386
– perang bubat tua vs. muda?
Tiap 28 Oktober kita merayakan Sumpah Pemuda. Inilah titimangsa paling baik untuk merenung: Benarkah usia tua berarti bijaksana?
Di Korea Selatan, diktum tadi sudah dikubur dalam-dalam. Di sana, tua justru menjadi simbol perilaku korup dan konservatif. Beberapa tahun belakangan, di negeri ginseng sedang terjadi konflik antar-generasi: tua vs. muda.
Tiap negeri tentu saja memendam potensi konflik macam itu. “Tapi di Korea,” demikian Chun Sang In, sosiolog dari Universitas Hallim, Korea Selatan, “Konflik itu berlangsung terlalu konfrontatif dan tiba-tiba. Di sini yang terjadi hampir-hampir perang.”
Dan hebatnya, di Korea Selatan “perang” itu dimenangkan kaum muda. Presiden Roh Mo Hyun adalah bukti menangnya kaum muda dalam “perang” melawan orang-orang tua. Terpilihnya Roh pada 2003 disebut-sebut menjadi pemicu “perang” antar-generasi ini. Roh, yang sebelumnya dianggap tak memiliki riwayat politik kelewat kemilau, tiba-tiba menyalip di tikungan terakhir. Ia memenangkan pemilihan umum berkat dukungan kaum muda. [Lihat Gatra edisi khusus "Revolusi Kaum Muda" terbitan Agustus 2004]
Kaum muda yang menjadi kunci kemenangan Roh disebut sebagai “angkatan 386”. 386 adalah sebutan untuk orang-orang berusia 30-an, yang pada dekade 80-an getol melakukan perlawanan terhadap pemerintahan militer Korea Selatan. Mereka juga rata-rata kelahiran tahun 60-an.
Kemenangan “angkatan 386” ini berefek berantai. Perlahan tapi meyakinkan, mereka mulai menduduki pos-pos penting, menggantikan orang-orang tua yang mulai “pikun”, lamban dan loyo gairahnya. Itu terjadi di mana-mana, di nyaris segenap sektor kehidupan di Korea Selatan: Kantor Kepresidenan, surat-surat kabar, perusahaan-perusahaan besar dan kecil hingga sekolah-sekolah umum.
Bagaimana Indonesia? Gak penting kaleee, sik penting kopdar!
indonesia? pendobraknya seh emang kaum muda, yang klo dah tua dan jadi anggota parlemen yah akan sama sajah ama pendahulunya..
– Mosok, sih? Lha calon anggota parlemen ki saiki enom2 je
sy kok tak percaya kalo umur adalah sesuatu yang sangat deterministik dlm hidup kita, bro.
– Tentu saja tidak “sangat dererministik”, kan ndak bilang gitu juga toh saya? Pastinya, dalam sejumlah titik persimpangan, usia seringkali mempengaruhi bahkan menentukan pilihan-pilihan yang (hendak) diambil, bukan?
usia mungkin memainkan peran, tapi golongan kelas juga berpengaruh. di banyak negara justru kelas menengah sering muncul membawa perubahan, entah apakah Roh itu datang dari kelas itu?
– Bener iku, setidaknya bahkan dalam kasus Indonesia. Sumpah Pemuda,misale, kuwi diikrarkan mbek kelas “menengah waktu” itu. Makane aku pernah ngomong, nek Sumpah Palapa itu sumpah yang “top-down”, Sumpah Pemuda iku bkn sumpah yg bottom-up, tp sumpah dari middle yg menyemai di bawah tp menghajar ke atas. Kasus Estrada di Filipina jg gitu, demo2 dikampanyekan via sms.
sopo aelah asal mikirke rakyat tenan!
– leres niku, den!
setujuh sama komen nomer satu. kebanyakan pas muda aja suka mikir yang ideal gimana, pas udah duduk di tampuk kepemimpinan jadi gak jauhjauh beda. god, semoga pendapatku salah. *sigh*
– Mbok komennya kreatip, mosok melu2 terus
Yang mana rage against domination mah saya ikut, gak tua gak muda.
– Itu kasusnya beda lagi, bro. hehehe
mengenai tua muda, hanya satu hal yang buat saya niscaya harus memilih yang muda. milih bojo!
hehe..
– kadang yang paruh baya masih “hot” loh. Sarah Palin itu masih seksi tuh. Hihihihi
)
Kebijaksanaan memang bukan pengalaman. Kebijaksanaan tidak berbanding lurus dengan usia.
Uang dan kekuasaan tidak mengubah manusia. Keduanya hanya menunjukkan seperti apa manusia itu yang sesungguhnya.
kok yang penting kopdar? apa maksudnya?
– tanyaken apa? *a-mild mode on*
kopdar ? kapan ? dimana ? …
– kopdar di martapura? ntar deh dikabarin kalo mampir ke sana lagi. dah setahun nih gak nyambangi martapura lagi.
saya melihat pemuda yang dulu berapi2 menggembor2kan perubahan, pada akhirnya duduk diam di kursi empuk
– jadi, kapan kita lempar korek api ke kursi empuk itu, jeng?
angkatan 386 ki bubar setelah dikudeta sama angkatan 486, 486 sendiri babak belur setelah lahirnya angkatan 586, ketika windows 3.1 dan 3.11 bermunculan menggantikan DOS versi 6.2, bersama itu munculah pentium generasi 1 yang membawa embel embel MMX, yang sukses menggeser kejayaan 85 nggak sampai setengah tahun, diluar angkatan angkatan tersebut juga berjaya didaratan eropah yang dikomandoi k3 sampai generasi k6 dari AMD
– Weh…. apik iku, dab. Digawe postingan ae nang blogmu. Mosok isine mesum ora bugil yo ora. rak jelas. hihihi….
betul tua itu identik dengan basi. yuk, kita bikin revolusi!
weleh-weleh… yang tua selalu maju
Yang muda minta-minta ma yang tua.
Ayo Maju yang MUDA!!!
coba ‘mereka’ membaca ini…
Fajroel
Anas
Budiman
Ratna
mungkin akan menjadi!