Senin

Uncategorized — pejalanjauh @ 10:22 pm

Aku mengirim do’a untuk Senin dalam hidupmu: lekaslah pulih, cepatlah sehat, biar aku bisa melihat wajahmu yang cerah, yang sumringah, seperti yang sering kulihat dulu saat aku berteriak memanggilmu dari luar pagar dan rautmu lantas muncul dari balik balkon.

Beberapa pisau kecil akan menyentuh tubuhmu, menyayat beberapa bagian kulitmu yang langsat. Setelah itu, sejumlah luka akan mengendap di sana, sesuatu yang akan menjadi bagian dari biografimu. Tapi, percayalah, gurat luka –sebanyak apa pun itu—tak akan banyak mengubah: karena keindahanmu tidak dipertaruhkan pada seberapa banyak luka yang membekas.

Menurutku kau sudah menjalani hidup dengan cara yang hebat, melewati waktu dengan cara terbaik yang mampu kau lakukan. Kini, saatnya kau menyempurnakan hidupmu yang hebat itu dengan cara yang tak kalah bagusnya: tersenyum, tenang, mengepalkan tangan disertai sikap sumeleh yang bening.

Jika pun momen ini mesti dikhidmati sebagai sesuatu yang penting, sebaiknya pahamilah ini sebagai satu titik balik: setelah ini, kau yang baru telah lahir kembali, kau yang lebih mampu memahami betapa hidup adalah berkah tak tertandingi, lebih dari apa pun.

Senin bukan menjadi awal keruntuhan atau kejatuhanmu. Senin akan kau rayakan sebagai hari lahirmu yang kedua.

Semoga aku masih bisa menjadi bagian perayaan itu.

12 Comments »

  1. cepat sembuh ya mbak. amin.

    *ikut meluk dan tengadahin tangan dari jauh….*

    Comment by dania — June 22, 2008 @ 9:01 am
  2. Titip doa untuk ntah siapa tu kawanmu.

    “Tu yg dah jd naskahnya, tp blm fix bgt, ane blm nyaman ja, yg krg pa bro? Ane msh cari yg ente bilang di chat”

    Comment by panjul — June 22, 2008 @ 10:39 am
  3. Semoga si mbaknya cepat sembuh lalu sehat zen

    Comment by lamanday — June 22, 2008 @ 2:22 pm
  4. wah serem sekali….
    cepat sembuh ya dan bisa ngeblog lagi :)

    Comment by kw — June 22, 2008 @ 3:09 pm
  5. sumeleh?? angel dilakokno kang..

    Comment by cewektulen — June 23, 2008 @ 3:06 am
  6. aku selalu benci hari Senin dan selalu berharap Senin akan terlewati dengan cepat..

    tapi saat ini aku berfikir, apa jadinya kalo ternyata aku terlahir beberapa puluh tahun yang lalu di hari ‘SENIN’.. uuhhh…

    yaa sudahlah..semoga kita semua masih bisa bertemu dengan SELASA… :)

    Comment by justjohan — June 23, 2008 @ 7:20 am
  7. kepada senin..hari yang sibuk..namun takkan menyempitkan waktu..untuk selalu mengingat seorang kawan..

    tetaplah semangat..dan tetaplah hidup..

    Comment by Amma — June 23, 2008 @ 8:39 am
  8. iki Bapakmu po sopo Zen?
    nyuwun sewu, tp opo Bapakmu kulite langsat?
    *curiga*

    Comment by ipungmbuh sh — June 23, 2008 @ 4:20 pm
  9. semangat mbut!

    Comment by Yudhis — June 24, 2008 @ 7:34 am
  10. mbaca ini, operasinya jadi gak keliatan serem lho ^^

    semoga cepat sehat

    Comment by cya — June 26, 2008 @ 10:02 am
  11. senin. mungkin itu ikon baru dalam ritus kehidupanmu y?
    kapan launching? hehehe…
    tiba-tiba aku berpikir, ternyata selain romantis, kamu juga sedikit sentimentil ya? he..
    tapi siplah. ada harapan yang kau bawa di balik kalimatmu itu. entahlah, pastinya orang berkesan dalam hidupmu. aku berdoa semoga semuanya sehat, panjang umur, dan terus berkarya. amin.

    Comment by gembossaja — November 8, 2008 @ 10:20 am
  12. [...] – dengan segala hormat: untuk dua codet di dadamu [...]

    Pingback by [nasib adalah kesunyian masing-masing] » Payudara — November 19, 2008 @ 6:17 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2008 [nasib adalah kesunyian masing-masing] | powered by WordPress with Barecity