»

Wani

Uncategorized — pejalanjauh @ 3:00 am

– buat dipa

Pada hari pertama Ramadhan tahun kemarin, saat sedang kelayaban di pertambangan intan di Martapura, seorang pedagang soto Banjar yang saya temui menyebut kata “wani”.

Saya bertanya padanya dan untuk pertama kalinya saya tahu bahwa dalam bahasa Banjar, “wani” artinya “berani”. Dalam hal kata “wani”, bahasa Banjar ternyata bersepakat dengan bahasa Jawa dan Sunda.

Wiji Thukul, penyair-demonstran yang hilang dan karenanya kadang saya menganggapnya telah mengalami “moksa”, dengan begitu ciamik menggunakan kata “wani” untuk menamai anak bungsu perempuannya. Nama lengkap anak bungsu Wiji Thukul itu ialah “Fitri Nganti Wani”.

Saya tidak tahu apakah saya bisa membuat nama sebagus itu. Entah dari mana Wiji Thukul mendapat ide untuk nama anaknya. Tapi, jika boleh berandai-andai, nama sebagus itu pastilah datang dari satu pengalaman hidup yang sudah mengurat-akar. Dalam kata-kata yang lebih padat, rasanya bolehlah saya bilang: nama itu adalah perasan –katakanlah: sari pati—dari sejarah hidup pembuatnya, ya… sejarah hidup Wiji Thukul.

“Bapak hanya punya keberanian,” kata Fitri Nganti Wani.

Kata-kata Fitri itu, yang rasanya mirip dengan diksi-diksi dalam puisi ayahnya, sudah cukup bagi saya untuk bisa memahami bagaimana Wiji Thukul bisa mendapat ide untuk menyusupkan kata “wani” pada nama anaknya. Rasanya, amat bisa dipahami jika seorang ayah yang hanya punya keberanian menyusupkan kata “wani” pada nama anaknya.

Terus terang saja saya belum pernah bertemu dengan Fitri Nganti Wani, perempuan yang di tubuhnya mengalir darah seorang lelaki pemberani. Tapi saya punya teman kecil yang juga punya kata “wani” pada namanya. Teman kecil yang masih berusia 4 tahun itu bernama “Dipa Wani Peninsula”.

Satu hal yang mungkin sekarang belum dimengerti Dipa, begitu saya biasa memanggilnya, kata “wani” yang disandang namanya sedikit banyak mencerminkan bagaimana ayahnya menjalani hidup dengan berani, terutama pada bulan-bulan di mana Dipa masih mengeram dalam rahim ibunya.

Saya sama sekali tidak berniat membanding-bandingkan antara Wiji Thukul dengan ayahnya Dipa Wani Peninsula. Tak ada niat sama sekali untuk menghelat sebuah perbandingan. Keberanian tetaplah keberanian. Ia hanya bisa diukur berdasar konteks yang melahirkannya, dinilai berdasar situasi yang memaksa seseorang untuk mengambil pilihan untuk menjadi seorang pemberani atau pengecut.

Pada bulan-bulan di mana Dipa masih dalam kandungan, saya beberapa kali menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana ayahnya mesti berhadapan orang-orang yang membencinya setengah mati, mesti menjumpai muka lawan muka orang-orang yang mendoakannya dipanggang ganasnya api neraka, mesti bersemuka dengan orang-orang yang dengan nada amat yakin menudingnya kafir.

Tensi teror makin mengganas sewaktu kandungan Dipa berumur delapan bulan dan terus meninggi hampir bersamaan dengan lahirnya Dipa: proses kelahiran yang berlangsung dengan erangan ibunya sepanjang hampir 24 jam. Ini seperti klimaks sebuah cerita.

Tapi belum selesai sampai di situ. Ayah Dipa masih harus menghadapi momen puncak teror yang menguji mental sewaktu ia menghadapi ratusan orang yang memenuhi sebuah aula hanya untuk menyaksikan seperti apa tampang penulis yang bukan hanya dianggap sudah mencemarkan nama baik sebuah kampus berlabel agama tetapi juga didakwa sudah menistakan agama. Dengan meniru apa yang sudah dilakukan Jassin sewaktu didakwa karena memuat cerpen “Langit Makin Mendung” dengan membacakan pledoi, ayahnya Dipa juga membacakan sebuah pledoi yang sudah lebih dulu disiapkannya yang dijuduli: “Yang Memuji Yang Mengutuk: Sebuah Pleidoi”.

Kejadian itu berlangsung di depan mata saya dengan dibayang-bayangi kekerasan yang serius. Kasak-kusuk di belakang -yang di antaranya menyiapkan benda tajam– begitu santer. Itu berlangsung hampir bersamaan dengan aqiqah-nya Dipa.

Bagi saya, yang tidak pernah menghadapi momen-momen seperti itu, sikap ayahnya Dipa yang berkali-kali berani menerima undangan diskusi dari lembaga yang sudah jelas hendak “membantainya” di depan massa yang berlimpah sudah lebih dari cukup untuk menjadikan sosoknya tampil dalam ingatan saya sebagai seorang pemberani. Setidaknya pada saat itu.

Dia tidak harus menerima undangan itu dan ia bisa saja menolaknya. Dia bisa saja berkilah dengan menyorongkan mantra “pengarang sudah mati ketika karya sudah dipublikasikan”. Tapi ia menerima saja undangan-undangan itu dan memertanggungjawabkan novelnya semampu yang ia bisa, kendati dalam beberapa kali kesempatan kadang ia terlihat gemetar dan suaranya terdengar sedikit parau.

Din, begitu saya biasa memanggil ayahnya Dipa, mesti menanggung bermacam-macam teror itu gara-gara novel pertamanya yang berjudul “Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Pelacur”. Novel ketiganya, “Adam-Hawa”, membuat Din menerima fatwa dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI).

Untung saja novel kedua Din, “Kabar Buruk dari Langit”, tak banyak memancing reaksi ganas. Mungkin karena novel kedua Din tiga kali lebih tebal dari dua novel lainnya. Padahal, jika MMI sempat membaca bab pertama “Kabar Buruk dari Langit”, kemungkinan besar mereka akan jauh lebih murka.

Beapa tidak, pada bab pertamanya, Din sudah “menantang” polemik dengan menulis cerita yang diberi judul “Nuzulul Ganja”: fragmen tentang seorang kyai muda yang bertemu dengan Jibril pada malam 17 Ramadhan di tepi sebuah sungai, tapi Jibril di situ tidak membawa wahyu layaknya Muhammad menerimanya di Gua Hira, melainkan Jibril justru datang dengan membawa lintingan ganja yang selanjutnya dihisap mereka berdua dengan begitu khidmatnya. (anjrit, dari mana kau dapat nyali menulis macam jibril nggelek ini, Din?)

Dipa, saya kira, kelak akan tahu bahwa nama “wani” yang disandangnya tidaklah lahir dari satu ruang hampa sejarah. Nama itu mencerminkan –setidaknya—satu penggal periode kehidupan ayahnya, persis pada saat ia masih berada dalam kandungan.

Saya belum tahu apakah Dipa layak menyandang nama “wani” atau tidak. Dipa memang tak perlu terbebani dengan nama pemberian ayahnya. Ia hanya perlu menjalani hidup sebagai dirinya sendiri, melakoni hidup dengan sebaik-baiknya, mengguratkan catatan sejarahnya sendiri dengan tinta dan perbuatan yang akan dipilihnya secara merdeka.

Menjalani hidup sebagai diri sendiri, bukan sebagai anak si Anu atau keturunan si Inu sekaligus berani berdiri di atas kaki sendiri tanpa bergelayut pada sorongan pertolongan dan rasa iba orang lain, dengan sendirinya sudah menjadi pilihan yang jauh dari kata pengecut. Melakoni hidup dengan cara yang diinginkan sendiri, merdeka dari segala kekangan atau dari sejumlah kepastian yang bisa membuat kreatifitas menjadi mandul, dengan sendirinya membutuhkan nyali tak sedikit dan karenanya menjadi sebuah pilihan yang rasanya layak disebut “berani”.

Catatan ini, yang membicarakan ke-wani-an alias keberanian, lahir begitu saja setelah saya menonton “Into the Wild” untuk kali kedua. Film yang disutradarai Sean Penn itu mengisahkan kehidupan Christhoper Johnson McCandless, seorang pemuda bermasa depan cerah, berotak cemerlang, yang lahir dari keluarga yang jauh dari kategori melarat, tapi mengambil pilihan hidup dengan begitu merdeka: melakukan perjalanan hebat menuju Alaska, tanpa tabungan, untuk kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam kesunyian alam yang begitu mencucuk.

Tidak, tidak, ti

dak seberani itu saya. Tapi senyum terakhir Chris beberapa saat menjelang kematiannya menerbitkan simpati saya, setidaknya membuat saya bergumam: “Aih, begitukah kematian yang datang saat hati sedang berbahagia?”

Saya tidak tahu persis apakah Chris berbahagia, itulah sebabnya gumaman saya diimbuhi tanda tanya diujungnya. Saya iri pada Chris yang berani –kendati sebagian orang amat bisa jadi akan menyebut Chris konyol.

Lagipula bukan di sana pokok soal yang ingin saya ajukan. Pokok yang ingin saya ajukan, setidaknya bagi saya sendiri, adalah: jika keberanian Wiji Thukul, Chris atau Din mungkin dirasa terlalu mewah buat saya, dengan cara apa lagi jika saya ingin menjalani sisa hidup ini dengan berani? Jika pertanyaan itu dirasa terlalu tinggi hati, baiklah saya ubah pertanyaannya: dengan cara apa saya melakoni sisa hidup ini tidak dengan cara yang pengecut?

Ini pertanyaan yang mengganggu. Untuk menjawabnya kadang saya merasa perlu memertimbangkan banyak hal; satu prilaku yang –dalam situasi tertentu—bisa jadi sudah cukup untuk didakwa sebagai “pengecut”, setidaknya kata Shakespeare.

“Terlalu banyak berpikir,” kata Shakespeare melalui mulutnya Hamlet, “Sebagian membuat kita arif, dan tiga bagian membuat kita pengecut!”

Akhirnya saya harus mengakui bahwa ada hal-ihwal yang terlalu lama saya salah-pahami. Saya terlalu kerap berhitung, terlampau sering bertimbang-timbang, teramat sering menyusun alasan.

Untuk pertama kalinya saya menyadari satu hal penting: keberanian tidak lahir karena banyaknya alasan yang mendorong seseorang jadi berani tapi justru karena sedikit sekali alasan atau bahkan tidak ada alasan sama sekali untuk menjadi berani!

Mungkin ini yang dimaksud Paul Tillich sebagai: “Courage to Be”!

10 Comments »

  1. untung semalem gwa ga ke tempat lo dan kita ga mabu’mabu’an. jadi kamu bisa orgasme. hehe.

    Comment by mPitzky — 2008/05/16 @ 4:29 am
  2. Sepertinya perlu keberanian bahkan untuk sekedar berkomentar, hehe
    Pertimbangan yang terlalu banyak justru memunculkan sedikit pengecut.
    Apakah kemudian pertimbangan tidak perlu dilakukan?
    Beberapa hal bisa tabrak langsung, tapi beberapa hal lain mungkin harus hati-hati, begitukah?
    ah, pengecut lagi, hehe
    mempelajari peta, terus dan terus
    -salam-
    ^_^

    Comment by PamanGoop — 2008/05/16 @ 4:29 am
  3. makanya ada yang bilag, beruntunglah orang – orang yang tidak tahu. karena ilmu pengetahuan itu beban.

    Comment by dewi — 2008/05/16 @ 5:18 am
  4. katanya : Tuhan bersama orang-orang yang berani (wani)

    Comment by living silence — 2008/05/16 @ 7:05 am
  5. Jadi ingat masa-masa demo bareng Wiji di depan Boulevard UNS. Namamu sendiri dari mana Zen? Adakah ayahmu pernah merasakan kedamaian bunga teratai?

    Comment by Anusapati — 2008/05/16 @ 8:03 am
  6. Akhirnya saya harus mengakui bahwa ada hal-ihwal yang terlalu lama saya salah-pahami. Saya terlalu kerap berhitung, terlampau sering bertimbang-timbang, teramat sering menyusun alasan.

    dan karena itu pula orang2 suka salah paham, menganggap pemilik sifat ini adalah “hebat dan pemberani”…

    Tetapi Wani di tulisan ini menjadi lebih simple dan manusiawi..

    Comment by leksa — 2008/05/16 @ 11:36 am
  7. keberanian? apakah gerangan? sesuatu yang tertakar, termasuk risikonya, atau sekadar tiada takut?

    Comment by paman tyo — 2008/05/18 @ 3:52 am
  8. Halo Dipa… :)

    Comment by Lida — 2008/05/18 @ 12:14 pm
  9. bangke!!
    paragraph terakhir!!
    nyindir aku neh yo zen??!!
    kewanen..!!
    *kambi nyiapke sarung tinju, nantang zen duel neng BHI, jumat wengi*
    kekekek ^_^

    salam hormat

    ipungmbuh sh

    Comment by ipungmbuh sh — 2008/05/21 @ 1:41 am
  10. [...] ingat pernah membikin sebuah postingan berjudul “Wani” di blog ini beberapa tahun lalu. Di salah satu barisnya, saya mengutip kata-kata Pangeran [...]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2010 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity