Eksekusi
– benarkah mereka bisa setenang itu?
Siapa yang bisa memahami bait di bawah ini mungkin bisa mengerti apa yang diinginkan seorang terpidana mati beberapa saat menjelang eksekusi:
“Megah-megah dalam penjara hingga segalanya harus ditentang Nyisih dari segala kegelapan akan pudar Megah-megah dalam penjara hingga datang kemenangan jiwa Aku bangga aku bangga Karena kelelahan jerih payahku Kan kuperuntukan hanya bagi kemulyaan Tuhan Di mana tanah tandus di situlah aku bercocok tanam.”
Henky Tupanwael, garong kambuhan yang bolak balik masuk penjara karena kasus perampokan dan pembunuhan, menuliskan paragraf itu pada tengah malam menjelang eksekusi hukuman matinya pada 1980. Tak begitu jelas apa artinya –mungkin sajak, mungkin juga do’a.
Saya selalu membayangkan, detik-detik terakhir menjelang eksekusi sebagai momen-momen menggetarkan, juga menggentarkan. Tapi, seringkali, banyak pesakitan yang bisa dengan begitu tenang menghadapi ajal.
Charles Brooks Jr., orang pertama yang dieksekusi dengan menggunakan suntikan di Texas, diberitakan bisa dengan tenangnya melahap steak dan kentang goreng berikut buah peach kesenangannya hanya beberapa menit menjelang eksekusi. Tak lama berselang, mungkin sebelum seluruh makanan itu tercerna di perutnya dan mungkin masih dengan sisa slilit di gerahamnya, Brooks menemui ajalnya.
Ia didampingi kekasihnya, Vanessa Sapp, di saat-saat terakhirnya itu. Sebelum berbaring di tempat eksekusi, Brooks sempat menatap Sapp dengan lembut dan dengan senyum tipis ia bilang: “Aku cinta padamu!”
Beberapa detik sebelum jarum suntik menembus dagingnya, Brooks lebih dulu membacakan syahadat. Dengan gerak yang begitu tenang, ia sendiri yang menyingsingkan lengan kemaja putihnya untuk mempermudah eksekusi suntik. Lalu, disaksikan kekasihnya, takdir itu pun datang….
Kusni Kasdut lain lagi. Residivis legendaris yang terlibat dalam sejumlah gerilya pada masa revolusi ini meminta dipertemukan dengan keluarganya. Sembilan jam sebelum eksekusi, ia bertemu dengan Sunarti (istri keduanya), Ninik dan Bambang (anak dari istri pertama), Edi (menantu, suami Ninik) dan dua cucunya, anak Ninik.
Kusni dibawakan makanan kesukaannya yaitu capcai, mi dan ayam goreng. Kusni menyantapnya dengan amat lahap, sementara para kerabat teraksihnya itu sama sekali tak berselera menyantap apa pun. Ya, hanya si pesakitan yang bisa dengan lahapnya menghabiskan makanan.
Tengah malamnya, Kusni tak tidur. Ia menghabiskan waktunya dengan duduk di dekat terali besi, mengobrol dengan para sipir, sembari tak habis-habisnya menyesap kretek kesukaannya. Tepat pukul 3 pagi, tim eksekutor datang menjemput. Kusni menolak untuk mandi lagi. Setelah menyalami para petugas penjara, Kusni berangkat ke tempat eksekusi. Dan, lagi-lagi, takdir itu pun menjelang….
Lain lagi dengan Oesman Batfari. Jagal manusia dari Mojokerto –yang bakatnya sebagai jagal diasah oleh pekerjaannya sebagai jagal kambing—menghabiskan hari terakhirnya dengan sibuk menjahit pakaian, pekerjaannya di penjara selama menanti eksekusi. Kepada wartawan, seorang sipir penjara menunjukkan karya terakhir Oesman: “Lihat, rapi sekali jahitannya….”
Atau, simaklah bagaimana Amir Sjarifuddin, Perdana Menteri yang menggantikan Sjahrir, menikmati jam-jam terakhirnya dengan duduk di bangku Stasiun Tugu, Jogja, dengan sungguh tenang. Di atas gerbong kereta yang sudah dikosongkan, dengan tak kalah tenangnya, Amir membaca drama Romeo and Juliet yang diberikan oleh orang yang mengawalnya. Sementara di luar stasiun, rakyat Jogja berkerumun mencoba menyaksikan wajah bekas Perdana Menteri untuk terakhir kalinya.
Dr. Wiroreno, yang sama seperti Amir didakwa terlibat peristwa PKI/FDR 1948, bahkan harus menghadapi regu tembak di alun-alun Pati yang terbuka. Gie melaporkan, dr. Wiroreno bisa dengan begitu khidmatnya menghadapi algojo yang hendak memangkas nyawanya. Yang gemetar dan gentar justru Sang Algojo. Ia sampai harus meminta maaf dan bersimpuh lebih dulu pada dokter pesakitan yang hendak dijagalnya. Bukan apa-apa, dr. Wiroreno dikenal sebagai dokter yang sering suka rela mengobati pasien-pasien di Pati, termasuk salah seorang kerabat Sang Algojo.
Atau simaklah kesaksian Roeslan Abdoelgani sewaktu menyaksikan anak-anak muda Pesindo yang hendak dieksekusi, juga karena tersangkut peristiwa PKI/FDR 1948. Mereka meminta ijin untuk menulis surat lebih dulu, setelah itu –dengan khidmat—mereka menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dan disusul mengumandangkan –kali ini dengan bersemangat—lagu “Internationale”. Yang mengejutkan, di detik terakhir sebelum pelatuk ditarik, mereka sama-sama meneriaki para eksekutornya dengan kata-kata: “Pengkhianat!”
Dr. Roeslan Abdoelgani mengaku terenyuh. Bisa dimengerti jika Roeslan terenyuh dan para pemuda itu meneriaki para eksekutornya sebagai “pengkhianat”. Bukan apa-apa, situasi di lapangan ketika itu begitu hiruk-pikuk, penuh dengan laskar-laskar partikelir bersenjata yang tak jelas afiliasinya, dan mereka sendiri merasa melakukan semuanya demi tanah air.
Sewaktu merefleksikan tragika Kudeta Madiun yang memakan banyak korban, termasuk Musso dan Amir Syarifuddin, Jenderal Simatupang dalam memoirnya Laporan dari Banaran, menulis: “Saya yakin bahwa do’a yang terakhir dari anak-anak itu (prajurit dan pemuda yang terlibat dalam Madiun Affair) semua adalah untuk kebahagian dan kebesaran tanah air yang satu juga.”
Yang juga masih saya ingat adalah cara Kutil menghadapi regu tembak di Parangkusumo, Jogjakarta. Kutil adalah algojo yang namanya menjulang tinggi dalam Peristiwa Tiga Daerah pada akhir 1945 dan awal 1946. Sebelum menjadi eksponen penting huru-hara di Tegal, Brebes dan Pemalang itu, Kutil lama menjadi tukang cukur di Jakarta selama pendudukan Jepang. Dengan pisau cukurnya yang tajam, Kutil banyak mengeksekusi para pejabat lokal yang dulu dianggap banyak bekerjasama dengan Jepang. Anton Lukacs menggambarkan bagaimana Kutil ini dengan begitu tenangnya menghadapi regu tembak. Ia bahkan memilih posisi eksekusi yang unik: Jongkok!
Tenang atau tidak, khidmat atau tidak seseorang menghadapi ajal yang sudah menjelang di depan mata, maut toh tetap saja datang. Lagi pula, kita tidak tahu persis apakah ketenangan yang tampak itu juga berbanding lurus dengan ketenangan di dalam batin dan dada mereka. Hanya mereka sendiri yang tahu. Algojo pun tidak.
Selebihnya: senyap!
ketika kita sudah tau apa yang sedang menunggu, dan tak ada jalan lain untuk berbalik ke belakang, hal paling melegakan untuk dilakukan adalah menerima, dan mungkin akan menjadi menyenangkan ketika sudha mengakrabinya. mungkin..
dulu sekali, di depan rumah kakek di kampung, mengontrak sepasang pejuang tua..umurnya nyaris 80, aki suharna,demikian kami menyapa.
pada masa penuh gejolak itu, ia adalah algojo dari divisi siliwangi, pangkatnya kopral, menurutnya..ia tak mampu mengingat jumlah manusia yang sudah disembelihnya. betul-betul disembelih dengan golok tajam, untuk menghemat peluru. tak jelas, apa mereka yang disembelih sudah diadili atau belum, tetapi kebanyakan yang ia sembelih adalah para telik yang berpihak pada belanda, demikian dongengnya. pada masa pemberontakan DI/TII, ia banyak menyembelih “gorombolan” yang tertangkap di gunung, setelah operasi pagar betis dan pengasapan gua-gua.
meski tak ingat betul berapa jumlah orang yang sudah disembelihnya, ia ingat betul proses penyembelihan itu…setiap ceritanya membuat kami bergidik, ngeri, takut, jijik..sampai tak doyan makan. kepala para terhukum itu diletakan di paha, lalu ia tatap matanya…ada yang benci ada yang menghiba, namun selebihnya pasrah…dalam keadaan tubuh terikat. tak ada permintaan terakhir…aki suharna menggorok leher-leher itu, beberapa sampai putus. pada goloknya tersisa darah…aki suharna selalu menjilat sisa darah itu, biar tak terbawa mimpi, biar tak menghantui..
bercerita..begitu kata aki suharna, adalah cara untuk menyingkirkan perihnya hati mengingat masa-masa penyembelihan itu, ia bercerita sedetail-detailnya pada siapa saja, sampai kami menghindar buat diceritai lagi.
cara yang aneh, tapi itu yang membuatnya nampak damai menjelang mati.
.
bagi mereka yang merasa “menuju surga” apa yang berat dari sebuah hukuman mati? seperti kata Amrozi yang kira2 begini: “Bodoh sekali orang-orang itu menghukum mati saya. Itu kan sama saja dengan mengirim saya ke surga.”
terimakasih kali ini masih membahas tentang kematian lagi. memang hal yang misterius bagi kita yang belum menjalaninya. tapi ampuh. aku suka cerita tentang tukang jagal, pesakitan, dan calon terpidana mati, salah satunya yang tiba-tiba menjahit baju sembari menunggu saat kematian.
tidak perlu membela siapapun, tidak perlu menyalahkan siapapun. toh, mereka juga akan tetap mati. jadi teringat lagi dengan chairil anwar; ’sekali berarti sudah itu mati’
salam sunyi.
tampaknya memang cuma ia dan ‘tuhan’ yang tahu.
tapi siapa yang tahu kalau ia benarbenar tahu?
Koq tulisanya semakin lama semakin kecil ya…:D
salam kenal..
asu lah. apapun alasannya, manusia ga berhak menghabisi nyawa manusia lain. negara juga.
aku mendapat kisah, bahwa sebenarnya tak ada yg namanya ‘kematian’.
kematian adalah perpindahan dimensi. musnahnya wadag kita. dan percaya atau tidak, roh kita sendiri yg memilih cara mati kita.
jujur, aku masih mencerna kisah tersebut.
Saya hanya tahu bahwa semua nyawa di muka bumi ini adalah milik Tuhan. Bukan milik manusia.
aku merinding zen
no comment…
hukuman mati ya?
ga berani komentar banyak, takut salah.
waktu kuliah saya pernah mempertanyakan hal yang sama dengan beberapa komen di atas, kenapa harus ada hukuman mati, nyawa kan di tangan Tuhan bukan manusia. dan bahkan dosen hukum pidana saya waktu itu pun tak mampu menjawabnya.
jadi inget seorang teman yang waktu itu bertugas sebagai hakim ketua sebuah kasus di PN Selatan, yang dengan amat terpaksa menjatuhkan hukuman mati kepada terdakwa kasus itu. satu statement yang saya ingat dari teman saya waktu curhat adalah “kalau saya mau kaya saat itu juga chi, 5 milyar sudah ada di depan mata saya. cash! tapi saya lebih memilih moral bangsa ini. kalo saya tidak menjatuhkan hukuman mati, moral bangsa ini akan semakin hancur”. dan saya tidak mampu berkata-kata.
dan kasus itu menjadi kasus terakhir yang dipegang oleh teman saya itu, karena sejak saat itu beliau sudah tidak mau lagi memegang kasus, bahkan lebih memilih pindah jalur neski tetap dalam lingkaran kehakiman.
lantas saya pikir, hukuman mati mungkin lebih kepada shock therapy buat orang-orang untuk melakukan kejahatan. hanya saja, ada hukuman mati aja penjahat tambah banyak, lalu bagaimana kalo ngga ada.
tapi ntah lah… lagi pula siapa saya untuk meng-judge siapa penjahat dan siapa pahlawan… *sigh*
seandainya kelak kau dieksekusi, siapakah nama terakhir yang kau gumamkan, zen?
sereeeemm euy
heyyy,,, i love the new look, zen!
mungkin yg akan dieksekusi hanya menggumam, “let em come, let em come….”
bang aku bacanya sedikit merinding but aku like with tulisan abang yg ini. hikmah dan pembelajarannya itu yg bikin bernilai tulisan abang ini.
salam hangat selalu
ur back with the death topic..love it..btw,cuma mo tanya emang di negara ini ga ada hUkuman seumur hidup gitu ya?
Edaaannnnnn, ganas perumpamaan-perumpamaannya.
gimana ya biar bisa bikin tulisan yang berasa lagu Melancholia-nya Efek Rumah Kaca model2 begini Mas?
Enak atuh euy, ada kesempatan buat tobat yang ga bisa lagi kita ulur-ulur. Hahaha..
Mati ya tetep aja mati, mau gimana kek caranya.
Cukup inget descartes aja, ‘aku berpikir maka aku ada’. Berarti kan masih ada kemungkinan kalo pas kita dihukum mati kita berpikir bahwa kita ‘ga mati’, ya kita emang ‘ga kan mati’, y ga? Hahahaha..
ps: belom ada yang comment segoblog ini kan???
siap ga siap harus siap. apa yang ditampilkan bisa jadi untuk menutupi apa yang terjadi di dalam…
zen, aku menghitung berapa lama kamu betah ga nge-blog…udahlah, banyak yang merindukan tulisanmu kok..
dan hanya satu kata yang diucapkan amrozi, cs ketika diberitahu bahwa mereka segera menemui ajal. Kafirrrr…..itu saja hehehehhehehe
Imam Samudera, menurut sumber dia menghembuskan nafas paling akhir. Eksekutor sempat gentar ketika hendak mengeksekusi, PAsalnya Imam samudera menurut kabar Imam punya ilmu kebal.
Apabila kita yang menjadi eksekutor, sanggupkah kita?
@enggink ha ha…

jangan-jangan kita tuh calon algojo juga? bahkan lebih kejam. diam-diam memeras, menggerogoti orang-orang lemah pelan-pelan sampai mereka tak kuat, lalu mati.
kematian amrozi cs memulai permainan politik fundamentalisme menjadi lebih panas..semoga yang saya katakan ini salah..
mati kok idup lagi???? wah ini blog yang mencatat mati dua kali. huihihihihihihi
zen, ga sempurna tulisan soal eksekusi ini tanpa kisah tentang kutipan: “where’s my moon?”
asu tenan kowe sedulur,………….. tulisanmu kok apik banget, manganmu opo tho????????.
Tak ada yang bisa MELEMAHKAN orang yang yang YAKIN walau KEYAKINANNYA salah sekalipun
serem bacanya
hidup mati katanya milik Alloh: kata orang Islam, tapi kenapa kita sok…mampu membunuh manusia lainnya ya? kan hukum alam sesungguhnya mengajarkan harmoni bukan penghakiman atas sesama. sepertinya peradaban kita adalah peradaban barbar yang menetapkan diri pada singgasana untuk menghabisi yang “minor” dalam tindakan dan perbuatan.
hingga kini dualisme rasa pada kasus “hukum mati” buatku masih mendua,belum menemukan yang terbaik untuk menjaga agar manusia dan alam dapat selaras harmoni dalam hukum alam yang seimbang.
aku memikirkannya ketika menggosok gigi dan menatap bayangan di cermin, saat air pancuran kamar mandi mengguyur badan ini, sebelum sendok makan pertamaku, dan terkadang ketika aku sendirian di kamar.
sungguh, mati itu pasti, aku tahu!
tapi yang kupikirkan bukan itu zen.. melainkan mengapa/ untuk apa kita hidup???
alangkah indahnya tdk ada hukuman mati…..hukum seumur hidup kemudian setelah menjalani di maafkan dan kembali ke kehidupanya wl itu hrs ditebus puluhan tahun yg tdk berujung, coba para koruptor itu juga dihukum ! mereka sdh menjadi algojo semua orang yg telah mereka makan uangnya demi keluarganya dan hidupnya, baru deh layak mati !
udah baca “boeron dari digoel” (wiranta) & “tawanan” (parakitri simbolon)? banyak ttg “perasaan2 para manusia-menjelang-mati” –to answer ur beginning question
hidup memang untuk menunggu mati…..