»

Aspal

ngaji — pejalanjauh @ 5:41 pm

– keluyuran untuk menjadi bunga di atas aspal

Sebuah kota bisa jadi membutuhkan sebuah sajak yang bagus. Padanya, seseorang bisa membawa jiwa dan pikiran pada sesuatu yang amat berlainan: entah itu kesunyian yang tawar, kerinduan yang menyiksa, ingatan yang perih, keriuhan yang menyenangkan, pesta yang semarak atau sebuah perjalanan yang rungsing.

Seringkali saya mengalami momen personal di mana sebuah sajak bisa menyelamatkan saya dari kehidupan kota yang tak mudah. Dalam momen-momen personal seperti itu, kota bisa tampil sedikit berbeda. Terkadang, dari sana, muncul dorongan untuk membuka diri pada kehadiran sebuah kota, mencoba memahami sekaligus menghayati sebuah kota tidak melalui jejalan stereotipe yang menyelubunginya.

Jakarta, misalnya. Kota ini punya banyak predikat, sebanyak ia menyandang stereotipe: sebagai kota yang panas, sesak, macet, ganas, ruwet, berbahaya, penuh tipu daya, penuh ancaman tersesat tanpa ada satu pun orang jujur yang akan memberi tahu arah yang sebenarnya dan rentengan stereotipe lain yang tak mengenakkan.

Dalam jeratan stereotipe macam itu, Jakarta seperti begitu tak menyenangkan bagi digelarnya sebuah perjalanan iseng, keluyuran, sekadar mencari angin, semata menghabiskan waktu.

Melakukan hal itu di jalanan Jakarta bisa menjadi pengalaman yang begitu merangsang saraf: rentetan mobil yang tak berujung, toko dan mall yang sesak, gedung-gedung tinggi yang menjulang, baliho dan poster-poster iklan yang tiada habis, lampu-lampu yang menyilaukan di malam hari, orang-orang yang bersicepat dengan waktu dibalut baju yang menguarkan aroma parfum wangi yang berkelahi dengan keringat yang bau.

Itu semua bisa benar-benar mengejutkan. “Ketakutan, kemuakan, dan kengerian adalah emosi-emosi yang dibangkitkan kerumunan kota besar terutama bagi mereka yang baru mengamatinya,” kata Walter Benjamin.

Turun ke jalanan Jakarta akan menghadirkan masing-masing orang tak lebih sebagai subjek-subjek anonim, tak bernama, dan orang juga tak merasa perlu mengetahui asal-usul setiap orang yang dijumpainya di bus kota, kereta atau trotoar.

Menyedihkan, barangkali, ketika manusia dimengerti tak lebih sebagai nomor, tapi ini bisa menjadi pengalaman yang memerdekakan: tiap-tiap orang tak diberi beban untuk bersalaman dengan setiap orang, untuk unggah-ungguh setiap berpapasan dengan orang tua.

Bisa dimengerti jika kota-kota di Jerman pada abad pertengahan mengenal frase “lucht macht frei” (udara kota membuat merdeka) yang dipopulerkan sebagai motto kartel perdagangan Hanseatic League.

Pengalaman seperti itu memberi sensasi yang sukar ditemukan di tempat-tempat selain kota besar macam Jakarta. Dalam situasi seperti itu, menelusuri jalanan Jakarta bisa terasa menyenangkan. Pengalaman tersesat tanpa satu pun orang yang bisa dimintai petunjuk ke mana arah yang benar bisa menjadi pengalaman yang menarik. Bagi yang pernah mengalami momen seperti itu, yang hanya bisa dilakukan tak lebih hanya melihat, memerhatikan, mengamati, menerka-nerka.

Charles Baudelaire pernah memberi apresiasi yang cukup baik bagi orang-orang yang mau membuka diri pada pengalaman-pengalaman macam itu. Ia menyebutnya sebagai “flâneur” yang digambarkan sebagai “sebuah kalaideskop yang masih punya/dilengkapi kesadaran” (a kaleidoscope with consciusness).

Kaleidoskop, ditakik dari bahasa Yunani yaitu “kalos” dan “eidos”, menyimpan pengertian tentang “keindahan”, “warna”, “bentuk”, tetapi semuanya terhampar pada situasi yang terus berubah, bergerak, dan menjadi; di mana satu sama lain tidak mesti punya hubungan yang baku dan definitif.

Pengalaman seperti itu oleh Walter Benjamin diberi sebutan yang puitis: “botanizing on the asphalt” atau “menjadi bunga di atas aspal”.

8 Comments »

  1. selamat datang kembali, bro.

    “Pengalaman seperti itu memberi sensasi yang sukar ditemukan di tempat-tempat selain kota besar macam Jakarta. Dalam situasi seperti itu, menelusuri jalanan Jakarta bisa terasa menyenangkan. Pengalaman tersesat tanpa satu pun orang yang bisa dimintai petunjuk ke mana arah yang benar bisa menjadi pengalaman yang menarik. Bagi yang pernah mengalami momen seperti itu, yang hanya bisa dilakukan tak lebih hanya melihat, memerhatikan, mengamati, menerka-nerka.”

    tapi, apakah di zaman yang katamu hidup menjadi ditodong deadline ini, masih ada orang yang mau bersusah2 melakukan pengalaman macam itu, kecuali dia tersesat beneran? he2.

    btw, nasib adalah kesunyian masing2? chairil banget! he2.

    – ada, bro. saya ini. kadang suka runtang-runtung naik krl atau busway atau metromini.

    Comment by haris — 2008/10/20 @ 3:38 pm
  2. sepakat, jakarta seperti itu dua jam yang lalu. tapi mulai saat ini, tidak lagi. bukan karena tak adanya lagi momen-momen personal atau pengalaman sensasi yang sukar ditemukan di tempat lain.

    namun karena aku sendiri yang berusaha me”nawar”kan semuanya itu. sehingga tak akan terkejut, muak, takut, ngeri, senang atau pun emosi lain. aku pengen netral saja.

    mungkin aku sudah menjadi zombie :)

    – suka-suka dirimu aja, mas kw. dipenakke wae, kalo kata orang jawa :) nek dirimu nyaman, yo ndak masalah toh ya….

    Comment by kw — 2008/10/20 @ 3:45 pm
  3. kau terlalu berlebihan memaknai jalanan jakarta

    – maybe yes, maybe not :P

    Comment by the invisible flaneur — 2008/10/20 @ 4:17 pm
  4. diantara kepulan asapasap itu aku tak bisa merasakan, berpikir, apalagi merenung. hidup berlangsung terlalu cepat di jakarta. bersenangsenanglah sana yang mampu menikmati jakarta dengan khusyuk.hehe

    *hei, kamu kembali zen*

    Comment by ceritasenja — 2008/10/21 @ 2:36 am
  5. semua kota sama menyimpan keindahannya sendiri. bukan begitu bukan, dhe?

    jadi… kapan lagi kita jadi bebungaan di atas aspal?

    Comment by The Bitch — 2008/10/21 @ 4:28 am
  6. tulisan macam ini selalu berhasil membuat saya besyukur bisa hidup di kota banjarbaru saya ini :)

    Comment by warmorning — 2008/10/21 @ 7:54 am
  7. Memang gimana rasanya jadi bunga di atas aspal?

    Comment by lida — 2008/10/22 @ 5:46 am
  8. Memaknai ibukota, ketika saya berada di kota kembang, tentu tidak bisa dirasakan. :D

    Egoiskah? Mungkin begitu kelakuan orang kota. Alasan stress mungkin menomorsatukan tindakan ilegal dalam norma orangtua jaman dulu itu. Menilik perihal serupa, tentu di bandung juga sama.

    Comment by Mihael Ellinsworth — 2008/10/22 @ 9:38 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity