»

Jito

biografi — pejalanjauh @ 9:52 pm

– hari-hari terakhir seorang tukang becak

Rujito memacu motornya tanpa sekali pun berani menoleh ke belakang. Malioboro terlalu penting bagi hidupnya sehingga ia khawatir menengok ke belakang bisa membuat perasaannya menjadi sentimentil.

“Saya hampir berkaca-kaca,” kata Jito, begitu saya biasa memanggil, dengan suara sedikit bergetar.

Malam itu, Jum’at (29/2), menjadi malam terakhir Jito menjadi tukang becak, profesi yang digelutinya sejak 1993. Besok sore Jito akan berangkat ke Papua. Di ujung timur Indonesia ia mencoba peruntungan baru dengan bekerja pada “Restoran Malioboro” di Pelabuhan Sorong.

Tak banyak yang dilakukan Rujito di hari terakhirnya sebagai tukang becak. Beberapa saat sebelum meninggalkan Malioboro, ia sempat “ngulon”, istilah di tempatnya mangkal untuk merujuk tempat minum-minum yang biasa ia datangi bersama sejumlah temannya sesama tukang becak yang biasa mangkal di gerbang selatan Hotel Inna Garuda. Ia “ngulon” bersama Joko dan Wito. Sekitar pukul 10 malam, Jito pulang ke rumahnya di Pajangan, Bantul.

Saya yang sedari sore sudah berada di tempat Jito biasa mengkal menyaksikan ia lebih sibuk dengan handphone miliknya. Ia mengenakan jaket kulit tebal berwarna hitam. Rambutnya yang ikal ditutupinya dengan topi hitam. Malam itu dandanannya terlihat dandy.

Seperti hari-hari yang lain selama seminggu terakhir, hujan sudah turun sejak siang. Malioboro cukup sepi. Hanya satu dua yang sudah mendapat penumpang, selebihnya, hingga menjelang Isya’, lebih banyak yang belum menarik penumpang satu pun, termasuk Jito. Hari terakhir Jito sebagai tukang becak dinikmatinya tanpa mengayuh pedal.

Baginya tak ada tempat mangkal terbaik selain tempatnya sekarang. “Kalo begitu, kenapa pergi ke Papua?” tanya saya.

“Ini bukan soal betah atau nggak. Saya ingin perubahan. Mosok dari dulu sampai besok punya anak cucu terus-terusan mbecak. Kalau dulu mungkin masih bisa. Cari penumpang gampang. Dulu, mas, istilahnya itu penumpang yang cari kita. Sekarang kalau kita ndak rajin cari penumpang ya ndak bakal dapat penumpang. Lha, rajin nawarin penumpang saja belum tentu bisa dapat, apalagi kalau cuma diam. Saya pernah berhari-hari ndak dapat penumpang”

“Lagipula, hidup di jalanan itu godaannya banyak. Saya sudah mencoba menjauhi hal-hal negatif dari jalanan, tapi ternyata susah. Jadi, ya… memang harus menjauh sekalian.”

Jito lantas menunjukkan salah satu sms dari temannya yang ia panggil Toge. Begini salah satu bunyinya: “Suk nek nang kono ra mung dolan nang TMB BERLIN lho! Nek ngedan nang omah wae, raono gunane.” (artinya: Besok kalau di sana jangan hanya main ke TMB BERLIN, lho. Kalau mau edan-edanan di rumah saja, tak ada gunanya.)

Ketika saya tanya apa itu TMB BERLIN, Jito menjawabnya dengan perumpamaan: “Semacam Sarkem-nya di sana.”

Sarkem merupakan akronim dari Pasar Kembang, nama jalan yang berada di sebelah selatan Stasiun Tugu. Akronim Sarkem merujuk pada satu-satunya lokalisasi pelacuran di Jogja yang memang berada di sisi selatan jalan Pasar Kembang. Istilah “ngulon” yang digunakan Jito juga merujuk tempat ini.

Esoknya saya masih sempat bertemu dengan Jito untuk terakhir kali. Ia mengajak saya bertemu di depan Gedung Agung, sebutan untuk Istana Kepresidenan RI yang berada di ujung selatan Malioboro, berseberangan dengan Benteng Vredeburg. Kendati ia tak mau terlihat sentimentil, tapi wajah dan ekspresinya tak bisa disembunyikan. Matanya selalu mengawasi setiap sudut jalan, seperti mencoba mengabadikan suasana sore di Malioboro dalam ingatannya, mungkin untuk menjadi bekal jika ia kelak merindukan Malioboro.

Tepat pukul 16.oo Jito pamit. Ia mesti segera pulang ke rumahnya karena selepas Maghrib ia harus segera ke Surabaya dan dari sana ia naik kapal menuju Papua. Saya menemaninya menunggu bus. Beberapa saat sebelum naik bus, Jito melontarkan kalimat terakhinya: “Malioboro itu sudah seperti rumah bagi saya, Mas!”

Saya melihatnya menaiki bus dari kejauhan dan Jito tak menoleh sedikit pun. Malioboro dan becak sudah menjadi sejarah baginya. Sejak sore itu.

10 Comments »

  1. welcome back….Zen.
    Masih dengan tulisan yang memikat…

    Comment by Teguh — 2008/10/17 @ 1:06 am
  2. way to go, Bastard! lo slalu bikin gwa ndhomblong…

    Comment by The Bitch — 2008/10/17 @ 7:43 am
  3. wow…. akhirnya…
    tak tahan juga ?

    Comment by kw — 2008/10/17 @ 8:04 am
  4. yah, nasib adalah kesunyian masing – masing. bahkan jitopun memilih untuk pergi, tidak hanya meninggalkan benda hidup disekelilingnya, tetapi juga masa lalu.

    Comment by dewi — 2008/10/17 @ 10:03 am
  5. Fuihh, at least with posting which is not completely new (this post was based on your article for NG right?) Everybody is going to be happy and satisfied again. Please don’t be dead anymore!

    Comment by Gambliz — 2008/10/19 @ 2:47 pm
  6. halah, sok-sokan dadi yesus kristus, bangkit dari kematian. hihihi..

    yo wis, tak-masukkan ke daftar friends-ku yoh? tulisanmu nang NG soal singkong kok gak di-upload?

    Comment by debukaki — 2008/10/20 @ 4:40 am
  7. Gak ada yang perlu dijawab deh kayaknya. So, for all: thanks….

    Comment by pejalanjauh — 2008/10/20 @ 10:57 am
  8. iki bagian dari tulisanmu soal becak yang dimuat NG itu ya? bagus….

    Betul, bro. Ini fragmen penutup dari laporan panjangku buat NG edisi April.

    Comment by haris — 2008/10/20 @ 3:44 pm
  9. selamat berjuang, Jit. mudah2an pengorbanananmu tidak sia-sia.

    Comment by latree — 2008/10/27 @ 7:17 am
  10. Salam.
    Bar moco Skak. Wheits ketemu jito.gek jgn2 jito nulis merdesa di warunge nang papua…salut.

    Comment by Dwien — 2008/11/20 @ 5:00 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity