»

Merdesa

cermin — pejalanjauh @ 3:09 am

– merdesa atau mati

merdesa1Jika pekik “MERDEKA” pernah begitu menggetarkan di jalanan Jakarta pada tahun-tahun pertama kemerdekaan, maka imaji apa yang mencuat dari grafiti bertuliskan kata “MERDESA” yang muncul di beberapa dinding di tepian jalanan Jakarta?

Pada salah satu malam flaneur saya di jalanan Jakarta, grafiti itu saya jumpai di sebuah kolong jembatan kereta api di sebelah utara kota tua yang menuju arah Pelabuhan Sunda Kelapa. Di sana tertulis: “Merdesa atau Mati”.

Salah tulis? Saya yakin tidak. Sebab, saya menemukannya kembali di dinding sebelah timur Hotel Sriwijaya di Jalan veteran, Jakarta Pusat. Di situ, tak tertulis kalimat “Merdesa atau Mati”, melainkan kalimat “Merdesa = Hidup Layak”.

Ada banyak alasan kenapa saya tertarik dengan grafiti “Merdesa”, terutama grafiti yang saya lihat di Jalan Veteran.

Pertama, saya hampir tiap hari melewatinya, terutama saat hari masih begitu dini, antara jam 2 hingga jam 4 pagi. Itulah jam-jam krusial bagi perut saya, sewaktu lapar mulai menghajar, dan persediaan kretek biasanya sudah mengempis. Dalam perjalanan menuju warung kopi yang menyediakan indomie rebus dan rokok, saya tak pernah alpa menengok grafiti itu.

Jika sudah begini, rasa-rasanya, grafiti “Merdesa” berbunyi lebih nyaring karena –inilah alasan keduanya—tak jauh dari situ selalu ada belasan orang yang tidur berjejer, beralas kadang sarung kadang kardus, berbantal tangan sendiri dan berselimut spanduk-spanduk yang tak jelas asal-usulnya.

Di sekitarnya, terparkir beberapa sepeda yang di jok belakangnya terpasang termos air dan pada stangnya bergelantungan berjenis-jenis minuman sachet. Bukan hanya itu, selalu ada beberapa gerobak terparkir, kadang tanpa isi kadang penuh dengan kertas, kardus dan botol-botol plastik minuman.

Merekalah paria di ibukota: para pemulung, manusia gerobak, pedagang minuman keliling, gelandangan dan kadang orang gila.

Sebelumnya, di sekitar situ, hanya ada beberapa mobil carteran yang biasa parkir dengan sopir yang terlelap di dalamnya. Saya tak ingat persis sejak kapan mereka menjadikan trotoar Jalan Veteran sebagai tempat tidur di waktu malam. Tapi belum lama, mungkin sekitar Juni atau Juli. Mereka mulai berdatangan saat menjelang Maghrib dan lenyap tanpa meninggalkan sampah saat hari belum berangkat terang. Datang dan pergi begitu saja, tapi pasti selalu kembali pada malam hari.

Ada seorang ibu-ibu yang selalu tidur memeluk dua anaknya yang masih kecil, ada seorang lelaki tua dengan misai tak terurus yang selalu berbaring mepet dengan tembok, ada seorang pemuda yang selalu tidur dengan dua kaki yang tegak dengan lutut menantang langit, ada seorang perempuan paruh baya yang selalu tidur dengan memegang korek kuping.

Saya mengingatnya dengan baik karena hampir tiap malam saya melewati mereka dan selalu saja mereka semua sedang lelap. Saya mengingatnya dengan baik sekuat ingatan saya pada beberapa lelaki yang selalu main catur di sana jika malam belum terlalu larut.

Sesekali saya dengar ada yang membawa radio kecil yang melantunkan tembang-tembang berbahasa Jawa dengan alunan gendhing yang ganjil tapi pasti selalu berhasil meninabobokan mereka, membawa mereka ke alam mimpi, entah memimpikan apa, mungkin memimpikan kampung halaman mereka di Jawa, kembali ke desa, bukan untuk merdeka, tapi untuk “Merdesa”

Jika melewati mereka pada jam-jam yang masih sore, terlihat betapa satu sama lain dari mereka seperti tak saling mengenal. Selain para lelaki yang main catur, jarang saya lihat mereka bercakap-cakap. Semua sibuk dengan dirinya sendiri. Acuh-acuh saja.

Satu waktu, sekira jam satu malam, saya melihat sosok besar di bawah selimut spanduk bergerak-gerak. Makin dekat saya makin sadar di bawah selimut spanduk itu ada dua orang, dengan suara yang tak jelas, tapi masih kelewat jelas untuk mengetahui bahwa keduanya sedang sama-sama “membuang hajat”. Keduanya menghentikan aktivitasnya saat langkah kaki saya terdengar jelas, tapi kembali kasak-kusuk begitu langkah kaki saya menjauh.

Itukah artinya “Merdesa = Hidup Layak”? Saya tidak tahu.

Pernah saya bertanya pada salah satu di antara mereka. Saat itu masih sekitar jam 10 malam dan banyak dari mereka yang masih terjaga. Dengan memesan segelas kopi susu pada salah satu dari mereka, saya duduk di trotoar persis di sebelah salah seorang di antara mereka. Saya bertanya padanya siapa yang menulis grafiti dan apa artinya grafiti itu.

“Mboten ngertos, Mas.”

Saya manggut-manggut. Seseorang yang duduknya agak jauh tiba-tiba menyahut: “Katanya itu ditulis pas subuh-subuh. Tapi ndak tahu siapa. Yang jelas bukan saya, kok. Mana ada duit buat beli cat (baca: pylox).”

“Trotoar kan panjang, Mas. Tapi, kok, mereka tidurnya persis di dekat-dekat tulisan “Merdesa” itu ya?”

Lelaki yang duduk agak jauh itu mengangkat bahu. Tapi pedagang kopi di sebelah saya menyahut sembari mengarahkan telunjuknya ke arah selatan: “Daripada tidur di sebelah sana, mending di situ, Mas!”

Saya melihat arah yang ditunjuknya. Saya tergelak. Di sana ada grafiti dengan ukuran lebih besar tapi letaknya lebih bawah. Tulisannya: “Kon**l”. Saya tergelak. Sembari menawarkan sebatang kretek, saya menyahut: “Lha kan sama aja, toh? Sama-sama tulisan, kok.”

“Lha kalau sampeyan ke sini sama anaknya, dan dia nanya itu tulisan apa, apa sampeyan gak keblinger jawabnya?”

Lelaki pedagang kopi pamit hendak berjualan. Saya membayar. Ia berlalu ke arah selatan, menuju Monas, mengendarai sepeda mini, dengan suara kreot-kreot yang nyaring. Saya melihat punggungnya menjauh, punggungnya terlhat mengecil, terus mengecil, makin kecil, benar-benar kecil, lalu lenyap.

Inikah artinya menjadi “orang kecil”, terus mengecil, makin mengecil, selalu kecil, lalu lenyap?

(Lagi-lagi) saya tak tahu. Yang saya tahu –inilah alasan ketiganya–, 500 meter ke arah barat dari trotoar itu, Istana Negara berdiri dengan gagah, segagah Monas yang menjulang dengan pucuk bersepuh emas.

Saya ingat Soe Hok Gie. Pada halaman-halaman awal catatan hariannya, ia pernah melihat seorang gelandangan memakan sisa-sisa makanan yang ditemukannya di jalan. Gie, seingat saya, lantas menulis dengan memaparkan kontras seperti yang juga saya rasakan: semua pemandangan itu terjadi tak jauh dari Istana Negara.

Saya beranjak dari trotoar dengan lebih dulu menghabiskan sisa kopi susu yang saya beli barusan. Sekali tenggak habis. Tiba-tiba rasanya sedikit lebih pahit.

Saya berjalan ke selatan, searah menuju Monas, dan dengan sengaja melewati beberapa lelaki yang sedang main catur di bawah lampu yang memancarkan tempias keemasan. Ada beberapa sisa nasi bungkus di sana, salah satunya masih terbuka dan terlihat masih menyisakan makanan dengan sekerat tempe di sana.

Saya mendengar salah satu dari mereka berteriak: “Skak”. Saya menoleh sebentar, salah satunya tertawa terbahak, sementara lawannya duduk bertopang dagu, berpikir keras bagaimana caranya meloloskan “Raja” dari ancaman maut (Skak Mat).

Hidup memang bukan catur, tapi dalam hidup dan pertaruhan nasib, selalu ada situasi di mana nasib tiba-tiba menyodorkan “skak”*. Jika akhirnya “Skak” menjadi “Skak Mat”, apa boleh buat… barangkali itulah hidup:

Serangkaian pertarungan menghadapi “Skak”, sebelum akhirnya benar-benar berhenti karena harus menerima “Skak Mat”.

—————-
Post-script:
*Skak: Posisi Raja terancam.
* Skak Mat: Raja benar-benar tak terselamatkan dan dengan itu permainan catur pun berakhir.

21 Comments »

  1. berarti hidup orang-orang itu mah kena skak terus?

    – Kena skak terus, tp kadang mereka bs meloloskan diri. kadang akhirnya “skak mat”, kadang berujung “remis”.

    Comment by lida — 2008/10/25 @ 3:19 am
  2. apakah itu berarti hidup memang hanya menunda kekalahan?

    – Dalam catur ada istilah “remis”, bukan? Menerima bahwa ada keadaan-keadaan tertentu yang tak bisa diubah. Remis ini, mungkin, dalam istilah Jawa disebut “sumeleh”.

    Comment by haris — 2008/10/25 @ 4:21 am
  3. tampak kontras.
    dan itu sangat menyakitkan.

    Comment by sekelebatsenja — 2008/10/25 @ 5:03 am
  4. merdesa…?

    – ya, merdesa. kenapa memang?

    Comment by geist — 2008/10/25 @ 8:11 am
  5. Itu dia, hidup yang paling mengenaskan. Ketika kita tak pernah lagi percaya pada harapan, tetapi dilain sisi kita masih sadar dan percaya bahwa Tuhan ialah Sang Maha Pemberi Harap.

    – Nice comment, brotha.

    Comment by Don Vandzoel — 2008/10/25 @ 8:47 am
  6. Hai, Zen, meski memikat, tulisanmu hampir selalu bernada getir,ya?
    -Kapan bermetamorfosis?-
    aku link ya situs barunya….

    – Dirimu berarti sering baca blogku dong, ya. Kok sampe tahu dan dapat kesimpulan gitu? *Ya, silakan di link*

    Comment by seni — 2008/10/25 @ 9:57 am
  7. wah saya cemburu, andai tak hanya sekelebat lewat di atas ‘senja utama’ dan bisa merekam; ingat setiap detil menjelang setasiun senen itu.
    merdesa = hidup layak, apakah sebuah ‘mimpi’ ataukah ‘kenangan’ pada desa?
    akhirnya, nasib adalah kesunyian masing-masing, bukan, Nyo?
    ah, Sinyo, hihihi.

    – masih ada kesempatan berikutnya. pasti ada waktu ke Jakarta lagi. *Sinyo? wooo… yang udah baca Bumi Manusia*

    Comment by goop — 2008/10/26 @ 5:17 am
  8. sayang aku baru baca tulisan ini sekarang, coba kemarin2, aku bisa mampir ke jalan veteran.

    – Besok-besok mampir deh ke Veteran, mudah2an grafiti “merdesa” blm dihapus Dinas Kebersihan

    Comment by kresna — 2008/10/26 @ 12:56 pm
  9. sesekali, tawarkan remis pada hidup…

    – Ya, sesekali tawarkan remis. semacam “sumeleh” kali ya….

    Comment by wonka — 2008/10/26 @ 5:39 pm
  10. larasati…saya kok ngeliat sosok larasati pada tubuh dolores, vokalis the cranberies :) hehe…serius.

    – Gitu, ya? Ya deh, ntar aku inget2 si Dolores itu, sekalian liat Youtube. Coba memastikan aja :P

    Comment by wonka — 2008/10/26 @ 6:10 pm
  11. bang, selamat datang kembali….

    – Emang habis dari mana sih? :P

    Comment by helmy — 2008/10/27 @ 3:04 am
  12. aku curiga, jangan-jangan yang menulis merdesa itu anak-anak geng veteran sendiri. hehehe..

    – hush hush…. kono ndang siapke mahar nggo idul adha!

    Comment by debukaki — 2008/10/27 @ 7:28 am
  13. gak dari mana-mana, cuma hilang. setelah itu…akhirnya tulisanmu bisa kembali kubaca…emang ‘rumah’ yang dulu kenap bang, yang di pejalanjauh.blogspot.com?

    Comment by helmy — 2008/10/27 @ 10:31 am
  14. Maaf, saya berasa baca tulisannya Seno :D

    nice post here, also nice blog

    – Seno yang mana, toh? Kok aku gak kenal, ya? :D

    Comment by utchanovsky — 2008/10/27 @ 3:10 pm
  15. hmmmmm tulisannya sama ya ama yg di bataviase novelles
    ato emang anda kontributor disana???

    btw pleasure to know someone with a common interest!!:)
    may i add your link??
    thx a bunch

    – Ya, silakan di link aja.

    Comment by tyas — 2008/10/28 @ 2:12 am
  16. selemparan sempak soko kamar mu kui. wekekekkekee

    – cocrotmu, yud!

    Comment by yudhi — 2008/10/28 @ 3:47 am
  17. yudhi : emang pernah mencoba ngelempar sempak dari kamar zen? :|

    – hush… hush…

    Comment by dewi — 2008/10/28 @ 8:39 am
  18. woh… gayane nggolek mangan. koyok menungso ae.

    – Hallah, iki yo melu2 ngirim spam!

    Comment by The Bitch — 2008/10/28 @ 4:24 pm
  19. Salam.
    Ktemu blog njenengan ki koyo ketemu bakul es teh…lega.. Lha es teh nya=kontemplasi lan nyenyuwun nang gusti.
    Aku ngerti jakarta cuma dr tv dan koran. Tp pd bnyak aspek hidup smuanya sama,mimpi yg menopangnya.tanpa mimpi di skak skali mending nyerah..optimis,ujarku pd istriku.bhkan cacing pun dpt jalan hidup…. Loh kok jadi curhat hehehehe

    Comment by Dwien — 2008/11/20 @ 4:50 pm
  20. salam..
    saya tertarik dengan tulisan anda..
    yang jadi perhatian saya adalah kata merdesa.
    kata itu saya dapatkan juga saat malam hari sepulang dari kota cengkareng.menuju ke priuk
    di pinggir jalan beberapa kali saya baca tulisan itu..
    pasti ada maksud dan tujuan.
    karena saya orang jawa mau ga mau mengutak atik kata itu dengan kata bahasa jawa.merdesa=merdeso
    dalam pemahaman saya..
    merdeso ada laha hidup layak yang sederhana seperti orang ndeso.
    dengan penuh kedamaian jauh dari hingar bingar kota.
    atau bisa juga di artikan kembali kedeso.
    hidup didesa dengan ala kadarnya.
    dari pada jadi gelandangan di kota yang penuh dengan kekersan.

    terima kasih.

    Comment by paimin-ndeso — 2009/12/20 @ 1:09 pm
  21. kalau kita main catur, kan ada peluang untuk kalah atau menang. tapi ada satu cara biar ndak kalah: ndak usah main. haha. apa dengan begitu artinya ndak usah hidup aja ya?

    Comment by aufa — 2010/08/16 @ 9:39 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity