguhkan ulang-alik kehidupannya itu dalam satu baris yang mengiris: “Tiap kali mengambil pilihan, saya merasa apa yang saya pilih selalu salah!”

Dalam sajaknya yang berjudul “De Ontdekker”, ia seperti menapaktilasi ulang-alik keputusannya itu: “Seorang wanita masih memelukku, alim dan mesra/ Dan damaiku kulihat dalam matanya yang keabuan/ Aku pun tunduk –namun dalam diri ada yang hebat menyala/ yang menghelaku dari damai dan pelabuhan…Lalu aku buru-buru berlayar kembali.”

Ia akhirnya berlayar lagi, singgah di pelabuhan-pelabuhan, berkunjung beberapa hari ke pedalaman, melihat apa yang bisa dicecap, menulis apa yang bisa dicatat. Lantas kembali ia ke pelabuhan, pergi membelah lautan, bahkan walau pun ia tahu lautan seringkali sinonim dengan marabahaya.

Kapal kecil, berlayarlah:
Tak berhingga luas lautan,
Walau tiang-tiangmu lesu gemetaran

[sajak Volkswijze atau Lagu Rakyat]

Sajak itu seperti berbicara tentang hidupnya, yang kecil dan yang [terus] berlayar… kendati sendi-sendi kehidupannya sebenarnya rapuh dan mudah gemetar. Seringkali ia yakin [seperti dnyatakan dalam sajak “De Ontdekker”] “bahwa akan ada suatu penemuan, biasanya menakjubkan”, tapi yang ditemuinya lagi-lagi hanya [kembali mengutip “De Ontdekker”] “…arus deras tak berlawan/ ke laut-laut lengang dan pantai-pantai terjal dan sunyi.”

Tapi benarkan lautan adalah kehidupan yang sebenar-benarnya ia teguhi? Kebanyakan iya, tapi kadang juga tidak. Baginya, pelayaran ibarat pilihan terbaik dari sekian pilihan yang semuanya serba buruk. Pelayaran baginya cukup baik untuk sekadar memutuskan hal-hal tak enak di daratan, tapi –seperti dinyatakannya pada sebuah surat— “pelayaran dalam dirinya sendiri bukanlah apa-apa”.

Inkonsisten? Bisa jadi. Ngawur? Entahlah. Tapi begitulah Slauerhoff.

Ia hanya menemukan kenyamanan pada sajak. Itulah rumah Slauerhoff yang sebenar-benarnya, satu-satunya tempat di mana ia bisa dengan nyaman menetap. Sajak terkenalnya, “Woninglooze” [yang kelak mengilhami Chairil Anwar saat menulis sajak “Rumahku], dengan jernih sekali mengutarakan hal itu. Katanya, “Aku hanya dapat bermukim dalam sajak-sajakku,/ Tak pernah kujumpai hunian lainnya.”

Dia mati di atas ranjang, ditemani salah seorang kawannya, penyair Roland Holst, yang menggambarkan kematian Slauerhoff “…diiringi desau yang serba gaib, telah sampailah di sana seorang pemburu agung, lalu perburuan pun berakhir!”

Ya, perburuan yang tak pernah berhasil itu sungguh-sungguh telah berakhir. Tapi, sebelum betul-betul ditumpas maut, Slauerhoff masih sempat menuliskan sajaknya yang terakhir. Judulnya sungguh menggetarkan, laksana epitaf yang dipersiapkan jauh-jauh hari:

In Memoriem: Mijzelf. Dalam Kenangan: Diriku.

Itu judul sajaknya yang terakhir.

16 Comments »

  1. inspirasi? untuk terus melanjutkan perjalanan, hey pejalanjauh?!

    – dudu. iki lagi tahlilan maya :D

    Comment by dewi — 2008/11/27 @ 2:35 am
  2. arep mlaku mlaku ngendi neh?

    – nggolek wit-witan, kang :P

    Comment by bangsari — 2008/11/27 @ 2:54 am
  3. nasib adalah keramaian masing-masing

    – nasib adalah kel***** masing-masing. kekekeke…..

    Comment by guspitik — 2008/11/27 @ 2:59 am
  4. hidup memang penuh liku pilihan, dan keyakinan akan pilihan yang membuah kita tenang didalamnya. mari kawan jalani dengan tapak-tapak walau dikesunyian…., sendiri!

    – yukkkkkk…..

    Comment by ramaprabu — 2008/11/27 @ 3:25 am
  5. urip mung mampir ngombe…
    semoga pilihan pilihan ku bukan menjadi pilihan yang salah

    – mosok sampeyan salah milih bojo, dab? :D

    *mas zen tercinta dan tersayang…komen sampeyan ga ilang kok..sungguh, ono terus nempel terus .. arep tak hapus juga ga bisa, melekat. setidaknya sing tak delok yo..komennya sampeyan selalu ada, ga ngilang*

    – baiklah kalo begitu, saudara wahyu….

    Comment by nothing — 2008/11/27 @ 5:26 am
  6. nek kepingin nguli, tanjung priok atau pasar induk sik ono lowongan, ga usah adoh2

    – weh, sampeyan makelar kuli ta, Cak? :) )

    Comment by Hedi — 2008/11/27 @ 9:27 am
  7. aku tak ngeling2 wajahe sampeyan zen, sesuk ndak lali nek ktmu maneh mumpung isih seger :D

    – kamsute opo, git? sesuk aku wes rak seger meneh ngono? *tendang gita nang kolam HI*

    Comment by aprikot — 2008/11/27 @ 10:40 am
  8. wah yang jalan-jalan terus aja masih merasa bosan? jadi apakah memang tak ada lagi sesuatu di sini yang tak membosankan?

    – bukankah hidup sampeyan selalu fun? :)

    Comment by kw — 2008/11/27 @ 11:35 am
  9. dalam irama mereka berusaha meringankan
    beban yang begitu berat, tak tergerakkan:
    akan jatuh kuli, yang diam menyambut beban,
    akan gila penyair, yang diam memendam perkataan.

    kuli-kuli membanting dan melempar,
    diam dan makan, terbebas sebentar:
    siksa penyair tak pernah berhenti
    dan tanpa istirah disandangnya kutukan ini.

    dari saat terkutuk yang menimpanya,
    ia pun kena rasuk, lupa segala,
    sunyi melingkung dirinya, kata demi kata terjaga,
    minta irama, dan terus ia bawa, ia bawa, hingga matinya.

    … seko bait2 terakhir de dwangarbeiders …
    lah ini kok le komen malah puisi :-P cocok banget ga zen bait2 ntu ma temenmu si koto, penyair yang sering menyebut dirinya kuli hehehe (peace!)

    – dia sudah ckp narsis tanpa perlu saya pajang-pajang namanya.

    Comment by nadya — 2008/11/27 @ 3:54 pm
  10. zen…
    tulisan2mu semakin menggigitku

    – untung tulisanku gak menyandang kuman rabies :D

    Comment by bje — 2008/11/27 @ 6:50 pm
  11. ah, ga acik! gada roman2an pesisirnya!

    err… jadi ini to hasilnya malem2 ke pelabuhan? eh, pelabuhan apa… mana itu? yg gwa mo ikud ndak bole itu?

    bwek!

    – kayaknya emang gitu deh :d

    Comment by pit — 2008/11/28 @ 7:53 pm
  12. “Tiap kali mengambil pilihan, saya merasa apa yang saya pilih selalu salah!”

    tanyakan saja pada robert frost dengan the road not taken-nya itu, semoga ia (dan kau!) tak sama bosannya denganku.

    – kok “kau”? maksudnya “aku”? (meng)ada-ada aja deh. so, kenapa meneliti arundhati roy, bukannya frost? terlalu berat-kah?

    Comment by sekelebatsenja — 2008/11/30 @ 11:08 am
  13. aku punya balasan postinganmu yang bicara kematian itu di postingan terbaruku

    Comment by kuli — 2008/12/01 @ 4:39 am
  14. hooh. “kau”, bukan “aku”.
    arundhati roy?
    soale arundhati roy ada adegan cintacintaan e, gak kayak robert frost yang tersesat di hutan itu. oh, sangat tak menarik :P

    wis, salam wae buat jacob slauerhoff yo. hehehe

    Comment by sekelebatsenja — 2008/12/01 @ 5:31 am
  15. kenapa kita harus berjalan? harus jadi pejalan?

    – krn tidak ada yg mengharuskan utk diam di tempat

    Comment by ridwan klinis — 2008/12/05 @ 6:22 pm
  16. wah, baru kali ini aku lihat mas zen membalas coment para fans-nya. hihihi
    baguslah, mas zen. kayak gitu dong…hehehe

    Comment by ridwan klinis — 2008/12/07 @ 8:52 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity