Payudara
– dengan segala hormat: untuk dua codet di dadamu
Seorang lelaki muda akan berangkat ke medan peperangan untuk sebuah pertempuran yang tak akan pernah dimenangkan. Bukan bayangan kematian yang menggiriskan, tapi patah hati tak tertanggungkan yang membuatnya sungsang. Ia bukan hanya tak direstui ayah kekasihnya. Tapi, kekasihnya sendiri, baru saja melahirkan seorang bayi dalam keadaan mati — bayi hasil senggama yang dihelat dengan tergesa-gesa.
Lelaki itu akan pergi siang ini juga, menerbangkan pesawat tempur kecil, dengan misi yang tak bisa, tak akan pernah bisa, ditawar-tawar: menjatuhkan pesawat yang dibawanya ke cerobong kapal perang musuh.
Di kuil tua dekat danau, ia akan segera menghelat perjumpaan terakhirnya dengan sang kekasih yang rahimnya baru saja terkoyak oleh peruntungan yang durja. Simaklah, bagaimana payudara tampil dengan anggunnya, memainkan peranan yang tak pernah terbayangkan dalam lakon mana pun yang pernah ditulis manusia.
fragmen satu
Aku duduk bersimpuh di hadapannya dengan wajah menunduk dan pandang mata yang menancap kuat di lantai kuil yang dari abad ke abad suhunya selalu dingin. Di depan kami, ada satu cangkir dan sebuah teko yang penuh dengan teh hijau yang sebelumnya sudah kusiapkan. Kini saatnya aku menuang teh hijau itu ke cangkir untuk kemudian ku hidangkan untuknya.
Tangan kananku terjulur menjangkau tangkai teko dan tangan kiri menyusul menggapai cangkir. Aku menikmati semua gerak yang kugelar, menghayati semuanya dengan lima indera yang kupunya. Mataku bisa menjangkau ujung lengan kimonoku yang terjuntai di tiup angin musim gugur yang berhembus diam-diam. Telingaku bisa menangkap denting teko yang beradu dengan cangkir, denting itu begitu lirih, terlalu lirih bahkan….
Ia menerima cangkir yang kuberikan padanya. Tapi, hingga beberapa lama, ia tak segera meminumnya. Tiba-tiba di antara kami terhampar jurang pengertian yang tak terjembatani, sekaligus tak terpahami. Aku tundukkan wajahku lebih dalam lagi dan pandang mataku kutancapkan lebih kuat lagi ke lantai.
Lalu ia mulai berbicara dengan terbata-bata. Aku menyimaknya tanpa memandang wajahnya yang tegas dengan garis yang kokoh. Mataku hanya menatap ujung lututnya dengan pandangan yang setengah nanap. Aku tak bisa segera menjawab permintaannya –permintaan terakhirnya. Permintaannya terlalu aneh, atau mungkin lebih tepat jika dibilang permintaan yang asing. Saat itulah aku mencoba melihat apa yang akan terjadi esok, mencoba menakar seberapa penting premintaan itu untuknya, menghitung seberapa berharga jam-jam terakhir dalam hidupnya.
Lalu aku bisa memahaminya dan mengangguk mengiyakan apa yang dimintanya.
Dengan gerik yang sama pelannya dengan saat menuangkan teh hijau, kuturunkan kerah kimonoku. Lima inderaku masih sama pekanya, sampai-sampai aku bisa mendengar bagaimana sutera kimono yang kukenakan berdesir saat turun dengan pelan. Lalu kubuka lilitan ikat pinggangku, dengan sedikit tergesa, sehingga yang terdengar bukan lagi bunyi desir, tapi lebih mirip suara gemercik gerimis yang jatuh di teratak.
Kimono ini sekarang sudah menganga dan buah dadaku menyembul tanpa kata-kata. Sekilas, aku sempat berpikir, buah dada sebelah mana yang hendak kugapai. Aku memutuskan yang kanan, semata karena ia –dulu– selalu menyentuhnya lebih dulu dibanding yang kiri. Aku menyangga buah dada kanan itu dengan tangan kiriku, menariknya keluar pelan-pelan, menyorongkan ke wajahnya. Kembali, sekilas aku menatap buah dada kananku, lalu merambati ke ujungnya. Putingnya mencuat, aih… dengan begitu bagusnya, jauh lebih bagus dari kapan pun aku pernah melihatnya.
Aku melihat lelaki di hadapanku, kekasihku, ayah dari mendiang bayiku. Matanya nanap memandang buah dada di hadapannya. Ia sempat terdiam beberapa saat, sebelum kemudian ia mengangkat cangkir berisi teh hijau. Cangkir itu disodorkannya ke ujung bagian bawah puting buah dada kananku. Aku menyambut gerakannya dengan melingkarkan jari-jari tangan kiriku ke buah dada kananku, sehingga ujung ibu jari dan ujung kelingking bersentuhan satu sama lain. Aku menekannya pelan-pelan….
Ada rasa geli yang menyelinap berikut rasa nikmat yang terasa asing. Aku memejamkan mata dengan lembut. Ketika aku mulai merasakan ada sesuatu yang mendesak dari tubuhku, ku buka lagi mataku. Lalu aku melihat, air susu yang putih dan hangat membersit dari ujung buah dada kananku, jatuh ke dalam cangkir berisi teh hijau. Aku menghayatinya dengan seksama, menyimak bagaimana air susu itu bercampur dengan teh hijau, meninggalkan buih yang indah dan tak terduga.
Ia lantas mengangkat cangkir tadi dan mendekatkan ke bibirnya. Aku tak melihat cangkir itu, tapi memilih menyesap matanya, yang perlahan tapi pasti tiba-tiba digenangi oleh selaput air yang begitu halus. Itu pastilah benih air mata, tapi aku seperti melihat air susuku tiba-tiba menggenang di sana….
Fragmen Kedua
Aku tahu ia akan memenuhi permintaanku, bahkan kendati permintaan ini adalah jenis permintaan asing dan aneh yang pernah didengarnya.
Aku tak bisa berdusta bahwa mataku tiba-tiba nanap menyaksikan buah dada kanan itu dibawanya keluar dari kimono sutra terindah yang ia punya. Aku melihat segumpal daging yang putih tanpa cacat dengan puting coklat tua mendekati kelabu yang mencuat di ujungnya. Dua warna itu terasa kontras, tapi anehnya terasa pas padu-padannya.
Rasa-rasanya aku seperti melihat tumpukan salju dari pucuk Gunung Fuji yang di tengahnya mencuat batu karang dengan warna yang kontras lagi tajam. Rasanya aku seperti tak mengenalnya. Asing. Dan, yang jelas, tak mampu menggodaku. Mungkin karena aku melihatnya dengan terlalu teliti, secermat-cermatnya, selengkap-lengkapnya. Ini membuat buah dada itu menciut menjadi hanya nukilan-nukilan kecil yang berserakan.
Aku memundurkan kepalaku sedikit, mencoba memandang buah dada ini dari sudut pandang yang berbeda. Perlahan, buah dada itu mulai tampak seperti sesuatu yang sudah ku kenal sebelumnya. Keindahan ternyata begitu lambat menyentuhku. Orang lain melihat keindahan dengan cepat, dan menemukan keindahan dan berahi dalam waktu yang sama, pada detik yang serempak. Tapi, padaku, semuanya selalu datang lebih belakangan, lebih pelan, lebih lambat.
Untuk pertama kalinya sejak tadi, buah dada itu mampu menjadi dirinya sendiri, menjadi satu inti yang utuh, dengan aura keabadian yang tak bisa dipulihkan oleh apa pun dan siapa pun. Ya, buah dada itu seperti ditakdirkan menjadi abadi, setidaknya abadi dalam ingatanku yang tak lama lagi tak akan mampu mengingat apa pun.
Air susu yang kemudian membersit dari buah dadanya makin menyempurnakan keabadian yang melingkupinya. Air susu itu seperti jam pasir di sebuah surga yang abadi dan tak mengenal waktu. Apa gunanya penunjuk waktu bagi surga yang abadi, selain untuk mengingatkan bahwa ada kesementaraan. Kesadaran akan kesementaraan yang dihadirkan penunjuk waktu itu justru membuat keabadian lebih menyentuh, sebab tak ada rasa nikmat yang tak berujung tanpa rasa perih yang tak tertanggungkan, tak akan ada rasa manis tanpa rasa pahit.
Aku menatap cangkir berisi teh hijau yang di permukaannya kini diseraki buih-buih putih yang mengejutkan. Di sana, pada titik-titik putih buih air susu, samar-samar aku seperti melihat mendiang bayiku. Bayi itu tampil diam-diam seperti sebentuk etsa yang belum tuntas. Tiba-tiba aku merasa merindukannya, dia yang tak pernah hidup, yang sudah mati sehari sebelum dilahirkan.
Segera aku mengangkat cangkir itu, menyorongkannya ke mulutku. Aku meminumnya dengan perlahan, amat perlahan, sehingga buih-buih air susu itu bisa kubedakan dengan teh hijau saat melewati kerongkonganku. Aku tak tahu seperti apa rasanya.
Aku menatap perempuan di depanku, kekasihku, ibu dari mendiang bayiku. Aku tak ingat apa yang kupikirkan saat itu. Aku hanya ingat, mulutku berbisik lirih dengan kata-kata yang tak pernah aku rencanakan:
“Teh ini menjadi bukti betapa sedihnya hidup ini….”
Tak pernah menyangka kalau payudara bisa memberikan kesedihan… Sedalam, atau setinggi kenikmatan yang terasa darinya…
a. Payudara=Porno
b. Payudara=Tragedi
tentukan pilihanmu di http://www.pejalanjauh.com
apakah akan menjadi filosofi teh? kesedihan dan kebahagiaan yang menelusup pelan, begitu perlahan dan lembut?
kisah payudara paling tragis yg pernah gwa baca. hail zen!
semi telanjang. tentunya sambil kepala yang mendongak keatas. khas, mi hermano.
ck..ck..ck.. aku selalu membayangkan sesuatu yang aneh dan tidak terduga. sperti putus asa yang hebat. mungkinkah kau reinkarnasi si Mishima dari negeri samurai itu?
hemm.. akhirnya aku sepakat dengan kalimatmu juga: “nasib adalah kesunyian masing-masing..” amin.
long live uu pronografi … ahahahahahahahahah ;p
aku pamit sik bro.. mengko kalo ada cerita bagus lagi dikabari.. salam.
meh mangan sik je.. ngelih..
payudara, bisa jadi feed hidup, bisa juga jadi sumber bencana
surprised and amazed me as always..agree with mpitz..hail to zen!
sebuah akhir cerita yang sedih…
payudara bisa jd inspirasi yg ga abis2 ya…
kl penis ??
wooogh postingan ini toh yang bikin kamu ragu-ragu kemaren Zen? nyahahahahahaha
Gini deh, proses pembentukan kelenjar susu di dalam payudara itu biasanya terjadi setelah memasuki bulan ke 7. Ada beberapa kasus, dimana air susu sudah mulai keluar *tapi tidak deras* di bulan ke 7 itu. Biasanya ini terjadi pada ibu-ibu yang sudah pernah melahirkan, karena putingnya biasa sudah bersih dari kotoran-kotoran yang menyumbat jalan air susu itu. Tapi kalo anak pertama, uhmmmm jarang terjadi.
sayang kamu ngga lengkap bercerita di atas, bahwa mendiang bayi itu meninggal di bulan ke berapa dan anak ke berapa. hihihihi..
cih! kok lagi ngomongin ASI?
*salahnya kemaren ngajak diskusi*
Salam..
Judulnya ‘menarik’.tp bs jd nguciwani bbrp org..;) bkn payudaranya tnyta… Ptanyaan;apakah ktk maut menjelang tu silhuet hidup kt bnar2 bkelebat cepa dipelupuk mata?dan torehan sjarah kmbali ke awal pjalanan: susu ibu?
Salam..
Judulnya ‘menarik’.tp bs jd nguciwani bbrp org..;) bkn payudaranya tnyta… Ptanyaan;apakah ktk maut menjelang tu silhuet hidup kt bnar2 bkelebat cepa dipelupuk mata?dan torehan sjarah kmbali ke awal pjalanan: susu ibu??
berkalikali dibaca tetap saja bikin sedih
pada awalnya,
kukira ini pornografi
pada akhirnya
initerpretasi memaknai ini sebagai tragedi
atau malah, sunyi yang meremukan hati..?
maksudku interpretasi,
salam
payudara itu punya ukuran berbeda antara kanan dan kiri..!!
mau bukti..???
silahken,buktikan sendiri…
*kipas2*
glekk…
Hm… soal payudara, jadi ikut naik turun nih dibuatnya
Incredible!
halo..
kemaren saya lihat tulisanya di NG, menarik..
wonderful!
saya merinding mbaca ini!
“payu-dara”, itulah nasib manusia dengan ‘rejekinya’ yang dibawa sejak lahir lewat ‘vital’ satu ini. Payu= laku dara=gadis hee jadi gadis yang laku bisa menghasilkan bening susu yang memanusiakan, bukan susu kudaliar atau sapi seperti anak-anak kita sekarang! lantas, ketika yang ‘vital’ dari manusia satu ini telah tergantikan oleh hewan akankah kita seperti “HEWAN”?
“payu-dara”, realisme…..! he.
@ chic
konon kolostrum itu adalah bagian terbaik dari ASI
bagus tulisannya….
salam kenal kang zen
coba aku baca ini sebulan lalu, pasti aku kirimin ke Panitia Lomba Cerpen FEMINA 2008. Ama Ayu Utami pasti dimenangin, secara, dia sesama penggemar kata-kata-spektakuler ;p
Buat aku, ni cerita keren, nyentuh, mbumi, nyehari-hari [halah opo tho yo bosone???]
Selamat, kujadikan kau pemenang cerpenku minggu ini, Nak!
kenapa FEMINA? karna pas baca ini aku jd keinget salah satu cerpen FEMINA di edsus ultah ke 25 kalo gak salah.
kalo gak salah judulnya Istri Pilihan.
Kalo gak salah penulisnya Clara Ng.
Trus juga masuk dalam kumpulan cerpen Clara Ng berjudul Malaikat Kecil kalo gak salah.
Smg semuanya gak salah.
Nah, critanya ttg pasangan yang kehilangan anak pertama sekaligus terakhirnya (sang istri gbs hamil lg). sumpah, sedih bgt bacanya.
huuuh…menyesakkan….
dalem…
membayangkan tentang jurang yang tiba-tiba membuat jarak itu. luar biasa..
ada gak yang masih bisa bayangin rasanya susu ibu kita???