Aspal
– keluyuran untuk menjadi bunga di atas aspal
Sebuah kota bisa jadi membutuhkan sebuah sajak yang bagus. Padanya, seseorang bisa membawa jiwa dan pikiran pada sesuatu yang amat berlainan: entah itu kesunyian yang tawar, kerinduan yang menyiksa, ingatan yang perih, keriuhan yang menyenangkan, pesta yang semarak atau sebuah perjalanan yang rungsing.
Seringkali saya mengalami momen personal di mana sebuah sajak bisa menyelamatkan saya dari kehidupan kota yang tak mudah. Dalam momen-momen personal seperti itu, kota bisa tampil sedikit berbeda. Terkadang, dari sana, muncul dorongan untuk membuka diri pada kehadiran sebuah kota, mencoba memahami sekaligus menghayati sebuah kota tidak melalui jejalan stereotipe yang menyelubunginya.
Jakarta, misalnya. Kota ini punya banyak predikat, sebanyak ia menyandang stereotipe: sebagai kota yang panas, sesak, macet, ganas, ruwet, berbahaya, penuh tipu daya, penuh ancaman tersesat tanpa ada satu pun orang jujur yang akan memberi tahu arah yang sebenarnya dan rentengan stereotipe lain yang tak mengenakkan.
Dalam jeratan stereotipe macam itu, Jakarta seperti begitu tak menyenangkan bagi digelarnya sebuah perjalanan iseng, keluyuran, sekadar mencari angin, semata menghabiskan waktu. (more…)