“Ngemut”
– long live uu pornografi. hahaha….
Saya masih ingat, belasan orang yang ada satu ruangan dengan saya terkejut bukan main sewaktu saya bilang: “Oral seks di Kraton Jawa, dan itu dilakukan oleh sesama laki-laki bangsawan, bahkan diabadikan dalam Babad Tanah Jawi!”
Ketika itu saya berhadapan dengan dua kelompok orang yang sedang bersitegang. Kelompok pertama adalah anak-anak UKM Seni dan Tradisi di bekas kampus yang sudah saya tinggalkan. Mereka baru saja kena “musibah” ditegur keras dan bahkan dibekukan kepengurusannya karena mementaskan satu lakon yang –bagi jajaran rektorat—dianggap melanggar batas-batas kesopanan. Kelompok satunya adalah anak-anak BEM, baik universitas maupun fakultas, yang mengecam pertunjukan itu dan mereka pula yang “menekan” pihak rektorat untuk “menegur keras” UKM Seni dan Tradisi.
Peristiwa itu berlangsung pada tengahan 2005 silam. Sudah lama, memang. Tapi saya masih ingat bahwa argumen pihak rektorat untuk membekukan kepengurusan UKM Seni dan Tradisi karena pertunjukkan itu tidak (1) mengindahkan nilai-nilai ketimuran, (2) tidak edukatif dan (3) tidak memedulikan status kampus sebagai “pabrik” penghasil guru yang mesti bermoral adilihung.
Terus terang saja saya tak sabar karena jargon “nilai-nilai ketimuran” terus direpoduksi selama dua jam terus menerus tanpa ada satu pun dari mereka yang pernah menjelaskan apa yang dimaksud dengan jargon “nilai-nilai ketimuran” itu. Saya yang tadinya hanya mendengarkan–maklum udah mahasiswa tua yang kudu tahu diri—tak tahan untuk tidak angkat bacot.
Dan saya ceritakanlah soal “perngemutan” itu.
Pangeran Puger diangkat menjadi Sultan Mataram dengan gelar Pakubuwana I setelah berhasil mengalahkan Amangkurat III (keponakannya sendiri). Puger sendiri didukung dan memang meminta dukungan dari VOC. Kendati demikian, status Paku Buwana I bermasalah karena ia naik melalui satu proses yang –katakanlah– tidak normal. Pangeran Puger merasa ia belum memeroleh “wahyu keraton”. Pendeknya, kekuasaan Puger tidak legitimate.
Lantas, bagaimana ia membangun legitimasinya?
Serat Babad Tanah Jawi memberi legitimasi dengan mengisahkan bahwa Pangeran Puger menghisap sperma Amangkurat II (kakaknya sendiri atau ayah dari Amangkurat III). Dahsyatnya lagi, Puger menghisap sperma ketika abangnya itu sendiri sudah menjadi mayat. (Apa kira-kira istilahnya? Oral sex cum nekrofilia? Hehehe….)
Adegan itu tercatat dalam Poenika Serat Babad Tanah Jawi Wiwit saking Nabi Adam doemagi in Taoen 1647; yang dalam edisi cetakan 1941 ada di halaman 260. Adegan yang sama bisa dilihat dalam monograf yang detail dan memukau karya Darsiti Soeratman yang berjudul Kehidupan Dunia Kraton: Surakarta: 1830-1935 di halaman 212.
Tentu saja saya tahu bahwa babad bukanlah karya ilmiah sejarah. Sudah biasa jika babad-babad itu merupakan hasil kolase fiksi dan fakta. Tapi, pada level membangun legitimasi kekuasaan di hadapan massa rakyat, sudah tak relevan lagi itu fakta atau fiksi. Yang terang, secara sadar fragmen itu memang diciptakan untuk menjelaskan bahwa Puger atau Pakubuwana I sudah menerima “wahyu keraton” dengan menghisap sperma Sultan sebelumnya, Amangkurat II, yang adalah kakak angkatnya sendiri.
Bisakah Anda bayangkan, seorang Sultan Mataram yang menyandang gelar Panembahan Senapati ing Alaga Sayidin Panatagama (Panglima Perang dan Ulama yang Menata Agama) membangun legitimasinya dengan cara menghisap sperma kakaknya sendiri yang sudah jadi mayat?
[Dalam kasus Ken Arok, Kitab Pararaton membangun legitimasi kekuasaanya dengan mengisahkan bahwa Ken Arok sudah membawa wahyu kraton (kadang disebut wahyu keprabon) karena sewaktu bayi Ken Arok ditemukan di hutan, badannya sudah memancarkan cahaya berkilauan. Cahaya dari kemaluan --ada yang menyebut dari paha-- Ken Dedes yang dilihat Ken Arok pun kadang ditafsirkan sebagai wahyu kraton yang mendatangi Ken Arok. Bayangkan: wahyu keraton berasal dari selangkangan perempuan. Ck ck ck ck....]
Ketika itu saya ajukan sepucuk pertanyaan retoris: “Jadi, jika UKM Seni dan Tradisi dianggap melanggar nilai-nilai ketimuran hanya karena mementaskan lakon hasil adaptasi Serat Centhini, nilai ketimuran mana yang dilanggar?”
Saya masih belum selesai. Saya bilang: “Justru apa yang kita sebut sebagai tradisi kebudayaan Timur itulah yang getol mengeksplorasi pengalaman seksual.”
Serat Centhini, yang disebut-sebut sebagai kitab dengan kadar ensiklopedis karena kekayaan materinya dalam mengungkap kekayaan pengetahuan Jawa, menyediakan satu bagian khusus yang mengajarkan detail hubungan seksual. Muhidin M Dahlan pernah dengan ciamik mengadaptasi sex education ala Centhini ini dalam novel tebalnya, Kabar Buruk dari Langit.
Belum cukup? Dari Bugis, ada juga kitab semacam Serat Centhini ini. Nama kitabnya: “Assikalaibineng”. Sebuah disertasi di UI–yang sayangnya sudah saya lupa judul dan penulisnya—pernah mengkaji manuskrip bugis ini. Dalam khasanah Melayu, dikenal kitab yang dinamai “Serat Pegawai”. (Belum lagi kalau menyebut Kamasutra dari India atau The Secret Garden dari jazirah Arab)
Dari dunia pesantren, sejumlah kita kuning juga menguraikan hal yang sama, di antaranya Kitabun-nikah, Uqudullijain dan Ushfuriyah. Yang juga perlu disebut barangkali adalah Qurrat al-Uyun yang detail mengurai tipe-tipe perempuan berdasar perspektif seksual dan juga membahas tahapan-tahapan dalam hubungan suami istri serta sejumlah persoalan seks lainnya.
[Soffa Ihsan pernah menulis buku–In the Name of Sex: Santri, Dunia Kelamin dan Kitab Kuning-- yang cukup detail memerikan bagaimana prilaku seksual di pesantren, baik antara santri dengan santri maupun santri dengan pengasuhnya dan ini berlangsung sesama jenis. Ada satu istilah yang bisa menggambarkan hubungan macam itu: “mairil”. Remuk redam gini saya pernah mondok di pesantren, jadi tahu dikit-dikitlah “kenakalan” santri-santri yang saban hari hanya melihat mahluk yang sejenis dengannya]
Saya tidak bilang bahwa karya-karya itu mengajarkan pornografi. Sewaktu saya menyebutkan karya-karya itu, saya cuma ingin menegaskan bahwa soal seksualitas adalah medan wacana yang terbuka untuk dibicarakan, diapresiasi dan dipelajari dengan terbuka, tanpa pandang kelas sosial, apakah itu bangsawan atau jelata dan sahaya.
UKM Seni dan Tradisi dan pementasannya tersebut, saya bilang ketika itu, justru meneruskan kembali tradisi kebudayaan Timur yang memposisikan seks sebagai satu diskursus. Bedanya, kali ini menggunakan medium seni pertunjukkan. Dan sejauh yang saya lihat, pertunjukkan itu memang jauh dari pornografi.
Salah satu peserta diskusi sempat menyela dengan mengatakan bahwa perilaku “amoral” itu kan dilakukan oleh para bangsawan dan bukan rakyat kebanyakan.
Saya jawab: Pertama, dalam kesadaran orang Jawa di masa silam, kraton justru adalah sumur di mana standar moralitas Jawa ditimba. Nilai-nilai kebudayaan Jawa banyak lahir dari sana. Jadi, agak sukar untuk menarik segregasi yang hitam putih antara kraton dan jelata-sahaya. Jangan heran jika bagi orang Jawa pada masa itu, menjadi abdi dalem adalah jalan hidup terbaik untuk mengabdi pada pusat moral dan duniawi sekaligus; perilaku yang hingga kini masih bisa kita saksikan di Kraton-kraton Jawa.
Kedua, rakyat jelata juga terlibat dalam konfigurasi tata nilai macam itu, termasuk dalam soal seksualitas. Saya contohkan saja satu kasus yang pernah dieksplorasi dengan cukup detail oleh Darsiti Soeratman dalam monograf yang saya sudah saya sebutkan di awal tadi.
Di Kraton Surakarta, bukan hal aneh jika ada abdi dalem yang mengirimkan anak gadisnya (minimal berusia 12 tahun) ke Kraton. Resminya mereka diminta untuk belajar tari Bedhaya. Mereka kerap disebut para Bedhaya. Di luar yang resmi-resmian itu, para orang tua yang mengirimkan anak gadisnya ke Kraton itu biasanya berharap agar anaknya “dihamili oleh raja” sehingga bisa dinikahi sebagai istri selir (garwa selir atau priyantun dalem). Jika itu terjadi, kekayaan dan status keluarga si gadis bisa terangkat (macam itu bisa masuk delik perdagangan perempuan gak ya?)
Dan harapan itu kerap terkabul. Bukan sekali dua para bedhaya itu kedapatan hamil. Jika beruntung, raja bisa menikahinya. Jika apes, raja cukup “memberikan” bedhaya yang hamil itu pada abdi dalem yang lain. Itulah sebabnya, pelajaran tari bagi para bedhaya itu disindir sebagai “magang selir”: magang bagi siapa-siapa yang ngiler jadi selir.
Bukan sekali dua raja menyukai lebih dari satu bedhaya. Siapa yang disukai raja bisa dengan mudah memeroleh hadiah yang mahal-mahal. Jangan heran jika sesama bedhaya sendiri sering bersaing satu sama lain.
Biasanya, raja memanggil salah satu bedhaya ke ruangan kerjanya di bangsal Madusuka. Jika sudah begitu, semua penghuni keputren sudah tahu sama tahu. Lucunya, karena persaingan itu tadi, kerap terjadi ketika raja sedang menunggu bedhaya yang dipanggilnya, bedhaya yang lain kadang nekat dengan lebih duluan “menyusup” ke ruangan raja.
Peristiwa macam itu menjadi praktik yang lazim. Banyak bedhaya yang ketiban apes tak kunjung hamil sehingga peluang untuk diangkat sebagai selir pun makin tipis. Jika sudah begitu, siap-siap saja orang tua si gadis menarik pulang anaknya untuk dikawinkan dengan orang di luar kraton.
Jika sudah begitu, mestikah diherankan jika raja-raja Jawa bisa memiliki jumlah anak puluhan? Saya punya daftar: Pakubuwana III beranak 46 orang, Pakubuwana IV beranak 56 orang, Pakubuwana V beranak 45 orang, Pakubuwana IX beranak 57 orang. (Padahal zaman itu belum ada viagra! Hehehehe…..)
Salah satu buku yang banyak mengisahkan kehidupan seks di kraton Jawa dan masih mudah diperoleh adalah buku Otto Soekatno, Seks Para Pangeran. Di buku itu ada salah satu bab yang mengisahkan bagaimana Amangkurat I membantai mertuanya sendiri, Pangeran Pekik, karena Pekik melindungi anak Amangkurat I sendiri (berarti cucu Pekik sendiri) yang kedapatan berselingkuh dengan selir ayahnya. Amangkurat I ini memang terkenal tiran. Pernah membunuh ribuan ulama dan penguasa lokal. Barangkali, Amangkurat I ini pantas dijuluki Kaisar Nero dari Jawa.
Dan yang beginian bukan monopoli kraton yang didukung dengan diam-diam oleh kawula raja yang mengirim anak gadisnya untuk jadi penari bedhaya saja, tetapi juga memang menjadi cermin dari apa yang terjadi di masyarakat.
Dalam tradisi reog di Ponorogo, misalnya. Lazim terjadi seorang warok “memelihara” seorang anak laki-laki yang rupawan. Hubungan macam ini disebut “gemblakan”. Ada kepercayaan bahwa seorang warok bisa makin berlipat kekuatan magisnya jika bisa “memelihara”, “mencecap” dan “menyerap” energi gemblaknya yang masih ingusan dan jelas-jelas bujangan thing thing. (pedofili bukan ya?)
Jadi, apa yang dimaksud dengan nilai-nilai luhur kebudayaan Timur? Jika memang ada, yang mananya? Tentu saja ada jawaban atas pertanyaan itu. Yang saya ingat, para peserta diskusi yang jumlahnya belasan orang itu kesulitan menjawab.
Dengan mengerahkan kemampuan “speak-speak guk-guk” yang rada-rada hiperbolis, saya berharap diskusi itu bisa membuat mereka yang hadir untuk lebih berhati-hati dan syukur-syukur mencoba merumuskan dengan lebih mantap apa disebut sebagai “nilai-nilai luhur kebudayaan Timur”. Ini mungkin lebih baik ketimbang terus-menerus mereproduksi kata-kata yang sudah menjadi jargon.
Seringkali apa yang sebelumnya dibayangkan sebagai konsep yang sudah jelas dari sononya ternyata masih berlubang di sana-sini.
[repost, ditayangkan pertama kali di sini persis setahun lalu]
dan saya gak bisa mbuka tulisan kali ini karena judulnya udah seremm…jadinya udah di banned sama orang IT kantor..hiks…
pinjam dong bukunya babad tanahjawi yang berseri itu.
di gramed dah gak ada
tradisi budaya Indonesia memang sangat akrab dengan sex dan kekerasan, dimanapun. Di Aceh pun, Sultan Iskandar muda pernah meminta di kirimkan 2 gadis bule dari Inggris, sebagai imbalan perdagangan rempah rempah dengan Inggris. Pun, demikian tradisi Mataram. Lihat saja Kolam Taman Sari, asal usulnya Sultan bisa sepuku dua pukul setelah melihat selir dan gadis gadis mandi disana..
tulisan yang berbeda dari sebelumnya.

sumpah, aku baru tau kalau ada cerita raja-raja seperti ini.
sepertinya reference buku-buku yang kamu sebutkan sudah sulit ditemukan di toko-toko buku deh.
zen, memang mantab
kita tunggu tulisan lainnya
gitu napah! kalo nulis jangan serius banget2
pakdhe, aku mbok dibantuin cari jurnal uncopyrighted buat isi2 ini: http://learnerwithoutborder.wordpress.com.
yah yah yah…
menarik ini..
memang, selalu ada “sisi negatif” dari suatu pemerintahan yg menarik utk disimak, yg orang umum jarang tau..
sip ini infonya, kang..
wah keren postingannya. orang timur (baca: jawa) kdang terlalu sombong dgn menganggap budayanya (ato apa ya istilahnya) adalah yg paling adiluhung. halah komen ngawur. maapken ke sok tauan ku ini
timur itu cuma kan cuma konsep, tapi prakteknya tetep aja begitu-begituan juga sejak jaman raja.
mending ke barat ah, kalau di timur, orang cuma bacot soal moral dan amoral! nggak bangget dah.
biasa, budaya timur dalam konteks slogan selalu menjadi jargon pengekang oleh para penguasa yang justru ga paham apa yang mereka omongin ha..ha..
suwun lho kang wis mampir..
Bikin Manikebu lagi aja, Zen.
setidaknya ada yang bisa dipelajari, selain sejarah tapi juga ada perilaku tertentu yah
Sebagian perilaku seksual memang tidak baru, sama seperti naluri itu sendiri. Tentu, ada saja “hal baru” yang dipelajari. Misalnya, dalam sebuah naskah Pulau Buru, dibilang bahwa penduduk asli melakukan koitus di hutan, perempuan membungkuk, memeluk pohon, dst.
Banyak naskah, dari khazanah lama, yang memuat erotika — termasuk dalam dongeng (memangku keris hamil, mandi di sendang ketemu ikan hamil, dsb). Bakan Jaka Tarub itu merupakan sebuah dunia voyeurisme kan?
Jadi “masalah” ketika kita merasa sebagai orang Indonesia modern yang menganggap keterbukaan dalam soal erotika sebagai “Barat”, yang hehehe “tdk sesuai nilai-nilai ketimuran”
Tiga puluh tahun lalu Mochtar Lubis pernah meledek hipokrisi kita dalam pidato kebudayaannya.
ada ini, ini, dan ini
Salam kenal juga
NB: patung Pradnya Paramita juga sexy kan?
saya sangat sepakat Bung dengan anda!Kita selalu merasa tabu untuk membicarakan sex di depan umum.Agama dan adat Timur yang selalu dijadikan alasan. Padahal agama seperti Islam misalnya, tidak tabu membicarakan hal tersebut. Bahkan mengatur secara detil tentang tata cara ber-sex yang baik.
Namun memang kita tidak hendak mengumbar soal syahwat ini secara merdeka. Toh, yang kita inginkan kesalahkaprahan memahami adat ketimuran ini harus dikikis.
Karena memang sex toh tidak untuk diumbar. Ada ruang dan waktu dimana kita bisa membahas hal-hal tersebut. Salam kenal Bung…Anda benar-benar seorang Pejalan Jauh.Terutama pemikiran anda…sudah jalan jauh kemana-mana. Tabik.
jadi tradisi ketimuran itu definisine opo yo dab? *sori sekip sekip mocone*

eh, kok nyebut mantan kampus? lah piye to? tell me something?
Indonesia(khususnya yang generasi jadul2) memang seringkali memandang bahwa “budaya ketimuran” masih kental dan menerapkannya dengan kaku. Padahal apa-apa itu yang disebut budaya ketimuran saat ini juga sudah rancu banget pemaknaannya. Apakah Seks adalah hal yang masih identik dengan ketabuan..saya kira juga tidak untuk jaman sekarang. Jadi kurang lebih saya sependapat dengan tulisan apik mas Zen ini, dulu anak UNY to mas?
Wajarlah.. Laki2 kapan tho pernah tua?
kalo boleh usul, coba diskusikan lagi perihal ’sahwat’ dan ‘kultur luhur ketimuran’ ini dengan pak damardjati supadjar itu.
siapa tau dan syukur akan ada bahasan baru yang lebih dahsyat.
ditunggu…
ah, sampeyan emang pakar klo masalah gini, mas. coba sampeyan bisa duduk di kursi DPR dan mendebat soalan UU Pornografi itu, kujamin sampeyan akan didewakan manusia - manusia indonesia modern. hihihi. btw, soalan budaya ketimuran, mungkin yang dimaksud itu budaya terlihat sopan dan malu2 itu kali yah?
nice artikel…bleh juga ne…saya tunggu artikel selanjutnya
thanks ya infonya
weh, lagi minat bahas perselangkangan rupanya. hehehe. menurutku masalah model beginian baiknya seringsering didiskusikan, biar semua orang tahu dan satu sama lain tak saling menyalahkan. bukankah begitu?
oh ya, kabarnya kamasutra yang dialihbahasakan ke bahasa indonesia pun di’edit’ dulu ya, zen?
Bakar Babad Tanah Jawi! Hanguskan Serat Centhini? Gulingkan Keraton!
*takut suatu saat hal-hal begini benar2 dilakukan kaum puritan*
kalau dibaca tidak dari permukaannya saja, mungkin sekali pangeran puger yang membunuh Amangkurat II dengan cara yang membuat ia sampai mengeluarkan sperma atau mani. dicekik mungkin. bahasa babad membuatnya lebih halus.
sejak kedatangan agama abrahamik yang meyakini dualisme tubuh dan jiwa, hal yang carnal memang didisiplinkan mas.
maklum saja.
aku jadi inget juga waktu Kamasetra dinonaktifkan itu. aku dadi penasaran maneh. pentase kayak opo tho? aku gak nonton je. pas itu aku lg seneng2nya di dongkelan. kok, kasuse tekan F*I barang? ketoke oknum2 (khususnya dosen-dosen) FBS yo meneng ae. bingung aku.
budaya timur itu maksudnya budaya yang masih malu-malu kalo berbicara soal seks, gitu kali ya maksudnya

padahal siiiih… ah sudahlah.. nanti saya ditangkap gara-gara UU abu-abu itu
Sebetulnya supremasi adat ketimuran itu kapan lahirnya sih? Saya kok penasaran sama asal-usulnya.
komentarku mung siji tok den bagus asuning dunyo segawoning akherat : kapan kowe arep nutup blog eneh ?
*ngakak jaya*
[...] Adat ketimuran, Hereditary bullshit Langsung saja, ya. Saya baru saja membaca-baca soal kisah dunia seks raja Jawa, dan kemudian dengan bersemangat memperbincangkan topik tersebut dengan Mas Catshade lewat [...]
zen, mana ada mayat bisa ereksi (sehingga bisa diemut) dan orgasme (sehingga spermanya bisa ditelan oleh oraler)?
babad tanah jawi itu bahasanya puitis. jika ditafsirkan secara denotatif, yang terjadi adalah kekerasan diskursif.
BTW, soal nilai2 luhur budaya, kita tentu inget american value (nilai masyarakat AS), yakni: FREEDOM. tapi, orang telanjang or jualan narkoba di jalanan tetep dijerat hukum.
jadi, mau lari ke barat, nona kecil?? :p sepertinya, esensi nilai adiluhung itu bukan di barat atau di timur, tapi di kesadaran kita.
mbaca tulisan ini jadi inget maria ozawa
meski suatu saat kelak pakai jilbab, tetap saja ia a.k.a miyabi..hehe..kidding.
saya selalu gemes dengan definisi “timur” dan “barat” pada ranah etika sperma muncrat ini. merunut siklus sejarah, etika timur yang “tertinggal” oleh keterbukaan barat dalam sensualitas ini hanya bagian dari siklus etika (bagian dari mimesis kebudayaan yang berputar). dulu, pada era pra modern, di barat orang melihat timur sama persis seperti saat ini timur melihat barat. kita bisa lihat dari sejarah mode..coba lihat yang paling dekat,era victoria misalnya, model pakaian, model rambut, dan keserba tertutupan barat barat pada tabu sensualitas. mereka melihat timur, bali misalnya..yang dimana-mana bisa ditemukan toket jalan-jalan.pada masa itu, mana ada toket bule keleleran di pantai kuta. seniman barat melihat itu sebagai eksotis, moralisnya melihat itu sebagai primitif.
lalu siklus mimesis budaya berputar, zaman ini, kita hidup dalam cara pandang mainstream timur melihat barat. di masa datang siklus akan terus berputar…
sebaiknya, jangan hanya barat dan timur yang dipertentangkan, karena secara dialektis, pertentangannya lebih nyata antara utara dan selatan…
Penulis Babad Jawi, sepertinya nggak belajar Biologi Rif hahaha.
woh… baru ngeh. lu segitu capeknya nulis ampe repost gini? makanya, sering2lah boker!
lhooo..idup lagi tho???
Mantep nih kang
maaf saya ada pertanyaan di luar “per-ngemut-an”, saya menemukan beberapa pernyataan bahwa arif rahman hakim, sang pahlawan ampera itu seorang khadim gerakan ahmadiyah. apa itu betul? saya lagi tertarik dengan kiprah kaum ahmadiyah ini dalam pergerakan kemerdekaan RI, kok banyak orang seperti r. muhyidin..pejuang dan sekretaris panitia perayaan kemerdekaan RI yang pertama, 1946, dihilangkan dari catatan sejarah…atau pengakuan kemerdekaan RI pertama oleh india, justru kali pertama diupayakan oleh malik aziz khan, penyiar RRI untuk bahasa urdu…seorang ahmadiyah. tentu saja mereka berjuang tidak mengatasnamakan label keahmadiyahannya, tetapi serpihan-serpihan kecil sejarah seperti ini dihilangkan dari catatan baku..nyaris tanpa sisa.
aku orang terakhir (mungkin) yang singgah..
terimakasih informasimu. bagus. cerdas. dan tuntas. hahahaha…
terus nulis dab, sampai waktu pecah di tanganmu.. amin. salam hangat.
Sebenernya, hal ini mungkin saja terjadi secara harafiah. Ada penjelasan ilmiahnya mengenai kemungkinan ereksi-setelah-mati.
Karena linknya ndak keliatan, ini saya kasih langsung saja: http://en.wikipedia.org/wiki/Death_erection
– thanks, ya. link ini dipersembahkan buat arief dan ikram. kekekeke
Terimakasih Catshade, tapi sepertinya link itu menjelaskan sesuatu yang berbeda ya
“A death erection or terminal erection[1] is a post-mortem erection, technically a priapism, observed in the corpses of human males who have been executed, particularly by hanging.”
Jadi, kecuali memang Amangkurat II meninggal digantung (dan Puger standby di dekatnya untuk siap-siap meneguk sperma terakhir si calon mayat), Babad Jawi agaknya tak bisa terlalu dipercaya.
hmmm tradisi ketimuran tuh tradisi mana ya? blog timur? hmm uni sovyet yah? pki?
Indonesia tuh emang plinplan..sok timur tapi ga tau yang dimaksud timur tu apa..suka quote pertama..”LONG LIVE UU PORNOGRAFI” hahaha..
kalau memang begitu adanya berati budaya kita pada dasarnya memang saru banget, tapi klo saya jadi raja….. gtu ga ya(ngarep mode on)
hihihi.. gw kate juga ape, kram.. kekerasan diskursif sedang terjadi, dan wikipedia “diperkosa” oleh catshade untuk melegitimasi aksi tersebut. ;p
good post, bikin lagi dunggggggggggggggggg…..
lah ini yang saya maksudkan, kita ini kalau mau melestarikan budaya mbok ya jangan dipilah-pilih sesuai kemauan (penafsiran)beberapa orang tertentu saja. total abies gitu loh.
kemudian berkaitan dengan (R)UU pornografi, yang katanya pornografi dan pornoaksi dipersilahkan bila dengan alasan seni/budaya, kalau begitu horeeee ayo siapa mau jadi sponsor saya?
saya mau mengadakan pagelaran seni budaya di panggung terbuka yang mengupas habis budaya warisan leluhur yang terpahat di relief borobudur (misalnya). hehehe
kalau gak boleh … kalau begitu sekalian aja candi-candi itu dirobohkan, atau minimal reliefnya diampelas mulus aja jadi tembok. kemudian serat-serat kuno itu dibakar sekalian.
lha wong saya melakukan kegiatan ‘pelestarian’ budaya koq gak boleh. aneehhhh
Well, mungkin Babad Jawi memang tak perlu terlalu dipercaya kalau begitu.
“Belum cukup? Dari Bugis, ada juga kitab semacam Serat Centhini ini. Nama kitabnya: “Assikalaibineng”. Sebuah disertasi di UI–yang sayangnya sudah saya lupa judul dan penulisnya—pernah mengkaji manuskrip bugis ini..”
Kitab kuno itu sebentar lagi akan diterbitin Penerbit Ininnawa, Bro.
Sip..sudah saatnya generasi ini mulai jujur dg jati diri budayanya, tak bisa kita pungkiri bahwa banyak kelebihan kita namun di sisi lain budaya timur memang sangat patriarkis, senang menabukan (saru), dan banyak hal lain yg kadang disembunyikan. Kekerasan sistemik, intrik sampai soal seksualitas sebenarnya sudah sangat dkt dg kehidupan manusia jawa sejak dl, So, jgn pernah lagi memberi larangan, menyembunyikan ketabuhan tentang jati diri bdaya kita, Sebaiknya mulai dari kelompok kelompok progresif inilah kita akan menemukan inti kekuatan dari kelebihan dan kelemahan kita berbangsa. Kalau saja pemerintah kita gak sibuk mikirin perutnya sendiri, gak sibuk mikirin moralitas dan mulai riset ilmiah tentang apa baik dan buruk bangsa ini, kita pasti gak perlu bingung2 lg ke barat, ke timur tengah ato ke cina bahkan ke amerika latin utk sekedar atahu urusan selangkangan, yooiii salam
syukur deh kalo masyarakat indonesia mulai terbuka atas kesalahannya sendiri.. ternyata, OS, Pedofili, n Sex Mafia juga udah ada dari jaman dulu ya..
gmn g napsu, klo pakaian orang-orang jaman dulu pada terbuka semua tuh dadanya.. hehehe.. pantesan dung cerita sex indonesia jaman dulu tuh luar biasa juga ya historisnya..
saran ne.. Gimana klo di Filmkan n di tayangkan di bioskop?? biar masy indo gk buta akan sejarah yg baik dan buruk bangsanya sendiri… seriusan lho…
syukur deh kalo masyarakat indonesia mulai terbuka atas kesalahannya sendiri.. ternyata, OS, Pedofili, n Sex Mafia juga udah ada dari jaman dulu ya..
gmn g napsu, klo pakaian orang-orang jaman dulu pada terbuka semua tuh dadanya.. hehehe.. pantesan dung cerita sex indonesia jaman dulu tuh luar biasa juga ya historisnya..
saran ne.. Gimana klo di Filmkan n di tayangkan di bioskop?? biar masy indo gk buta akan sejarah yg baik dan buruk bangsanya sendiri… seriusan lho… yg tertarik pendapat gw.. kita bt kesepakatan yuk
Waa, wonder ama tuh rektorat –mana, sih?
bukan apa2, salut aja, gerak cepat, lebih cepat dari nyang namanya ep-pe-i.
Btw, ngobrolin ttg centini dg ngebanyakin porsi intimasinya, ntar dimarahin elizabeth inandiak lho…
salut atas penelusurannya tentang sex & segala lakulikunya… tentang mairil & tradisi mirin di pesantren saya sangat setuju & cukup mengenal & mengalaminya hehe (sejarah selalu tak satu arah)……… terus nulis yo dab, produk jogja kudune yo koyo awakmu, minimal mendekati. salam kenal dari pandemen lapen di pedalaman borneo….
betul itu. tulisan yang mantap.