»

“Ngemut”

meracau — pejalanjauh @ 12:03 am

– long live uu pornografi. hahaha….

Saya masih ingat, belasan orang yang ada satu ruangan dengan saya terkejut bukan main sewaktu saya bilang: “Oral seks di Kraton Jawa, dan itu dilakukan oleh sesama laki-laki bangsawan, bahkan diabadikan dalam Babad Tanah Jawi!”

Ketika itu saya berhadapan dengan dua kelompok orang yang sedang bersitegang. Kelompok pertama adalah anak-anak UKM Seni dan Tradisi di bekas kampus yang sudah saya tinggalkan. Mereka baru saja kena “musibah” ditegur keras dan bahkan dibekukan kepengurusannya karena mementaskan satu lakon yang –bagi jajaran rektorat—dianggap melanggar batas-batas kesopanan. Kelompok satunya adalah anak-anak BEM, baik universitas maupun fakultas, yang mengecam pertunjukan itu dan mereka pula yang “menekan” pihak rektorat untuk “menegur keras” UKM Seni dan Tradisi.

Peristiwa itu berlangsung pada tengahan 2005 silam. Sudah lama, memang. Tapi saya masih ingat bahwa argumen pihak rektorat untuk membekukan kepengurusan UKM Seni dan Tradisi karena pertunjukkan itu tidak (1) mengindahkan nilai-nilai ketimuran, (2) tidak edukatif dan (3) tidak memedulikan status kampus sebagai “pabrik” penghasil guru yang mesti bermoral adilihung. (more…)

Per-Kenthu-An

meracau — pejalanjauh @ 1:02 am

– Membayar jablay dengan ikan teri?

Robert Suurhof Mellema* pergi meninggalkan Hindia Belanda dengan menggondol sifilis di selangkangannya akibat bergaul dengan pelacur-pelacur Tionghoa yang saban hari dikeloninya. Ia pergi menjadi pelaut, meninggalkan Ontosoroh, Minke dan Annelies, si jelita adiknya yang juga pernah ia perkosa.

Semua itu terjadi di sekitar Surabaya sekitar pergantian abad-19 ke abad-20. Ya, Surabaya, sekali lagi Surabaya –yang kini punya Gang Dolly, lokasi pelacuran terbesar se-Asia Tenggara.

Apakah prostitusi menjalar di Surabaya hanya menjelang pergantian abad? Tentu tidak. Buku “Pelacuran di Indonesia” yang ditulis Terrence Hull, dkk., menyebutkan: Pada 1864, Surabaya sudah dihuni oleh –minimal– 228 PSK yang bekerja di 18 rumah bordil!

Pada 1939, seorang ahli penyakit kulit dan kelamin bernama RDG Simon bahkan mengindentifikasi ada –setidaknya—8 kelas prostitusi di Surabaya, baik yang terbuka maupun yang bersarung a.k.a terselubung: (more…)

386

meracau — pejalanjauh @ 10:04 pm

– perang bubat tua vs. muda?

Tiap 28 Oktober kita merayakan Sumpah Pemuda. Inilah titimangsa paling baik untuk merenung: Benarkah usia tua berarti bijaksana?

Di Korea Selatan, diktum tadi sudah dikubur dalam-dalam. Di sana, tua justru menjadi simbol perilaku korup dan konservatif. Beberapa tahun belakangan, di negeri ginseng sedang terjadi konflik antar-generasi: tua vs. muda.

Tiap negeri tentu saja memendam potensi konflik macam itu. “Tapi di Korea,” demikian Chun Sang In, sosiolog dari Universitas Hallim, Korea Selatan, “Konflik itu berlangsung terlalu konfrontatif dan tiba-tiba. Di sini yang terjadi hampir-hampir perang.”

Dan hebatnya, di Korea Selatan “perang” itu dimenangkan kaum muda. Presiden Roh Mo Hyun adalah bukti menangnya kaum muda dalam “perang” melawan orang-orang tua. Terpilihnya Roh pada 2003 disebut-sebut menjadi pemicu “perang” antar-generasi ini. Roh, yang sebelumnya dianggap tak memiliki riwayat politik kelewat kemilau, tiba-tiba menyalip di tikungan terakhir. Ia memenangkan pemilihan umum berkat dukungan kaum muda. (more…)

Merdesa

cermin — pejalanjauh @ 3:09 am

– merdesa atau mati

merdesa1Jika pekik “MERDEKA” pernah begitu menggetarkan di jalanan Jakarta pada tahun-tahun pertama kemerdekaan, maka imaji apa yang mencuat dari grafiti bertuliskan kata “MERDESA” yang muncul di beberapa dinding di tepian jalanan Jakarta?

Pada salah satu malam flaneur saya di jalanan Jakarta, grafiti itu saya jumpai di sebuah kolong jembatan kereta api di sebelah utara kota tua yang menuju arah Pelabuhan Sunda Kelapa. Di sana tertulis: “Merdesa atau Mati”.

Salah tulis? Saya yakin tidak. Sebab, saya menemukannya kembali di dinding sebelah timur Hotel Sriwijaya di Jalan veteran, Jakarta Pusat. Di situ, tak tertulis kalimat “Merdesa atau Mati”, melainkan kalimat “Merdesa = Hidup Layak”.

Ada banyak alasan kenapa saya tertarik dengan grafiti “Merdesa”, terutama grafiti yang saya lihat di Jalan Veteran. (more…)

Lelap

Jepret — pejalanjauh @ 1:44 am

– the alchemy of happiness

[dua foto lain yang berhubungan bisa dilihat di sini]

Jito

biografi — pejalanjauh @ 9:52 pm

– hari-hari terakhir seorang tukang becak

Rujito memacu motornya tanpa sekali pun berani menoleh ke belakang. Malioboro terlalu penting bagi hidupnya sehingga ia khawatir menengok ke belakang bisa membuat perasaannya menjadi sentimentil.

“Saya hampir berkaca-kaca,” kata Jito, begitu saya biasa memanggil, dengan suara sedikit bergetar.

Malam itu, Jum’at (29/2), menjadi malam terakhir Jito menjadi tukang becak, profesi yang digelutinya sejak 1993. Besok sore Jito akan berangkat ke Papua. Di ujung timur Indonesia ia mencoba peruntungan baru dengan bekerja pada “Restoran Malioboro” di Pelabuhan Sorong.

Tak banyak yang dilakukan Rujito di hari terakhirnya sebagai tukang becak. Beberapa saat sebelum meninggalkan Malioboro, ia sempat “ngulon”, istilah di tempatnya mangkal untuk merujuk tempat minum-minum yang biasa ia datangi bersama sejumlah temannya sesama tukang becak yang biasa mangkal di gerbang selatan Hotel Inna Garuda. Ia “ngulon” bersama Joko dan Wito. Sekitar pukul 10 malam, Jito pulang ke rumahnya di Pajangan, Bantul. (more…)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2011 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity